
🌟
Sesaat setelah Aina membawa Iza ke kamar mandi, telepon Najib berdering. Ada sebuah panggilan dari pemilik sebuah nama yang selalu memberikan bayangan kesedihan untuknya dan Iza. Sheza Azzalea Naureen, mama kandung Iza.
Syukurlah, dia telepon bukan chat seperti yang dia janjikan. Agak lebih sopan.
Dia segera keluar menuju taman yang ada di depan ruangan. Agar Aina tidak mendengar apa yang diomongkannya.
“Mas. Maafkan aku ya, tadi malam aku capek banget.” Alasan sama seperti yang dia katakan tadi malam.
“Hhmmm ....”
“Mas masih marah?”Pertanyaan macam apa ini, benar-benar membuatnya kesal. Bukan kata rayuan yang aku inginkan, tapi kabar bahwa dia sudah berangkat kembali pulang.
“Aku menunggumu.”
“Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini. Mungkin satu bulan penuh karena ternyata banyak urusan yang harus aku selesaikan.”
“Lalu?”
“Kok Mas gitu , sih.”
Untuk apa bicara panjang lebar kalau tidak pernah didengarkan. Sudah sering Aku ingatkan untuk selalu memperhatikan Iza, tidak dilaksanakan. Jangan memikirkan tentang karir melulu, juga tidak dilaksanakan. Kalau mau pergi ke mana pun sebaiknya berpamitan dulu juga tidak dilaksanakan. Bukannya tidak memperbolehkan, tetapi kalau ada apa-apa tanggung jawabku juga.
“Iza sedang sakit.”
“Wah ... itu gara-gara si mbok mungkin. Saat aku tinggal dia sehat-sehat aja kok.” Bisa-bisanya dia menuduh orang yang selama ini telah banyak menolongnya. Bilang saja lari dari tanggung jawab.
“Jangan asal tuduh, aku tak suka.”
“Mas tidak percaya padaku.” Masih saja mengelak, dan aku rasa tak ada manfaatnya, diriku menanggapinya. Akan banyak lagi kebohongan yang mungkin membuatku semakin muak.
“Kapan pulang?”
“Maaf Mas aku nggak bisa. Masih banyak kerjaan di sini.” Dia masih beralasan.
“Dia putrimu, Sheza.”
__ADS_1
“Mengapa Mas selalu ngomong itu, seakan-akan aku tak pernah memperhatikannya.”
“Memang!”
“Aku yang selalu ada untuk dia. Justru mas yang sering pergi. Iya, Kan? Apa gunanya ada mbok Minah juga, kalau bukan untuk menjaga Iza. Aku titip Iza ya, Mas?” jawabnya dengan enteng seakan tak ada yang salah dengan keputusannya.
Astaghfirullah al adzim ... Ucapan macam apa ini. Benar-benar keterlaluan. Aku tak mau berlama-lama dengan keegoisannya. Jangankan luluh, malah semakin menjadi, semaunya sendiri. Salah diriku juga, mengapa sampai saat ini, tak bisa menghapus cinta yang pernah membuatku sangat-sangat tersakiti.
“Jangan sampai engkau menyesal dengan keputusanmu. Assalamualaikum ....” Najib segera menutup handphone-nya, tak peduli apakah Sheza tersinggung dengan sikapnya atau tidak.
Dia kembali lagi ke dalam kamar membawa perasaannya yang campur aduk antara kesal, kecewa, marah dan sedih. Orang yang seharusnya ada untuk Iza, tak muncul juga.
Alhamdulillah, langkahnya kembali ke ruangan merupakan pilihan tepat. Dia bisa melepas beban yang menekannya saat ini. Apalagi melihat senyum Iza, bisa langsung menguap amarahnya. Dia memberikan senyuman terbaiknya dengan tulus.
Ada rona kehidupan yang terpancar dari wajahnya saat kembali dari kamar mandi. Bahkan senyumnya kini pun telah merekah di bibir mungilnya, meskipun tak bisa menutupi apa yang dirasakan saat ini. Mata coklat bulat sempurna itu kadang-kadang terlihat sayu. Apakah itu bertanda kalau saat itu sedang mengingat sebuah trauma yang tak bisa dia tolak meski belum bisa memahaminya. Goresan luka yang mungkin tak bisa hilang hingga dia dewasa.
“Papa. Aku sudah mandi. Dimandikan mama Aina,” ucapnya dengan bangga.
