Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Dia Datang


__ADS_3

Flash back ....


Sheza diam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya ingat kalau selalu menghindar apabila Najib ingin menyentuhnya.


"Maafkan aku Kak. Aku dulu tak tahu Apa itu pernikahan."


Dahi Najib berkerut.


"Bagaimana mungkin engkau tak tahu perihal pernikahan sedangkan engkau telah merasakan bagaimana mengandung dan melahirkan seorang putri yang cantik."Ada nada kekecewaan dalam kata-katanya.


"Kak, Apakah kakak belum bisa memaafkanku?" Dia tertunduk sedih. Tak ada kekuatan lagi untuk menatap mata suaminya.


"Entahlah. Kakak tak tahu. Yang Kakak tahu, Aku begitu sayang sama kamu, sampai-sampai tak tahu lagi bagaimana cara memarahi kamu." Suaranya berat. Membuat Sheza semakin merasa bersalah.


"Sheza menyadari itu, Kak. Tapi mengapa saat Sheza ingin berubah, Kakak sudah bukan milik Sheza lagi."


Najib duduk di meja riasnya, mengambil nafas sejenak. Bagaimana pun dia juga sedih mendengar pengaduan yang wajar dari istri pertamanya.


"Ada kalanya Kakak merasa di titik nol dengan hubungan kita. Bagaimana pun Kakak menginginkan seseorang yang bisa mendampingi kakak setiap saat. Susah, senang, derita atau bahagia, atau sekedar berbagi cerita atau cinta. Dan saat itu Aina datang. Kakak tak bisa menolak itu."


"Apakah aku sudah tak ada artinya lagi bagimu, Kak?"


"Jika tak ada lagi artinya lagi, tak mungkin Kakak ajak Kamu sekarang ini."


"Benarkah? Tapi mengapa Kakak tak pernah menyentuhku?"


Najib terdiam sesaat. Bagaimana mungkin dia akan bisa mengatakan bahwa dirinya sangat terluka, saat pertama kali menyentuhnya setelah beberapa bulan kelahiran Iza, Sheza menolaknya dan menyebut nama lain di depannya.


Tapi bagaimana pun Sheza, dia tetap sayang. Hanya saja Sayang sebagia adik. Memandangnya pun hanya sebagai adik yang perlu dia jaga, bukan sebagai wanita. Dia sudah kehilangan hasrat untuk menyentuhnya.


"Sudah. Nanti kita telat." Najib mencoba menghindar.


"Kakak." Wajahnya sendu merasa terabaikan.


Akhirnya dia pun berhenti, mencoba mengatur nafasnya dengan baik.


Meskipun hatinya tak bisa lagi berbohong, kalau kisah masa lalu mereka sungguh menyesakkan dada, tapi rasa sayangnya pada Sheza sebagai seorang saudara yang sudah tumbuh besar bersama telah mampu melumpuhkan keangkuhannya untuk bersikap tak peduli padanya.


"Apakah kamu sudah siap? " Najib menyadari, sampai saat ini Sheza tetaplah istrinya bukan adiknya.

__ADS_1


Sampai beberapa saat tak ada jawaban dari Sheza. Membuat Najib bertanya-tanya, apa yang mesti dipikirkan lagi. Bukannya hanya menjawab ya atau tidak. Atau jangan-jangan Sheza masih memikirkan si dia. Ah, sudahlah ...


Tak ingin terlalu lama dalam prasangka yang tak perlu, Najib segera meninggalkan kamar mereka. Meski dengan hati yang sedikit perih.


Sheza baru menyadari kalau Najib tak ada lagi bersamanya saat mendengar bunyi derit pintu yang tengah bergeser.


"Kak, tunggu!" Dengan sedikit tergesa-gesa, dia menyusul Najib.


Najib berhenti dan berbalik menengok dirinya sambil tertawa ringan. Ya ... Dia tak mungkin mengabaikan kemanjaan adiknya itu, meskipun telah membuat hatinya sedikit kecewa.


Sampai di bawah, mereka disambut tuan putri cantik dengan berkacak pinggang.


"Ma, kenapa lama sekali. Iza sampai ngantuk nungguin."


Bukannya menjawab pertanyaan putrinya, dia malah berpose bak peragawati di depan putrinya. Sampai-sampai Iza terbengong-bengong.


"Mama cantik, nggak?"


"Cantik. Tapi cantik kan aku lah, Ma. Iya kan, Pa?" Iza bergaya centil dan menggemaskan, dengan dua jari di pipi dan juga senyumnya yang merekah sempurna.


"Iya ... Iza pasti lebih cantiklah."


Masak iya, sama anak sendiri bersaing.


