Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Arka Si Suami Bayaran


__ADS_3

"Braaak."


Amman meletakkan sejumlah uang di meja manajemen peace production. Jeremy memberikan ruang padanya untuk bertemu Arka, karena pria tua itu memintanya.


Sebagai klien yang bekerjasama, tentu saja Jeremy mengizinkan. Jeremy pikir mungkin Amman sedang ingin melakukan pembicaraan penting, terkait produk yang dibintangi oleh Arka.


"Ini uang untuk kamu." ujar Amman pada Arka. Pemuda itu terdiam menatap sang mertua.


"Uang apa ini?" tanya Arka kemudian.


"Untuk membayar kamu."


Amman menatap Arka yang mulai mengatur nafas akibat emosi. Entah mengapa darah Arka mendadak naik mendengar semua itu.


"Kenapa?. Bukankah kamu suami bayaran anak saya?. Pemuda terlilit hutang yang dia selamatkan."


Arka diam, jari tangannya kini terkepal.


"Ambil uang ini dan bawa bayi-bayi itu menjauh dari anak saya. Kalau memang kurang, nanti tinggal telpon Vera, minta tambahi. Yang jelas, jauhi Amanda."


Emosi Arka kian memuncak, namun kemudian ia menghela nafas lalu tersenyum.


"Ambil kembali uang ini, saya masih bisa mencari uang sendiri." ujar Arka kini balas menatap Amman.


"Ow, berani sekali?" ujar Amman.


"Ya, karena saya tidak akan menjual anak dan istri saya."


"Heh, dari awal saja kamu sudah mau dibayar Amanda. Tujuan kamu cuma uang kan?"


"Iya, anda benar." ujar Arka kemudian.


"Until I fall in love with her." lanjutnya lagi.


Kali ini Amman balas tersenyum sinis.


"Anak muda, tau apa kamu soal cinta, hah?"


"Tau, sangat tau. Karena anak anda yang mengajari saya. Orang yang tidak tau arti cinta itu adalah anda, pak Amman.


Arka mendekati Amman dengan kepala tegak dan tatapan yang tajam.


"Di usia anda yang sekarang, apa anda pernah merasakan cinta?"'


Amman diam.


"Apakah Rachel memberi anda cinta?"


Amman makin diam.


"Apakah Vera yang tengah mengandung anak anda itu, mencintai anda?"


Amman benar-benar terhenyak kali ini, ia tidak tahu jika Arka telah mengetahui perihal Vera.


"Saya mendapatkan cinta, pak Amman."


Arka bersandar di meja kerja Amman, lalu menyalakan sebatang rokok. Dihisapnya rokok tersebut, lalu dihembuskannya asap rokok itu. Seraya melirik dan tersenyum pada Amman.


"Amanda itu, wanita paling indah yang pernah saya temui. Dia mengurus saya dengan baik, mengurus anak dengan baik. Dan saya pun menafkahinya dengan baik."

__ADS_1


"Heh, nafkah?"


"Ya, anda pikir sampai hari ini Amanda masih membayar saya?"


Senyum Arka berubah senyap, menjadi tatapan yang penuh kebencian terhadap Amman.


"Walau dia kaya raya, nafkah tetap saya yang tanggung."


Arka mendekat kearah tumpukan uang yang tadi diberikan Amman.


"Anda pikir bisa merendahkan harga diri saya dengan ini?"


Arka menatap mertuanya itu lalu tertawa tanpa suara.


"Saya terbiasa dibayar oleh banyak pihak, manajemen ini pun membayar saya. Setiap project yang saya kerjakan selesai, saya juga dibayar oleh banyak klien yang memakai jasa saya. Anda pikir anda bisa menjatuhkan mental saya?"


Arka kembali menatap Amman, kali ini lebih lekat.


"Tidak semudah itu pak Amman. Kalau anda pikir saya bisa direndahkan dengan uang, anda jauh lebih rendah dari saya. Saya menghamili Amanda, saya nikahi dia terlebih dahulu. Lalu apa kabar hubungan anda dengan Vera, bukankah apa yang anda perbuat itu lebih dari rendahan?. Selama anda berumah tangga dengan mendiang ibu Amanda, anda berselingkuh, memukul, menyiksa istri dengan siksaan fisik maupun verbal. Apa anda pikir itu tidak rendah?. Hal yang bisa menaikkan derajat seseorang itu bukan terletak pada uangnya, tapi moral yang dia miliki."


Arka bergerak ke arah pintu.


"Apakah kamu sudah merasa moral mu sempurna?"


Arka menghentikan langkah.


"Setidaknya moral saya jauh lebih tinggi, ketimbang anda yang mengaku dan merasa tinggi. Hanya karena anda mempunyai uang."


Arka meninggalkan tempat itu, tinggallah Amman sendirian dengan emosi yang memuncak.


