
"Emang kamu beneran bisa bikin seblak?"
Arka bertanya pada Amanda dengan nada ragu. Saat ini ia, Rio, Nino, dan juga Ansel sedang berkumpul di rumah. Mereka Mabar game online dan menghindari segala jenis pekerjaan. Ini hari minggu dan waktunya bagi mereka untuk bersantai.
"Bisa koq, Ka. Kamu tenang aja." ujar Amanda meyakinkan.
Arka agak khawatir melihat banyaknya cabai rawit merah yang ada di atas kitchen set.
"Jangan pedes-pedes ya!" ujar Arka lagi.
"Nggak, Ka. Kamu tenang aja, percaya sama aku."
"Oke, Firman. Aku tunggu." ujar Arka.
"Sip." jawab Amanda.
Arka kemudian kembali kepada Nino dan yang lainnya di ruang tengah. Sementara Amanda lanjut memasak. Si kembar sendiri tengah mengamati buah rambutan yang tadi dibawa oleh Ansel. Mereka merasa aneh terhadap buah itu.
"Ini rambutan." ujar Ansel pada mereka.
"Eheee."
Mereka tertawa-tawa. Sebelum itu Amanda mencuci dan mengeringkan rambutan tersebut, berikut kulit-kulitnya. Hingga kini bila si kembar memasukkannya kedalam mulut, hal tersebut relatif aman.
"Uhuk-uhuk."
Rio mulai batuk mencium bau seblak yang dimasak oleh Amanda. Seketika Arka menghindarkan anak-anak ke tempat yang jauh, lalu menghidupkan air conditioner.
Amanda lupa menghidupkan penghisap asap. Maka ia lalu menghidupkan alat tersebut dan lanjut memasak. Selang beberapa saat kemudian seblak tersebut jadi.
"Gaes, ayo makan." ujar Amanda.
"Udah mateng ya, Firman?" tanya Rio.
"Iya, udah nih. Ayo!"
"Ntar, dikit lagi." ujar Arka.
"Oke."
Amanda mencuci tangan lalu mengawasi si kembar. Sementara Arka dan yang lainnya menyelesaikan permainan.
"Buruan, bunuh lord!" ujar Nino memerintahkan.
Mereka pun pergi ke hutan dan menghabisi lord dalam permainan mobile legends.
"Your team has slain Lord."
Terdengar notifikasi jika team mereka berhasil menumbangkan lord tersebut. Kemudian mereka menyerang turets lawan dari arah tengah. Tak lama mereka pun memenangkan permainan tersebut.
Arka lalu mengajak Nino, Rio, serta Ansel untuk ke meja makan. Sesampainya disana mereka disuguhkan pada seblak yang baunya semerbak. Sebenarnya enak dan beraroma, namun sepertinya juga pedas.
Mereka menarik kursi dan duduk di disana. Kebetulan seblak-seblak tersebut sudah berada dalam mangkuk-mangkuk yang tersedia. Jadi mereka tinggal menikmati saja.
"Selamat makan." ujar Rio ketika mereka semua telah selesai berdoa.
"Sluuurp."
Mereka menerima suapan pertama.
__ADS_1
"Uhuk."
"Uhuk."
"Uhuk."
Kemudian mereka terbatuk-batuk. Sebab rasa seblak itu begitu menyengat pedasnya dan langsung menyeruak hingga ke rongga telinga.
"Firman." Arka memanggil sang istri.
Amanda nongol dari kamar si kembar. Tampak Arka, Nino dan yang lainnya tengah minum dari masing-masing gelas yang juga telah disediakan.
"Kenapa?" tanya Amanda dengan wajah yang polos.
"Ini pedes banget, Man. Sumpah." ujar Arka.
"Ah masa sih?. Perasaan tadi aku cicip biasa aja." jawab Amanda.
"Biasa gimana?" Nino menimpali seraya tertawa.
Amanda pun mendekat, lalu mencoba seblak tersebut dari mangkuk sang suami.
"Uhuk."
"Uhuk."
Ia pun sama terbatuk-batuk.
"Eh iya, ya. Koq pedes gini sih?. Tadi perasaan nggak." ujarnya lagi.
"Tadi lo masak sambil melamun kali, makanya nggak berasa." ujar Ansel.
"Ya udah deh kalau nggak sanggup, jangan dimakan lagi. Kita persen pizza aja gimana?" Ia memberi solusi.
"Jangan sih, kalau kata gue sayang." ujar Rio.
"Walaupun pedes, tapi enak soalnya." lanjut pemuda itu kemudian.
