
Apakah aku harus bersyukur atau bersedih melihat dua garis merah pada alat tes kehamilan ini. Aku ingin menghindarinya. Aku ingin menjauhinya. Aku ingin belajar melupakannya. Karena aku sadar bahwa kini diriku berada di jalan yang menurutku tak pantas. Berdiri diantara dua orang yang sudah menyatu dalam mahligai cinta yang indah dan sah di mata Sang Penguasa Jiwa.
Salah siapa kah? ...
Kamu, kah? ...
Bapak Ibu, kah? ...
Tidak!
Aku tak bisa menyalahkan siapapun selain merenungi diri. Semua terjadi mengalir begitu saja. Aku menikmatinya. Bahkan Aku telah membiarkan diriku jatuh cinta sejak ucapanmu yang tegas di hadapan Bapak dan juga pak penghulu. Aku begitu bahagia.
Salahkan diriku yang membiarkan bunga-bunga cinta bermekaran di lubuk hati ini, karena kata-kata manismu, karena kelembutan sikapmu, atau karena semua yang ada dalam dirimu. Sehingga aku bisa berazam untuk bisa senantiasa mengiringi langkahmu.
Tak ada yang sempurna di dunia ini. Dan aku memang tak mengharapakan semua itu harus sempurna. Tapi semakin aku berjalan, menghadapi kenyataan yang sebenarnya tentang dirimu yang benar-benar menguji kesabaran ku, Aku merasa lelah. Lelah dengan apa yang engkau sembunyikan selama ini.
Iza ...
Gadis kecil yang manis adalah kebohongan pertama yang ingin engkau tutupi. Aku coba untuk bersabar. Mungkin ini ujian buatku, masih kuatkah diriku dengan kejutan-kejutan yang mungkin akan tersibak di lain waktu. Dan aku yakin semua pasti ada hikmahnya bila aku mampu menjalaninya.
Tapi, makin ke sini, diriku semakin lelah dengan kebohongan-kebohongan yang coba tutupi. Semua kebohongan itu tampak sekali dalam sorot matamu. Aku mencoba menepisnya, kalau itu tak nyata, dengan selalu berprasangka baik kalau dirimu tak akan pernah meninggalkanku, seperti yang sering engkau katakan.
Tapi saat Sheza Azzalea Naureen dengan tegas mengatakan padaku siapa dirimu baginya yang sebenarnya, luruh sudah keyakinanku akan kepercayaan diriku bahwa aku akan bisa melangkah bersamamu. Aku yakinkan pada diriku, bahwa diriku ada bukan ingin menggodamu, karena aku sadar aku bukan pelakor seperti yang dia tuduhkan.
Tapi sepertinya Sheza Azzalea Naureen tak memberiku pilihan. Dia benar-benar ingin diriku hengkang dari kehidupanmu. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya.
Entah dirimu mengetahui atau tidak, kalau dia selalu menerorku. Notif-notif yang dia kirimkan padaku sangat menyakitkan. Bahkan pernah dua kali dia datang ke apartemen menemuiku. Tak lain dan tak bukan, hanya ingin mempertegas kedudukannya di sisimu. Dan itu sangat menyakitkan.
__ADS_1
Aku ingin percaya kalau dirimu mencintaiku namun aku harus terima dengan kenyataan bahwa ada wanita lain yang lebih dulu dalam benakmu. Apalah istilahnya, mau adik, mau kekasih, mau istri, itu semua sama saja. Dia adalah wanita yang punya hak atas hatimu.
Salahkah bila terbesit dalam benak ini untuk menjauh dari kehidupanmu. Dia yang sudah sekian lama mengisi hari-harimu. Dan ada rasa cintamu untuknya, meski kamu tak mengakuinya.
Jangan katakan kalau aku tak tahu. Aku tahu sebelum malam itu. Malam, saat engkau mengendap-endap meninggalkanku dan datang dengan membawa air mata. Itu sangat menyakitkan. Tapi aku menyakini, itu lah hidup. Hingga aku bisa sabar bersamamu.
Tapi saat Sheza memintaku dengan sangat untuk pergi meninggalkanmu dengan ancaman-ancaman yang tinggal di up-nya saja tentang kehidupan Bapak Ibuku di kampung, yang mereka tak tahu apa-apa tentang kita. aku tak punya pilihan selain pergi meninggalkanmu. Aku mungkin pergi dengan tak menunggu kerelaanmu. Maafkan aku ....
