Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Suka-suka


__ADS_3

Najib meneruskan langkahnya di mana Aina dibaringkan.


"Alhamdulillah. Kamu sudah sadar, Sayang." senyum bahagia tersungging di bibirnya meski wajahnya masih tampak pucat. Ada jarum infus di tangan kirinya yang terhubung dengan cairan bening yang tergantung di sebuah jagrak, terletak di pinggir ranjang.


"Iya, Mas. Alhamdulillah. Mana Iza dan Mbak Sheza."


"Dia ada di luar. Tadi sudah berpamitan akan pulang. Dia hanya titip salam untukmu, semoga Sayang cepat sembuh." Dirinya tak mungkin cerita kalau Sheza masih enggan bertemu dengannya.


"Waalaikum salam," jawab Aina antara bahagia dan sedih. Bahagia karena Sheza sudah mau menyapa dan menolongnya. Namun sedih juga saat dia belum diberi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang telah dia diberikan.


Dia pun menghela nafas dengan cepat hingga menimbulkan bunyi keras seperti ingin menghalau lalat yang mungkin lewat di depannya. Hah ....


"Sudah, jangan sedih. Nanti kalau sudah sehat, Sayang bisa menemuinya."


"Semoga bukan karena perhatian Mas padaku yang menyebabkan Mbak Sheza tidak mau menemuiku."


"Sayang kok mikirnya gitu, sih. Aku sudah berusaha adil pada kalian lho."


"Halah ... Itu sih menurut Mas, hanya pembenaran sepihak saja."


"Terus aku harus bagaimana agar bisa disebut adil? ... Masak Mas ke harus Mbak Sheza terus. Mas nggak akan tega ninggalin kamu yang lagi sakit demi dia."


"Au ah." Bibirnya pun mengerucut dan badannya berbalik membelakanginya serta mendiamkannya untuk beberapa saat.


"Yang kamu kok gitu sih?"Dia mencoba merayu, namun Aina tak bergeming tetap membelakanginya. Membuat Najib mengerutkan dahi.


Sebenarnya apa sih yang terjadi pada dirimu, Yang. Diperhatikan tidak mau, dicuekin menggerutu. Ini maumu atau mau baby kita ... Diriku senang sih senang, tetapi merasa aneh juga. Apakah ini satu keunikan yang dimiliki oleh makhluk yang bernama wanita. Membingungkan!


Najib menepuk-nepuk bahu Aina tanpa ingin berkata-kata, daripada nanti akan bertambah masalah.


"Bapak suaminya Ibu Aina?" Tanya seorang wanita yang sesaat lalu memeriksa keadaan Aina.


Najib pun menoleh.


"Ya benar."


"Mari ikut saya sebentar!"


"Baiklah."

__ADS_1


"Aku tinggal dulu, Yang."pamit Najib kemudian. Membuat wanita berjas putih itupun melirik sambil berdehem setengah keras. Ehem ... ehem ... Seketika membuat pipi Aina merona. Dia pun tertunduk malu. Dia langsung menatap Najib dengan bibir mengerucut. Yang ditanggapi biasa-biasa saja oleh Najib.


Peduli amat dengan mereka. Istri, istriku juga. Mau panggil sayang, sweety, besty, umi, bunda, zaujati, adek, cintaku, Sayangku, istriku, suka-suka aku lah. Yang penting bukan panggilan yang menyakitkan bagi wanita yang telah ku izinkan bertemu dalam hati ini. Bisik batin Najib sambil mengikuti langkah dokter muda itu.


"Semuanya baik-baik saja saja kan, Dok?" tanyanya begitu duduk saling berhadapan dengan dipisahkan meja kerja di antara mereka.


"Untuk sementara keduanya baik. Rembesan cairan dari rahimnya sudah bisa bisa dihentikan. Hanya saja untuk memastikan semuanya baik-baik saja, besok temui saya di ruang obgyn bersama ibu juga. Agar saya bisa melakukan pemeriksaan lebih seksama."


"Apakah ibu sering pingsan?"


"Sepengetahuan saya baru kali ini."


"Syukurlah kalau begitu. Apa ada keluhan lain?"


"Sepertinya tidak. Hanya mudah lelah dan sering mengeluh sakit di area panggul. Apakah itu serius, Dok?"


"Saya tak bisa pastikan sekarang. Insyaallah setelah USG besok, akan bisa kita ketahui dengan jelas penyebabnya serta bahaya dan tidaknya."


"Mengapa tidak sekarang saja, Dok?"


"Ibu baru sadar dan kita baru menghentikan rembesannya. Kalau kita paksa untuk bergerak terus, saya khawatir rembesannya akan keluar lagi."


