Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Salah Paham Yang Terselesaikan


__ADS_3

"Buuuk."


Nadine bertabrakan dengan seseorang di pagi itu, hingga buku-bukunya berserakan.


"Maaf, ya."


Orang itu ikut membereskan buku-buku Nadine, hingga kemudian tangan mereka bersentuhan. Nadine menatap sesosok makhluk tampan, yang kini berada tepat didepan matanya. Lama keduanya bersitatap dalam diam, sampai kemudian mereka sama-sama berdiri.


"Ini buku kamu?"


Baru saja Nadine hendak meraihnya, tiba-tiba tangan Nino sudah mendahului.


"Thanks." ujar Nino seraya mengambil buku tersebut. Si pemuda tampan akhirnya berlalu, tinggallah kini Nino yang melirik sekilas ke arah Nadine. Sesaat kemudian, ia pun berlalu.


"Pak, bapak cemburu ya pak?" tanya Nadine dengan nada yang bahagia. Ia kini mengikuti langkah Nino.


"Kalau cemburu bilang aja, pak." ujar Nadine lagi. Kali ini Nino menghentikan langkah dan menoleh.


"Sekali lagi kamu bicara, saya nggak mau lagi bicara sama kamu."


Nadine pun membuat gerakan seakan mengunci mulutnya, namun dengan senyuman yang begitu lebar. Nino kembali melangkah, sementara Nadine berjalan disisinya. Dari sebuah sudut, Maureen tak kuasa lagi menahan amarahnya.


"Oh, jadi ini yang bikin dia jarang menghubungi gue belakangan ini. Cewek cupu itu." Maureen memiringkan bibirnya dan menatap dengan sinis.


"Awas aja lo, dasar gatel." ujarnya kemudian.


"Saya harus ngajar." ujar Nino pada Nadine.


"Ok." Nadine tersenyum.


Lalu secara serta merta ia mencium pipi Nino, hingga laki-laki itu pun terkejut. Nadine berlalu meninggalkan Nino begitu saja, sambil terus tersenyum. Sementara yang ditinggalkan kini terpaku dalam diam.


Nadine pergi ke tukang bubur ayam yang ada di depan kampus, kebetulan ia belum sarapan pagi itu. Nino mentransfer sejumlah uang padanya, padahal gadis itu tidak meminta. Ketika ditanya untuk apa, Nino hanya diam. Nadine pun tidak bertanya lagi, ia kini punya banyak uang untuk membeli ini dan itu.


"Pak, satu ya. Pake semuanya." ujar Nadine pada si penjual bubur ayam.


"Iya, neng."


"Tak lama kemudian, pesanannya pun jadi. Nadine mulai memakan bubur tersebut."


"Pak, satu."


Sesosok perempuan dengan rambut badai duduk disisi Nadine. Tak lama kemudian, ia pun sama memakan bubur.


"Sudah lama berhubungan sama Nino?"


Tiba-tiba perempuan itu berkata pada Nadine. Nadine yang semula fokus pada makanannya itupun, kini melihat kearah wanita itu.


"Gue Maureen, mantannya Nino."


Nadine terkejut mendengar pernyataan tersebut. Belum sempat ia berkata, Maureen sudah mendahuluinya.


"Nino belum pernah cerita kan?. Wajarlah sepertinya kalian baru. Boleh tau siapa nama kamu?"


"Saya, Nadine mbak." ujar Nadine kemudian.


"Aku kasih tau ya, Din. Hati-hati sama Nino, dia cuma cari perempuan buat pelampiasan."


"Maksud mbak?" tanya Nadine heran.


"Kamu sudah pernah tidur sama Nino?"


Nadine menggeleng.


"Emangnya mbak, udah?"


"Ya, bahkan saya hamil tapi keguguran."


Petir menyambar, Nadine begitu syok mendengar hal tersebut. Tubuhnya kini gemetaran. Bubur yang tadinya terasa nikmat, kini seolah hambar di lidahnya.


"Mbak keguguran?" tanyanya kemudian.


"Iya, semua gara-gara Nino. Dia masih mengingat cinta pertamanya dan menolak anak kami. Akhirnya saya stress berat dan keguguran."


"Ci, cinta pertama mbak?"

__ADS_1


"Iya, namanya Amanda. Dosen di kampus ini."


Hati Nadine luluh lantak. Maureen membayar buburnya yang bahkan belum habis setengah, lalu pergi meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi ia sempat berbisik pada Nadine.


