
"Iya, Mas. Aku cemburu."
Tampak bulir air mata lolos dari tempat persembunyian.
"Tapi, bisakah mas tidak menyakitiku?"
Najib mengambil nafas panjang. Menatap Sheza dengan sedih.
"Maafkan Mas yang tidak bisa bersabar, saat kamu meninggalkan Mas."
Sheza diam. Dia memalingkan muka.
Tak ingin larut dalam kesedihan Sheza, Najib mendekatinya, mengecup kepala Sheza dan mendekapnya sesaat sebelum berpamitan.
"Pagi ini aku ada meeting Aku pergi dulu ya Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Ujarnya lirih dengan bibir bergetar. Begitu Najib dan Iza menghilang, dia pun segera berlari menuju kamar, menangis sepuasnya.
Sementara itu, Najib tampak diam membisu, di belakang setir, mobilnya memecah keramaian jalan agar segera bisa mengantarkan Iza sampai ke sekolah.
"Papa, mengapa Mama menangis?" Dia pun menoleh pada Iza. Matanya yang sendu membuat Najib merasa bersalah. Apa yang mesti dia katakan terhadap putrinya dengan masalah mereka.
"Mama seorang perempuan sepertimu juga. Kadang perlu menangis, kalau sedang sedih."
"Mengapa mama sedih, padahal tadi Iza lihat Papa sangat bahagia habis terima telepon."
Siapa sangka kalau ia akan mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti itu dari bibir gadis kecilnya yang tertawa apabila diberi sebuah permen atau akan menangis apabila kita ambil permen dari tangannya.
Semanis apapun sikapnya terhadap Sheza, tetap saja tak bisa membohongi nurani Putri kecilnya itu.
"Sudah jangan engkau pikirkan. Biarlah Nanti papa yang akan bikin Mama tertawa lagi." Iza pun mengangguk-angguk. Entah dia paham tidak.
Meskipun Najib berusaha untuk memberikan jawaban-jawaban yang bisa membuat perasaan Izza tenang, tetap saja tak bisa menghentikan rasa penasaran Iza.
"Apa tadi itu telepon dari mama Aina, Pa. Makanya mama marah-marah dan sedih. Kan mama Sheza kalau mendengar nama Mama Aina disebut, selalu marah-marah."
Najib tertawa kecil. Memang begitu adanya. Dia tidak bisa memungkiri kalau gadis kecilnya ini sudah pintar menilai.
"Iya, itu memang telepon dari mama Aina."
Najib pun tidak bisa menyembunyikannya pada putrinya.
"Benarkah?"
"Kapan Mama Aina pulang. Iza sudah kangen. Iza juga sudah capek sama mama Sheza yang suka marah-marah."
__ADS_1
"Tapi marah-marahnya tak seperti dulu lagi, kan?"
"Iya sih. Tapi Mama Sheza sampai sekarang nggak mau nganterin Iza ke sekolah."
"Nanti papa akan bilang ke Mama. Biar Mama mau mengantarkan Iza."
"Enggak ah, Iza lebih suka kalau diantar sama mama Aina. Cepatlah jemput dia, Papa!"
"Insya Allah nanti malam Papa akan jemput mama Aina, Iza mau ikut?"
"Beneran Pa. Asyiiik ... jelaslah Iza ikut lah."
"Tapi, papa boleh nggak minta sesuatu sama kamu, Sayang?"
Dia langsung meletakkan jari telunjuk di pipinya. Seolah-olah sedang berpikir keras. Bahkan bola matanya ikut berputar-putar dan lesung pipinya nampak begitu jelas.
"Boleh-boleh. Tapi jangan boneka barbieku ya, Pa."
Tawa Najib seketika pecah meski tidak keras-keras amat. Dia benar-benar dibuat gemas. Dia langsung memberikan satu sentuhan kecil di pipi Iza.
"Enggak lah, Sayang. Papa hanya minta, meski sudah ada mama Aina, Iza jangan sampai melupakan Mama Sheza. Harus sering-sering ketemu dengan Mama Sheza, bisa Sayang?"
Iza seketika terlihat sendu.
"Bisa kalau sama papa, seperti janji Papa dulu."
