Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Kesepakatan


__ADS_3

"Maafkan aku jika harus egois. Sheza putriku, Najib sudah kuanggap putraku. Ada cinta antara mereka. Sadar atau tidak akan membuat anda terluka, jika diteruskan."


Batin Aina seakan diremas-remas, sangat-sangat sakit mendengar perkataan Arya. Ingin sekali menepis namun semua ada benarnya juga. Tapi, patutkah dirinya disalahkan atas semua ini?


Jika hanya untuk membuktikan seberapa besar cinta mas Najib untuknya, mengapa juga mbak Sheza pakai acara pergi-pergi saat itu. Ini sama saja dia mengabaikan suaminya


Sayang sekali mas Najib kurang bijak, tidak menyelesaikan masalah itu, malah mengambil diriku sebagai pelampiasan meski dengan cara yang benar. Ya, pelampiasan.


Bodohnya diriku, menerima begitu saja tanpa tahu tentang kalian Jika saja aku tahu, mungkin akan lain ceritanya, aku tak ada di antara kalian dan mahligai cinta kalian akan berlayar dengan tenang.


Sadar atau. tidar, kalau kalian telah menyeretku ke dalam pusaran ini, yang membuatku sulit keluar.


Aku sudah mencoba menerima keadaan sebagai yang kedua, namun kamu tak juga bisa menerima. Sampai detik ini pun masih tetap sama. Bahkan kini papamu ikut juga. Terus terang, ini membuatku lelah. Sudah saatnya, Aku harus berhenti dan beristirahat.


Bukan ingin menang atau kalah atau mengalah. Ini tentang rasaku saja, semakin lama berada di sisi Najib, akan membuat semakin terlena dan cintaku akan semakin dalam. Pada akhirnya semua akan semakin rumit. Aku akan semakin sulit melepaskan diri dan kita sama-sama tersiksa dan tersakiti.


"Aku mengerti. Tak ada wanita yang ingin berada di posisi seperti yang aku alami saat ini. Di antara dua orang yang saling mencintai dan telah sah juga di mata Tuhan. Aku melihat jelas bagaimana sayangnya Mas Najib kepada putri Tuan. Tak ada celah bagiku untuk bisa memisahkan mereka. Jika ada niat seperti itu, pasti akan percuma. Aku juga akan kalah. Benar kata Tuan, Jika bertahan kan membuatku tersiksa dan tersakiti. Pergi adalah sesuatu yang harus aku pilih dan jalani. Terima kasih atas nasehatnya, Tuan."


"Syukurlah kalau Anda mengerti. Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan Anda. Apa yang anda inginkan?"


Apa yang anda inginkan? ... Aina menaikkan alisnya.


"Maksud Tuan?"


"Aku tak bisa membiarkanmu pergi dengan tangan kosong, setelah apa yang kau alami karena Najib dan Sheza."


Apa yang kuinginkan?


Aina tertawa kecil. Tak sangka kalau Arya akan berfikir demikian. Menganggap semua bisa selesai dengan harta, bahkan soal hati dan rasa juga. Apakah mungkin itu terjadi. Atau memang demikian pemikirannya. Orang kaya Gitu lho ...

__ADS_1


Bicara tentang keinginan. Aku hanya ingin hidup tenang. Andai saja waktu bisa berulang, aku tak ingin semua terjadi. Sehingga aku tak perlu mengenal mas Najib atau pun Tuan Arya.


Bila aku pergi, tak ingin aku mengenang mereka dengan imbalan yang mereka berikan. Cukup rasa sakit ini sebagi alasan untuk bisa menjauh dari kehidupan mereka.


"Tidak perlu. Tak ada yang ku korbankan. Doakan saja, agar putraku lahir dengan selamat."


Arya tertegun dengan sikap Aina, mengapa ia menolak kemurahan hatinya.


"Aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja. Aku akan memberikan sebagian saham yang aku miliki untuk putramu, kalau kamu tak mau menerimanya."


