
Dia sangat bahagia mendapatkan seorang istri yang cukup sempurna, seperti Aina. Hatinya yang dulu beku, kini sedikit demi sedikit mulai mencair. Salahkah? ... mungkin. Tapi dirinya tak kuasa untuk menepis rasa yang menyapanya sejak pertama kali berjumpa Aina.
Dia mendekati wanita yang kini sudah benar-benar bertamu di hatinya dan berbisik lembut, “I love you, Sayang.”
Aina sontak kaget, tak mengira akan mendapatkan kejutan yang luar biasa. Mendapatkan kata-kata seromantis itu dari Mas suami. Kata-kata yang dulu selalu ingin dia hindari, agar tak jatuh dalam rasa yang salah. Kini dia dapatkan dalam keadaan penuh rahmah. Kan sudah halal. Bebas kan ....
Seketika pipinya merona dan jantungnya berirama mesra. Dia menarik tubuhnya menjauhkan dari Najib. Sambil mencebikkan bibirnya, dia berkata, “Apaan sih.”
“Tapi suka, Kan?”
Aina tak bisa berkata apa-apa. Dia tertunduk malu. Tak bisa memungkiri kalau kini hatinya dipenuhi bunga-bunga sekebon yang bermekaran bak di musim semi.
“Sudah ah. Mas jangan menggoda terus. Nggak malu apa dilihat Iza.”
“Hehehe ... Kalau ditunda nanti lupa.”
Lengkap sudah kehidupan yang dijalani saat ini. Untuk apa memikirkan Sheza lagi. Belum tentu dia memikirkannya. Sejak saat itu Najib sudah tak ada keinginan untuk menghubungi Sheza. Kadangkala saja dirinya menjawab bila Sheza yang menghubunginya. Itu pun tergantung situasi dan kondisi jika dia di kantor atau tempat yang jauh dari Aina. Bukannya takut nanti rahasianya akan terbongkar, tapi terus terang dirinya belum siap kalau harus kehilangan Aina. Dan yang pasti, dia malas untuk berurusan dengan Sheza.
“Iza sama mama Aina dulu. Bisa, kan? Papa mau kerja.”
Iza memasang muka cemberut, kesal dan jengkel merasa ditipu oleh Papa Najib.
“Ya ... Papa. Katanya kemarin mau nunggu Iza sampai sembuh.”
“Hanya sebentar kok Sayang. Siang, papa akan ke sini lagi.”
Tak terima dengan alasan Najib, Dia membelakangi Najib. Ditowel-towel pun sama sekali tak bergeming. Kesaaal ... Papa bohong.
Benar-benar pemandangan yang menggemaskan. Aina tak bisa menahan tawa. Dia segera menghampiri, membelainya dengan lembut dan memberikan senyuman terbaiknya.
“Kenapa Sayang?”
“Papa bohong. Katanya mau nungguin Iza. Ternyata pergi juga.”
“Kan kerja.”
“Nggak mau. Mama kerja, pulang hanya sebentar saja, marahi Iza. Papa juga, selalu pergi. Kerja, kerja! bosen dengarnya,” ujarnya dengan bersungut-sungut. Tuan putri marah besar. Apa yang mengganjal di hati lepas begitu saja.
Aina terkesima, seketika terdiam. Mama Papa??
Maksudnya apa ya ... apa itu Sheza dan mas Najib. Tak mungkin mas Najib berbuat seperti itu, menyimpan dusta darinya. Bukankah baru saja dia bilang cinta?
Najib yang melihat Aina terdiam, segera menyahutinya.
“Kan ada mama Aina. Kalau Papa nggak pergi, nanti dimarahin banyak orang, habis ditunggu nggak datang datang. Gitu kan ya Ma?”
__ADS_1
Aina sontak terkejut.
"Iya, Pa."
Dia segera membuang jauh-jauh prasangka itu.
“Suka ... Tapi Papa perginya jangan lama-lama. Iza pasti kangen.”
"Kan sampai siang."
"Iya deh."
Iza tertawa senang, memperlihatkan gigi susunya yang berjajar rapi seperti biji mentimun pada kita. Lesung di pipinya tampak kian nyata. Hanya sayang mata coklatnya jadi tertutup. Dia kalau tertawa suka memejamkan mata, tapi ini yang terlihat semakin manis.
"Terima kasih Putri Sholihah Papa. Muuaach ..." satu kecupan kecil mendarat di dahinya.
“Kalau Iza sudah sembuh bisa ikut nemenin papa kerja di kantor. Bagaimana?”
“Bener Pa?”
Najib menggangguk
“Tapi, datangnya habis sekolah saja, ya ....”
