Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Pura-pura Bahagia


__ADS_3

“Putriku, Ibu,” jawab Aina tanpa ragu dan tak lupa bibirnya menyungging sebuah senyuman. Entahlah, saat ini dia memilih untuk menyembunyikan semua lebih dahulu daripada berterus terang dengan keadaan Najib yang sebenarnya.  


Tentu saja membuat Najib terkesima dan bangga, tak mengira kalau Aina lebih memilih untuk menutupi semua dari pada mengatakan yang sebenarnya seperti yang sudah dia katakan sebelum mereka berangkat, meskipun dia sama sekali tak keberatan kalau Aina mengatakan yang sebenarnya.


Dirinya ingin sekali memberikan kecupan kecil sebagai ucapan terima kasih, karena sudah memperkenalkan Iza sebagai putrinya di hadapan orang tuanya, lepas adanya persoalan dia antara mereka. Namun seketika dia urungkan manakala melihat sorot mata Aina yang tidak bersahabat.


Lagian kamu tak tahu tempat banget, Najib. Ini masih di hadapan Bapak Ibunya lho ... Nanti saja kalau berdua. Itu kalau masih dia berkenan.


“Iza. Sayang. Kasih salam sama Nenek dan Kakek, Nak!”


Iza segera menghampiri mereka.


 “Assalamualaikum`alaikum Nek Kek,” ucapnya dengan wajah yang berseri-seri.Tangannya yang mungil meraih tangan kanan bu Rahman dan Pak Rahman, menciumnya dengan takdzim secara bergantian.  


Senyumnya yang menawan dan tingkahnya yang lucu membuat Bu Rahman dan Pak Rahman langsung jatuh cinta.


“Masya Allah, Ibu senang sekali. Belum satu tahun kamu menikah, kamu sudah memberikan ibu seorang cucu yang manis sekali.”


“Ya, Ibu.  Aku sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri.”


“Semoga dengan ini kamu juga segera diberi amanah dari Yang Kuasa untuk segera memiliki seorang momongan yang lahir dari rahimmu sendiri. Ibu sangat berharap. Tahu sendiri, ibu sudah tua.”


“Aamiiin Ya Allah,” ucap Najib dengan suara keras, membuat Aina melongo. Ini menjengkelkan sekali. Haruskah dia berharap hadirnya seorang buah hati di antara mereka di saat ada keinginan dalam dirinya untuk menjauhi Najib.


“Maafkan Aina, Ibu.” Aina menunduk sedih. Kalau begini bagaimana dirinya akan mengatakan keadaan pernikahannya saat ini. Dan tak mungkin dia akan merusak pengharapan orang yang dia sayangi.

__ADS_1


Bu Rahmah hanya tersenyum simpul melihat perubahan air muka putrinya yang tiba-tiba. Padahal dia hanya bercanda, tidak bermaksud apa-apa. Masak dia akan memaksa putrinya untuk segera hamil, kalau Yang Kuasa belum menghendakinya.


“Jangan kau pikirkan, nanti kalau sudah waktunya, pasti Allah akan kasih. Mungkin dengan cucuku yang ini, kamu akan diberi kemudahan untuk mendapatkan momongan.”


“Doanya, Ibu.”Lebih baik mengalah. Tak perlu mereka tahu dengan apa yang ia rasakan saat ini.


“Sini sama Nenek.” Bu Rahmah melambaikan tangannya, memanggil Iza yang sedang bermanja pada Najib. Dia begitu gembira mendapat panggilan itu. Dia segera turun dari pangkuan dan menghampiri Bu Rahmah dengan tertawa.


Bu Rahman meraih tubuh kecil itu dan menghadiahi sebuah kecupan dan pelukan hangat. Lalu mendudukkan dalam pangkuannya. Sedangkan Aina mencoba menghindar dari percakapan yang mungkin yang akan membuatnya semakin sedih, Dia masuk ke dalam rumah, mencari sesuatu yang bisa dia suguhkan untuk suami dan putrinya. Tak mungkin dia bertindak sebagai tamu di rumah orang tuanya sendiri, apalagi saat ini mereka sudah sepuh. Sudah seharusnya dilayani bukan melayani.


Tak lama kemudian dia sudah kembali dangan sebotol air dingin, juga teh hangat dan juga juga pisang rebus di atas napan.


“Maaf hanya ada pisang.”


Aina mengambil sebatang pisang dan mengupasnya untuk Iza yang terlihat enggan mencicipi pisang itu.


