
"Papa." Iza berteriak senang. Ia langsung menghambur ke pangkuan Najib yang masih duduk di belakang kemudi.
Ia merentangakan tangannya, menyambut tubuh Iza masuk ke dalam pelukannya. Lalu menghujaninya dengan beberapa kali ciuman sayang. Muach ...
Najib membiarkan Iza bergelayut manja di pangkuannya. Dengan begini ia bisa melepas rindu yang sudah dia pendam beberapa hari ini.
Ia harus cepat-cepat keluar dari tempat ini, sebelum papa Arya menyadari keberadaannya.
Tapi sayangnya sudah terlambat. Dari kejauhan, ia melihat Papa Arya berteriak.
Meskipun tak tahu apa yang diucapkan, namun dari gayanya, ia sudah menangkap kalau papa Arya sedang meluapkan emosi.
Sebenarnya kita juga kasihan. Tapi gimana, tak ada cara lain untuk bertemu, kecuali main kucing-kucingan dulu. Moga-moga Papa Arya cepat mengerti. Sehingga bisa bertemu tanpa drama dulu. Sungguh ini memalukan sekali.
"Papa takut di pukul sama Kakek, ya. Pasti karena papa nakal," Celetuk Iza.
Najib hanya bisa garuk-garuk kepala, tak tahu harus menjawab apa. Di depan Iza hilang sudah otak cemerlangnya.
"Iya, Papa itu nakal banget. Kakek nggak suka itu. Makanya nggak boleh berkunjung ke kita." Sheza menimpalinya, membuat Najib makin keki.
Ia melirik sekilas. Wanita itu tampak tertawa puas, ada teman untuk meluapkan kekesalan.
"Jangan nakal ya, Pa. Biar kakek mengijinkan kita bertemu. Nggak seperti ini. Aku kan kangen ..." Pinta Iza.
"Dengerin tuh, ucapan putrimu." Sheza tersenyum lebar, mumpung ada kesempatan untuk memarahi suami.
"Ya, ya ..." Jawab Najib pasrah.
"Gitu dong, Pa. Biar, di ulang tahunku nanti kita bisa berkumpul semua. Kakek, Papa, Mama, mbok Yem, mbok Minah, Paman, eh ya ... mama Aina juga."
Deg, hati Sheza seakan teriris saat mendengar nama itu diucapkan putrinya. Apa yang ia usahakan akhir-akhir ini, seakan sia-sia, belum bisa membuat hati Iza kembali padanya.
"Mama Aina sedang sakit, Sayang. Nggak mungkin bisa hadir." Jawab Najib cepat.
"Lupakan perkataan Iza. Dia masih kecil."bisik Najib lembut dan menggenggam tangannya sejenak. Ia tak mau kalau Sheza berfikir macam-macam.
"Sayang sekali, Pa. Padahal aku pingin ..."
"Sudah, kita cari makan siang dulu, yuk!" Najib segera memotongnya.
"Tuan Putri mau ke mana, nich?"
"Ke tempat bisanya saja , Pa. Yang ada kolam ikannya."
"Ok."
__ADS_1
Selama ini, ia selalu berusaha tidak menyebut nama Aina di depan Sheza, atau sebaliknya. Kecuali bila mereka memulainya. Mau tak mau ia harus melibatkan diri, agar tak terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Hanya itu yang bisa ia lakukan, Meski tidak menyembuhkan, setidaknya bisa mengurangi rasa sakit yang mereka derita.
🌟
Arya ....
Senyumnya mengembang, saat melihat Sheza dan Najib berlalu dari hadapannya. Tampak rukun dan damai, seakan tidak ada masalah di antara mereka.
"Man," ia memanggil sopir keluarga yang kebetulan sedang melintas di depannya.
Suparman segera menghentikan mobil. Dan keluar, memenuhi panggilan tuan besar. Namun belum juga dirinya melangkah, Arya mengisyaratkan untuk masuk lagi.
Bukan dia yang mendekat, tapi Arya lah yang menghampiri, menuju ke mobil.
"Bisa antar aku ke wanita itu?"
"Injjih saget, Tuan."
Arya segera duduk di samping Parman, memasang sabuk pengaman ke tubuhnya.Tak lupa mengambil kodrat yang selalu ada di box mobilnya. Menikmati perjalan dengan membaca sudah menjadi kebiasaan sejak dulu.
