
Sheza
Dia segera menghapus air matanya yang sesaat lalu mengalir dengan begitu deras dengan air wudhu. Mencoba meluruhkan rasa yang menyesakkan dalam jiwanya. Rasa yang selama ini dia coba untuk menepisnya. Namun disaat ia ingin menggenggamnya, malah ia benar-benar pergi. Dia terlambat. Hanya sesal yang saat kini tertinggal, Sudah ada wanita yang tiba-tiba sudah ada di samping suaminya. Sakiiitttt ...
Najib memilih Aina, wanita dengan kepribadian mempesona. Lembut, keibuan, perhatian, penuh cinta dan kasih sayang, manja, lembut, dan cantik.
Namun bukan itu yang membuatnya semakin terluka dan tersisihkan. Karena dia tak jauh beda. Tetapi kehadiran buah cinta mereka yang sesaat lagi akan terlahir dari rahim Aina
Sekian lama hidup bersama, tak bisa menyadarkan dirinya kalau Najib benar-benar berarti, bahkan dia larut dalam perasaanya sendiri dengan pengharapan yang tak pasti, antara tetap mempertahankan suaminya atau menunggu kekasih yang telah mencampakkan dirinya di hari pernikahan. Benar-benar gila ....
Kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terlintas dalam pemikirannya, kini terjadi. Mungkin ini yang terbaik, bisiknya lirih.
Berat memang menerima keputusan Najib. Tapi inilah konsekuensi yang harus dia terima karena keragu-raguannya selama ini.
Dia segera meraih mukenanya kembali dan keluar kamar menuju ke ruang musholla yang ada di dalam rumahnya. Di sana, telah menunggu Papa Arya yang telah selesai melakukan shalat Sunnah qobliyah bersama dengan Art yang ada di rumah mereka.
"Najib kemana?" Tanya Arya pada Sheza.
Sheza menunduk, tak mampu menjawab. Dadanya terlalu sesak untuk mengungkapkan apa yang baru saja terjadi.
Arya melihat wajah Sheza yang sembab, menjadi tak tega.
Tak ingin memperpanjang waktu, Dia segera menyuruh Parman mengumandangkan iqomah agar segera bisa melaksanakan sholat subuh.
_
_
_
"Papa, Kakak pergi." ucap Sheza. Kembali air matanya jatuh.
Arya langsung memeluknya. Membiarkan Sheza menumpahkan kesedihannya.
"Maafkan Papa, Nak."
🌟
Aina
Hampir 2 bulan dari peristiwa itu. ...
Usia kehamilannya kini sudah memasuki tri semester 3. Aina sangat bahagia, meski rasa sakit yang semakin menekan dan terasa semakin luar biasa. Jika tak ada halangan maka dalam waktu dekat akan dilakukan pengangkatan melalui operasi caesar. Memang belum cukup umur, namun itu lebih baik dari pada nanti, resikonya akan semakin besar.
"Mas ...."
"Hmm ...." Jawab Najib tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
__ADS_1
Tidak mendapat tanggapan, Aina menghampirinya. Ia gemes sendiri pada suaminya, tapi dia maklum, pekerjaan suaminya menumpuk. Ia mendaratkan tubuhnya di samping suaminya dengan manja.
Kebetulan di atas nakasnya ada setoples kacang, camilan mereka di kala senggang. Ia ambil sebuah lalu mengupasnya dan memberikannya kepada suaminya. Dia pun segera memakannya dengan senang.
Najib segera menghentikan ketikannya, menatap Aina sambil tersenyum.
"Ada apa?" tanyanya tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Mas, Aku kangen Iza." ucapnya dengan wajah merajuk.
Untuk sesaat Najib diam, tak lama terdengar hembusan nafas yang kencang dari mulut Najib. Ada rasa yang sebulan ini ingin selalu dihindari, sekarang malah dicoba untuk diungkit kembali oleh wanita di sampingnya kini
Dia melirik sesaat, lalu mencoba untuk kembali konsentrasi pada pekerjaannya. Membuat Aina semakin merajuk.
Bukannya Aina tidak tahu kalau Najib sulit memenuhi permintaan itu, tapi kali ini dirinya bener-bener kangen, harus terpenuhi sekarang juga. Dia sudah tak bisa menahannya lagi.
"Mas!" Rengeknya sambil memalingkan wajah Najib agar memandang dirinya.
Najib mencoba bertahan. Dia diam, tak juga merespon keinginannya.
"Kali ini saja deh, Mas." Dia semakin merajuk sampai embun bening itu pun menetes dari ujung matanya. Dia sudah tak tahan lagi memendam rasa rindunya.
