Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Pergi


__ADS_3

“Aku pernah membayangkan, Jika aku menerima seseorang menjadi teman hidupku, hari-hari ku akan dipenuhi kesetiaan akan cinta. Bahkan sering terlintas dalam bayanganku keromantisan Baginda dengan bunda Khadijah, padahal beliau seorang janda. Lalu keluarga putri Baginda, Zainab dengan Abu Al Asy bin Robi.  Mereka saling menyayangi dan selalu menjaga cinta mereka meski saling berjauhan dan mustahil untuk bertemu. Tapi karena hati mereka saling berpaut rasa yang senantiasa terjaga dalam bingkai hidayah, tak bisa memalingkan keduanya. Hingga Allah memperkenankan mereka berjumpa kembali dan bersatu dalam cinta yang indah hingga ajal menjemput mereka satu persatu.Itu sebuah mimpi yang menjadi penghias anganku saja. Karena kenyataannya, aku hanya orang ketiga di antara cinta kalian.Kamu sungguh jahat, Mas ....”


Kembali air matanya mengalir deras, membasahi baju Najib yang saat ini memeluknya erat, membenamkan kepalanya dalam dada bidangnya.


“Sudah jangan kau teruskan. Kamu akan semakin sedih, begitu juga denganku. Yang harus engkau ingat, Sayang. Kamu adalah istriku dan selamanya istriku tidak perduli Apakah ada Sheza atau pun tidak. Apakah ada Izza atau tidak.”


“Mengapa harus begitu Mas?Bukankah lebih baik, Mas berada di sisi Mbak Sheza. Ada buah hati kalian yang harus kalian perhatikan dan juga harus kalian sayangi. Yang sudah menjadi pengikat kalian selama ini. Kalian egois, jika sampai memutuskan berpisah.”


“Ini tak seperti yang kau lihat, Sayang. Aku memang telah memiliki Sheza dan Iza. Tapi aku merasa, istriku hanya Kamu. Bahkan Iza juga. Dia menganggapmu sebagai Mama yang sebenarnya meskipun dia tahu kalau Sheza adalah mama kandungnya.”


“Tidak Mas. Kalian saat ini mungkin sedang dicoba. Suatu ketika jika Mas menemukan keburukan pada diriku mungkin Mas akan lari pada Mbak Sheza. sebelum itu terjadi, Izinkan aku pergi.”


Beberapa saat Najib hanya terdiam sambil menatap wajah istrinya yang tangisnya perlahan-lahan telah menghilang.


”Tidak, Sayang. Kamu boleh menghukumku apa saja. Tapi kumohon jangan pergi. Selama ini aku diam, bukan berarti aku ingin menyembunyikan ini darimu. Tapi entahlah, aku hanya tak ingin melihatmu  terluka.”


Seketika Aina terdiam, menatap Najib nanar seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia mencoba  mencari kebenaran dalam setiap kata yang terucap dari bibirnya. Ah, itu hanya omong kosong belaka. Hanya pengalihan  agar dia terbebas dari rasa bersalah.


Jika memang dia tidak ingin membuatku terluka tetapi Mengapa dia lakukan ini??


“Pergi! Aku tak mau kalau kau bohongi. Biarkan Aku sendiri.” Tangannya mendorong tubuh. Najib dengan kuat. Jangankan bergerak, justru tubuhnya lah yang kini yang bergeser ke pinggir ranjang.


Najib akan meraih tubuh Aina dalam dekapannya kembali, namun ditepiskannya tangan itu dengan kasar.


“Pergilah, Mas. Aku tak mau melihatmu.”


“Tidak. Aku tidak akan pergi sampai kamu memaafkanku.”

__ADS_1


“Dengan cara apa, Aku akan memaafkanmu. Apakah perlu aku memintamu untuk melepaskan Mbak Sheza?Dan Mungkinkah Mas bisa melakukan itu?”


Najib menunduk.


“Aku tahu kalau hubungan Mas dengan Mbak Sheza sudah begitu dekat dan erat, bahkan sebelum kalian menikah. Makanya aku tak punya keinginan sedikitpun untuk memisahkan kalian.”


“Sayang, aku tak bisa mengizinkanmu pergi.”


Aina kembali memunggunginya. Tak ingin dirinya hanyut dalam rayuan yang biasa terucap dari bibir suaminya.