Parman menghidupkan mesin mobil dan membawanya berputar, meninggalkan halaman rumah utama berlahan-lahan kembali memasuki jalan yang sesaat lalu ia tinggalkan. Tak ada obrolan, Arya asyik dengan korannya, Parman sibuk dengan kemudi serta jalanan. Sunyi, sepi sampai mereka tiba di rumah sakit, tempat Aina di rawat.
"Kok ke sini, Man. Apa dia sakit?" Ia segera keluar dengan wajah penuh tanya.
"Iya, Tuan."
Meskipun ragu, namun ia harus mengatakannya.
"Sebenarnya bukan sakit, Tuan. Tapi mungkin itu efek dari kehamilannya?"
"Hamil?"
"Iya."
Untuk sesaat ia tampak ragu melangkah. Niat hati akan meminta Aina untuk memutuskan hubungannya dengan Najib. Tapi kalau sakit begini, dirinya tidak akan tega. Apalagi sedang hamil, tak mungkin ia sanggup memintanya berpisah.
Tapi, sudahlah. Sudah kepalang basah, lebih baik lanjutkan saja. Ia pun melangkah mengiringi Parman, melewati lorong-lorong rumah sakit hingga tiba di lift.
"Di mana, Dia?"
"Di lantai lima. Silahkan, Tuan!"
Ia memasuki lift terlebih dulu, lalu Parman segera mengikuti, menekan tombol yang akan membawanya ke lantai yang menjadi tujuan mereka.
Begitu pintu lift terbuka, ia segera keluar. Demikian juga Parman.
__ADS_1
"Mari, Tuan."
Ia mengikuti ke mana Parman melangkah hingga sampai di sebuah paviliun kelas VIP. Cukup besar dan nyaman. Yang membuat batinnya bergejolak dan marah seketika. Mengapa Najib sangat mengistimewakan wanita ini. Wanita yang sudah membuat putrinya tersakiti.
Keduanya pun masuk dari pintu yang separuh terbuka.
Dia terkejut saat melihat seorang wanita berbaring dengan perut membuncit ditemani oleh seorang wanita paruh baya yang mengelus perutnya lembut.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh," ucap Parman.
Kedua wanita itu segera menengok ke arah mereka. Mereka tampak terkejut, terutama si mbok yang tadi mengusap perut buncit wanita itu. Dia segera menghentikan kegiatan.
Sedangkan wanita yang satunya segera bangkit dari tidurnya, menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
"Wa alaikum salam warahmatullahi wa barokatuh." Jawabnya segera.
"Tuan. Arya." Sapanya kemudian.
Arya tak berani mendekat, dia memilih sofa yang ada tak jauh dari tempatnya berdiri. Duduk dalam diam. Wajahnya menampakkan kesedihan yang mendalam.
"Mbok." Parman segera mengajak si mbok keluar, agar keduanya bisa bicara secara pribadi menyelesaikan masalah mereka.
"Nyonya." ia meminta ijin pada Aina. Aina mengangguk. Baru ia mengikuti langkah Parman ke luar ruangan.
"Maaf, ada keperluan apa tuan kemari."
Arya diam, tak sanggup mengatakannya. Dia hanya menghembuskan nafas pelan. Ia memalingkan muka, tak sanggup melihat keadaan Aina.
"Apa ini tentang mas Najib dan mbak Sheza."
"Tidak juga. Aku mau ucapkan terima kasih kepadamu. Selama ini sudah menjadi ibu yang baik untuk cucuku, Iza."
"Sudah sepantasnya kalau aku menyayanginya, selain karena dia putra mas Najib., dia juga anak yang lucu." mata Aina berbinar, seolah lupa dengan sakit yang sedang diderita, bila menyebut nama Iza.
Arya terkesima. Benar kata Najib kalau Aina adalah ibu yang baik.
"Apa hanya ini permintaan Tuan datang kemari?"
Dengan berat, Arya pun mengatakan maksud yang sesungguhnya.
"Bisakah kamu menjauhi putraku, Najib."
Sakit sekali mendengar permintaannya. Dalam keadaan ia amat memerlukan dukungan dari semua pihak, kenapa Arya berkata seperti itu?
Namun demikian, Dia berusaha tegar agar air mata tak sampai lolos dari tempat persembunyian.
__ADS_1
"Baiklah.Tapi, bisakah tuan menunggu sampai aku bisa melahirkan putraku untuk mas Najib."
"Aku mengerti soal itu."