Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Menjenguk Aina


__ADS_3

Sejenak dia tertegun menatap orang yang kini ada di hadapannya. Seorang wanita dengan tubuh tertutup rapat oleh baju yang indah, menyisakan wajah dan juga telapak tangan. Dia ingin menghindarinya, tapi tentu saja itu tak bisa. Karena Sheza benar-benar di hadapannya.


“Sheza,” bibirnya berucap lirih. Sesaat dia terpaku, ingin sekali dia memeluknya, tapi dia ingat kalau saat ini dia bukan siapa-siapa lagi. Jujur saja kalau masih ada  desiran lembut menyentuh hatinya. Apa itu cinta atau kasih sayang kepada adik saja yang bersemayam di hatinya, yang sampai saat ini tak bisa dia lepaskan. Begitu kuat terpatri dalam jiwanya.


“Papa...” Suara  Iza membuyarkan lamunannya. Pandangannya beralih pada gadis kecil yang ada di samping Arya. Tangan mungil itu segera berlepas diri dari genggaman Arya. Dia mengengadahkan kedu tangan, menatapnya penuh damba dan kerinduan. Berharap Najib segera meraih dalam pelukan.


“Anak Papa.” Najib segera mensejajarkan tubuhnya, meraih gadis mungil itu ke dalam dekapannya. Kerinduan yang mendalam, dia tumpahkan dengan banyak kecupan di pucuk kepala dan pipi tembem gadis kecil yang  memeluknya dengan kerinduan juga. Tanpa melepaskan gadis kecilnya, dia pun meraih tangan Arya, menciumnya dengan takzim.


“Senang sekali papa bisa datang ke sini.”


“Aku hanya mengantarkan putriku.” Jawab Arya acuh. Meski demikian dia menyambut tangan Najib yang sudah terlanjur meraih tangannya. Hanya sesaat dia bersalaman, lalu melepaskan tangan Najib begitu saja.


“Terima kasih, Pa.” Najib tidak kecewa dengan sikap Arya yang demikian, tetap menyambutnya  hangat . Kini ia beralih  menatap wanita yang ada di samping Arya kembali.


“Assalamualaikum, Kak,” sapa Sheza sambil menunduk. Dia sama sekali tak ingin melihat Najib.


“Waalaikum salam....” Dia berusaha melukis sebuah senyuman  di wajahnya.


Ini berat, ya Allah. Aku tak menafikan kalau rasa itu masih tersimpan di dalam dada ini. Namun aku sadar untuk mengarungi mahligai rumah tangga dengan dua istri terlalu sulit. Maafkan aku, Sheza. Batin Najib menjerit, bergemuruh lirih.


“Kakak, boleh aku menjenguk Aina?”


“Ya.. ya ... Masuklah!” jawab Najib dengan gugup. Dia membuka pintu lebih lebar. Dia segera berpindah posisi,  mengambil tempat di samping pintu, agar Sheza bisa masuk dengan leluasa.


Dengan wajah tertunduk, Shaza  berjalan melewatinya menuju ke dalam ruangan di mana Aina tengah duduk  bersandar di atas ranjang. Dia ingin mengungkapkan sesuatu pada Aina sebelum pergi ke Australia.


Tanpa dia sadari Iza pun melihat orang yang tengah dituju oleh Sheza. Bola matanya membulat sempurna, berbinar bahagia, saat tahu orang yang tengah duduk bersandar di atas ranjang.


“Mama ...” Tangannya menggapai-gapai, agar segera diturunkan. Dia ingin segera memeluk orang yang selama ini dia rindukan.

__ADS_1


Najib tidak menurunkan Iza dari gendongannya, melainkan ia mengantarkannya  ke dekat Aina dan mendudukkannya langsung di samping Aina.


“Mama, aku kangen.” Tangannya yang mungil segera memeluk Aina dan merebahkan kepalanya di atas perut Aina yang membuncit.


“Mama juga kangen, Sayang.” Aina pun memeluknya dengan hangat. Tak terasa kristal-kristal bening lolos dari ujung matanya. Dia kecup dahi Iza dengan sangat lembut dan mendalam. Tak lupa tangannya mengusap punggung Iza dengan penuh kasih sayang. Tangan Najib pun tetap mengusap kepala Iza. Karena dia pun masih belum puas melepaskan rindunya.


