Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Aina ....


__ADS_3

Antony menatap tak peduli pada Najib yang sedang memasang wajah beringasnya. Kedua tangannya masih memegang setir mobil. Dia ingin segera melajukan mobil itu, pergi meninggalkan tempat itu. Apa yang dia inginkan sudah didapatnya. Iza sudah ada di sampingnya. Dia tak mau apabila Iza lepas dari tangannya. Lebih baik segera pergi, sebelum Sheza dan Najib bisa merusak semua rencananya.


Pranggk ...


Hilang sudah kesabaran Najib. Najib segera melayangkan satu pukulan yang sangat keras pada kaca mobil di depannya, hingga bernasib sama dengan kaca mobil yang satunya. Yang menyebabkan jari-jarinya berdarah.


"Buka!" Sekali lagi dia berteriak.


Suara keras Najib tak juga mampu mengubah keputusannya. Meski dengan keadaan kaca mobil yang berantakan, Dia tidak mematikan mesin mobil, siap untuk pergi.


Tiba-tiba Parman sudah berdiri tegak di hadapannya, menghalangi jalannya.


Kakinya yang sudah hampir menginjak pedal gas, segera terhenti. Sejahat-jahat dia, dirinya tak mau membunuh orang. Dia pun segera mematikan mesin mobilnya. Dan keluar.


"Apa salahku, Najib?"


"Masih juga tanya." Dengan kasar, Dia menyingkirkan tubuh Anthony dari pintu, dan segera meraih Izza yang masih dalam keadaan menangis ketakutan.


"Papaaa ..." Dia menggapai tangan Najib yang terlihat mengeluarkan darah dan masuk dalam pelukannya.


"Sudah, jangan menangis, Sayang. Papa di sini."


"Najib, aku ini papanya. Mengapa aku tak boleh membawanya?"


Najib yang mendengar ocehan Antony yang tak masuk akal itu, menjadi sangat geram. Dia langsung melayangkan tinjunya ke arah perut Anthony.


Aaahhhh ... Antony merintih kesakitan.


"Hati-hati Kau ngomong!"

__ADS_1


Jika tidak di depan Iza mungkin Najib akan mengungkapkan kekesalannya yang dipendamnya sejak beberapa tahun yang lalu. Dan akan memakinya habis sampai dia sadar, bahwa betapa tidak berartinya dirinya bagi kedua wanita yang ada dalam perlindungannya saat ini.


Sheza yang melihat Iza sudah berada di tangan Najib, segera berputar menghampirinya.


"Dia putriku kan, Sheza?" Dia melemparkan pertanyaan itu pada Sheza yang kini telah berdiri di samping Najib.


Tanpa berkata apa-apa, dengan cepat Sheza menamparnya dengan sepatu yang masih belum sempat dipakainya lagi, setelah menggunakannya untuk memecahkan pintu kaca mobil Antony sesaat lalu. Dia menatap Anthony dengan tajam dan matanya pun memerah menahan marah. Dia berusaha keras untuk tidak meluapkannya lagi. Namun itu tak berlangsung lama.


"Berani Kamu bilang dia putrimu ... !!"


Hampir saja telapak tangannya melayang ke wajah Anthony, namun segera Najib menghentikannya.


"Sudah Sheza." Najib menangkap tangan Sheza yang hampir saja mengenainya, lalu memeluknya bersebelahan dengan Iza.


"Sudah, kendalikan dirimu. Tak usah kau pedulikan manusia ini. Ini urusan Kakak."


"Man, polisi?"


Keributan ini tentu saja mengundang perhatian banyak orang, tak terkecuali satpam sekolah.


"Ada apa, Mr.?"


"Hampir saja putriku dibawa dia. Saya minta bapak jaga manusia ini, sampai palisi datang."


"Ok, Mr."


Satpam langsung menarik keras kedua tangan Antony ke belakang punggungnya, tanpa perlawanan. Meskipun wajah Antony mengiba, tak mengurungkan keputusan yang Najib buat. Dia ikut mendorongnya untuk segera mengikuti Satpam yang segera membawanya ke ruang Satpam. Bahkan saat Antony lewat di depannya, dia sempat berbisik di telinganya.


"Kemarin kamu minta bertemu. Nanti di kantor polisi, aku turuti keinginanmu."

__ADS_1


Setelah keduanya pergi, Najib teringat kembali dengan Aina. Saat terakhir dia melihat sedang duduk di atas trotoar. Dia pun melangkah dengan tergesa-gesa menuju ke tempat Aina berada, dengan diiringi Sheza.


"Alhamdulillah kamu selamat, Nak." Senyum Aina merekah tampak menghiasi wajahnya yang bahagia, melihat Iza sudah berada di pelukan suaminya. Aina mencoba berdiri dan berlari, ingin segera memeluk Izza. Namun niat itu harus kandas saat dirinya merasakan nyeri yang amat sangat menyerang perutnya.


"Eeeeee ... Astaghfirullah al adzim, maafkan Ibu, Nak," ucapnya lirih sambil mengusap perutnya dengan lembut. Dia limbung, tak kuat menahan keseimbangan tubuhnya. Dia akan terduduk kembali.


Sheza segera lari menghampirinya lalu menahan tubuhnya. Demikian juga Najib, namun tangannya tertahan karena sedang memeluk Iza.


Untuk sesaat Najib terpaku melihat perubahan Sheza yang luar biasa terhadap putrinya dan kini kepada Aina juga.


"Terima kasih, Mbak Sheza." Aina menggenggam erat tangan Sheza. Menahan sakit yang dirasakannya. Buliran-buliran keringat dingin keluar dari tubuhnya. Wajahnya pun tampak semakin pucat. Yang dia bisa lakukan saat ini hanyalah mengambil nafas panjang dan menghembuskannya dengan tenang. Namun itu tidak bisa menolongnya. Entah mengapa, penglihatannya menjadi samar.


Sheza yang merasa Aina yang akan tidak sadarkan diri segera menepuk-nepuk pipinya lembut dan memanggil-manggil namanya," Aina ... Aina."


Sebenarnya dia masih mendengar panggilan itu, tapi untuk menyahutinnya dia tidak mampu lagi, sebelum semuanya gelap. Dan dia tidak tahu lagi apa yang terjadi.


Sheza menjadi sangat panik ketika Aina benar-benar tidak sadarkan diri. Dia pun berucap, memanggil Najib, "Kakak ... Aina, Kak."


Dia segera menurunkan Iza dari gendongannya lalu segera mengangkat tubuh Aina untuk dibawa ke dalam mobilnya sendiri.


"Mama Aina kenapa, Pa." Dia tidak bisa berpikir untuk menjawab. Dia amat khawatir dengan keadaan Aina. Apalagi dia merasakan ada cairan yang keluar dari balik baju istrinya.


"Iza sama mama Sheza dulu ya." Sambil berlalu pergi menuju mobil.


"Aku ikut, Kak," kata Sheza.


"Oke ... oke,"jawabnya cepat.


Sheza dengan menggandeng Iza, segera berjalan mendahului Najib. Dia segera duduk di belakang kursi kemudi.

__ADS_1


"Sini Kak. Biarkan Aina aku pangku."


__ADS_2