Najib tak bisa lagi menahan tawa menyaksikan kedua wanita yang berbeda generasi itu saling beradu gaya.


Syukurlah kini keduanya telah akur. Iza dan mamanya sudah lebih terbuka dan kebencian itu sedikit demi sedikit telah sirna.


Atau?


Mungkinkah ini tanda, bahwa dirinya telah siap memperbaiki hubungan mereka yang selama ini terasa hambar. memulainya dengan sesuatu yang istimewa. Tak tahulah ....


Semoga dugaannya benar. Namun Najib tak berani berangan-angan terlalu jauh, agar nanti tidak kecewa bila angannya tidak sesuai dengan kenyataan.


Dia menatap pada jam tangannya sesaat.


"Ayo berangkat!" Ajak Najib kemudian.


Iza segera berlari kecil mendahului keduanya, meninggalkan orang tuanya yang sedang melangkah dalam diam, menuju halaman rumah. Mereka menghampiri Pak Parman yang tengah berdiri, menyandarkan tubuhnya di bodi mobil, menunggu kedatangan sang majikan dengan setia.

__ADS_1


Mobil itu berhenti di sebuah rumah makan yang cukup artistik, berada di tengah kota.


Mereka bertiga menuju ruang VIP. Di sana, telah menunggu Mr. Pheza dan juga istri.


Mereka mendapat sambutan yang hangat dan berbincang-bincang sejenak sambil menunggu pesanan datang.


Kehadiran Iza, membuat suasana menjadi hangat dan meriah, tak seperti biasanya yang sunyi dan kaku.


Padahal saat mengambil keputusan untuk mengajak Iza, ada sedikit khawatir juga jika mereka kurang berkenan, tapi semua itu tak terjadi, bahkan nyonya Pheza pun menikmatinya. Sering kali, dia bercanda dengan Iza. Mungkin lama menunggu kehadiran anak kecil di rumahnya, sehingga dia merindukan moment-moment seperti itu. Maklumlah, kini mereka hanya tinggal berdua. Anak-anak sudah besar, memilih hidup mandiri dari pada harus berkumpul dengan orang tuanya, meski belum berkeluarga semua.


Meskipun sedikit agak heboh dengan celotehannya, tapi tidak mengganggu kami, para pria untuk bicara bisnis. Sesekali Sheza ikut nimbrung, karena pemikirannya yang brilian dapat memberikan masukan-masukan yang berarti untuk kerjasama ini.


Hanya sayang, kehangatan makan malam ini ternodai dengan kehadiran dia, Antony. Dia yang pernah mengisi hati Sheza.


"Sheza." Meski lirih namun cukup jelas terdengar di telinga Sheza.


Dia langsung menengok ke arah pemilik suara yang terdengar tak asing baginya.


"Antony."


Sheza terkesima . Dia benar-benar tak menyangka akan dipertemukan lagi dengan lelaki itu. Lelaki yang hampir mampu dia lupakan. Mereka berpandangan cukup lama, ada tatapan penuh arti yang mungkin ingin mereka ungkapkan, tapi terhalang dengan keadaan yang membelenggunya saat ini. Terlihat jelas kalau ada genangan tipis dalam danau bening miliknya, membuat Najib makin tersiksa.


Mungkinkah dirinya cemburu?


"Istriku." Sebut Najib pelan agar bisa menyadarkan wanita yang sampai saat ini masih sah sebagai istrinya.


Selain itu, agar lelaki yang ada di hadapan mereka segera menyadari pada siapa pandangannya tertuju. Wanita yang memiliki suami.


Namun sayang, keduanya sama sekali tak bergeming. mereka begitu larut dengan perasaannya masing-masing.


Najib sangat kecewa . Sebagai suami, dia merasa diabaikan, benar-benar tak dianggapnya, suaranya dianggap angin lalu. Dia mengalihkan pandangan agar dadanya tidak semakin terbakar. Menikmati hidangan dengan senyum dan sesekali memainkan sendok yang dipegangnya.


"Antony, duduklah." Ajak Mr. Pheza dengan ramah. Keduanya pun tersadar dan melanjutkan acara makanan malam ini dengan tenang.


"Dia putrimu?" Sekilas Antony menatap Iza yang duduk di antara Sheza dan Najib.


"Ya." Sheza menjawab dengan singkat. Dia tak mau panjang lebar berbicara dengan Antony. Ada rasa cemas saat tahu Najib melirik dengan wajah menebal, menahan kesal dan marah.


"Maaf, Mas." Buru-buru Sheza meminta maaf. Namun Najib acuh, tak mau menanggapinya.

__ADS_1


__ADS_2