
“Ibu Aina?” Sheza bergumam sendiri.
Suami menyebut nama wanita lain? Baru kali dia melakukannya. Api cemburu seketika menyulut jiwanya. Dia mengurungkan niatnya untuk keluar, berbalik kembali menatap Najib, “ Siapa dia Mas?”
Dengan santai Najib menjawab, “Bukankah kamu tak ingin membicarakan masalah keluarga di kantor. Kapan-kapan saja aku jelaskan. Sekarang kamu lihat sendiri, pekerjaanku sedang menumpuk.” Najib tak ingin mempedulikannya lagi. Dia sudah fokus ke berkas-berkas yang ada di hadapannya.
Ya sudahlah, Sheza pun pergi meninggalkan ruang itu dengan jiwa yang sedikit sesak. Benarkah ada wanita lain? Tak mungkin suaminya akan mengkhianatinya, bukankah semuanya yang dia miliki berasal dari papanya.
Dia pun mendekati Indah, sekretaris Najib yang barusan mengantarkan kiriman Aina.
“Dinda, Siapa wanita yang bernama Aina itu?”
Seketika Indah terdiam. Dia juga tak tahu, siapa ibu Aina itu. Kelihatannya mereka sangat dekat. Tapi dia terlalu takut untuk menduga yang bukan-bukan.
“Saya kurang tahu, Bu.”
“Beri tahu atau kamu saya pecat.”
Selalu saja begitu, kalau menginginkan sesuatu pasti dengan ancaman. Jengkel juga Dinda dibuatnya. Tapi bosnya kan bos Najib, bukan Bu Sheza.
“Saya benar-benar tak tahu, Bu. Yang saya tahu, Bu Aina selalu datang, bawa bekal makan siang untuk Pak Najib. Mereka sering makan bersama di dalam, sama nona Iza juga.”
Eeeegghhr... Bukan jawaban yang mengenakkan untuk didengar, justru jawaban yang membuat amarahnya meledak.
Sontak saja Sheza mengerang. Giginya gemeletak, Matanya memerah, menatap Dinda degan tajam. Tangannya mengepal, spontan memukul meja.
Braaakkk ...
“I.. iya, Bu.” Seketika Dinda kaget luar biasa. Sampai-sampai kehilangan kata. Mengucapkannya pun menjadi terbata-bata.
Bolpoin, kertas bahkan laptopnya pun ikut bereaksi, berhamburan melayang meninggalkan meja. Untung saja tangannya sigap, laptopnya segera ditahannya, tidak jadi jatuh, terselamatkan deh. Alhamdulillah ...
Pak Najib kok bisa sabar ya ... menghadapi Bu Sheza yang macam begini.
“Ada apa lihatin saya?”
“Ti ... Tidak Bu.” Dinda menunduk, tak berani menatap Nyonya bos yang masih dengan amarahnya.
Kali ini jantungnya benar-benar dibuatnya olahraga. Melompat-lompat tak terkendali, hampir saja copot. Kalau saja tidak terlatih, mungkin saja bisa copot beneran. Berlatihnya kalau Nyonya bos datang. Tak sering ... minimal seminggu sekali, kalau sedang tidak keluar kota atau ke manalah. Kalau sedang pergi, alhamdulillah ... Ada waktu untuk istirahat.
Hiks ... Hiks ... Hiks. Belum puas istirahat, kenapa juga nyonya besar ini datang. Siap-siap dech, untuk diajak sport jantung lagi.
__ADS_1
Dinda belum berani mengangkat wajah. Masih ada Bu bos. Khawatir terkena amarahnya lagi.
Mengapa juga kalau Bu Sheza ada masalah dalam keluarganya, selalu saja dirinya yang terkena imbasnya. Akhirnya dia dapat bernafas lega. Dan bisa bekerja lagi dengan tenang setelah beberapa saat kemudian Sheza meninggalkannya. Alhamdulillah ...
🌟
Sehari tidak melihat wajah istrinya, membuat Najib semakin kangen dan juga khawatir. Apalagi Aina pasti sudah tahu tentang keberadaan sheza yang bersamanya. Semoga saja istrinya tidak menduga yang macam-macam. Sampai dirinya siap, mengungkapkan yang sebenarnya.
Begitu urusannya selesai, dia pun segera pulang.
“Assalamualaikum ...” ucapnya lembut saat membuka pintu. Biasanya dia akan mendapatkan sambutan hangat dari istrinya. Namun tidak kali ini, Tak ada suara yang manja, yang biasa dia dengar untuk menjawab salamnya. Ke mana dia?
Dia langsung masuk, mencari-cari sesosok wanita yang kini sudah membuat jantungnya bisa berdebar-debar. Dia menyusuri ruang tamu begitu saja, tak mendapati Aina di sana. Pada saat akan menuju ke ruangan atas, dia mendapati Aina sedang duduk termenung seorang diri di meja makan. Najib mendekat, namun rupanya dia masih asyik dengan dirinya, sehingga tak menyadari Najib sudah tepat di belakangnya. Dia pun memeluk Aina dari belakang dan meletakkan kepala di atas pundaknya
“Mikirin apa, Sayang?”
