
Sudah beberapa kali hal seperti ini terjadi. Najib dan Iza melenggang keluar rumah tanpa dirinya. Dia harus rela berada di apartemen hanya berdua dengan si mbok saja.
Kadang terpikir, untuk mencegah mereka pergi. Bagaimanapun dia membutuhkan seseorang untuk melewati masa-masa kehamilan ini dengan indah. Dengan adanya perhatian dari seorang yang mencintai dan menyayanginya, seperti yang dia butuhkan saat ini. Sayang sekali, sosok itu kini mulai sedikit mengabaikannya. Hiks ... 😭
Dia segera menepis pemikiran seperti itu jauh-jauh. Dia tak boleh egois, menguasai sang suami seorang diri. Jelas itu tak adil, bisa jadi akan membuat kehidupan rumah tangganya tak semakin baik, namun akan bertambah runyam.
Hanya doa yang bisa dia panjatkan, agar hati ini menjadi tenang. Terlepas apakah Najib dan Sheza bisa berbuat adil atau tidak. Salah atau benar, itu urusan mereka.
Kadang di saat seperti ini bayangan bapak ibu yang telah sepuh hadir. Tumbuh rasa rindu akan sentuhan lembut tangan ibu yang mampu meruntuhkan segala kesedihannya. Atau tatapan ayah yang membuat hati ini menjadi damai.
Namun bayangan itu, seketika dibuang jauh-jauh. Dia sudah memutuskan tidak kembali pulang. Dan memilih sesuatu yang mungkin sulit untuk membuatnya tenang. Mengikuti kata cinta yang baru pertama dirasakannya, meski harus berbagi.
Daripada melamun yang tidak-tidak, lebih baik mengisi dengan sesuatu yang mengasyikkan, membuat desain baju. Mumpung Mas Najib tak ada. Takkan ada orang yang akan mengusik untuk menikmati hobbynya.
Dia mengambil kertas yang ada di dalam laci nakas. Sudah ada beberapa desain yang berhasil dia buat.
Beberapa sudah berhasil diwujudkan, dalam bentuk baju, kemarin pada saat di kampung. Dan Alhamdulillah sudah berhasil terjual melalui penjualan online.
Namun setelah kembali ke sini, baru dua lembar yang sudah berhasil dia eksekusi. Maklumlah, dia harus mencuri-curi waktu untuk bisa mengerjakannya. Mas Najib akan marah bila mengetahui. Dia khawatir kalau sampai dia kelelahan.
Ah, Mas Najib ada-ada saja. Dia mungkin tak tahu diriku merasa bosan kalau harus diam. Kalau nanti sakit ya sakit saja, mungkin sudah waktunya istirahat. Begitu saja kok repot.
Tapi sedih juga, kalau diri ini sedang sakit bertepatan saat ada acara keluar. Otomatis tak bisa ikut. Dan mau tak mau, harus bisa ikhlas dan lapang dada memberikan kesempatan pada Sheza untuk menemani suami.
Astaghfirullahaladzim ... Ternyata bukan salah Sheza atau Najib, dirinya turut andil juga atas ketidakadilan yang sekarang harus dilaluinya.
(Aina, ternyata kamu bandel juga yaaa)
Aina mengambil beberapa lembar kertas kosong serta pensil, untuk melanjutkan mendesain baju. Kegiatan yang mengasyikkan serta bisa mengalihkan angannya untuk tidak memikirkan Sheza ataupun Najib lagi.Untuk mengalihkan rasa cemburu yang dia rasakan saat ini.
Jangan Salahkan kalau dia lupa waktu saat memegang pensil dan kertas. Bahkan lupa kalau dirinya sedang tidak enak badan. Dia baru tersadar ketika suara dentang jam di ruang tengah berbunyi 12 kali. Dan bunyi pintu apartemennya terbuka.
"Apakah itu, Mas Najib? Kok tumben pulang," Dia segera turun dari pembaringan. Aina mengintip di balik pintu untuk memastikan siapa yang datang.
Dugaannya benar. Tampak Najib sedang menggendong Iza yang sedang terlelap. Dia menghampiri mereka.
"Alhamdulillah, Mas pulang." Begitu sampai.
Najib tertawa kecil sambil meletakkan Iza di pembaringan.
"Yang, Kamu belum tidur."
"Nggak bisa tidur, Mas."jawabnya dengan senyum merekah.
__ADS_1
"Ooo ... Bilang aja kalau minta ditemenin."
"Nggak kok. Mas Najib saja yang mengada-ada."
"Katakan saja. Nggak usah malu. Sama suami sendiri juga."
"Mas, ada saja. Aku sudah biasa ditinggalkan sama Mas. Mengapa juga memikirkan Mas. Situ bisa tenang makan-makan, masak aku nggak bisa tenang tiduran. Belum lagi kalau Mas terjerat mbak Sheza, akhirnya lupa pulang. Rugi banyak dong aku, kalau sampai nggak bisa tidur."
