
Aku jadi teringat saat pertama kali berjumpa dengannya. Di sebuah jalanan sepi yang ada di pinggiran desa ....
🌟
Flass back
Cieeet ... Brakkk. Sebuah mobil tanpa sengaja menyerempet seorang gadis berkerudung pitch yang sedang santai menaiki sepeda phonex-nya, dengan keranjang penuh bungkusan, ditambah kresek besar di belakang, berisikan bungkusan yang sama pula.
Seketika dirinya terjerembap jatuh tepat di pinggir jalan. Bungkusan-bungkusan itu pun berserakan. Sebagian telah menampakkan isinya. Dan ada sebagian yang lainnya, jatuh ke dalam irigasi di pinggir jalan. Padahal itu makan siang untuk pekerja-pekerja yang saat ini sedang bekerja, membangun perumahan di pinggir desanya.
“Innalilahi wa inna ilaihi raji’un,” ucapnya dengan suara agak sedikit berteriak.
“Tak tahu apa kalau aku sedang buru-buru.” Dia terus menggerutu kemalangan yang menimpa dirinya. Ditambah pula dengan sepeda yang roboh menimpanya pula. Semakin membuatnya kesal. Sudah jatuh tertimpa sepeda pula. Bukan sudah jatuh tertimpa tanggal loh ....
“Aduh. Astaghfirullah al adzim ....” Kakinya agak susah digerakkan. Tampak membiru dan ada bercak-bercak darah di bajunya.
“Eeeehhhh ....” Dia mendesis menahan sakit.
“Itu mobil tak berahlak banget sih. Orang sudah minggir, ditabraknya juga.”
Sementara itu di dalam mobil ....
“Man ... Man, berhenti. Kamu ngak lihat apa, kalau nabrak gadis?”
“Oh maaf, Den.” orang yang dipanggilnya itu pun segera menghentikan mobilnya.
“Kalau banyak pikiran bilang. Biar aku yang nyupir. Tuh, akhirnya kamu mencelakai orang.”
“Iya, Den.”
Keduanya segera turun dan menghampiri gadis itu. Najib tertegun saat menatap wajah gadis yang ada di depannya. Sepertinya dia kenal tapi di mana ya ...
“Maaf Dik.” Dia segera menyingkirkan sepeda itu, dan melihat luka yang ada di kakinya. Dia mencoba menggerakkannya.
“Aaaeee ... Sakiiit.” Aina mengerang kesakitan saat Najib mencoba menggerakkan kakinya. Sepertinya ugel-ugel mata kakinya sudah bergeser.
“Maaf.”
“Aku bawa ke dokter ya ....”
__ADS_1
Aina tak menjawab. Sejenak dia terpana menatap lelaki yang menolongnya. Sampai-sampai dia bingung akan berbuat apa. Tapi dia tak menolak, ketika tangan Najib membantunya berdiri.
“Makasih, tidak apa-apa, kok.”
Setelah tegak berdiri, dia mencoba berjalan. Namun baru beberapa langkah sudah goyah. Spontan Najib memberikan lengannya untuk menjadi tumpuan berdiri.
“Nah kan. Apa aku bilang. Kita ke dokter dulu ya?”
“Tidak. Aku harus mengantarkan bungkusan ini ke proyek itu. Kasihan pekerja-pekerja yang sedang menunggu makan siangnya.”
“Nanti aku antar.”
Aina masih berpegang pada lengan kekar Najib sambil menahan nyeri yang kian terasa. Sehingga untuk bertumpu terasa semakin sulit.
Sakiiiiittt ... bruuughk. Kakinya sudah tak bisa lagi menahan tubuhnya, hingga dirinya jatuh terduduk.
“Maaf.” Tanpa sengaja, Aina menarik tangan Najib sehingga menyebabkan dirinya hampir jatuh. Untung saja bisa menahan dengan satu tangannya yang lain.
Tanpa banyak kata, dia gendong tubuh Aina.
“Om ....” Ingin menolak. Tapi tangan kekar itu telah menggendongnya dengan sempurna. Berontak pun akan membuat dirinya jatuh. Dia hanya dapat diam menunduk, agar bisa mengalihkan perasaannya .
Mendapat perlakuan seperti, benar-benar membuat jiwanya agak sedikit terlena, membuat Jantungnya bergetar agak cepat. Astaghfirullah al adzim ... cepat-cepat dia berucap istighfar, agar tidak keterusan.
Mau menolak, Tapi bagaimana? Saat ini dirinya benar-benar sakit, memerlukan pertolongan. Maafkan diriku, Ya Allah.
