Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Malam Minggu


__ADS_3

Usai makan gado-gado, Arka dan Amanda melanjutkan perjalanan tak jelas mereka yang tanpa tujuan. Pokoknya hari ini, intinya adalah jalan-jalan. Tak peduli kemana langkah akan membawa, yang jelas mereka ingin menghabiskan waktu berdua saja.


"Man, kita foto-foto yuk. Aku bawa kamera." Arka berujar ketika mereka melintas di sebuah kawasan.


"Oh ya, kamera siapa?" tanya Amanda heran. Selama ini ia bahkan tak pernah melihat Arka memegang kamera.


"Kamera aku lah. Tadi aku kerumah dulu, ngambil kameranya."


"Kerumah ibu?"


"Bukan, kerumah aku."


Amanda akhirnya paham.


"Mm, ya udah ayok. Berarti kita cari lokasi nih?"


"Iya, yok...!"


"Ok, let's go."


Arka mempercepat laju kendaraannya. Mereka berhenti pada spot-spot yang dirasa bagus untuk diabadikan dalam sebuah foto. Arka mengambil kamera dan menyuruh modelnya untuk berpose pada tempat yang telah ia tentukan. Siapa modelnya?. Siapa lagi kalau bukan istrinya sendiri.


Arka memperhatikan Amanda di kamera, ketika beberapa gambar telah berhasil ia tangkap. Pemuda itu menyadari sesuatu, bahwasanya Amanda memanglah begitu cantik. Di shoot dari angle manapun, tak ada hasil yang tak menarik perhatian. Arka pun tersenyum memperhatikan kameranya, ia kini sadar jika dirinya benar-benar jatuh cinta pada wanita itu.


"Ka, udah?" tanya Amanda kemudian. Arka mengangguk.


"Koq kita nggak ada yang berdua?" tanya Amanda lagi.


"Ntar, aku mau ngambil gambar kamu dulu." ujar Arka.


Mereka pun melanjutkan perjalanan, ketika menemukan tempat lain yang dirasa bagus. Mereka berhenti, untuk kemudian mengambil beberapa foto disana.


"Kita minum dulu, yuk." ajak Arka pada istrinya, ketika hasil foto dirasa cukup.


"Minum dimana?" tanya Amanda kemudian.


"Tuh ada yang jual es kelapa."


Amanda menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh suaminya.


"Ayok." ujarnya antusias. Mereka pun mendekat kesana lalu memesan es kelapa.


Hari itu mereka benar-benar tak membicarakan soal pekerjaan, kampus, maupun si Kembar. Karena Amanda sudah berpesan kepada para maid, kabari saja jika keadaan benar-benar genting. Sampai siang ini belum ada kabar apapun mengenai mereka, itu artinya para bayi dalam keadaan baik-baik saja.


Dan itu bukan isapan jempol semata, si kembar saat ini memang tengah kekenyangan dan tidur dengan pulas. Usai tadi mereka bermain bersama Rasya dan juga Rania, lalu di beri ASI oleh para maid.


"Ternyata kita sama, ya. Sama-sama nggak suka es kelapanya di campur pemanis atau apapun." ujar Amanda, ketika mereka telah meminum es kelapa tersebut hampir setengah.


Arka mengangguk.


"Aku lebih suka rasa original." ujarnya Kemudian.


"Kalau dicampur pemanis, jadi manisnya yang dominan. Bau air kelapanya hilang." lanjutnya lagi.


"Sama, di lidah aku juga gitu. Aku paling nggak suka makanan atau minuman yang terlalu banyak kombinasi." ujar Amanda.


"Karena itu menghilangkan rasa aslinya." lanjutnya lagi.


"Bener, aku setuju. By the way, kamu capek nggak?" tanya Arka kemudian. Ia khawatir istrinya itu tak terbiasa diajak jalan, tanpa menggunakan mobil seperti ini.


"Mmm, biasa aja sih." ujar Amanda sambil tersenyum.


"Aku mau jalan kemanapun, yang penting ada makanan dan minuman." lanjutnya lagi.


Arka tertawa, ia lalu mengambil tissue dan mengelap sudut bibir istrinya yang basah. Mendapat perlakuan ringan seperti itu, Amanda pun terdiam. Ia menatap Arka cukup lama dengan jantung yang berdegup kencang.


"Abis ini aku mau ngajak kamu ke suatu tempat." ujar Arka.


"Kemana?" tanya Amanda.


"Ada deh." ujar Arka lagi.


"Main rahasia-rahasiaan nih."


"Kan biar seru, kayak bocil yang lagi pacaran. Banyak surprise nya."


Kali ini Amanda tertawa, ia lalu menghabiskan air kelapa yang ada di hadapannya. Beberapa saat berlalu, Arka dan Amanda kembali berjalan, kali ini tujuan ditentukan oleh Arka. Amanda sendiri tak tahu kemana suaminya itu akan membawanya, ia hanya menurut saja. Ia percaya bahwa Arka akan membuatnya senang.