“Iza tidak nakal, kan. Waktu bersama dengan mama Sheza?” bibirnya tersenyum saat mengucapkan itu. Bukan maksud menginterogasi, tapi begitulah iya bila ingin putrinya mengingat semua yang telah diajarkannya. Sedikit cerewet tidak mengapa, kan?


Iza mengangkat kepalanya, menatap Aina dengan wajah cemberut.


“Iza selalu ingat pesan mama. Di manapun berada Iza harus berbuat baik. Iza nggak pernah nakal kok sama mama Sheza. Ya kan, Ma?” ujarnya sambil menengok ke arah Sheza dengan sorot mata memohon.


“Iya kan, Ma?” ujarnya sekali lagi.


“yyya ...ea ... ya.” Sheza tergagap tak tahu harus menjawab apa.


Dia merasa tersisihkan dan kalah melihat interaksi antara putrinya, Aina dan juga Najib. Iza yang notabene adalah putri kandungnya, tapi kemanjaannya, rasa senangnya, rasa hangatnya hanya bisa ditunjukkan pada Aina, bukan dirinya. Aina bukaan siapa-siapa bagi Iza, tapi Iza amat sayang padanya, begitu juga sebaliknya.


Dulu dia terlalu menuruti egonya hingga merelakan kesempatan yang ada, untuk dekat dengan putrinya hilang begitu saja. Hingga putrinya lebih merindukan Aina daripada dirinya, ibu kandungnya.


Dia menghela nafasnya dengan sedih. Mencoba untuk menumpahkan segala keresahan yang dia ingin tutupi. Dia tetap pada posisi semula, berdiri tegak dengan tangan dilipat di atas dada. Sesekali menopang dagunya dengan tangan kanannya. Demikian pula dengan matanya, sesekali terpejam atau membuang pandangan ke arah luar agar tak menyaksikan moment indah yang ada di depannya.


Dia mencoba bertahan dalam kecemburuan yang amat sangat pada Aina yang telah menguasai jiwa putrinya dan juga suaminya dengan sempurna.


Tak sengaja Aina melihat kegelisahan-kegelisahan Sheza. Dia merasa tidak enak hati, segera berhenti dari beradu dahi dengan Iza.


“Sudah Kak, mama capek.” Dia melepas tangan mungil itu dari genggamannya.


“Iza ngerti kok, Ma. Biar mama dan adik bisa istirahat.” Lepas dari genggaman Aina, tangan Iza kini beralih bermain-main di atas perut.

__ADS_1


“Kapan sih Ma, adik keluar. Aku sudah kangen ingin gendong adik.’ lalu Ia  merebahkan kepalanya di atas perut, membuat Aina  sedikit tertekan. Dia merasa seolah-olah ingin buang air kecil.


“Mas ... “ Bibirnya berucap lirih. Meminta pada Najib agar mengangkat Iza dari atas perutnya.


“Ayo Kak, kita beli es krim!” ajak Najib kemudian.


“ Tidak ah, aku masih kangen sama adik.” jawabnya tak peduli.


“Tapi adik juga mau es krim.” Aina menimpali.


“Benarkah?” Izza pun mengangkat kepalanya. Ia menatap Aina tidak percaya.


“Bagaimana makannya, Mama?”


“Nich ...” Jari Aina menunjuk ke bibir.


“Bagaimana mungkin ... Bilang saja kalau mama yang ingin es krim.”


“Yang ingin itu adik, Kak. Cuman, makannya lewat mulut mama.” Senyum Aina mengembang. Rasanya bahagia sekali, pada saat ia mampu menggoda gadis kecil itu.


“Iiih ... Mama, Aku tidak percaya. Tapi baiklah Izza akan belikan es krim untuk Mama dan adik.”


“Gitu dong, Kakak yang baiiik.” Ucapnya lembut, penuh penekanan dan kasih sayang. Tak lupa pula dia mentowel ujung hidungnya.


Dia merapikan duduknya dan mengengadakan kedua tangannya pada Najib, ingin digendong.


“Oke Kakak, ayo kita pergi beli es krim.” membalikkan badan, menyuruh Iza naik ke punggungnya. Mereka pun melangkah meninggalkan Aina.


“Oh iya jangan lupa untuk mama Sheza juga.” ucap Aina dengan nada yang lebih lantang.

__ADS_1


“Beres Ma.” Jawab Iza tak kalah lantang. Tak lama kemudian keduanya telah menghilang di balik pintu.


Kini di dalam ruangan itu hanya ada dirinya dan juga Sheza.


__ADS_2