Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Sebuah Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Suster Zefanya, dia anak saya kan?"


Amman berkata dengan nada penuh emosional. Suster Zefanya bersikukuh untuk bungkam.


Bahkan sejak Amman berhasil mendapatkan informasi tentang dirinya saat itu, suster Zefanya tidak pernah mengatakan jika ia terlibat dalam proses kelahiran Nino.


Ia bahkan tidak pernah bersuara mengenai apa dan bagaimana wujud Nino. Namun hari ini ia dan Citra malah terjebak dengan sendirinya.


Saat mengetahui anaknya dirawat, Citra menyambangi rumah sakit ini. Ia mencoba mencari tau keadaan Nino, dengan bertanya pada dokter yang menangani anaknya tersebut.


Awalnya dokter bingung, karena dokter hanya mengetahui jika Ryan adalah ayah dari Nino. Namun Citra lalu datang dan mengaku sebagai ibu dari pria tersebut.


Dokter hanya mengira jika Ryan dan Citra adalah suami istri yang bercerai. Lagipula ia didampingi oleh suster Zefanya. Maka tak ada masalah untuk membiarkan wanita itu menjenguk Nino.


Citra diberitahu jika ada pendonor darah, yang bersedia memberikan darahnya untuk Nino hari ini. Sebagai ibu yang bahkan tak pernah merawat anaknya itu sekali pun, Citra merasa wajib berterima kasih.


Ia dan suster Zefanya bahkan tidak mengetahui jika pendonor itu adalah Amman. Manusia paling menjijikkan yang pernah ia temui. Kini mereka semua terjebak dalam lingkaran takdir yang begitu mengejutkan.


"Dia anak saya kan?" tanya Amman sekali lagi.


"Kenapa kalian tidak menjawab?"


Pria itu mulai berteriak karena emosi. Sementara Citra dan suster Zefanya tetap bersikukuh.


"Jawab saya!. Nino itu anak saya kan?"


"Hah?"


Dari suatu sudut, Amanda menyaksikan dan mendengar semua itu. Ia syok dan bahkan nyaris terjatuh akibat tubuhnya yang kini limbung.


"Ada apa ini?."


Ansel dan Intan muncul dari arah yang lain. Amanda menyelinap dibalik tembok dan coba mendengarkan sekali lagi, jantung wanita itu kini seakan hendak berhenti.


"Kenapa kalian ribut didepan kamar saudara saya?" tanya Ansel.


Amman menatap pria muda itu dengan ritme jantung yang naik turun secara ekstrim.


"Saudara?" ujarnya dengan suara nyaris tak terdengar.


"Iya, Nino itu saudara saya. Dia adik saya, anak ayah saya. Kalian siapa?. Kenapa kalian ribut disini?"


Mata Ansel menatap tajam kenapa Amman dan juga Citra. Namun ia tak mengikutsertakan suster Zefanya kedalam amukannya. Karena ia mengira suster Zefanya tengah berusaha memisahkan kedua orang yang bertengkar tersebut.


Sementara Amman seolah dihantam batu besar. Ia mengetahui jika Ansel adalah anak dari Ryan. Jika Ansel mengatakan Nino adalah saudaranya, itu artinya Nino....


"Hhhh."


Tubuh Amman oleng dan nyaris terjatuh. Betapa selama ini ternyata anaknya telah diambil oleh Ryan.


"Pergi dari sini!" teriak Ansel pada mereka.


Suster Zefanya menarik Citra yang pelupuk matanya sudah digenangi air, yang siap meluncur. Sementara kini Amman berjalan gontai ke arah lobi depan.


Untuk kali ketiganya dalam hidup, Amman merasakan kesedihan mendalam. Pertama saat Citra berpacaran dengan Aston. Lalu saat wanita itu pergi dan menghilangkan bayi mereka, kemudian menikah dengan Aston. Kini ia mengetahui jika anaknya telah di asuh Ryan. Sedang hubungannya dengan Ryan telah terlanjur memburuk.


