
Dia juga sedih. mengapa Arya tak bisa kenyataan kalau dia kini menjadikan Aina sebagai istri keduanya. Salahkah itu? Salahkah kalau Dia jatuh cinta? Kalau Masalah tersakiti, dia sudah tersakiti sejak lama. Sejak awal pernikahan. Tak bolehkah dia sedikit bahagia?
Ya sudahlah ... Masalah hati memang rumit. Biarkanlah semua ini berlalu bersama waktu. Satu harapannya, suatu saat Sheza dan Arya bisa menerima Aina.
"Man, kita ke rumah lama!"
"Baik, Den."
Perjalanan cukup memakan waktu, karena harus memutar. Hingga menjelang malam akan berakhir, mereka tiba.
Mereka disambut Sheza di depan rumah. Dia tengah menikmati indahnya malam dalam kesendirian. Duduk di teras rumah dengan hanya ditemani camilan ringan dan minuman hangat dari rempah-rempah kesukaannya.
Senyumnya merekah, saat sebuah mobil yang sudah amat dikenalnya memasuki halaman. Dia pun berdiri saat orang-orang yang ada dalam mobil itu keluar. Orang-orang yang sangat dia rindukan beberapa hari ini.
Dia menghampiri keduanya.
"Iza, Mama kangen. Tadi Mama ke apartemen papa tidak ketemu kalian. Memangnya kalian ke mana?" Dia mencoba meraih iza yang terlihat lelah dalam gendongan Najib.
Wajah Iza seketika beringsut, bersembunyi di dada Papanya. Sheza pun mengurungkan niatnya.
"Iza pergi jalan-jalan sama Papa ke kampungnya Mama Aina." Ucapnya lirih
Sheza berhenti berjalan seketika. Senyum manis yang sesaat lalu terukir di bibirnya, kini pun kembali hilang tak berbekas. Dia kesal. Siapa yang tidak terusik, bila mendengar nama wanita yang kini telah merebut hati suaminya.
"Aku mamamu Iza, bukan Aina. Mama akan marah kalau kamu menyebutkan nama itu lagi." Dia luapkan kekesalannya dengan memarahi Iza yang tak tahu apa-apa tentang masalah mereka.
Najib menghembuskan nafas pelan. Kesal dengan sikap Sheza, namun dia berusaha untuk bersabar.
"Jangan begitu Sheza. Jika kamu ingin Iza, coba lebih bersikap lembut sedikit."
Amat disesalkan, harusnya pertemuan ini bisa meluruhkan masalah di antara mereka. Tapi ada saja yang membuat mereka bersitegang. Badan lelah, pikiran juga sedikit ruwet, mengapa Sheza harus menambahkannya lagi dengan beban yang tak perlu.
Najib pun melangkah pergi,meninggalkan Sheza termangu seorang diri.
"Papa, Aku ngantuk." gumam Iza setengah sadar. Sesekali mulutnya menguap.
"Ya sudah, Iza tidur dulu ya."
Najib mengantarkan Iza ke dalam kamarnya yang masih tampak rapi dan bersih, meskipun sudah ditinggalkan sekian lama. Karena Mbok Minah tidak pernah absen untuk membersihkannya.
Setelah mengantarkan Iza ke kamarnya dan menemaninya sesaat, agar bisa tidur dengan tenang, Najib pun menemui Sheza yang menantinya di ruang keluarga.
__ADS_1
Lalu dia menghempaskan tubuhnya di samping Sheza.
"Aku mengantarkan Aina pulang."
"Syukurlah kalau begitu, Dia tak balik lagi, kan Mas?"
"Kamu sangat mengharapkan itu terjadi?"
"Ya, Aku harap dia tidak balik lagi."
Najib seketika terperanjat.
"Astaghfirullah al adzim ... Sheza?"
"Kenapa memang?"
"Mengapa kamu berharap begitu, sedangkan dia titip salam untukmu saat aku kembali ke sini."
"Maaf Mas, Untuk apa titip salam. Aku tidak menerimanya."
"Lalu maumu apa?"
"Tinggalkan dia."
"Apa ini berarti Mas tidak bisa memaafkanku."
"Mas sudah memaafkanmu. Buktinya Mas ke sini."
"Jika aku sudah ada di sampingmu. Tak cukupkah itu dijadikan alasan untuk Mas melepaskannya?"
Najib geleng-geleng kepala. Kembali dia harus dihadapkan pemikiran Sheza yang egois.
