
Ya ... Aku telah mengambil keputusan. Di sisinya lah aku berada, walaupun sebagai istri kedua, karena tak mungkin aku mundur. Setelah apa yang terjadi antara aku dan Mas Najib.
Hanya saja, mungkin aku harus mulai belajar mengatur rasa cemburuku terhadap Sheza yang merupakan istri pertama dari suamiku. Jangan sampai kecemburuanku itu nanti akan merenggangkan hubunganku dengan mas Najib.
Aku tak bermaksud memisahkan mereka. Hanya saja, Aku ingin ketenangan dalam menjalani kehidupanku dalam Mahligai Cinta ini. Maafkan aku, Sheza! Semoga kamu mengerti.
Dari malam ini, tentu berbeda. Mungkin Sheza akan menemui diriku dalam keadaan yang sama namun dengan sikap yang berbeda. Aku hanya mencoba bertahan.
Beberapa hari lalu dia bisa membuat hatiku panas dan tertindas, dengan segala terornya atau kata-katanya, namun tidak mulai detik ini, aku tak mau tersakiti dengan semuanya itu. Aku akan mencobanya untuk ikhlas, mencoba memaafkannya. Kurasa itu lebih baik bagiku. Meskipun dia berniat ingin menyakitiku dengan tindakannya ataupun kata-katanya tetapi aku tidak harus tersakiti, kan?
Setelah menyelesaikan rakaat demi rakaat yang bisa kami lakukan untuk mengisi malam kami bersama. Setelah mengucapkan salam, dia membalikkan tubuhnya dan mengulurkan tangan, menyambut tanganku yang ingin meruntuhkan dosaku dengan bersalaman dengannya. Satu kecupan kecil dan dekapan ringan, aku rasakan saat itu juga. Ada ketenangan yang menyentuh dalam kalbuku sehingga hatiku menghangat. Namun itu hanya aku rasakan sesaat, karena Dia segera melepaskanku.
Aku pun kembali pada posisi semula. Ingin bersantai sejenak, dengan menyandarkan punggung ini di dinding dan menselonjorkan kaki ini, agar bebas dan nyaman.
Dia menatap kakiku. Sepertinya dia rindu. Ya ... Rindu ingin merebahkan kepalanya di pangkuanku, seperti yang sering dia lakukan saat kita berdua sebelum-sebelum ini. Bahkan bersama Iza juga. Keduanya akan bermanja di dekatku.
"Bolehkah aku di sini?"
Sorot matanya yang memohon serta bening wajahnya menatapku dengan manja, membuat diriku tak kuasa menolaknya.
"Ya." Meskipun aku menjawab tetapi aku merasa jawabanku tidak ada gunanya lagi. Karena begitu dia minta izin, dia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan. Dasar!
Kulihat wajahnya sangat lelah. Mungkin karena perjalanan jauh yang kita tempuh. Aku terenyuh dan tak tega. Aku biarkan dia menggunakan pangkuanku sebagai bantalan untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Dia tidak tidur. Justru dia menatapku yang aku sendiri ingin membebaskan pandanganku darinya. Ngerti sendiri lah ... itu akan membuat jantungku dag dig dug.
"Aku ingin tanya, Yang. Mengapa tadi kamu sedih banget, aku merasakan ada tetes air mata di lenganku?"
"Kapan?"
"Waktu berada di kamar Iza."
"Ooooo ...?" Rasanya aku ingin tertawa. Dia memang tak tahu ataukah memang pura-pura tak tahu. Bukankah dahulu dia pernah berkata tak mau bercerita tentang Sheza untuk menjaga perasaanku! Mengapa sekarang dia bertanya hal itu.
"Kenapa?" Suaranya merayu. Pasti dia sudah tahu jawabannya. Mungkin hanya untuk memastikan saja.
"Ya ... Mas menyebut nama Mbak Sheza di depanku."
__ADS_1
Semoga dia tidak berpikir yang salah dengan jawabanku ini.
"Berarti selama kita bersama, aku tak boleh menyebutnya."
Aku menggelengkan kepala, jawabnya ada benarnya sih, namun jauh dari apa yang aku kehendaki.
"Atau kamu ingin aku melepaskan Sheza." Ada raut ketakutan yang terlukis di wajahnya.
Dan itu membuat aku tertawa. Mengapa dugaannya masih juga salah. Pasti ini hanya sekedar untuk melegalkan perasaannya yang kini terbagi dua. Dasar laki-laki egois.