"Kamu benar-benar menggemaskan. Sudah terlihat nggak bisa tidur begitu, masih juga mengelak. Atau Sayang ingin aku balik ke rumah Sheza?"
"Ooo ... tidak-tidak. Hehehe ..."
Senyum Najib seketika mengembang. Dia tak habis pikir dengan istri mudanya ini. Ketika orang lain dalam keadaan seperti ini, mungkin akan bersedih, bahkan akan marah-marah, atau bisa jadi akan bertindak bar-bar.
Tidak dengan Aina. Dia seakan menikmati perannya sebagai istri kedua. Tetap tertawa ceria, tetap manja. Paling berat, dia akan merajuk untuk mengungkapkan perasaannya bila itu tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
"Sudah yuk. Kita ke kamar. Jangan ribut di sini. Nanti Iza bangun."
Aina tersenyum. Dia mengiringi langkah suaminya menyusuri tangga menuju kamar mereka. Biarlah rasa yang menghangat ini dia nikmati dulu. Jarang-jarang suaminya bisa pulang kalau sudah bersama Sheza.
Sepanjang jalan, Najib menunduk dan tak banyak bicara. Dia terlihat dingin, tak seantusias seperti saat di kamar Iza.
Aina melihat sekilas dengan ekor matanya. Meskipun pencahayaan remang-remang, tapi Aina dapat merasakan kalau Najib tidak baik-baik saja.
"Mas sedang marah sama mbak Sheza?"
"Maafkan aku, Mas. Aku begitu penasaran sampai tak memperhatikan Mas."
"Apa perlu aku siapkan minuman hangat."
"Tak usah." Bagaimana dia akan merepotkan istrinya, sedangkan keadaannya kurang sehat.
Tapi itu apa ....
Najib menengok ke atas kasur, suasana berserakan kertas. hmm ... benar-benar bandel dia.
Mau menegur kok ya kasihan. Ah, biarkan sajalah, kalau sudah hobby, mau dicegah pun tak ada guna, bahkan bisa-bisa ngambek nanti. Dan yang ada, makin pusing kepalaku nanti. Dia pun berlalu menuju ke kamar mandi.
Alhamdulillah, keluar kamar mandi semua sudah beres. Dirinya pun siap untuk ngomong.
"Yang maafkan aku ya ... Tak seharusnya meninggalkan mu."
"Tidak apa, Mas. Aku mengerti."
__ADS_1
Najib tampak sendu, membuat Aina bertanya-tanya, gerangan apa yang kini dipikirkan oleh suaminya.
"Yang, Aku ingin cerita tentang banyak hal denganmu saat ini. Kamu nggak keberatan, kan?"
"Bagaimana aku akan keberatan kalau kita sudah berjanji akan saling terbuka tentang apapun yang terjadi di antara kita, baik itu menyenangkan atau tidak."
"Terima kasih istriku."
🌟
Flash back ....
Najib yang sedang menunggu, beberapa kali harus melihat jam di tangannya untuk memastikan bahwa mereka tidak akan telat untuk menghadiri undangan makan malam kliennya. Namun sekian lama, Sheza tak muncul-muncul juga. Akhirnya dengan terpaksa, dia menyusul ke kamar Sheza.
Dia sana, Dia hanya bisa tertegun, menatap Sheza yang sedang bergaya di depan meja riasnya.
Wanita ... urusan akan makan malam saja, sudah sebegitu hebohnya. Bilangnya tunggu sebentar, tapi hampir tiga puluh menit, tak selesai-selesai juga. Ternyata ini yang membuat dirinya harus menunggu lama.
"Bagaimana penampilanku Kak?"
Sesaat Najib mengamati penampilan Sheza dari ujung rambut sampai ujung kaki. Pakaiannya memang pas sekali di tubuhnya. Tapi sayang, agak sedikit terbuka.
"Eee ... gimana ya ... "
Najib menuju ke almari lalu mengeluarkan sebuah blazzer sederhana namun cukup cantik kalau dipadukan dengan baju yang Sheza pakai.
"Sepertinya kalau pakai ini, kamu makin cantik, deh."
"Ya ... Kakak. Model ini intinya itu di bagian atas. Kalau ditutupi nggak kelihatan dong."
Najib tak mendengar ocehan Sheza. Dia segera memakaikan blazer itu di tubuhnya.
"Suamimu pasti cemburu kalau kamu seperti ini."
"Kakak cemburu?"
"Kakak bilang suamimu."
"Kakak kan suamiku."
"Sejak kapan?"
"Sejak kita menikah lah."
__ADS_1
"Beneeer?"
Sheza diam ...