Belenggu Cinta Berbalut Dusta

Belenggu Cinta Berbalut Dusta
Kesadaran Untuk Kembali


__ADS_3

Najib


Di dalam mobil keadaan sunyi. Sheza tampak masih sedih. Dia terlihat malas dan tak mau diganggu. Beberapa kali Iza menggeliat, tak juga mampu mengalihkan kesedihannya.


Seandainya aku tahu kalau Antony akan datang, tentu aku tak akan mengajaknya. Karena aku pun tak mau kalau dia mengingat masa lalunya yang menyakitkan itu.


Jangankan dia, aku pun masih sakit bila mengingat kejadian di waktu itu. Saat hari aku harus menikahi Sheza. Jangan ditanya bagaimana tersiksanya diriku untuk menerima Sheza yang masih memikirkan dia. Sudahlah ... itu masa lalu, tak perlu diingat lagi.


Sebelum kita berangkat, Sheza sudah punya itikad baik untuk memperbaiki hubungan kita. Namun dengan hadirnya Antony, harapan itu seakan sia-sia belaka.


Aku pun dibuatnya amat cemburu dan juga marah. Cemburu dengan cinta dia pada Antony. Marah! ... Mengapa harus dia? .,. itu yang tak aku mengerti. Dia yang sudah menoreh luka di hatinya dan membuat papa Arya sangat marah.


Mana Sheza juga menangisi si brengsek itu lagi. Apakah dia tak memikirkan perasaanku. Aku suaminya, yang selalu ada untuknya, Tapi sayang hatinya bukan untukku.


Aku marah , tapi haruskah aku marah? .. Hatiku terluka ... tapi haruskah aku terluka? ...


Untuk apa aku terlalu memikirkan tentang dia. Belum tentu juga dia memikirkan perasaanku. Meskipun dia tahu kalau rasa yang dipendamnya itu salah, dia tetap melakukannya. Bagaimana tersiksanya diriku dengan hubungan ini.


Astaghfirullah al adzim ... sebagai suami, aku tak bisa mengarahkan dan menjaga hati istri sampai-sampai dia belum mampu berpaling dari masa lalunya. Bahkan membuatnya semakin sakit. Dengan mengambil Aina sebagai istri.


Tapi Aina telah memberiku kebahagiaan yang selama ini tak kutemui. Dia sabar, penyayang dan tidak egois. Dan dia yang selalu memperhatikan Iza dari pada mama kandungnya. Bersamanya, aku bisa tenang dan menjalani kehidupan rumah tangga dengan sebenarnya.


Apakah aku salah, bila mempertahankannya. Apalagi kini dia telah mengandung buah cinta kami. Aku tak bisa melepas Aina, meski Sheza atau Papa Arya meminta.


Tak terasa, akhirnya perjalanan kami pun sampai di tempat tujuan. Rumah yang besar, megah, mewah namun tampak sunyi. Sesunyi suasana hati penghuninya, antara aku dan Sheza. Lebay ...


"Sheza, Kita sudah sampai." Dia pun tersadar dan segera mengusap wajahnya untuk mengembalikan kesadarannya yang sepanjang jalan entah pergi ke mana. Dia pun keluar, sedangkan aku masih di dalam.


"Kakak nggak turun?"


"Aku langsung balik ya ... Aina sedang sakit." Terakhir aku tinggal badannya agak lemas, mungkin bawaan baby. Namun tetap saja, membuatku cemas.


"Kakak, jangan tinggalkan aku." Saat ini Sheza memang sedang kacau, perlu teman. Tapi aku sangat mengkhawatirkan Aina.


"Bagaimana pun perasaanku saat ini, Aku tak mau berpisah denganmu, Kak."


Ini maksudnya apa ...


"Ku mohon, Kak ..." wajahnya memelas, masih berbalut kesedihan dan bekas-bekas air mata, membuat diriku tak tega meninggalkannya.

__ADS_1


"Baiklah. Kakak antar kamu tidur"


Aku pun menyerah, mengikuti keinginannya. Pintu mobil pun aku buka dan keluar. Aku segera menepis tangan Sheza dari pintu ke dua, untuk mengambil tubuh Iza yang kini masih tertidur lelap.


"Ayo!" ajakku kemudian, saat Iza sudah dalam gendonganku.


Kita berjalan dalam diam. Aku juga tak mau mengusiknya. Bisa-bisa dia akan semakin diam, karena sedih. Nasehat atau sekedar komentar pemecah kesunyian bisa membuatnya terluka. Dia perlu waktu sendiri, untuk membebaskannya jiwanya dari memikirkan si brengsek itu.


"Kok, Iza dibawa Kak?" Ku tatap dirinya dengan senyum.


Sengaja Iza tak kubawa. Aku ingin dia tidur bersama kita. Minimal ada sesuatu yang bisa jadi penghalang saat kita tidur bersama.


