
Najib merasa kasihan, tapi dia ingin melihat dulu, apa yang sebenarnya yang diinginkan Sheza dengan mengambil Iza tanpa memberi tahu padanya lebih dulu. Bukankah selam ini dia tak menginginkan putrinya itu.
Dia berusaha menyisakan sedikit kesabaran agar tak larut dalam suasana hati ikut teracak-acak. Dada ini sesak karena amarah yang sedikit demi sedikit mampu memacu aliran darah dalam nadinya, mendidih mencapai ubun-ubun.
“ Astaghfirullah al adzim ... “ ucapnya lirih sambil mengelus dada. Bisa tambah runyam nich.
“Kamu itu menyusahkan mama saja. Nggak ada syukurnya sama sekali. Sudah dibelikan, nggak mau makan juga. Mubadzir ini, cepat Makan! Enak saja, tinggal makan aja, rewel!”
Kata-kata yang yang memaksa gendang telinganya bergetar dengan hebat. Setan apa yang sedang menguasai Sheza. Dia menggunakan tangannya juga untuk ikut beraksi. Dia menyendok makanan itu seperti Dewi Durga yang sedang mematik perang. Jangankan nafsu mutmainnah, nafsu lawwamah pun enggan menyapa dalam hati yang kini sudah dikuasai rasa kesal dan frustasi.
Tangan itu bergerak lepas, saat akan mengambil nasi di depannya dengan sendok kecil yang baru saja Iza lepaskan. Menimbulkan bunyi yang sangat nyaring, dan berisik. Jangan salahkan apabila penghuni piring akan berlarian keluar arena. Tumpah dech .... Lalu Sheza mencoba menyuapkannya dengan kasar.
Siapa yang suka diperlakukan dengan cara seperti itu, Iza pun memberontak tak mau memakannya bahkan kini menangis ketakutan.
Melihat hal itu bukannya dia menyadari kesalahannya bahkan amarahnya semakin meluap.
“Makan!”
Dada Najib sangat terbakar, langsung saja dia menampakkan diri.
“Assalamualaikum ....” ucapnya dengan tenang. Sedapat mungkin jangan sampai amarahnya keluar.
Menyadari hal itu, Sheza segera mengubah cara menyuapinya. Dia memasang wajah yang lembut dengan senyum manis saat mendekati Iza, agar dia mau memakan makanan yang sudah susah payah dibelinya.
“Makanlah, Nak!”
Iza masih ketakutan. Namun dia sudah mau menyambut mau menelannya meski dengan terpaksa.
“Papa ...” Iza segera berlari menuju Najib.
Pahlawan yang selalu ada untuk dia, kini sudah datang. Seharian menghadapi mama Sheza yang selalu marah-marah, membuatnya takut dan selera makan hilang
Najib meraih tubuh kecil itu dalam dekapannya. Dia membelainya dengan lembut dan juga mengusap air matanya yang terlihat masih tersisa.
“Kenapa nangis, nanti cantiknya hilang lho? Ayo makan!” Najib mencoba membujuk Iza
Dia menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Nggak.mau. Aku nggak suka. Nggak seperti masakan mama Aina.”
Ups ...
Jelas saja membuat hati Sheza menjadi dongkol. Dia sudah bersusah-payah ingin perbaikan, putrinya masih menyebut wanita lain, wanita yang sangat dibencinya dan kini menjadi saingannya dalam memperoleh perhatian suaminya.
Dia spontan meluapkan kekesalannya. “Kamu itu putri mama atau bukan sih?”
Hiks ... hiks ... hiks. Iza kembali menangis. Dia menyembunyikan wajahnya dalam dekapannya.
“Sheza, turunkan suaramu!”
Bukannya Sheza menyadari kesalahannya, justru dia makin kesal dan marah.
“Kenapa kakak selalu bela dia. Akhir dia makin manja. Aku harus selalu mengikuti semua keinginannya. Harus begini harus begitu, nggak tahu apa? kalau aku itu capek. Tahu!”
“Siang tadi dia sudah minta telur ceplok, aku bikinkan tapi nggak makan. Lalu sorenya minta soto sudah aku belikan nggak mau makan juga. Terus salahku apa? Aku kan ya capek? Seharian ini dia menyiksaku. Minta ini itu tapi tak satu pun dimakannya. Dikira nanti aku nggak kasih makan sama dia.”
“Masak dia tak menghargai usahaku sama sekali.”
Najib hanya bisa mengelus dada mendengar omelan istrinya yang seperti kereta api, tanpa jeda sama sekali dan kelembutan, membuatnya emosi bangkit kembali yang telah dia coba dengan susah payah untuk menghentikan. Baru dicoba soal makan saja, sudah mengeluh. Belum yang lainnya.
