
"Maaf, Mas." Buru-buru Sheza bilang pada suaminya untuk meminta maaf. Agar tak ada kesalahpahaman di antara mereka.
Namun sayang, Najib sudah menyaksikan tatapan istrinya yang penuh dendam dan rindu pada sesosok lelaki yang dia tahu sudah membuat Sheza terpuruk.
salahkah bila dia menjadi acuh, tak peduli. apalagi menanggapi permintaan maafnya.
Ini membuat Sheza salah tingkah dan dia mulai merasa tertekan. Dan menjadi tak nyaman lagi menikmati makan malam bersama-sama. Dia ingin pergi, menghindari ketidak pedulian Najib yang membuat dirinya tersiksa.
Dia memang salah. Tak seharusnya dia memandang lelaki di depannya itu dengan membawa perasaan, apalagi dengan membangkitkan kenangan di antara mereka, meski dengan diam. Itu sudah membuat suaminya tersinggung.
Ada hal yang tak dapat dipungkiri kalau dirinya sangat galau saat ini. Bayangan masa lalu, melintas begitu saja dalam angannya. tentang cerita indah mereka, Bahkan jantung dalam dadanya mengalunkan getar yang sama seperti saat itu, saat mereka masih bersama.
Tapi ini salah, tak seharusnya dia menyimpan rasa itu, ada lelaki lain yang sangat peduli padanya. Saat dia merasa sendiri, dia selalu ada menemaninya. Saat dia menangis, dia selalu siap untuk mengusap air matanya. Saat ia rapuh ingin jatuh, dia selalu siap menopangnya. Bahkan kedua bahunya selalu siap untuk bersandar ketika dia terpuruk. Apa yang kurang? semua telah sempurna.
Satu yang kurang, bahwa dia tak bisa lepas dari harapan untuk menyayanginya selalu. Seharusnya bahagia, tapi mengapa itu membuatnya tersiksa.
Tuhan, mengapa dosaku semakin menumpuk padanya. Pantaskah aku mendapatkan maafnya?
Aku sangat ingin menyambut cintanya saat ini. Namun mengapa engkau datangkan dia lagi. Dia yang membuatku sakit, bahkan perihnya masih terasa sampai kini.
Aku ragu pada diriku, untuk bisa bertahan dalam harapanku yang ingin memulai yang baru. Sesuatu yang telah kami cari dan rindukan selama ini. Ikatan yang sebenarnya.
"Kak, aku ke mobil dulu dulu." ucapnya dengan ragu, berharap Najib mau menengoknya. Sayang apa yang diharapkan tidak terjadi. Najib masih dengan sikap yang sama. Entah dia sengaja tak peduli, atau memang dia tak dengar. Yang pasti dari sorot matanya, terlihat sendu, seperti menyimpan sebuah beban. Mungkinkah dia marah ataukah sekedar cemburu?
__ADS_1
"Mas." Sheza mencoba memanggilnya sekali lagi, meminta perhatian Najib untuk memastikan apakah dia boleh pergi atau tidak.
"Ya." Suaranya sangat pelan dan dengan nafas yang berat. Tapi tak mengapa, itu sudah membuat Sheza lega.
Dia pun bangkit dan memberi hormat pada tamunya untuk berpamitan.
"Maaf Mr. Pheza, saya keluar dulu,"
"Oh, sayang sekali nyonya Najib. Padahal aku suka dengan pemikiranmu. Tapi tak mengapa. Terima kasih atas masukan-masukannya. Insyaallah ini akan jadi dasar kerjasama kita. Biar nanti diketik sama asistenku, kita berdua tinggal tanda tangan. Begitu kan, Mr. Najib."
Najib mengangguk dan tersenyum.
"Apa Iza aku ajak sekalian, Mas?"
"Iza ikut mama dulu ya ....?
Gadis itupun mengangguk, meraih tangan Sheza dengan malas.
"Terima kasih, Sayang," ucap Najib kemudian.