Amman boleh jadi sangat kejam selama ini, dan terkesan selalu memaksakan kehendak terhadap apapun itu. Namun ia juga menyayangi anak-anaknya. Untuk Rani, ia selalu memberi perhatian pada anak itu. Saat dulu Rani masih berteman dengan Amanda dan sering menginap dirumahnya.


Ia senang saat Amanda dan Rani tidur bersama didalam satu kamar. Ia tau Amanda membencinya, namun sebagai ayah kadang ia masih saja memberikan sesuatu yang bahkan Amanda sendiri tidak menyadari.


Seperti bantuan atau hal yang sengaja ia letakkan di jalan, ketika Amanda hendak melalui jalan tersebut. Hingga kadang Amanda merasa dirinya menemukan sesuatu, padahal Amman lah yang meletakkannya.


Ia juga memberikan Rani segala keperluan melalui orang yang ia sewa. Orang tersebut akan berpura-pura sebagai orang asing baik hati, yang memberi anaknya itu hadiah.


Amman mungkin bukan laki-laki yang baik, tapi ia tidak pernah lupa secara total tugasnya sebagai seorang ayah. Bahkan kepada Nino sendiri, ia selalu bermimpi menggendong anak itu.


Bertahun-tahun ia berusaha mencari dimana anaknya tersebut berada. Ia mencintai anak itu, sama seperti ia mencintai Citra. Sekalipun Citra selalu menolaknya mentah-mentah, ia tetap mencintai wanita itu dengan sepenuh hati.

__ADS_1


Ia telah menyimpan cinta itu selama bertahun-tahun. Bahkan telah usang dimakan rayap kemarahan, yang berkeliaran didalam hatinya. Amman berusaha mengatakan pada dunia, jika ia tidak pernah merasakan cinta.


Ia selalu membohongi perasaannya sendiri dan itu selalu berhasil ia lakukan. Hingga semakin tahun, ia semakin menjadi kejam dan seolah tak ingat dosa.


Kini langkah kakinya begitu lemah menuju parkiran, dari jauh ia telah memencet lock mobilnya. Namun kemudian,


"Bajingan kamu Amman."


"Buuuk."


Ryan muncul secara serta-merta, lalu meninju wajah Amman dengan sekuat tenaga. Amman yang terkejut itu pun mundur beberapa langkah.


"Brengsek." teriak Ryan lagi.


"Buuuk."


"Buuuk."


"Buuuk."


Ryan memukul Amman berkali-kali tanpa ampun, Amman pun memberontak dan melawan. Ia juga balas memukul Ryan dan perkelahian sengit pun terjadi.


"Bunuh saya, Amman!. Saya didepan muka kamu sekarang."


"Buuuk."


"Buuuk."


"Saya tidak terima kamu mencelakakan anak saya Nino."


"Buuuk."


Amman seketika terdiam, ketika pukulan itu kembali mendarat di tubuhnya.


"Nino?" gumamnya dengan tatapan mata yang mendadak kosong.


Amman menerima pukulan demi pukulan tanpa melawan lagi, ia kini sadar jika keadaan Nino adalah hasil dari perbuatannya. Ia telah mencoba membunuh anaknya sendiri.


"Nino, Nino anak saya." Amman seperti ngelantur dimata Ryan.


"Nino, anak saya." lanjutnya lagi.


"Dia anak saya, bangsat. Dan kamu mencelakainya." teriak Ryan.


"Buuuk."


"Buuuk."


Amman terjatuh, Ryan lalu meringis sambil memegangi dadanya. Tiba-tiba saja area tersebut terserang sakit yang teramat sangat. Amman lalu mencoba mengangkat tubuh dan bergerak kembali ke arah mobil, sementara Ryan kini ambruk.


"Daaad."


Seseorang menghampiri Ryan, Amman yang sudah berada didekat mobilnya mengenali siapa pemilik suara itu. Dengan nafas yang nyaris berhenti, Amman pun menoleh. Tampak Arka ada disana, menghambur kepada Ryan dengan wajah panik.