Kalau dipikir-pikir, hari ini Sheza sudah lebih baik, meski caranya masih jauh dari kata wajar. Mau bikin ceplok telor, mau membelikan sayur yang diminta putrinya. Rasanya ingin memberinya sebuah penghargaan. Daripada kemarin-kemarin yang sama sekali tak mau memperhatikan putrinya. Pergi pagi pulang sore dengan membawa kekesalan semata. Dan lebih parahnya kekesalan itu dia limpahkan pada Iza yang tak tahu apa-apa. Hingga tak jarang Najib mendapatkan ada guratan membiru di tangan kecilnya. Padahal putrinya hanya ingin mendapatkan waktu untuk sekedar bermanja.
“Iza, Putri Sholihah Papa. Terus kalau nggak makan, mubadzir dong. Belum lagi nanti kalau Iza sakit.”
“Nggak mau makanan yang itu. Nggak enak. Nggak ada kuahnya.”
“Terus Iza mau apa?”
“Kita pulang ke apartemen Papa, ya ...” Dia menatap Najib dengan sangat mengiba. Membuatnya tak kuasa untuk tak meluluskan keinginannya. Dia pun mengangguk.
Wajah Sheza mencelos seketika. Tak sangka mendapat penolakan dari putrinya dengan sangat telak. Usahanya untuk membawa Iza pulang, seakan sia-sia. Hanya satu harapannya saat ini, yaitu pada lelaki yang kini duduk di sampingnya.
“Kak, tak bolehkah aku bersama putriku?”
Najib menghela nafas panjang. Berat rasanya untuk menjawab pertanyaan Sheza. Meski Sheza sudah menunjukkan kepedulian, tapi caranya yang masih salah, membuat dirinya belum bisa melepas Iza.
__ADS_1
“Tidak hari ini. Mungkin lain waktu. Aku akan bujuk Iza dulu. Bagaimana pun, sengaja tak sengaja kamu telah melukai jiwanya. Itu perlu waktu untuk sembuh. Siapkan dirimu untuk menjadi Mama yang sesungguhnya untuk Iza. Tulus dalam mencintainya. Tak lagi menghubungkan dengan masa lalumu. Dia pasti bisa memaafkanmu.”
Sheza diam. Dia tertunduk sedih. Dia sadar, selama ini banyak melukai putrinya baik pisik maupun psikis.
“Baiklah, Kak. Aku rela saat ini ikut denganmu.”
“Makasih, Dik. Aku janji, suatu hari pasti dia akan kembali padamu tanpa kamu paksa-paksa.”
“Papa, ayo kita pergi!” Seketika mereka berdua tersadar. Najib mengusap rambutnya dengan kasar dan tersenyum lebar.
“Boleh kita pergi. Tapi dengan satu syarat. Cium pipi Mama!”
Dia tampak cemberut dan membuang muka. Enggan memenuhi permintaan itu. Tapi Najib tak kehabisan akal.
“Tidak cium mama, tidak pergi. Cium mama, kita pergi. Pilih mana?”
Dia melotot menatap Najib, sepertinya kesal. Lalu dia melorot, turun dari gendongan.
“Iya ... ya dech.” Dia mendekati Sheza yang masih duduk menunduk sedih.
“Ma, aku ikut Papa ya .... Maaf kalau hari ini sudah bikin Mama kesal."
Sheza terenyuh. Ada terbesit penyesalan saat melihat wajah putrinya yang polos itu. Tak seharusnya dia bersikap seperti itu. Sampai-sampai dia lebih memilih orang lain dari dirinya. Dia segera meraih tubuh mungil itu dan mendudukkan dalam pangkuannya. Lalu mencium putrinya dengan sangat dalam dan lembut. Yang segera mendapat balasan Iza, sesuai dengan permintaan Papa Najib agar dirinya bisa segera pergi dari tempat yang dianggapnya neraka. Lalu dia segera turun dari pangkuan dengan menampakkan senyuman.
“Sudah, Pa. Ayo kita pergi.” Dia menarik tangan Najib dengan wajah yang bahagia, tanpa beban dosa.
Najib segera bangkit mengikuti kaki kecil putrinya melangkah.
“ Kak, apakah Kakak tak bisa memaafkanku?”
“ Aku perlu waktu, Sheza.”
Najib meraih tubuh Iza dalam gendongannya, melangkah pasti meninggalkan Sheza tanpa lagi menoleh ke belakang.
Kadang kala Najib merasa bersalah, atas semua yang menimpa putrinya atas perlakuan ibunya yang semacam ibu tiri saja atau lebih dari itu. Dia sering mengalah dalam menemani Iza, Meskipun tidak bisa setiap hari karena dirinya pun sibuk dengan pekerjaannya yang sangat-sangat menyita waktu. Dia bersyukur bisa menemukan wanita sebaik Aina yang bisa langsung membuat putrinya jatuh cinta.
Dia tatap wanita yang kini terlihat mondar-mandir di samping mobilnya.
__ADS_1
“Iza, Mama kangen ....”