Najib tersenyum. Ada rasa tak tega, tapi gimana lagi, saat ini dirinya ingin segera move on dari Sheza. Menghubungi Iza sama saja dengan menghubungi Sheza, mamanya. Bisa-bisa usahanya yang belum sampai sebulan ini hancur berantakan.
"Mas!" Aina terus merajuk.
"Baiklah."
Bukannya malas menghubungi Sheza, tetapi dia khawatir kalau tidak bisa menata hatinya kembali. Selama ini, dia sudah berlatih untuk melupakannya, seakan tak ada kemajuan. Masih terbayang-bayang, sulit untuk melupakan.
Sekarang dimintai tolong untuk menghubungi, bikin sulit untuk move on. Nyesaaakkkk ... di dada.
Tapi biarlah, demi memenuhi keinginan bumil, dia pun mau mengangkat handphonenya menghubungi Sheza, agar bisa menghubungkannya dengan Iza.
Satu kali tak diangkat, dua kali demikian juga. Akhirnya ia memutuskan untuk menulis chat saja.
[Sheza, maaf kalau mengganggu. Bolehkah aku bicara sama Iza. Aku benar-benar kangen]
Lama menunggu tidak juga ada balasan, membuat Najib tak enak hati dengan Aina.
"Dilanjutkan apa tidak?"
Dia tak menjawab. Hanya saja raut wajahnya semakin mendung.
"Kamu tak cemburu?"
"Pada siapa? ... mbak Sheza? ... tidaklah. Itu kan urusan Mas ... Yang aku tahu, Mas malah bikin rugi banyak papa Arya. Sudah kasih saham calon cucunya. Mas malah meninggalkan mbak Sheza."
__ADS_1
Gini nih ... yang bikin aku selalu goyah untuk melepas Sheza. Kamu selalu mendorong diriku untuk selalu memikirkannya. Tapi tidak, aku akan mencoba di sampingmu dan melupakannya.
"Sayang benar-benar tak cemburu?"
"Tidak. Bukan karena Aina nggak cinta sama Mas. Tapi mas berbuat seperti itu malah bikin Aina sedih, terlepas apa yang terjadi diantara kalian."
Najib menghembuskan nafasnya berlahan, menatap Aina penuh cinta. Kali ini pilihannya sudah pasti, dan tak ingin dirubahnya lagi, mencoba bahagia bersama Aina seorang. Bukankah Sheza juga mulai menerima keputusannya itu. Buktinya, teleponnya tak diangkat, chatnya tak di balas.
Sayang sekali, itu hanya dugaannya saja. Tiba-tiba handphonenya berdering. Tertera sebuah nama yang dicoba untuk dilupakan, Sheza. Ya Tuhan ...
Mau tak mau, Najib pun mengangkatnya dengan terlebih dahulu bernafas panjang dan memejamkan mata.
Ingat! ... ini hanya mengikuti kemauan bumil, bukan keinginannya yang memang belum move on dari Sheza. Dia mencoba untuk menetapkan niat dengan sebenarnya. Entah berhasil atau tidak, itu urusan nanti.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh."
Tak ada jawaban. Hanya saja di ujung sana terdengar suara wanita itu memanggil putrinya.
"Iza, Papa."
"Benarkah?"
"Vc, Ma."
"Boleh."
Sedetik kemudian,.wajah manis mungil sudah tampak di layarnya. Wanita yang sesaat lalu bersuara, kini menjauh dari mereka, meski demikian Najib masih bisa melihat langkah wanita itu menjauh dari sorotan handphone yang dipegang putrinya.
"Papa." serunya dengan wajah gembira. Seketika membuat Najib tersenyum.
"Ya, Sayang."
"Kenapa sekarang nggak pernah datang ke rumah. Iza kangen, Pa."
"Ke rumah? ..." Dahi Najib terangkat.
"Bukankah kalian ke Australia, sama Kakek?"
"Nggak jadi. Mama nggak mau. Kata mama, mau nungguin papa pulang dulu, baru ke Australia."
Najib terdiam sejenak. Benarkah demikian? Ia tak menyangka kalau Sheza juga belum bisa move on darinya. Membuat dirinya bertanya-tanya, apakah benar keputusannya saat itu?
Tidak ... tidak. Itu sudah benar. Najib mencoba untuk mengembalikan kesadarannya.
"Kapan Papa datang?"
"Maaf, Nak. Papa nggak bisa. Mama Aina sedang sakit. Papa harus nungguin mama."
__ADS_1
"Kapan mama Aina sembuh. Agar kita bisa berkumpul lagi?"