“Maaf, kamu nggak nyaman?”
“Tidak. Hanya saja Aku merasa sudah ngerepoti Om. Maaf ya, Om.”
“Kamu itu aneh. Seharusnya kamu marah atau gimana. Minta lah ganti rugi kalau bisa. Kok malah minta maaf. Jangan rendahkan dirimu dengan minta maaf, padahal kamu yang dirugikan. Bisa-bisa orang akan semakin nyakitin dirimu”
Aina terdiam. Memang benar, apa yang dikatakan oleh lelaki yang telah menolongnya. Tapi bagaimana caranya? selama ini orang tuanya tidak pernah memperkenalkan cara mempertahankan diri, hanya tahu cara bersabar dan menahan sakit. Tentu dengan upaya doa, agar Allah senantiasa melindungi dirinya dari tangan-tangan yang akan berbuat jahil padanya. Itu saja, tak lebih.
“Apa Om akan berbuat seperti itu?”
“Aku orangnya nggak tegaan, apalagi lihat kamu sakit kayak gini. Tapi kalau kamunya seperti itu, bisa jadi ... Maafkan Om ya.”
Najib segera menutup pintu mobilnya. Dia hendak menuju menuju kursi pengemudi.
__ADS_1
“Om, tapi nasinya bagaimana? Tukang-tukang itu pasti sudah laper.”
Najib benar-benar dibuat gemas dengan sikap Aina yang hanya memikirkan orang lain. Tanpa Memikirkan keadaan dirinya yang butuh pertolongan.
“Sudah deh! Jangan pikirkan tentang yang lain. Bisa-bisa aku dimarahi sama orang tua mu kalau membawa pulang kamu kayak gini. Lagian mereka tanggunganku. Kita ke dokter dulu. Yang lainnya biar diurus sama mandorku. Faham!” Terpaksa dia tegas. Kalau meneruskan perdebatan yang tak perlu itu hanya akan membuat dirinya makin terbebani, jadi kurang bertanggung jawab dengan apa yang sudah terjadi. Apalagi dirinya yang sudah membuat gadis itu celaka.
“Man, bereskan semuanya. Ini karena dirimu juga. Bungkusan yang bisa di bawa, bawa aja. Yang sudah tak layak, tinggalkan saja. Anggap saja shodaqoh untuk burung dan bebek. Aku mau bawa dia ke dokter. Hubungi orang tuanya. Dan katakan yang sebenarnya. Dan jangan sampai mereka merasa khawatir.”
“Baik, Den.”
“Kalau kurang, Bapak bisa ke rumah. Rumah ke lima begitu masuk kampung di depan itu. Sepertinya ibu masih menyisakan sedikit di rumah.” Aina ikut rembuk berniat sedikit memberikan solusi.
“Makasih, Mbak.”
Najib melirik sekilas pada Aina dengan wajah yang sedikit kesal karena gemesnya sudah sampai tingkat ubun-ubun.
“Diiiikkk ....” Siapa sih namanya, aku kok tak tanya namanya sejak tadi.
“Dia sudah bekerja lama denganku. Dia sudah tahu apa yang harus dia kerjakan. Nggak usah kasih tahu. Kalau sampai salah, tinggal pecat.”
“Oh, maaf.” Seketika Aina terdiam. Tak sangka, orang yang dipanggilnya ”Om” itu begitu arogan.
Najib benar-benar sudah tak sabar lagi, melihat kaki Aina yang semakin membengkak. Dia ingin segera membawanya ke dokter, agar mendapat penanganan.
Dia segera menghidupkan mobil, meninggalkan Suparman yang sedang membereskan tempat kejadian perkara (bukan menghilangkan barang bukti lho, macam cerita di negeri entah berantas). Ini murni perintah Den Najib dan adiknya itu. Adik yang baru ditemukan. Hehehe ....
Tak memerlukan waktu yang lama bagi Najib untuk mendapatkan seorang dokter.
Setelah mendapat penanganan, kini Aina sudah bisa berjalan meski harus dengan tongkat. Dengan setia Najib menemaninya berjalan menuju mobilnya yang terparkir di pelataran klinik itu. Beberapa kali, dia melirik Aina, seakan-akan pernah melihatnya, tapi dimana.”
“Namamu siapa?”
“Aina.”
“Aina Aulia Mecca, kah.”
Seketika Aina menghentikan langkahnya. Dia terkejut tak sangka kalau lelaki yang ada di sampingnya sudah mengenal nama lengkapnya.
“Om, tahu namaku dari mana?”
__ADS_1
“Jangan panggil aku Om, Mecca!”