Aina tersentak dan menengok ke belakang. Najib tak membuat kesempatan untuk memanjakan istrinya dengan memberikan satu kecupan kecil di pipinya.
“Mas Najib. Ngagetin ”
“Mikirin apa sih?”
Jawab apa nggak ya ... Aku ingin bertanya tentang wanita yang tadi siang bersamanya di ruangannya. Tapi rasanya tak tega, melihat wajahnya yang lelah. Bukannya meluruskan, nanti malah tambah masalah.
Oke, baiklah ....
“Mas, siapa yang tadi dalam ruangan Mas. Apa dia mamanya Iza.
“Ya Dia mamanya Iza, Namanya Sheza ... Tapi saat ini jangan dibahas dulu. Bikin moodku turun,” jawabnya santai.
“Maaf, Mas.”
Tadi nantang-nantang, giliran dijawab, tak mau. Ah, sudahlah ....
Iya sih, bikin mood rusak. Tadi siang saja seperti perang dunia. Keduanya macam lomba tarik suara. Bikin Iza ketakutan. Dia langsung mengajakku pulang.
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke kamar mereka. Sementara lupakan dulu masalah yang belum tentu penting. Aina pun mengembangkan senyumnya, melihat Najib yang semakin terlihat tampan meski sedang lelah.
“Tumben Mas Najib pulangnya agak siangan,”kata Aina sambil melepas dasi yang melingkar di lehernya.
Hehehe ... Siangan? Padahal sudah selesai sholat ashar.
__ADS_1
“Iya, mas kan sudah janji sama Iza. Mau ajak kalian jalan-jalan.” Ucap Najib sambil melepas kancing bajunya.
Seketika senyum Aina mengembang. Baru ingat obrolan mereka semalam saat bercengkerama bersama di depan televisi yang acaranya dikuasai Iza seorang. Biasa, anak-anak.
Kukira dia kangen padaku, ternyata hanya ingat janjinya semalam pada putrinya. Hehehe ... Kok gue jadi cemburu ya ....
“Iza ke mana?”
“Masih tidur di kamarnya. Aku bangunkan Iza dulu ya, Mas.”
“Ya.”
Bukannya segera menuju kamar mandi, bersih diri atau apalah, sekedar mempersiapkan diri untuk jalan-jalan, Najib malah merebahkan diri begitu saja di atas kasur. Sehingga saat istrinya datang, dia pun tak tahu.
“Mas-mas,” gumam Aina lirih dan geleng-geleng kepala. Baru ditinggalkan sebentar, nyawanya sudah berkelana.
Aina mendekat, menepuk pundaknya lembut, sambil berbisik, “Mas, jadi nggak kita jalan-jalan. Iza sudah siap, lho.”
“Agh ... Ah ... Ada apa?” Dia sontak terbangun, terkejut dan gugup, seolah-olah melihat hantu. Rasanya ingin tertawa kalau tak ingat dosa. Padahal aku kan membangunkannya dengan lembut dan penuh perasaan. Tahu sendiri, kalau bangun tidur dalam keadaan tak siap itu bagaimana. Bukannya kesegaran yang didapat, bisa-bisa tambah pusing kepala.
“Makanya Mas, Jangan suka tidur habis ashar. Nggak baik buat kesehatan lho. Sana nggeh, mandi! Iza sudah nunggu tuh.”
Najib pun segera menuju ke kamar mandi. Sedangkan Aina sudah menyiapkan baju gantinya di atas kasur, sebelum meninggalkan kamar untuk menemani Iza yang sudah tak sabar menunggu mereka.
Tak berapa lama, Najib turun menghampiri mereka.
“Mau makan di mana ini nanti?”
“Rumah makan yang ada kolamnya itu lho, Pa. Aku kangen.” Dia begitu antusias dan wajahnya tampak ceria.
“Ssa ... Mama mungkin punya pandangan lain.” Hampir saja keceplosan, dirinya memanggil Aina dengan panggilan yang romantis. Tapi buru-buru Najib menarik lidahnya kembali saat mata Aina mengintimidasinya.
Bolehlah memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu kalau sedang berdua, tapi kalau di hadapan Iza, jangan. Malu!
“Ke sananya habis sholat Maghrib ya ... Mama pingin sholat di masjid yang ada tamannya.”
“Ide yang bagus. Let’s go!”
🌟
Setelah melaksanakan sholat, mereka pun pergi ke rumah makan, sesuai dengan request Iza. Mereka mengambil tempat sesuai dengan keinginan Iza. Sebuah joglo yang dikelilingi kolam ikan koi.
__ADS_1
Tanpa disadari oleh mereka, ada sepasang mata yang memandang mereka dengan memendam gemuruh di dadanya.