"Jangan sampai jadi seperti saya."


Air mata Nadine pun menetes, ia mulai mengingat-ingat berapa kejadian. Saat Nino bertemu dengan Amanda, bagaimana cara mereka bersitatap. Bahkan Nino terlihat sangat khawatir ketika Amanda masuk rumah sakit. Nadine sungguh tak menyadari jika ada sinyal kedekatan diantara mereka berdua.


Nadine membayar buburnya, lalu berjalan gontai tak tentu arah. Wajahnya terlihat kuyu, ini kali pertamanya ia jatuh cinta sekaligus patah hati.


"Hai, Nad."


Amanda yang hari itu punya jadwal mengajar pun, menyapa Nadine. Namun Nadine hanya berlalu begitu saja tanpa menggubris, hingga Amanda menjadi bingung.


Siang harinya Nino menunggu Nadine, namun gadis itu tak jua muncul. Ia mencari kesana-kemari, hingga berpapasan dengan Amanda.


"Nin?"


"Man, liat Nadine nggak?"


"Tadi pagi aku liat, siang ini kayaknya nggak. Kenapa nggak telpon aja?"


"Nggak diangkat, Wa juga nggak dibales."


"Lagi sama temennya mungkin."


"Iya." ujar Nino seraya menghela nafas.


"Kamu apa kabar, Man?" tanya Nino kemudian.


Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat Amanda. Bahkan ada beberapa kali wanita itu tidak masuk, dan digantikan oleh dosen pengganti.


"Akhir-akhir ini aku sibuk urusan kantor, dan juga urusan lain, Nin."


"Kamu punya waktu?" tanya Nino kemudian. Amanda melirik arloji.


"Adalah dikit."


"Kita ngopi ya?" ajak Nino.


"Saya bilang juga apa."


Bak hantu gentayangan, Maureen kembali muncul disisi Nadine. Ia pun lalu memfoto hal tersebut dan mengirimnya pada Arka.


Tak lama, Arka pun menjawab.


"Reen, gue percaya sama bini gue dan juga Nino. Lo nggak usah capek-capek dengan adegan sinetron lo itu. Mending lo ikut casting, lebih bermanfaat."


Maureen pun menutup handphonenya dengan kesal, karena Arka tak termakan hasutannya.


Sejak hari itu, Nadine benar-benar menghilang dari pandangan Nino. Bahkan ia tak masuk ke kampus selama tiga hari lamanya. Ia juga tak bisa dihubungi, sedang Nino tak tau gadis itu tinggal dimana.


Dihari keempat, ia masuk ke kelas Amanda. Namun lagi-lagi ia diam ketika Amanda mengajaknya berbicara. Bahkan saat kelas berakhir, ia tidak ikut berinteraksi bersama Amanda. Seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain.


"Si Nadine kenapa dah?" tanya Fahri yang bingung pada sikap Nadine hari itu. Amanda dan yang lainnya hanya memperhatikan, saat gadis itu melengos tanpa menyapa.


Nadine melangkah di sepanjang koridor. Lalu tanpa sengaja ia kembali bertemu dengan mahasiswa tampan, yang tempo hari sempat bertabrakan dengannya.


"Hai." ujar pemuda itu.


"Hai juga." ujar Nadine seraya tersenyum.


"E, Steve."


"Nadine."


"Wanna get a coffe?"


"Hmm, boleh."


Steve mempersilahkan Nadine untuk berjalan duluan. Mereka pergi ke kafe yang kemarin didatangi Nino dan juga Amanda, bahkan duduk di kursi yang sama. Nadine berharap pembalasannya ini dilihat oleh Nino.


Tak lama kemudian, Nino yang baru selesai mengajar dan membutuhkan kopi tersebut. Tampak terlihat menyambangi tempat itu. Ia tak sengaja melihat Nadine dan juga Steve.


Nadine pun melihat kehadiran laki-laki itu dan berusaha untuk cuek. Nino kemudian berlalu, namun mengirimkan sebuah pesan singkat pada Nadine.

__ADS_1


"Saya tunggu sekarang, di mobil."


Nino lalu menuju halaman parkir, ia menunggu di mobil cukup lama. Tadinya Nadine tak mau menemuinya, namun Nino kini menjalankan mobilnya tepat disisi Nadine. Mau tidak mau Nadine pun masuk, karena Nino sejak tadi tak pernah berhenti menghidupkan klakson hingga mengganggu banyak orang.


"Aku mau kita udahan." ujar Nadine.


