
Najib bangkit dari atas sajadah, berjalan ke pintu dan segera memutar kuncinya.
"Ada apa?"
"Aku nggak bisa tidur, Kak. Boleh ya, aku tidur di sini."
Najib senyum-senyum, melihat Sheza yang menatap dirinya dengan wajah memelas dan juga mata sayu menggoda. Ini sih rayuan. Sejak kapan dia belajar yang begini.
"Kalau kamu tidur di sini, aku tidurnya di mana? Tempat tidurku sempit, nggak cukup untuk kita berdua."
"He ... eh." Senyum Sheza merekah. Dia menarik tangan Najib dengan paksa, membawanya menaiki tangga, menuju ke kamarnya.
"Sebentar Sheza, lampu kamarku belum aku matikan." Dia mencoba melepaskan diri dari tangan Sheza yang memegangnya dengan erat.
"Biarkan saja lah, Kak."
Benar-benar tidak bisa ditolak. Najib hanya bisa pasrah menuruti keinginannya. Dia mengikuti langkah Sheza, menuju kamar yang sudah hampir satu tahun ini tak pernah dikunjungi.
"Temenin aku tidur ya, Kak!"
Bagaimana Najib akan menolak, sedangkan dia sadar kalau Sheza mempunyai hak atas dirinya.
"Baiklah tapi tolong dong lepaskan tanganku. Sakit juga nih." Senyum Sheza merekah sambil melepaskan genggamannya.
Dia harus bisa menurunkan egonya. Agar bisa berdekatan dengan Najib.
Masak dia harus merayu-rayu, bermanja-manja seperti ini. Dulu Najiblah yang datang. Sekarang malah dia yang datang. Sesuatu yang tidak pernah dilakukannya selama pernikahannya.
Dia mengakui kalau dulu untuk berdekatan saja ogah apalagi bermesraan amit-amit, tak ada waktu, sudah habis untuk kerja. Ditambah lagi wajahnya tak setampan Antony, orang yang dia benci tapi sekaligus dia nantikan kedatangannya.
Sekarang lain lagi, suaminya punya Aina. Dia tak rela. Dia harus bisa merebut kembali hati suaminya. Tak ada yang boleh memilikinya kecuali dia seorang.
Bagaimana pun perhatian dan kasih sayangnya yang dulu pernah dia rasakan, dia rindukan lagi.
"Nggak keberatan, kan?"mohonnya dengan manja.
Najib tertawa kecil, menanggapinya dengan santai.
"Tidurlah."
"Kakak jangan pergi ya ..."
Najib menggangguk. Sheza tampak tenang. Dia segera naik ke ranjang, merebahkan tubuhnya di samping Najib yang masih duduk bersandar di pinggir ranjang, dengan mata terpejam.
"Kak." Tak ada sahutan.
"Yach ... Sudah tidur,"gumamnya dengan kecewa. Dia pun memejamkan mata, menyusul Najib ke alam mimpi.
Tanpa dia sadari kalau Najib hanya memejamkan mata saja, padahal sebenarnya dia masih terjaga.
"Maafkan Kakak, Sheza. Aku tak bisa menyentuhmu karena entah mengapa saat ini bayangan Aina selalu dimataku." Dia mengecup dahi Sheza yang kini sudah tertidur pulas di sampingnya. Dia pun menyusul, merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
🌟
Rasa rindu ini semakin menyiksa. Ingin rasanya untuk segera menjemput Aina, tetapi mengingat permintaan Aina sesaat sebelum dia pergi, agar untuk saat ini dia diberi kesempatan untuk menenangkan diri, Najib pun berusaha untuk sabar.
Sudah 3 hari, Najib mencoba menghubungi Aina. Namun dia harus kecewa setiap telepon selalu tak tersambung, pesan yang dia kirim, hanya ada centang satu.
Pagi itu, setelah sarapan dia membuka handphone. Dia melihat pesan-pesan yang selama ini iya kirim pada Aina sudah centang biru. Senyumnya pun merekah. Apalagi kemudian teleponnya berbunyi.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu buka juga."
Najib pun segera bangkit dari tempat duduknya.
"Iza makan sama Mama ya!"
"Ada apa, Mas?" Sheza penasaran.
Najib tidak menjawab. Dia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka. Dia segera menuju taman samping, agar bisa bebas untuk menelepon Aina.