"Terserah Tuan." Aina tak peduli dengan apa yang akan dilakukan Arya. Satu yang sudah menjadi tekadnya, Pergi sejauh-jauhnya sampai mereka tak bisa menemukannya lagi.


Arya tak bermain-main dengan kata-katanya. Ia langsung menghubungi seseorang. Ia tampak serius dan sesekali mengerutkan dahi. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


"Maaf, aku tak mau kesepakatan ini ditunda. Sebentar lagi pengacaraku akan datang."


Aina sampai mengangkat alisnya, tak mengerti. Apakah kesepakatan untuk menukar hati dan rasa dengan sejumlah harta yang tak seberapa. Apa itu bisa? kurasa itu sia-sia. Yang kami butuhkan adalah bagaimana mengobatinya, mencoba menerima dengan apa yang sudah menjadi ketentuannya.


Ia menatap Arya, tanpa berkata-kata. Mencoba memahami jalan pikiran lelaki yang ada di hadapannya.


Lama-lama jengah juga. Mungkinkah ini yang dinamakan diambang batas kesabaran. Hampir-hampir amarahnya tak lagi bisa dia kendalikan. Ingin sekali menyuruh Arya segera pergi dari hadapannya,.


Untung saja ia masih ingat batasan. Urung mengucapkan kata-kata yang tak sopan yang mungkin Akan menyakiti perasaan. Ia masih sadar, kalau Arya adalah orang tua angkat Najib, suaminya. Berarti orang tuanya juga., yang harus dihormati, meski tak pernah diakuinya, bahkan sekarang memintanya pergi dari kehidupan Najib.


Dari pada memperhatikan Arya, yang akan membuatnya kesal, sedih dan marah, lebih baik diam. Mungkin buku adalah pilihan yang tepat untuk mengalihkan pikirannya saat ini. Meski tak bisa menikmati dan mengerti isinya, setidaknya bisa mengalihkan hati yang sedang tidak baik-baik saja.


Sesekali Aina melihatnya dengan ekor matanya, Arya yang keluar masuk ruangannya. Seperti tak sabar menantikan kedatangan seseorang.


Untunglah, tak berapa lama orang yang ditunggunya datang.

__ADS_1


"Tuan Arya, apa ini yang anda perlukan?"


Arya segera mengambil map yang ada, membacanya sebentar dan mengangguk senang. Lalu membawa lembaran itu pada Aina.


"Bacalah dulu!"


"Tidak perlu. Aku percaya pada Tuan." Ia segera meraih bolpoin yang di sodorkan Arya.


Tangan bergetar saat membubuhkan tanda tangan di lembaran itu.


Ada rasa sakit, nyeri, marah, bingung, hampa, semua jadi satu. Dia telah kalah untuk sesuatu yang tak pasti. Hampir-hampir saja air matanya menetes, jika tak ingat sekarang berhadapan dengan siapa.


"Sudah." Ia pun mengembalikan berkas itu pada Arya.


Arya pun mengangguk puas. Apa yang ia inginkan sudah tercapai. Memang terlihat kejam, tapi bukankah dia sudah memberikan imbalan yang pantas untuk itu semua. Aina dan anaknya akan terjamin hidupnya meski tidak bersama Najib lagi


"Maafkan aku, mengganggu istirahatmu. Assalamualaikum." Ia pun berpamitan.


"Wa'alaikum salam." Ia berusaha keras agar Arya sama sekali tidak melihat kalau batinnya benar-benar hancur.


Arya segera melangkah keluar, meninggalkan Aina seorang diri.


Ia masih bisa bersikap tegar saat Arya masih ada di hadapannya, Namun begitu menghilang dari pandangan, dia tak bisa lagi menutupi kalau jiwanya sangat rapuh. Tetes air matanya pun tak lagi bisa dibendung, mengalir deras dari kedua sudut mata yang tertutup rapat.


Tuhan ... Beri hamba kekuatan, batinnya berbisik pilu.


"Anya, bisa jemput aku sekarang?"


"Tunggu sebentar, aku masih ada pasien. Besok aku baru bisa datang." Jawab seseorang di ujung teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2