Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
UGD


__ADS_3

"Iza di depan sama Papa, ya."


Iza menurut ketika tangannya ditarik Najib. Dia mengikuti Najib melangkah, lalu segera duduk begitu pintu terbuka. Najib dengan cepat menutupnya dan berlari ke tempat kemudi. Begitu duduk, dia langsung menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya dengan sedikit tergesa. Masih tergambar jelas kecemasan di wajahnya.


Sesaat Sheza teringat akan mobil yang dikendarainya saat menuju ke sekolah ini. Untung mobil belum terlalu jauh bergerak sehingga dia masih bisa memanggil art-nya.


"Parman, bawa mobilku pulang," ucapnya cepat sambil melempar kunci yang dipegangnya.


"Baik, Non," ucap Parman. Tangannya bersiap-siap menangkap kunci yang melayang ke arahnya.


Najib melajukan mobil itu sangat kencang sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di rumah sakit terdekat. Dia langsung menuju ke UGD begitu tiba.


Dua orang perawat yang melihat kedatangannya langsung mengambil ranjang beroda. Membawanya ke hadapan Najib yang sedang membopong Aina. Dia segera meletakkan tubuh itu di ranjang. Bersama kedua perawat, Dia masuk ke dalam ruangan.


"Aina ... Aina, sadar dong Sayang." ucapnya cemas. Tangannya tak henti menepuk lembut pundak Aina. Begitu ranjang itu berhenti, dia langsung menuju pada wanita yang sedang duduk di kursi lengkap dengan peralatan medis di lehernya.


"Istriku, Dok."


Dokter itu pun mengangguk. Lalu melangkah ke ranjang Aina.


"Bapak di luar dulu ya. Biar kami leluasa untuk memeriksanya."


Najib tak mendengarkan saran dokter yang kini sudah akan mulai pemeriksaan.


"Sayang, cepet bangun dong jangan buat kami khawatir."dia berbisik lembut di telinga Aina sambil memegang erat tangannya tanpa peduli pada perawat melakukan pemeriksaan awal. Setelah dokter itu mendekat, Najib pun tersadar. Lalu segera beranjak, melangkah keluar.


Wajahnya masih terlihat sedih, saat dia menutup pintu. Belum sempat dirinya melangkah menuju kursi penunggu, Sheza dan Iza datang menghampirinya.


"Bagaimana Mama Aina, Pa?" pertanyaan itu keluar dari bibir Iza bukan dari Sheza, membuatnya berpikir, apakah saat ini Sheza sedang cemburu.


"Kita doakan semoga cepat sadar ya, Nak." jawab Najib pelan. Lalu dia mengajak mereka mencari tempat duduk yang nyaman.


"Sheza, makasih atas pertolongannya."


Tidak ada jawaban iya atau anggukan kepala. Sheza hanya diam membisu. Sesaat Najib sedih melihat sikap Sheza yang kembali dingin. Namun dirinya tak mampu berpikir jauh, sampai saat ini, Dia masih khawatir dengan keadaan Aina dan calon baby yang sedang dikandungnya.


"Papa, aku lapar." ucap Iza yang seketika menyadarkannya kembali dengan kewajibannya.


"Astaghfirullah al adzim, maafkan papa Nak."

__ADS_1


Najib segera mengeluarkan benda pipinya dari dalam saku.


"Iza pengen makan apa?"


"Ayam goreng saja Pa, sama es teh."


"Untuk Mama Shesa, apa?"Dia melirik pada wanita yang duduk di sampingnya.


"Aku belum lapar, Mas." Suaranya lirih seperti menahan beban.


"Baiklah, kalau begitu kita pesan menu yang sama." Najib segera menulis apa yang diinginkan pada benda pipih tersebut Lalu memasukkannya dalam saku.


Setelah menatapnya penuh, Najib baru sadar kalau Sheza sedang tidak baik-baik saja. Pandangannya menerawang jauh ke depan dengan kepala tersandar di tembok.


"Dik, kamu kenapa?"


"Tidak apa-apa, Mas." Dia jeda sejenak sambil menghirup nafas dalam-dalam.


"Jangan perhatikan Aku. Perhatikan saja Aina," jawabnya kemudian. Yang seketika membuat Najib terdiam.


"Maafkan Aku, Dik. Aku sungguh khawatir dengan keadaannya sampai tidak memperhatikanmu."


"Oh iya, tadi papa telepon kalau nanti sore akan datang. Makanya aku tadi ke sekolah, mau jemput Iza."


"Benarkah?"


"Mas takut ya, ketahuan selingkuh."


Aku bukan selingkuh, Sheza. Tapi aku menduakanmu. Benar atau salah aku tidak tahu. Yang pasti ini sangat berat aku rasakan. Melihat kalian tersiksa, aku pun tersiksa. Dan Aku pun tidak tahu apa yang mesti kuungkapkan di hadapan Tuhan kelak mengenai kalian bila kalian tidak memaafkanku saat ini. Melepaskan salah satu diantara kalian, manambah berat beban itu bagiku ... Batinnya berbisik lirih seiring dengan nafas yang keluar perlahan.


"Papa sudah tahu."


"Dari mana papa tahu?"


"Aku kasih tahu kemarin saat papa ada di Surabaya."


"Syukurlah kalau Papa sudah tahu."


Perbincangan mereka terhenti manakala makanan yang mereka pesan telah datang, bersamaan pula dengan kemunculan seorang perawat yang memanggil mereka dengan keras.

__ADS_1


"Keluarga nyonya Aina."


"Ya, saya." sahut Najib.


"Dek, maaf nggak bisa temenin kalian makan." Najib segera bangkit dan menyerahkan kotak makanan itu pada Sheza.


"Aku mengerti, Mas. semoga Aina cepat sembuh," ucap Sheza dengan tertunduk sedih.


"Iza makan sama Mama saja ya. Papa mau tengok Mama Aina."


"Iya, Pa."


Saat akan melangkah Sheza menghentikannya.


"Mas, bawa ini." Dia memberikan satu kotak makanan kepada Najib.


"Sheza?" Dahi Najib berkerut.


"Habis ini aku langsung pulang. Aku nggak bisa tengok Aina. Salamku saja Kakak sampaikan. Iza aku bawa sekalian. Jika Mas nggak bisa datang nanti, nggak apa-apa." Ini adalah sebuah alasan agar dia bisa terhindar untuk bertemu Aina.


Bagaimanapun dia selama ini sering menyakiti Najib, tapi dirinya masih menyimpan rasa, sehingga saat mendengar kata sayang terucap dari bibir Najib, batinnya seperti terbakar dan tersiksa. Lebih baik untuk saat ini menjauhi mereka berdua.


Menolongnya saat itu adalah panggilan dari rasa kemanusiaannya. namun manusiawi juga apabila dirinya cemburu pada saat suaminya sangat perhatian kepada madunya.


"Akan aku usahakan nanti bisa datang menemui Papa."


"Jangan pikirkan papa atau aku. Aina lebih membutuhkanmu."


"Makasih, Dek. Atas pengertiannya."


"Aku pinjam mobil Mas?"


"Ya." Najib segera memberikan kunci mobilnya kepada Sheza. Lalu melangkah pergi, memenuhi panggilan perawat masuk ke ruang UGD.


Masih sempat dia mendengar suara Sheza saat merayu Iza untuk makan, sangat lembut, tak ada lagi tersimpan amarah dalam kata-katanya.


"Iza, disuapin sama mama, Sayang?"


Nuraninya pun berbisik, "Terima kasih, Sheza."

__ADS_1


__ADS_2