"Sebenarnya Mama seza itu baik dan sayang sama Iza. Hanya caranya yang berbeda. Suatu saat Mama Sheza pasti akan mau mengantarkanmu sekolah, mau membuat kue untukmu, sama juga dengan Mama Aina."
"Andai itu terjadi, Izza pasti senang, Pa."
Sinar matanya yang sesaat lalu berbinar- binar, kini nampak redup dan kosong. Membuat Najib merasa sesak dan harus mengambil nafas panjang.
"Sini, Sayang. Duduk di pangkuan, Papa."
Iza segera berpindah menuju sesuai apa yang diminta oleh Najib. Duduk di pangkuan Papanya dengan menyandarkan kepala di dadanya.
"Kenapa bersedih, Sayang?" Sambil menyetir, Najib mengecup kepalanya.
"Kapan ya pak Mama Sheza sayang sama Iza seperti Mama Aina."
Tak salah dengan apa yang dikatakan Iza. Harapan yang wajar seorang anak yang selalu merindukan belaian kasih sayang dari seorang ibu. Tak pernah dia dapatkan sejak dalam kandungan apalagi saat dia dilahirkan.
"Iza nggak pernah lupa mendoakan Mama, kan?"
"Insyaallah Papa."
__ADS_1
"Suatu saat Mama pasti berubah seperti yang kamu harapkan." Sekali lagi dia mengecup kepala putrinya.
"Coba, Papa pingin dengar bagaimana bunyinya?" Najib mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak bersedih lagi.
"Apa ya ... Oh iya aku ingat, Pa."
اللهم اغفر لي ذنوبي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا
"Artinya," ucapnya dengan keras
"Ya Allah, Ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil."
"Pintar sekali anak Papa. Jangan bersedih lagi. Papa janji nanti akan jemput mama Aina untuk kamu."
"Asyiiik ... makasih Papa." matanya yang kini sudah kembali berbinar menatap Najib dengan senyuman.
"Papa berhenti!" serunya.
"Oh iya." Najib menghentikan mobilnya yang memang sudah berjalan pelan. Keduanya keluar. Lalu menemui bu guru yang menyambutnya di pintu gerbang.
"Jangan lupa nanti jemput Iza, ya Pa."
"Insyaallah. Sudah ya, Papa pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Iza pun segera berlari menuju teman-temannya.
Najib masih menetapnya dari balik gerbang sampai dia merasa Izza baik-baik saja dan gembira bermain dengan teman-temannya.
Setelah merasa tenang, dia pun kembali ke dalam mobil selalu menghidupkan mesinnya meneruskan perjalanan ke arah kantor tempat dia bekerja.
Sementara itu di rumah, Sheza yang tak bisa menahan amarahnya, melemparkan segera barang yang ada di kamarnya dengan kasar. Membuatnya berantakan.
Mbok Minah yang mendengar barang-barang dilempar di dalam kamar Sheza, tak berani mendekat. Khawatir malah dia nanti yang akan menjadi sasaran.
"Kakak, Kamu jahat. Aku sudah berniat berubah tapi kamu menduakanku. Kamu hanya milikku. Kamu nggak boleh memikirkan orang lain selain diriku. Aku nggak akan pernah rela kamu bersama Aina," rancunya. Air matanya pun mengalir tak terbendung lagi.
Setelah dia benar-benar lelah, dia pun tertidur di ranjang yang sudah berantakan. baru pada pukul 10.00, dia pun tersadar. Dia menuju ke kamar mandi, berendam sebentar untuk menenangkan pikirannya, baru kemudian membersihkan diri. Setelah merasa puas baru dia keluar, dari ganti baju dengan busana santai, meraih tas kecilnya, meninggalkan kamar yang sudah amat berantakan.
Dia mampir sebentar ke dapur, menemui wanita yang selama ini setia mengabdi kepadanya.
"Mbok, tolong nanti dibersihkan kamarku ya sampai benar-benar bersih."
"Ya, Den Ayu."
"Aku mau pergi dulu, jangan katakan apa-apa sama Mas Najib."
__ADS_1
"Ya, Den Ayu."
Sheza pun berlalu dari hadapan Mbok Minah menuju garasi.