“Sayang ... Kamu masih marah?”


Tentu saja dirinya masih marah. Bahkan sampai saat ini belum bisa melepaskan kemurkaannya. Hanya saja, Dia tidak punya cara untuk mengungkapkannya. Aina hanya mampu menangis, untuk mengungkapkan kemarahannya.


Siapa sih ingin dibohongi, siapa sih ingin diduakan. Tak ada kan ... Tetapi Mengapa dia melakukannya. Kamu sungguh-sungguh jahat Mas!  kata-kata itu selalu saja bermain-main dalam angannya. Membuat buliran-buliran kecil kembali mengalir di sela-sela ujung matanya hingga membasahi pipi. Wajahnya yang sudah sembab kini semakin memerah.


“Baiklah, Sayang. Aku akan pergi.”


“Mas jadi pergi?” Ada senyuman tipis tergambar di wajahnya.


Najib yang telah rapi dengan kemejanya, berbalik menatap Aina yang kini sudah duduk di tepi ranjang dengan wajah murung. Bukankah tadi Dia menyuruh dirinya pergi, Kenapa masih bertanya juga.


Satu sisi, dia merasa senang bahwa istrinya berat untuk melepaskannya. Namun di sisi yang lain tak dapat dimungkiri kesalahannya terlalu besar untuk dimaafkan. Yang sebenarnya membuat dirinya tak berani untuk sekedar menatap Aina.


Tapi satu yang dia sadari bahwa ada cinta yang mulai tumbuh sempurna di antara mereka.


“Ini masih jam kantor, Sayang. Masih banyak pekerjaan yang harus Mas selesaikan.”

__ADS_1


Aina bangkit dari tempat tidur, menghampiri Najib. Tanpa disuruh, dia pun memasangkan dasi ke leher suaminya. Membuat dirinya terkesima. Apalagi saat Aina menatap Najib dengan begitu lekat. Bahkan Aina mengikis habis jarak wajah mereka. Entah sengaja atau tidak Najib merasakan ada sesuatu yang lembut, menyentuh bibirnya. Walaupun hanya sekilas namun telah membuat jantungnya bergetar dan berdegup kencang.


“Sayang.”


Najib mencoba menahan wajah itu agar tetap berada di dekatnya. Tapi dia tidak mengira kalau Aina secepat kilat melepaskan diri, menjauh dari jangkauan tangannya.


“Pergilah Mas!” ucap Aina dengan wajah menunduk dan sendu.


Najib berjalan mendekati Aina Ingin berpamitan padanya dengan biasa yang dia lakukan. Mencium pipinya dan pucuk kepalanya. Tangannya hampir saja meraih tubuh Aina. Namun sayang Aina segera menepis tangannya, melambaikan jari-jarinya menandakan bahwa dia tidak suka dengan itu semua saat ini.


Dengan langkah berat Najib keluar dari kamar.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Aina dengan suara yang sangat lemah, hampir saja tak bisa didengar oleh siapa pun kecuali dirinya. Bahkan suaminya pun tak bisa mendengar bisikannya yang lirik itu sehingga untuk beberapa saat Najib hanya berdiri di tengah pintu kamar mereka.


Setelah yakin kalau Aina tidak akan berkata lagi, dia melanjutkan langkahnya dengan menyimpan tanda tanya besar pada sikap Aina yang tiba-tiba mencium dirinya. Hal yang tak biasa dia lakukan. Apalagi saat ini dia sedang marah.


Tapi ditepisnya semua itu, untuk selalu berpikiran positif bahwa Aina telah membuka pintu maaf bagi dirinya.


Kini Najib mencoba membenamkan diri pada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan segera. Apalagi dengan kedatangan investor baru untuk proyek yang akan ditanganinya.


🌟


Di apartemen ....


Sesaat setelah kepergian Najib, Aina segera membasuh mukanya dengan air wudhu. Setelah itu melakukan salat dua rakaat. Mencoba membenamkan diri untuk dekat kepada Pemilik kehidupan. Mengurai segala beban yang saat ini menghimpitnya.

__ADS_1


Setelah tenang dia pun meraih kembali tas besar yang telah dipersiapkan sebelum Najib datang.


Satu tekadnya saat ini untuk segera pergi dari kehidupan orang yang telah mampu membuat hatinya tergores luka.


__ADS_2