Maaf, jika aku harus suudzon menghadapimu saat ini.
"Oh ... benarkah Mas akan melepaskan Sheza?" Jawabku dengan tertawa bahagia.
"Melepaskan adik Mas itu?" Tanyaku sekali lagi. Sekedar ingin memastikan saja.
Tak mungkin aku meminta seperti itu. Tak ada angin tak ada hujan kenapa aku memintanya untuk melepas Sheza. Walaupun kalau aku mau egois, Aku bisa meminta itu padanya. Saat ini, Aku benar-benar ingin mengujinya.
"Maafkan aku, Yang." Matanya memejam. Hembusan nafasnya yang terasa berat, menandakan Dia sedang terbebani.
"Aku mengerti Mas. Mas pasti sulit melakukannya, kan?"
"Sulit ya, Dik. menerimaku seperti ini?"
Meskipun aku paham tentang syariat itu, tetap saja Aku wanita biasa, sakit apabila orang yang berbagi hati dengan kita, menyimpan nama selain nama kita di hatinya. Tapi tidak! aku sudah memutuskan untuk berbagi cerita denganmu, apapun itu tentang kita.
"Aku cemburu. Aku masih harus belajar banyak untuk membiasakan mendengar dirimu menyebut Mbak Sheza di depanku. Itu saja."
"Makasih, Dik. Mungkin kalau bukan kamu tidak akan bisa bersikap seperti ini."
"Aku hanya mencoba ikhlas, Mas. Tapi jangan lebih dari ini, ya ..."
"Ini saja sudah berat, apalagi lebih dari ini."
"Bohong ah! Buktinya, Mas melakukannya."
"Khilaf, Dik."
__ADS_1
Arrgghhh ... Bisa saja mulut laki-laki ini berkata seperti itu. Dengan ringannya mengatakan hal itu sebuah kekhilafan saja. Jangan salahkan apabila ada dua cubitan kecil dalam durasi yang panjang di pahamu. Kamu benar-benar lelaki yang menyebalkan.
"Dik-dik, ini KDRT." Dia menghindar sebentar tanpa mengubah posisinya di pangkuanku.
"Biarin, Mas yang duluan melakukan KDRT." Kembali satu cubitan kecil, aku daratkan. Gemes banget, aku sama dia.
Dia tertawa dan sepertinya menikmati cubitan itu. Menyebalkan sekali!
Aku ingin mengakhiri obrolan ini, karena kalau dituruti, yang ada aku hanya semakin gemes saja.
"Mas, bisa nggak berdiri. Aku capek nih."
"Ya ...ya, Aku juga ngantuk, mau tidur. Makasih ya."
Dia bangkit, lalu melipat sajadahnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Demikian juga dengan diriku, melepas mukena yang kukenakan dan segera mengikutinya, merebahkan diri di sampingnya, mengikutinya ke alam mimpi.
🌟
Sheza ....
Meskipun Najib sudah mencoba berbuat adil untuknya, tetap saja dia merasa tak bisa menerima kehadiran Aina. Dia masih tetap menteror Aina tanpa sepengetahuan Najib. Dan dia juga semakin manja pada Najib. Membuat Najib semakin sulit melangkah. Satu sisi, Aina yang membutuhkan perhatian ekstra, satu sisi Sheza yang tak mau mengalah.
"Mas, selama aku pergi, kamu kan selalu sama dia. Harusnya sekarang kamu sama aku. Masak tiga hari doang ke tempatku, itu juga kamu nggak mau menyentuhku."
"Hm ... ." Najib bergumam lirih, menanggapi permintaan Sheza yang terdengar aneh di telinganya. Dia masih terus dengan lapton dan berkas-berkas di depannya. Sepertinya dia tak peduli, membuat Sheza murka. Sudah dibela-belain datang, meninggalkan kantornya, tak diperhatikan juga.
"Mas," tegurnya dengan nada lebih keras.
"Ya, Sheza. Kakak sibuk, tapi Kakak dengar omongan kamu, kok."
"Berarti mulai saat ini Kakak harus ke tempatku."
Najib tak langsung menjawab. Dia diam beberapa saat.
"Nanti malam, Kakak ada undangan makan malam sama clien, Mr. Pheza. Ikut, nggak?"
"Benarkah. Kakak nggak mengajak wanita itu, kan?"
__ADS_1
"Kouta-nya hanya satu. ikut nggak?"
"Ikutlah."