“Enak kali, Ma,” ucapnya dan kembali melahap pisang yang ada di tangan Aina sampai habis.


“Sayang, aku juga mau.” Sengaja Najib berbicara keras, agar terdengar Bapak Ibu mertua yang ada di depannya.


Sontak  Aina melotot, menatap Najib dengan kesal. Kalau begini, Dirinya tak bisa lagi berkelit untuk tidak meluluskan permintaannya. Najib melakukannya di depan orang tuanya. Tak dilakukan, khawatir mereka akan menduga yang tidak-tidak, yang akan membuat mereka kecewa. Dilakukan,  agak malas juga. Ya sudah ... lakukan saja, meski tidak ikhlas-ikhlas amat. Ini benar-benar memalukan.


“Hehehe ... Ini Mas.”Aina  menyodorkan pisang yang sudah dikupasnya yang segera dilahapnya sepotong demi sepotong. Dapat separuh, Najib pun meraih pisang dari tangan istrinya. Lalu melanjutkannya mengupas pisang itu. Lalu memberikannya pada Aina.


“Sayang menyuapiku sampai melupakan dirimu. Makanlah!”Aina menatap Najib tak percaya. Ada-ada saja ...

__ADS_1


Meski dengan malu, akhirnya dia makan juga pisang rebus itu dari tangan suaminya.


Najib benar-benar memanfaat situasi dan kondisi untuk bisa meluluhkan hati Aina yang saat ini terlihat ingin mengabaikannya. Mumpung di rumah mertua, tak ada salahnya kalau dirinya mencoba merayu untuk kembali membuka hati untuknya. Tak ada salahnya memperlihatkan kemesraan, toh mereka orang tua yang sangat mengerti. Yang tentu saja sulit bagi Aina untuk menolak perlakuan ini.


Tak urung perbuatan mereka itu, membuat Bapak Ibu Rahman tersenyum. Dia menantu yang sangat manja. Untung saja putrinya mengerti. Dan mengimbangi kemanjaannya, tapi tak melupakan putrinya juga. Membuat mereka makin bahagia.


“Lagi dong, Yang.” Sekali lagi Aina dibuat kikuk dengan pemintaan dari mas suami. Tak ada pilihan lain, selain menurutinya.


“Makasih. Ini manis sekali. Apa matang dari pohonnya, Pak?” Dia menikmatinya dengan tidak mengabaikan mertua yang ada di depannya.


“Ya, Nak. Bapak tak tahu kalau sudah menguning di pohon, sampai ada beberapa buah dimakan codot Bapak tak tahu.”


“Wah ... keenakan itu codot. Mendahului diriku.”


Mereka bercengkarama di ruang tamu, berbincang-bincang hangat sampai pisang yang ada dalam piring pun tandas tak terasa. Sesekali terdengar celotehan Iza yang membuat seisi ruang tertawa.  Berlahan-lahan Aina mengundurkan diri meninggalkan mereka, menuju dapur. Agar tidak semakin terjebak dengan kemanjaan Najib padanya. Dan sudah waktunya untuk menyiap untuk makan malam nanti.


Dia begitu asyik memotong sayuran, sehingga tak menyadari kalau Najib kini tengah berdiri di pintu dapur, dengan membawa piring bekas tempat pisang rebus, memperhatikannya dengan senyum dikulum.  Rasanya dia ingin bersorak, karena sudah berhasil menjebak Aina dalam permainannnya. Salah sendiri minta pulang, hehehe ....


Najib segera meletakkan piring itu dan mendekati istrinya, memeluknya dari belakang.


“Terima kasih, Sayang. Kamu sudah menerima Iza sebagai putrimu.Tak habis kata untuk bisa mengungkap rasa terima kasihku.” Modus he ....


“Apaan, sih!” Tingkahnya yang di ruang tamu saja sudah membuat dirinya muak. Ini pakai peluk-peluk segala. Dia segera menepis tangan Najib. Dia benar-benar risih. Dia pun segera menghindar saat Najib ingin memeluknya kembali.


“Yang, aku bantu, ya?” Tak ada jawaban dari Aina. Dia tetap memotong sayuran itu tanpa mempedulikan Najib di sampingnya.

__ADS_1


Namun Najib tak berputus asa. Dia mengambil pisau dan membantu mengupas bawang merah yang Aina letakkan di atas meja.


“Innalillahi ....”


__ADS_2