"Biar dia sesekali bisa merasakan pelukan mamanya. Tak apa-apa kan?"


Dia tak mengiyakan ataupun menolak. Hanya saja dia terlihat berjalan lebih cepat dan kesal. Ah, biarkan saja ....


Aku tak peduli. Aku segera membawa Iza ke kamar dan ingin meletakkan Iza di tengah-tengah kasur.


"Mama, bisa tolong lepaskan sandalnya." Sengaja aku memanggilnya Mama. Agar dia sadar bahwa dia berhak juga untuk menjadi Mama yang sebenarnya bagi gadis kecil ini.


Sengaja aku membuatnya sibuk. Entah dia terima atau tidak. Agar dia tak larut pada perasaannya yang membuat dadaku sesak dan sakit.


Dia tak menolak. lalu dia segera membantukuku melepaskan sandal itu dari kaki Iza.


Entah kenapa aku ingin menggodanya lagi. siapa tahu bisa mengalihkannya untuk tidak memikirkan si dia. Aku rasa, ini salah satu solusi yang perlu dicoba.


"Mama, bisakah ambilkan baju ganti Iza." Tak ada jawaban, Dia langsung melangkah pergi, menuruti keinginanku.


Kok ... aku sanksi ya, apakah dia sadar atau tidak. Jangan-jangan ada yang tak beres? Aku segera meletakkan Iza dan menyusulnya ke bawah.


Belum juga diriku membuka pintu, dia sudah datang terlebih dahulu. Dengan membawa baju ganti untuk Iza.


"Ini Kak." Dia menyerahkan pakaian itu padaku


"Kamu cuci muka dulu, lah. Dan baju ganti sekalian, temenin Iza tidur. Biar tenang. Jangan mikir macam-macam!"


"hmm ..." itulah jawaban iya kalau sedang malas bicara. Atau sedang tak suka diusik. Apalagi mendengarkan kalimat yang bertumpuk-tumpuk seperti yang aku ucapkan kali ini. Aku memang sengaja ... lebih baik mendengar ocehannya dan manjanya dari pada harus menyaksikan dia yang diam, dan bersedih.


Tak ada penolakan sama sekali darinya. Dia langsung ke kamar mandi dengan membawa baju ganti sekalian. Aku menantikan dengan duduk di samping Iza yang tidur pulas. Kalau begini dia teramat manis. Dan harus aku akui wajahnya teramat manis persis seperti Antony.

__ADS_1


"Kak, aku sudah selesai." Lalu dia duduk di depan meja rias, membersihkan wajahnya. Kegiatan rutin sebelum tidur yang tak pernah absen untuk dia lakukan.


Aku segera berhenti mengusap kepala dan rambut putriku. Dan bangkit menuju kamar mandi dengan terlebih dulu mengambil baju ganti di almari.


Ganti di dalam saja, seperti biasa. Bukannya malu, toh dia istriku. Tapi aku memang tak biasa membuka baju di depannya. Mungkin karena perasaanku yang menganggapnya sebagi adik, yang menghalangiku melakukannya.


Keluar dari kamar mandi, badan sudah segar, untuk istirahat pun akan lebih nyaman. Aku merebahkan tubuhku di samping Iza. Ingin memejamkan mata, tapi aku kepikiran keadaan Aina.


"Mama ...." Rupanya Iza bermimpi.


"Dalam tidur pun dia memanggilmu. Apa kamu tak tahu?"


Sheza tersenyum. Dia tak segera tidur melainkan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang terlebih dulu.


Wajahnya tak sesuram saat kita baru pulang. Dia tak lebih segar dan makin cantik dipandang mata.


Sesaat di memandang takjub pada gadis kecil yang ada di sampingnya. Berlahan dia menyentuh wajahnya. Ada seulas senyum tergambar di bibirnya. Aku merasa gembira dengan kebahagian yang mulai tergambar jelas di wajahnya.


"Mas, apakah dia putriku?"


Pertanyaan macam apa ini .... apakah dia menyangsikan putrinya.


"Tentu saja dia putrimu, Sheza. Apa kau tak ingat, kamu yang melahirkannya."


Tatapannya tak beralih dari Iza.


"Kapan dia lahir?"


"Bulan ini. Aku dan Aina berencana membuatkan pesta ulang tahun untuknya."


Aku mendengar hembusan nafas kasar keluar.


"Aku telah mengabaikannya. Rasanya aku tak pantas menjadi mamanya. Hari ulang tahun putrinya saja tak tahu."


"Jangan begitu, kamu tetap mamanya."


"Aku ingin kita yang mengadakan pesta untuk dia, bukan Aina."


Tak ada yang salah dengan permintaannya, aku pun langsung mengiyakan.

__ADS_1


"


__ADS_2