"Dia ada saat kamu pergi. Kalau Aku melepaskannya berarti Aku telah mempermainkannya. Padahal dia tidak pernah mempermainkannya. Dia istriku. Aku tak akan melepaskannya." tegasnya.
Seketika Sheza terdiam. Dia pun tertunduk sedih.
Najib tak mau Sheza sedih, tapi dia juga ingin dimengerti kalau ada Aina di hatinya.
"Sudah istirahatlah, Aku juga mau istirahat. Aku masih capek."
"Aku juga."
__ADS_1
Dia membiarkan Sheza melangkah lebih dulu, menuju ke ruang tidur utama mereka di lantai dua. Lalu dia pun mengikutinya, melangkah menuju ruang tamu.
"Mas kamar kita bukan di situ?" Sheza menariknya.
"Sudahlah Sheza. Malam ini aku ingin tenang." tolaknya.
"Berarti, malam ini Mas membiarkan Aku sendiri lagi."
"Sejak dulu pun kita sudah terbiasa begini, kan?"
"Mas!" Ingin rasanya, Sheza berlari menghampiri Najib. Dia sangat berharap, kalau tidak bisa setiap hari, setidaknya malam ini berilah kesempatan bagi dirinya untuk bisa mengarungi mimpi di tempat pembaringan yang sama.
Dia harus kecewa saat melihat Najib tidak perduli dengan teriakannya. Tetap melanjutkan langkahnya ke ruang tamu.
"Sudah, tidurlah," kata Najib sebelum membuka pintu kamarnya.
Sheza tetap berdiri di ujung tangga sampai Najib menghilang di balik pintu. Terasa ada goresan sembilu mengiris hati, saat Najib mengabaikan dirinya begitu saja. Dengan langkah gontai dan menunduk, Sheza melanjutkan langkah, menapaki anak tangga menuju ke kamar utama.
Mungkinkah ini balasan untuknya , telah sekian lama mengabaikan Najib. Ketika sadar, sudah terlambat. Dia mendapatkan suaminya bersama dengan wanita lain.
Malam ini terlalu sulit untuk dilalui. Mata yang lelah, tak bisa terpejam juga. Beberapa kali tubuh berganti posisi agar nyaman tak juga didapatkan.
Ada niatan untuk turun ke bawah menjumpai suaminya. Ah, Siapa tahu Najib akan berubah pikiran.
Dia pun beranjak dari peraduannya. Membuka pintu pelan-pelan, mengamati sesaat ruangan yang tampak remang-remang oleh lampu kecil 5 watt yang ada di ruang keluarga. menjadi penerang langkahnya.
Lampu kamar itu terlihat masih menyala. Mungkinkah Najib masih terjaga. Shesa segera meraih ganggang pintu, tapi sayang rupanya pintu itu terkunci dari dalam.
Dia pun memberanikan diri untuk mengetuknya. Dan memanggilnya dengan penuh kelembutan.
🌟
Sementara itu Najib juga merasakan hal yang sama. Meski bukan bayangan yang sama seperti yang dialami Sheza. Beberapa kali mulutnya menguap namun tak juga bisa membuat matanya terpejam. Bayangan Aina terus mengganggunya. Ada kerinduan dan juga rasa bersalah yang kini memenuhi ruang batinnya. Dan permintaan-permintaan Papa Arya serta Sheza yang membuat dirinya sulit untuk melangkah.
Dia mengakui bahwa saat ini sudah bisa memaafkan Sheza. Tapi dirinya tak bisa percaya begitu saja. selama bayangan Anthony, orang yang berhasil menjadi tamu di hati Shesa dahulu, tak bisa hilang dari mata Sheza.
Setelah sekian lama berusaha tak juga membuahkan hasil, dia pun turun dari peraduannya menuju ke kamar mandi, untuk membersihkan diri serta mengambil air wudhu. biarlah malam ini dihabiskan dengan mengingat pada Sang Pemberi Hidup. Melalui shalat dan juga tilawah Al-Qur'an.
Baru juga selesai melakukan semua itu, dia mendengar pintu kamarnya diketuk.
"Mas ... Mas." Suara Sheza.terdengar lembut dari balik pintu.
__ADS_1
Mula-mula dia malas untuk membukanya. Ingin menikmati kesendiriannya dengan tenang. Namun suara lembut itu tak juga berhenti, terus saja memanggilnya.