Meskipun hanya sekedar basa-basi dengan memanggilnya 'sayang', namun itu cukup membuat batinnya sedikit terobati. Langkahnya menjadi ringan. Dia merasa sangat berharga di depan rekan kerja suaminya.
Dia melangkah berlahan, meninggalkan tempat pertemuan dengan menggandeng tangan Iza yang kini jalannya sudah tak stabil lagi, sesekali kepalanya mengangguk-angguk tanpa sadar, bahkan kadang berhenti sendiri meski sesaat. Namun entah mengapa Sheza tak ingin menggendongnya. Mungkinkah dia terlalu sibuk dengan dirinya hingga tak mengerti kalau gadis kecil itu memerlukan sandaran untuk meletakkan kepalanya dari pada harus berjalan sambil mengantuk begini, ataukah karena dia tak tahu caranya bagaimana.🤔🤔🙈
__ADS_1
"Iza, tahan sebentar ya. Itu mobilnya." Hanya itu yang bisa dia katakan sambil menahan diri untuk tidak ngedumel, mengiringi langkah Iza yang mulai tertatih-tatih.
Untunglah Iza tak rewel, mengikuti langkah mamanya seperti tanpa daya. Antara hati, pikiran dan angan bukan pada jalur yang sama. Mengembara sendiri-sendiri, menurut keinginan masing-masing.
Sampai di mobil, dia segera membaringkan tubuh Iza di bangku tengah. Tak lama kemudian, mata Iza sudah tertutup sempurna meninggalkan indahnya mayapadya yang berhiaskan rembulan dan kerlip bintang di angkasa di waktu malam. Jiwa telah sempurna menyeberang menuju alam mimpi yang tiada abadi.
Sejenak Sheza menyandarkan punggungnya di samping Iza. Sesekali mengusap wajahnya dengan tangannya dengan diiringi nafas pelan. Dia bergumam lirih dalam batin,
"Antony, mengapa kita bertemu lagi. Saat aku sadar bahwa ada cinta yang tulus untukku. Tak bisa kah kamu menghilang saja, di alam nyata atau dalam angan ini. Agar aku bisa meniti hal baru bersama Kakak yang kasih sayangnya tak pernah habis untukku."
"Sesaat lalu aku punya keyakinan, diriku akan mampu merebut kembali kakakku dari wanita itu. Tapi sekarang mengapa ada keraguan dalam diriku, apakah aku masih memiliki keyakinan untuk memperjuangkan itu dengan hadirmu di hadapanku saat ini."
"Tapi aku juga masih ragu, apakah dirimu masih memikirkan ku seperti aku memikirkanmu, atau bahkan kini kamu sudah bersama wanita lain."
"Jika demikian, alangkah malang nasibku. Menanti orang yang tak pantas untuk dinanti. Melepaskan seseorang yang sangat berarti, dan kini harus berjuang sendiri merebut kembali yang seharusnya telah aku miliki. Sungguh mengenaskan nasibku ini."
"Tubuh bisa diam, mata boleh terpejam, tapi jiwa ini seakan tak bisa tenang. Sebenarnya apa yang engkau inginkan Shezaaa ..." Jerit batinnya memaki jiwanya yang mudah terombang-ambing.
Tak ada salah dengan udara dalam mobil ini, buktinya Iza bisa tidur dengan nyenyak. Tapi mengapa dirinya seakan sulit bernafas.
Dia segera membuka pintu, menatap alam yang tak lagi berwarna. Pudar dalam gelapnya malam yang kian pekat.
Dia mencoba melepas nafas yang sempat tertahan dalam dada dengan berlahan, sambil melangkahkan kakinya menuju gemiricik air dari sungai buatan di taman kecil ini.
__ADS_1
Lama dia menikmati suara air itu sampai-sampai tak dipedulikan lagi dinginnya angin malam yang mulai berhembus, membawa embun yang mulai turun, menyapu wajah yang kian sendu.