"Karena kamu..."


Belum sempat Nadine melanjutkan kata-katanya, Nino sudah keburu mencium bibir gadis itu.


Nadine terdiam, ia sangat terkejut menerima perlakuan tersebut. Bahkan ia belum pernah berciuman sama sekali selama hidupnya. Selama ini, tak ada satu laki-laki pun yang tertarik pada gadis itu. Karena ia dianggap cupu dan kutu buku.


"Pak." ujarnya seraya memperhatikan Nino. Ketika Nino akhirnya melepaskan ciumannya.


"Bapak bukannya cinta sama mbak Amanda." Nino yang baru saja hendak menghidupkan kembali mesin mobilnya itupun menoleh.


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di apartemen Nino. Ada Amanda disana, Nadine terkejut dengan kehadiran dosennya itu. Mereka duduk di meja makan dan mulai menjelaskan perihal siapa mereka dan apa yang telah terjadi diantara mereka selama ini.


Nadine tertunduk, bahkan air matanya mengalir deras.


"Jadi kalian masih saling mencintai?"


"Ya." jawab Amanda dan Nino di waktu yang nyaris bersamaan.


"Tapi saya juga mencintai Arka dan sudah mantap memilih Arka." ujar Amanda lagi.


"Dan saya ingin memulainya dengan kamu." timpal Nino.


"Saya tidak bisa mencintai orang yang belum selesai dengan masa lalunya."


"Kami sudah selesai." lagi-lagi Amanda dan Nino berujar di waktu yang bersamaan.


"Kenapa masih saling cinta?" ujar Nadine dengan suaranya yang marah namun terdengar manja.


Amanda dan Nino menahan tawa.


"Kalau saya bilang udah nggak lagi, sama aja saya bohongin kamu."


Nino kini menatap Nadine.


"Nad, di dunia ini nggak ada orang yang benar-benar bisa melupakan masa lalunya. Kalau ada yang bilang begitu, it's totally bulshit. Saya mencoba jujur atas semuanya, biar jelas. Saya tidak pernah berniat menjadikan kamu pelampiasan, saya suka sama kamu Nad."


Nadine menatap Nino, ada kejujuran didalam mata lelaki itu.


"Saya jujur soal masa lalu saya sama Amanda, saya jujur kalau saya masih mencintai dia. Tapi saya mau mencoba bersama kamu."


"Dan mbak sudah memilih Arka, Nad. Kami akan menikah resmi dalam waktu dekat." ujar Amanda.


Nadine terdiam.


"Nad, Nino orang baik. Dia nggak akan nyakitin kamu."


"Tapi kenapa dia nyakitin Maureen, mbak."


"Maureen?" Amanda bertanya pada Nadine, ia benar-benar terkejut mendengar pernyataan itu.


"Saya ketemu cewek, namanya Maureen. Dia bilang, dia hamil karena pak Zio dan keguguran. Karena pak Zio masih mau mendekati mbak Amanda."


"Nin?" Amanda menatap Nino meminta penjelasan.


Nino pun lalu menjelaskan kronologi bagaimana ia bertemu dengan Maureen, dan sampai terjadi hubungan itu. Ia juga mengatakan bahwa itu terjadi lantaran ia stress pada Amanda waktu itu. Amanda pun merasa begitu bersalah pada Nino dan juga Nadine yang kini ada dihadapannya.


"Maureen nggak hamil, kedua temannya memberikan rekaman saat Maureen berbicara dengan mereka di kamar kost."


Nino menunjukkan rekaman suara Maureen yang diberikan oleh Chanti dan juga Widya.


"Nad, sekarang keputusan ada ditangan kamu. Kamu masih mau nggak sama Nino. Dia udah berusaha jujur sama kamu." ujar Amanda lagi.


Nadine menunduk, ia menghapus air mata yang terus mengalir.


"Saya adalah orang yang pertama akan menghakimi Nino, kalau dia berani menyakiti kamu."


Amanda meyakinkan Nadine, gadis itu terus menghapus air matanya. Tak lama Amanda pun pamit pulang, ia memberikan ruang pada Nino dan juga Nadine untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.


Yang jelas segala kejujuran telah mereka ungkapkan, walaupun itu mungkin sangat menyakiti Nadine. Kini Amanda rasanya ingin menjambak Maureen dan menamparnya bolak-balik. Andai dirinya saat ini sedang tidak hamil, pastilah ia sudah menemui dan memberi wanita itu pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2