"Tolong dijaga benar Ibu. Baik phisik maupun psikisnya. Hindarkan dari stress. Dan untuk sementara, ibu harus bed rest total."


"Insyaallah. Sekarang boleh saya menemuinya."


"Oh silakan," jawab dokter itu sambil tersenyum lebar tanpa suara. Ya ... Gimana tidak tersenyum, melihat pasangan yang tak malu memperlihatkan keromantisan di depan umum. Bikin ngiri, tapi kita bisa maklum dan ngerti kok. Untung di lingkungan orang-orang yang sudah dewasa.


Belum sempat dirinya duduk, Aina sudah memberondongnya dengan pertanyaan.


"Apa yang dikatakan dokter itu, Mas? Baby kita tidak apa-apa kan, Mas? Dia sehat kan?"


Najib tersenyum. Lalu dia mengambil tempat duduk yang nyaman di samping Aina.


"Alhamdulillah, untuk saat ini kalian berdua baik dan sehat. Tapi mulai detik ini, bunda harus nurut sama Mas, harus bed rest total. Tidak boleh protes lagi. Demi calon baby kita yang ada di sini." Dia mengarahkan jari telunjuknya tepat di perut Aina.


"Oke, tapi Mas juga harus menuruti kata-kataku biar nggak ada kejadian seperti ini lagi," jawabnya manja.


"Boleh, akan aku usahain." sahutnya senang karena sudah tidak dicuekin lagi oleh Aina.

__ADS_1


Untuk sementara Aina dipindahkan ke ruang observasi yang terhubung dengan ruang UGD. Baru pada sore harinya, dia dipindahkan ke ruang perawatan.


Saat tiba di ruang perawatan Najib segera menghubungi Parman dan juga art yang ada di apartemennya agar segera datang. Dengan membawa kebutuhan untuk dirinya dan juga Aina selama menginap di rumah sakit.


Untungnya mereka segera datang. Karena tidak dapat dipungkiri kalau saat ini Najib tengah memikirkan Papa Arya yang mungkin sudah tiba di rumah Sheza.


"Yang, kamu tidak keberatan kan, kalau aku pergi sebentar? Ada yang ingin kutemui saat ini?" pamitnya setelah menyelesaikan shalat magrib berjamaah di lingkungan rumah sakit tersebut.


"Nggak usah berbelit-belit deh, Mas. aku sudah tahu kok. Kamu pingin menemui Mbak Sheza, kan?" ucapnya dengan wajah sedikit mendung.


"Iya." jawabnya jujur.


"Tadi siang bilang nggak tega ninggalin aku, tapi belum juga sehari Mas sudah melanggar kata-kata mas sendiri."


"Bukan karena Sheza aku ke sana, Tapi hari ini Papa Arya datang. Nanti aku balik ke sini lagi, Yang. banyak yang ingin aku sampaikan. laporan perusahaan dan lain-lain." Wajah Najib nampak sedih.


"Ya sudah, pergilah! Aku ikhlas kok. lagian hari ini bukankah waktunya Mas ke tempat mbak Sheza."


"Terima kasih, Yang. nanti kalau ada apa-apa telponlah aku ya."


"Ya, yaa ..." jawabnya malas. Lalu membalikkan badan begitu saja. Membuat Najib menarik nafas panjang dan tersenyum lebar. Dirinya pun membatin, "Yang, kamu itu lucu deh kalau sedang ngambek begitu."


"Assalamualaikum,"ucapnya sambil menunduk dan mencium pipi Aina dengan lembut.


"Wa'alaikum salam," jawab Aina sambil membalikkan badan, disertai dengan kecupan kecil di bibir Najib. Sontak membuatnya kaget.


"Aku selalu merindukanmu, Mas."ucapnya dengan tersenyum dan penuh rasa kasih sayang serta rindu.


Waaahhhh ... bisa terbuai nih, Mungkin dirinya akan memilih untuk tetap tinggal, kalau tidak ingat menemui Papa Arya adalah suatu yang penting.


"Dah, pergilah!" ucap Aina sambil mengibaskan tangannya. Dia pun berbalik dan memejamkan mata, meninggalkan Najib yang tersenyum bahagia.


Ini yang membuatnya tak bisa berlama-lama di luar dan selalu ingin pulang.


Sebelum pergi, Najib menyempatkan diri untuk memberi pesan pada art yang biasa menemani Aina di apartemennya.


"Mbok, aku titip nyonya ya ... Kalau ada apa-apa langsung panggil perawat."


"Nggeh, Den."

__ADS_1


Dia pun melangkah pergi dengan ringan.


__ADS_2