"Iya sih."
Arka dan Nino berkata di waktu yang nyaris bersamaan. Mereka menyetujui apa yang dikatakan Rio barusan. Sementara Ansel lanjut memakan ceker.
"Kalau nggak pake kuahnya, better koq." ucap Ansel.
Amanda kembali nyengir.
"Ya udah deh terserah kalian, tapi kalau nggak sanggup tinggalin aja. Aku nggak marah koq." ujarnya.
"Hoayaaa."
Azka memanggil dari dalam kamar. Amanda lalu menghampiri anaknya itu. Sementara sang suami dan yang lain lanjut makan.
"Braaak."
Rio mengeluarkan uang enam ratus ribu dari dalam dompetnya, lalu meletakkan uang tersebut ke atas meja makan. Arka, Nino, dan Ansel tak mengerti. Mereka kini kompak menatap Rio.
"Siapa yang bisa ngabisin seblak ini paling cepat, dia dapat uang. Gimana?" tanya pemuda itu kemudian.
Arka, Nino, dan Ansel saling bersitatap satu sama lain.
__ADS_1
"Oke." jawab mereka serentak.
Arka lalu mengeluarkan juga dari dalam dompetnya, dengan jumlah yang sama. Begitupula dengan Nino dan juga Ansel. Total uang tersebut menjadi dua juta empat ratus ribu rupiah.
"Oke, deal?" tanya Rio.
"Deal."
Mereka semua sepakat dan memulai lomba makan tersebut. Arka dengan segala keberaniannya, Rio dengan pengalamannya makan makanan pedas sejak dulu. Sedang Nino berada di level tekadnya yang tinggi, meski ia jarang makan pedas selama di luar negri.
Sementara Ansel, ia tidak punya pengalaman, maupun tekad yang kuat. Ia juga tak pernah makan makanan yang begitu pedas seumur hidup. Pedas yang ia sukai adalah pedas sambal Padang yang terbuat dari cabai merah besar.
Tetapi kali ini yang membakar semangatnya adalah jumlah uang yang ada di atas meja. Ansel pikir yang itu lumayan untuk mentraktir Intan jajan.
"Huh, hah."
"Huh, hah."
Mereka semua kepedasan. Arka mengambil air minum dan menenggaknya sampai habis. Begitupula dengan Rio, Nino, dan juga Ansel.
"Anjir kembung gue, minum mulu." ujar Rio.
"Sama, gue juga." timpal Nino.
"Lo bukannya punya penyakit lambung, Nin?" tanya Arka khawatir.
"Lu juga, ege. Nggak usah melemahkan gue." seloroh Nino.
Arka pun tertawa. Tak lama Amanda keluar dan menyaksikan semua itu. Ia mendekat dan memperhatikan uang yang ada di meja.
"Kalian ngapain?" tanya Amanda heran.
"Lomba, Firman." jawab Rio seraya terus makan dengan cepat namun tetap menahan pedas.
"Huh, hah."
"Huh, hah."
"Ini mah judi, bukan lomba." seloroh Amanda kemudian.
"Kamu pikir, orang lomba itu hadiahnya dari mana?" tanya Arka pada sang istri. Ia juga saat ini masih makan dan masih kepedasan.
"Ya dari panitia." jawab Amanda.
"Panitia dapatnya dari mana?. Dadi para sponsor kan?. Atau dari biaya pendaftaran para peserta, untuk yang lombanya berbayar."
Arka memakan lagi seblaknya.
"Berarti secara nggak langsung, mereka juga sama aja berjudi." imbuh pemuda itu.
Amanda kali ini menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
"Iya juga sih." ujarnya membenarkan.
"Yeay, menang judi."
Ansel berteriak. Arka, Rio, Amanda, dan Nino terkejut dan sontak menatap ke arah Ansel. Benar saja, seblak di mangkuk bule karbitan itu telah habis.
Rio beranjak dan memeriksa, takut kalau-kalau Ansel membuang seblaknya ke bagian bawah. Ternyata dari lantai sampai ke kolong meja pun tetap bersih seperti semula. Mereka melihat hanya sisa bekas tulang ceker di mangkuk pria itu.
__ADS_1
Arka, Nino, Rio, dan Amanda pun melongo. Pasalnya Ansel sendiri tak terbiasa makan makanan sepedas itu sebelumnya. Kalaupun makan seblak, ia pasti memilih yang level satu. Namun Ansel akhirnya menang, dan ia kini mengantongi uang hadiah dengan jumawa.