“Masya Allah, putri Papa cantik bener.” Najib terlihat tersenyum sempurna melihat pemandangan yang ada di depannya. Ada rasa bahagia yang menyentuh jiwa yang sudah hampir lelah. Dia menikmati pemandangan yang langka. Biasanya dia yang akan turun tangan untuk membantu Iza saat pagi hari, menanti Sheza yang selalu sibuk dengan dirinya sendiri. Biarlah hari ini, Aina yang membantu. Toh, Iza sangat senang.
“Sini, duduk dulu. Mama ambil bajunya.” Iza yang masih berbalut handuk besar, dengan patuh duduk di ranjang.
“Pilihan yang bagus,” Aina benar-benar suka pilihan putri yang baru dikenalnya. Baju kuning yang dihiasi dengan motif bunga-bunga besar di bagian bawahnya. Pasti akan mempercantik bagi siapa yang memakainya. Pilihan yang benar-benar pas. Apalagi kulit Iza yang lebih terang dari kita.
Dengan telaten, Aina memakaikan baju yang dia inginkan, merapikan rambutnya, dan sedikit mempercantik wajahnya dengan bedak yang dia punya. Terpaksa menggunakan bedak dewasa, tapi ditanggung aman dech. Dari pada tak bedak-an, adanya malah wajah akan terlihat pucat.
“Sekarang sarapan dulu, yuk. Mumpung masih hangat.” Aina segera meraih ransum yang ada di nakas. Makanan khusus untuk Iza yang baru saja diantar perawat. Dia dengan telaten menyuapi putri kecil itu. Sesekali melontarkan candaan. Tak jarang mereka sama-sama tertawa tanpa mengikutsertakan dirinya.
Najib merasa terabaikan. Kehadirannya seolah-olah tak dianggap. Semoga ini bukan karena dia mendengar pembicaraan antara dirinya dan Sheza.
Tapi bisa jadi iya. Karena terlihat wajahnya dingin saat aku memasuki ruangan ini. Bukan sekedar cemberut tapi terlihat memendam amarah. Bahkan tak ada lagi senyuman yang selalu tampak indah menghias bibirnya.
“Mas Najib dari mana?” Masih dengan ekspresi yang sama, dingin dan datar.
Apa yang mesti aku katakan. Haruskah aku berterus terang kalau Sheza yang meneleponku. Tidak! Aku belum sanggup melihatnya terluka.
“Dari luar. Ada telepon dari seorang teman.?”
__ADS_1
“Teman?” ucapnya lirih, seakan tak percaya dengan apa yang baru aku katakan.
“Ya, teman,” Jawabku mencoba sekali lagi meyakinkannya.
Dia menghentikan suapannya dan menatapku dengan sorot penuh tanya.
“Orang tuanya Iza?”
Mengapa dugaannya selalu benar. Aku rasa tak ada yang perlu disembunyikan lagi darinya.
“Ya. Dia tak bisa datang. Mungkin satu bulan lagi bisa jemput Iza.”
“Asyiiiik, aku bisa tinggal lama sama Mama Aina.”
“Iza?”
Mungkin dirinya salah tempat, membicarakan tentang ini di depan Iza. Tapi yang tidak diduga oleh Aina adalah reaksinya. Iza tampak begitu senang saat tahu orang tuanya tak datang. Bahkan keasyikan.
“Ngga boleh gitu, Sayang. Dia tetap orang tuamu.”
“Tapi aku masih takut, Mama.”
Dia benar-benar ibu yang baik. Tidak menanamkan kebencian pada Iza melainkan mencoba menanamkan kata maaf padanya.
“Kan ada papa Najib sama mama.”
“Baiklah, Mama. Tapi, Jangan tinggalkan Iza ya!”
“Insya Allah.”
“Apa kamu keberatan?”
Dia tersenyum. Wajahnya kembali berseri dan hangat. Tak sedingin seperti sesaat lalu, waktu aku masuk ke ruangan ini.
“Tidak. Justru aku masih khawatir kalau kita mengembalikan Iza pada orang tuanya, dia akan kenapa-napa lagi. Aku tak tega dan tak rela. Tapi bagaimana lagi, dia orang tuanya.
“Aku benar-benar merasa aman saat Iza bersamamu.”
__ADS_1
Aku kira dia marah saat aku menerima telepon dari Sheza. Ternyata aku salah, Dia hanya memikirkan Iza seperti diriku juga. Dia begitu polos dan mungkin juga rapuh untuk tersakiti. Aku merasa amat berdosa padanya.