"Dad, daddy. Daddy kenapa, dad?"


"Daddy?" gumam Amman dengan rasa syok yang kian tajam menghujam.


"Daddy?" gumamnya lagi.


Belum lagi keterkejutan itu selesai, Amanda muncul dan menghambur pula ke arah Ryan. Ia dan Arka tak melihat keberadaan Amman, karena sudah fokus pada Ryan.


"Dad, daddy kenapa?" tanya Amanda tak kalah panik.


Amanda dan Arka mencoba mengangkat dan memapah pria itu, mereka kini membawa Ryan kedalam.


"Dad."

__ADS_1


Ansel turut menghambur pada Ryan, ketika melihat keadaan ayahnya itu.


"I am ok." ujar Ryan seraya mengatur nafasnya.


"Daddy harus dapat perawatan, dad." ujar Arka yang bahkan sampai detik ini, belum tahu mengapa ayahnya tampak berantakan dan kesakitan.


"Tidak perlu, daddy mau ketemu Nino."


Ryan mencoba berdiri dengan dibantu anaknya. Namun ia kemudian berpapasan dengan sebuah wajah yang dulu sempat ia kenal.


"Citra?"


Ryan tak percaya pada apa yang ia lihat. Ia mengetahui jika Citra kini menjadi pengusaha terkenal. Namun ia tak mengetahui perihal apa, wanita itu kini bisa berdiri dihadapannya. Apalagi dengan tubuh terpaku dan berurai air mata.


"Ada apa?" tanya Ryan penasaran.


"Dad, perempuan ini tadi yang ribut di depan kamar Nino."


Ansel berujar pada Ryan, sementara Arka menatap istrinya karena tak mengerti. Ia berharap Amanda akan memberinya penjelasan, seandainya ia turut melihat kejadian itu.


"Saya ibunya Nino." ujar Citra pada Ryan.


Ansel dan Arka tercengang.


"Ni, Nino itu anakmu?" tanya Ryan tak percaya.


Citra mengangguk sambil menyeka air matanya yang terlanjur tumpah.


"Dengan Aston?" tanya Ryan dengan nada yang mulai gemetar.


Citra menggeleng, dengan penuh dendam ia pun kembali berkata.


"Dengan Amman." ujarnya.


Ryan seakan tersengat listrik jutaan volt. Sedangkan Arka terlolong bengong, seraya menatap istrinya. Amanda mengangguk pada Arka dengan wajah yang nyaris menangis.


"Amman itu laki-laki yang itu tadi?" tanya Ansel.


Citra mengangguk.


Ryan mencari tempat untuk bersandar, dadanya begitu sesak bahkan kian bertambah sakit. Sementara di jalan Amman masih teringat pada semua kejadian tadi. Pada Citra, Nino, Ryan, Arka.


"Dia anakku dengan Aston."


"Kenapa ribut di depan kamar saudara saya?"


"Dia yang jadi korban penusukan orang yang kamu suruh, bajingan.


"Dad, daddy kenapa?"


Suara-suara tersebut terdengar di telinga Amman, bahkan berulang-ulang.


"Dia anakku dengan Aston."


"Kenapa ribut di depan kamar saudara saya?"


"Dad, daddy."


"Tiiiiiin."


Sebuah klakson panjang dan besar pun terdengar begitu mengagetkan. Seketika Amman tersadar dari lamunannya, dan melihat betapa posisi mobilnya telah mengambil jalur arus balik. Dihadapannya ada sebuah truck besar yang tengah melaju kencang.


Segera Amman membanting stir ke kiri. Namun usahanya menghindari mobil tersebut, malah berakhir dengan menyenggol beberapa pengendara motor.


Kepanikan kembali terjadi, ia membanting lagi stir ke sisi kanan. Namun akhirnya ia menyenggol sebuah mobil.


"Braaak."

__ADS_1


Mobil yang dia senggol mengenai mobil yang lainnya, lalu mengenai mobil yang lainnya lagi. Suasana jalanan kini ricuh akibat ulah pria itu.


__ADS_2