Sesuai dengan janjinya. Dia segera kembali ke tempat Iza begitu pekerjaan selesai. Kini dia bisa nikmati siang dan sepanjang malamnya bersama Iza. Tak terkira bahagianya hati Iza. Ditambah pula dengan kehadiran Mama Aina yang sangat sayang dan kepadanya. Yang tak pernah dia dapatkan dari Mama Sheza.
Tak memerlukan lama, waktu yang diperlukan Iza sembuh untuk sembuh. Bahkan dengan kasih sayang yang dia dapatkan selama di rumah sakit semakin mempercepat kesembuhannya. Perkiraan 3 hari menjadi 2 hari, dia sudah diperbolehkan pulang.
Hari ini, mereka akan meninggalkan ruangan yang selama dua hari ini menjadi tempat tinggal mereka. Barang-barang sudah dikemasi. Siap untuk dibawa.
Najib menyuruh sopirnya untuk membantu istrinya, membawakan barang mereka yang berada dalam tas besar. Sedangkan dia menemani istrinya dengan menggendong Iza.
“Man, tolong bawa tas itu ke mobil.”
“Ya, Den.”
Mereka bertiga mengikuti langkah Superman menuju ke tempat parkir.
Di tengah perjalanan, Najib melihat Arya, Papa Sheza. Yang merupakan Papa mertuanya. Namun dia berusaha untuk tenang. Agar Aina tidak mencurigainya. Hanya saja, Iza yang melihat orang tua yang tengah berjalan ke arahnya segera berteriak memanggilnya, “Kakeeeek.”
“Kakek?” Membuat Aina terkejut
“Itu kakeknya Iza?” kata Aina dengan mata membulat sempurna dan wajah penuh tanya.
“Dia Tuan Arya.”
__ADS_1
“Ooo ... Ternyata Iza punya kakek yang kaya ya. Ke sini pakai jas lengkap dengan pengawal,” ucap Aina terkagum-kagum.
“Aku mau ngomong sama kakeknya Iza. Bisakah Mama tinggalkan kami sebentar?”
“Ya, Pa.”
Tanpa curiga Aina pergi meninggalkan Najib yang menemui kakek Arya bersama dengan Iza. Dia berjalan menuju tempat parkir, menunggu mereka di sana dengan sabar.
Najib yang tak menyangka bertemu dengan Arya di rumah sakit itu pun segera menghampiri dan menurunkan Iza di sampingnya.
“Assalamualaikum ... Papa,” menjabat erat tangan mertuanya dan mencium tangannya dengan penuh hormat.
“Waalaikumsalam ... Cucu kakek sekarang sudah besar.” Dia meraih Iza ke dalam gendongannya. Beradu dahi dan juga hidung dengan cucunya sejenak. Untuk melepaskan rasa kangen yang sudah hampir setahun ini tidak bertemu dengan cucunya. Maklumlah dia tinggal di Australia. Hanya terkadang saja pulang ke Indonesia menjenguk Putri satu-satunya yaitu Sheza. Yang sudah memberikan seorang cucu padanya.
“Sakit apa?”
“Sakit rindu. Ditinggal terus sama Papa. Mentang-mentang sudah punya apartemen sendiri, Papa jadi jarang pulang nemui Iza.” Najib benar-benar dibuat salah tingkah dengan ucapan iza barusan. Dia tak mengira kalau Iza mengatakan itu pada mertuanya.
Bagi Iza, mumpung ada kakeknya, dia katakan itu semua. Agar Papa Najib dimarahi, biar kapok tak pernah meninggalkannya lagi. Takut kalau bersama mama Sheza, dimarahi terus.
“Benarkah?” Dahinya berkerut, matanya terbuka lebar, seakan tak percaya.
“Maafkan Najib, Pa. Ada proyek di luar kota sehingga Najib jarang pulang.”
“Ya ... Ya ... Aku tahu. Sudah selesai?”
“Alhamdulillah sudah. Tinggal finishing dan peresmiannya saja, Pa. Najib harap Papa bisa menghadirinya.”
“Oke, Kasih tahu Papa, kapannya?
“Ya, Pa.”
“Mama ke mana, Sayang?”
“Nggak tahu! Mama pergi saat Iza sakit. Mbak Minah yang membawa Iza ke rumah sakit. Papa baru datang malamnya.”
Dia terlalu polos untuk menutupi segala apa yang dirasakannya. Begitu ada tempat yang nyaman untuk mengadu, dia pun akan bercerita panjang lebar apa saja yang dirasakannya saat ini.
“Sekali lagi maafkan Najib, Pa.”
“Sheza kemana?”
“Ke Kalimantan.” Sekali lagi dahi Arya berkerut. Dia tampak kecewa.
“Bukankah di sana sudah ada Purnomo?”
__ADS_1