Saat Arka kembali ke penthouse, ia menceritakan semua itu pada Amanda. Tentu saja Amanda merasa tak enak hati. Karena biar bagaimanapun juga, Amman adalah ayahnya. Ia malu memiliki ayah seperti Amman, yang suka menghina dan merendahkan orang lain.


"Ngapain kamu minta maaf, kamu nggak salah apa-apa. Kecuali yang buat salah tuh Azka sama Afka, yang masih kecil. Nggak apa-apa kamu minta maaf atas kelakuan mereka. Ini papa kamu udah tua, harusnya dia tau mana yang salah, mana yang benar. Mana yang seharusnya bisa dijadikan sikap, mana yang nggak. Ngapain kamu minta maaf buat dia."


"Ya aku nggak enak aja denger kata-katanya dia, kayak yang kamu bilang tadi. Dia keterlaluan banget."


"Kamu takut aku tersinggung?" tanya Arka seraya tersenyum.


Amanda mengangguk.


"Man, aku nggak tersinggung sama sekali. Papa kamu mau mencoba merendahkan dengan cara membayar aku, emang tiap kerja aku dibayar kan?"


Amanda menatap Arka, detik berikutnya wanita itu pun tersenyum.


"Lah iya dong. Kalau aku syuting, dibayar kan?"


"Iya sih."


"Abis kerja di kantor tiap akhir bulan, dibayar juga kan?"


"Iya."


"Nah ngapain aku harus marah dan tersinggung sama papa kamu. Papa kamu aja kepedean, dia pikir bisa menjatuhkan mental seseorang dengan mudah. Aku sih bodo amat sekarang. Mikirin kerjaan sama tugas kampus aja udah pusing, dia lagi mau nambahin."


"Jadi beneran kamu nggak apa-apa?"


"Sini...!" Arka meraih istrinya dan membawa wanita itu ke dalam rangkulan tangannya.


"Mulai sekarang, kita nggak boleh gampang sedih. Bodo amat orang mau menekan kita kayak apa. Selama reaksi kita baik-baik aja, biasa-biasa aja, berarti kita yang menang. Nah mereka ngabisin energinya buat jahatin kita. Mau bagaimanapun usaha mereka, selama kita tidak memberi reaksi negatif, selama kita cuekin, energi negatif itu bakalan balik ke mereka sendiri. Nggak ada istilahnya orang jahat itu nggak kena batunya. Seberapa besar kejahatan dan kebaikan yang kita lontarkan, baliknya ke diri sendiri berkali-kali lipat. Jadi mulai sekarang, kita bahagia aja setiap hari. Mau dihina kek, apa kek, bodo amat."

__ADS_1


Amanda menghela nafas lega, ia selalu setuju dengan pandangan Arka. Mulai hari ini ia harus sudah berhenti memikirkan orang-orang yang menekannya. Lebih baik memikirkan diri sendiri, kebahagiaan sendiri. Persetan dengan orang-orang itu.


***


Disebuah tempat.


"Mikirin siapa sih?."


Acha teman Cintara menyindir gadis itu. Pasalnya sedari tadi, saat teman-temannya tengah asyik barbeque di halaman belakang rumah. Cintara lebih banyak berdiam diri di dekat kolam renang.


"Mikirin Iqbal lu ya." tanya Acha lagi.


"Dih nggak, ngapain mikirin dia."


"Terus mikirin siapa dong."


"Arka." jawab Cintara polos.


"Arka?. Siapa tuh?" tanya Acha heran.


"Itu loh yang artis itu."


"Artis mana?"


Cintara menunjukkan foto Arka yang ia dapat dari laman pencarian google.


"Oh Keenan Arka, emang lo kenal sama dia?"


"Dia kerja di kantor bokap gue."


"Kerja di kantor bokap lo?. Seriusan?. Halu kali lo."


"Nggak, emang dia itu kerja sekarang."


"Bukan cuma sekedar mirip doang?"


"Mirip doang gimana, orang mukanya sama persis. Namanya juga sama."


"Tapi gue liat dia masih eksis di TV."


"Iya, tapi dia kerja juga."


"Waduh, beruntung banget lo ketemu dia."


"Makanya.


"Jadi lo lagi deket sama dia nih?"


"Hmm, iya." ujar Cintara tersipu malu.


"Makanya gue lagi mikirin dia. Katanya ketika kita mikirin seseorang, orang itu akan balik mikirin kita."


"Kapan-kapan ajak gue dong ketemu dia?"


"Boleh."


"Asik."


Acha tersenyum, sementara Cintara terus tenggelam dalam perasaan halu. Apakah benar Arka memikirkannya?. Jawabannya tentu saja, tidak. Arka saat ini tengah berada dikamar, melucuti helai demi helai benang yang melekat ditubuh istrinya hingga tak tersisa apa-apa lagi.

__ADS_1


Mereka tengah berada dalam ciuman panas dengan tangan saling meraba. Untuk pertama kalinya setelah melahirkan, mereka akan melakukan hal itu lagi. Arka ingin kembali membuat istrinya berteriak, dan menyebut namanya dalam permainan.


__ADS_2