"Vidio call ya ..." Tanpa menunggu persetujuan, dia pun mengalihkan perbincangan itu dengan memakai video call.
"Kamu sakit?" Dia terkejut saat melihat wajah Aina yang pucat.
"Iya Mas setiap pagi aku selalu mual-mual, Nggak selera makan sejak kamu pergi."
"Makanya kalau diajak suami balik, ikutlah balik. Akhirnya kamu sakit, kan. Kalau begini siapa yang repot?"
"Mas jangan marah dulu dong, lihat nih!"
Wajah Najib berkerut, menatap benda itu.
"Maksudmu?"
"Masak Mas nggak tahu sih. Itu ada garis merah dobel lho Mas!"
"Iya, lalu apa?"
Meskipun dia tidak pernah melihat benda itu tetapi dia pernah dengar alat itu adalah untuk mengetes kehamilan. Adapun cara penggunaannya maupun mengartikan hasilnya, Dia belum begitu mengerti. Dadanya berdebar-debar. Berharap sangat apa diinginkan selama ini terwujud.
"Aku hamil."
"Benarkah?"
"Iya Mas." Aina mengangguk.
"Alhamdulillah, Terima kasih ya Allah semoga kabulkan keinginanku selama ini. Bimbinglah diriku untuk bisa menjaganya untuk menjadi hamba yang engkau ridhoi."
Seketika itu juga, Dia meletakkan handphonenya di meja yang ada di tempat itu, lalu melakukan sujud syukur.
"Mas ... Mas ...." Panggil Aina dengan wajah bingung. Mengapa handphonenya tiba-tiba bergambar langit dan juga dedaunan.
"Oh maaf, Sayang. Aku tadi begitu bahagia mendengar kabar darimu. Sekarang kamu siap-siap ya, Nanti malam aku jemput. Kamu harus pulang bersamaku, karena aku nggak pingin ada apa-apa dengan kamu dan anak kita. Aku kan ayahnya berarti aku berhak untuk dekat dengan anakku. Oke!"
__ADS_1
"Iya deh. tapi boleh kah aku membawa mesin jahitku?"
"Sangat boleh."
"Terima kasih, Mas."
"He eh. Boleh aku tutup? Soalnya sarapanku tadi belum selesai."
"Mas enak bisa sarapan. Aku nggak bisa."
Whaalah, manja kali. Apa begini keadaan orang hamil?
"Ya sudah kalau gitu tolong handphonenya diletakkan di perutmu ya. Aku mau bicara sama anakku biar tidak merepotkan mamanya. Manjanya nanti saja kalau sudah di samping papa."
"Mas bisa saja."
Meskipun begitu Aina menuruti juga. Dia meletakkan handphone itu di perutnya sebentar.
"Gimana, sudah kan?"
"Makasih Mas. Aku kok tiba-tiba lapar juga."
"Ya sudah, makan yang banyak dan jaga kesehatan. Ingat ada buah hati kita."
"Ya Mas, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Najib kembali lagi ke ruang makan dengan wajah yang sangat bahagia.
"Telepon dari Aina ya, Mas." Wajah Shea tampak kesal dan cemberut. Dia sudah dapat menduga siapa yang menghubungi Najib baru saja. Apalagi samar-samar dia mendengar Najib menyebut namanya.
Dia tak ingin menanggapi perkataan Sheza. Karena apapun yang dia katakan soal Aina pasti akan membuat suasana hatinya panas terbakar cemburu. Dan pasti nanti akan ada perang besar.
"Wah tinggal papa yang belum selesai sarapan nih." Dia segera duduk di tempatnya semua serta melanjutkan sarapannya yang tertunda.
"Iya nih Papa. Nanti Izza telat loh."
"Iya Sayang. Sebentar ya." Najib segera menghabiskan makanannya.
"Mas Kok tidak jawab pertanyaanku, sih?"
Najib mengangkat alisnya.
"Hanya ingin tahu atau ingin tahu sekali?" Najib mencoba mengelak.
"Sejak Mas kenal Aina, banyak sekali yang disembunyikan sama aku. Kenapa Mas?" Setengah berteriak, dia mengatakan itu sambil menatap Najib dengan tajam. Membuatnya tersentak seketika.
Wah, wah, amarahnya mulai meledak.
"Kamu cemburu, Nanti saja kita bicara. Aku mohon jangan tunjukkan amarahmu saat ini. Kasihan Iza."
__ADS_1