Aku ingin tenang. Aku ingin Bapak Ibuku tenang dan bahagia. Jika pergi darimu adalah jalannya, biarlah aku jalani saja. Masalah kita, tak perlu mereka tahu.
Mungkin ini terdengar egois, tapi bagaimana lagi. Mungkin Aku bisa belajar untuk menerimamu, tapi bagaimana dengan Sheza yang sampai saat ini tak bisa menerimaku. Aku bisa memahami dia, karena kita sama-sama wanita.
Aku tak bisa berada di sisimu dengan hanya berpegangan bahwa diriku sangat berarti untukmu, bahwa dirimu lebih mencintaiku dari pada Sheza, bahwa dirimu tak akan meninggalkanku. Sungguh aku tak bisa ....
Bila aku boleh meminta, jangan jadikan diriku menjadi orang kedua dalam maghligai rumah tangga yang engkau bangun, apalagi menjadi orang ketiga. Hahaha ...
Tapi sepertinya takdir tak memberiku pilihan untuk jauh darimu.
"Nduk, apa kata Bidan Indah. Apakah kamu hamil? Berapa umur kandunganmu." Baru juga aku turun dari motor Rasyid, adikku, Ibu sudah memberondongku dengan pertanyaan. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Apa yang ibu impikan, jadi kenyataan. Ibu akan memiliki seorang cucu."
"Alhamdulillah, terima kasih Ya Allah. Berilah aku umur untuk menimang cucuku." Wajahnya tampak bahagia saat mengucapkan itu.
"Aamiin. Ibu jangan berkata seperti itu lagi. Ibu pasti bisa menimang cucu-cucu ibu, satu dua dan seterusnya," jawabku spontan.
"Aamiin ya rabbal aalamin. Itu yang ibu harapkan. Satu, dua dan seterusnya."
__ADS_1
Ups, apa yang baru saja aku katakan. Satu, dua dan seterusnya. Aku bercanda Tuhan, aku tak bermaksud seperti itu. Aku begitu bahagia melihat wajah ibu yang bahagia, sehingga terucap kata-kata seperti itu.
Mana mungkin terjadi, jika Aku sudah memutuskan untuk menjauhi suamiku. Bahkan berusaha mengusirnya dari ingatanku dengan memutuskan komunikasi dengannya beberapa hari ini.
Belum sempat aku berbincang-bincang banyak dengan ibu, perut ini sudah seperti diaduk-aduk lagi. Aku segera berlari ke toilet yang ada di kamarku. Memuntahkan kembali semua yang sesaat lalu berhasil ku telan.
"Nduk, Bidan Indah memberimu obat untuk mual, kan?"
"Iya, Ibu. Tadi juga sudah ku minum."
"Ya, sudah. Sini, berbaring lah. Biar ibu oleskan minyak kayu putih di tubuhmu."
Aku pun segera berbaring, dan membiarkan jari-jari ibu menyapu itu di punggungku dengan minyak kayu putih.
"Kamu nggak pingin kasih tahu Papanya?"
"Besok saja Ibu. Kalau sekarang takut mengganggu pekerjaannya."
" Ini kabar yang membahagiakan. Lebih cepat lebih baik."
"Ya. Ibu."
Usai menggosokkan minyak putih di seluruh tubuhku, ibu meninggalkanku di kamar ini seorang diri. Memberi kesempatan padaku untuk beristirahat.
Kata Bidan Indah, umur kandunganku sudah beberapa Minggu. Mengapa Aku tak merasakan apa-apa saat di dekatmu. Namun gejala ini aku rasakan saat diriku jauh darimu. Bahkan obat dari Bidan pun tak mempan untuk meredakan mual-mualku. Apakah ini berarti, calon putramu ini tak mau jauh darimu, seperti yang pernah kudengar?
Sepertinya memang iya. Terbukti saat paginya, aku meneleponmu, dia begitu tenang. Dia membuatku menyerah dengan keputusanku. Mau tak mau, aku mengikuti keinginanmu, untuk bersamamu. Ini berat ....
__ADS_1