Arka mengajak istrinya itu ke sebuah pasar, yang keseluruhannya menjual berbagai jenis barang antik. Termasuk pakaian-pakaian yang modelnya jadul-jadul.


"Ka, ini lucu nggak?" Amanda bertanya seraya tersenyum, ketika ia mencoba setelan baju bernuansa 1940 an pada sebuah outlet.


"Nah yang ini bagus." ujar Arka seraya memperhatikan istrinya dari atas ke bawah.

__ADS_1


"Kamu udah selesai milihnya?" tanya Amanda lagi.


"Udah, aku udah dapet." jawab Arka seraya menunjukkan pakaian yang ia kenakan.


Pilihannya jatuh pada sebuah setelah jas dengan vest didalamnya. Jika dilihat-lihat, itu seperti yang dikenakan pria-pria jaman dulu. Ya, walaupun mungkin fashion pria tak banyak berubah. Tapi tetap saja vibes nya terasa seperti kembali ke tahun-tahun dimana perang dunia masih berlangsung.


"Ya udah deh, kalau gitu. Aku yang ini." Amanda menjatuhkan pilihan pada setelan baju yang ia kenakan. Amanda ingin kembali keruang ganti.


"Man, nggak usah diganti, pake aja. Aku mau ambil foto kamu sama aku, pake baju ini.


"Biar ala-ala tahun 40 atau 50an gitu ya, Ka?" tanya Amanda antusias.


"Iya, disini hampir semua spot fotonya bagus. Keliatan kayak jaman dulu." jawab Arka.


Mereka pun membayar apa yang mereka beli. Arka lalu membawa Amanda keluar dan mengambil foto istrinya itu, di beberapa spot.


"Cekrek."


"Cekrek."


"Tuh kan bagus." ujar Arka seraya memperlihatkan hasil jepretannya kepada sang istri.


"Ih iya, bagus." ujar Amanda tak kalah antusias.


"Ya udah kesana, yuk." ajak Arka kemudian. Mereka pun lalu bergeser ke spot yang lain.


"Hai, Ka."


Tiba-tiba muncul seseorang, Amanda sempat terdiam karena merasa tak mengenal pria itu.


"Man, ini Glenn. Temen aku yang punya kafe, showroom dan studio foto di ujung jalan sana."


"Glenn, bini gue." Arka memperkenalkan Amanda.


Glenn tersenyum, begitu pula dengan Amanda.


"Gue pikir cuma rumor doang, lo nikah."


"Udah punya anak, gue." ujar Arka kemudian.


Glenn tertawa.


"Namanya siapa?" tanya Glenn pada Amanda.


"Amanda." jawab Amanda seraya tersenyum.


Amanda melirik pada suaminya, Glenn memperhatikan Amanda.


"Istri lo perempuan baik." ujar Glenn sambil tersenyum, ia lalu melangkah. Arka yang juga tersenyum itu pun mengikuti langkah Glenn, begitupula dengan Amanda.


"Ka, itu si Glenn. Emangnya dia peramal?" tanya Amanda. Tanpa diduga Arka pun tertawa.


"Nggak, kenapa kamu menyimpulkan kayak gitu?"


"Dia koq bisa tau aku orang baik?"


"Karena tadi saat gue ajak, lo ngeliat dulu ke arah suami lo."


Glenn melangkah seraya menoleh dan menatap Amanda. Sebab tadi ia mendengar saat Amanda berbisik membicarakan dirinya pada Arka.


"Hal sekecil itu aja, lo harus minta persetujuan suami lo dulu. Itu artinya untuk hal besar, lo juga nggak main asal ambil keputusan sendiri."


"Jadi dari situ lo bisa menilai kalau gue baik?"


Glenn mengangguk lalu tersenyum. Mereka kemudian melanjutkan langkah, hingga sampai ke sebuah kafe yang bernuansa jaman dulu. Disebelah kafe tersebut terdapat semacam showroom yang isinya adalah mobil-mobil antik.


"Ka, koq aku nggak tau ada tempat kayak gini?" Amanda bertanya seraya memperhatikan sekitar.


"Makanya aku ajak kamu kesini." Arka menggeser kursi dan mengajak Amanda untuk duduk. Tak lama kemudian, seseorang memanggil Glenn.


"Glenn."


"Hei, tunggu." ujar nya kemudian.


"Ka, Amanda. Kalian gue tinggal dulu, ya. Makan atau minum aja dulu, ntar gue balik lagi kesini."


"Ok."


Amanda dan Arka berujar diwaktu yang nyaris bersamaan. Glenn pun meninggalkan tempat itu.


"Ka, Glenn itu umur berapa sih?" tanya Amanda kepo.


"Mmm, 45 an deh kayaknya."

__ADS_1


"Kamu udah lama suka kesini?" lagi-lagi Amanda bertanya.


"Udah lama, dari jaman-jaman SMA. Kita tuh banyak temen tongkrongan disini. Ada dari sekolah lain juga, ada yang mahasiswa waktu itu. Jadi ini tuh kayak tempat buat kita-kita yang hobi barang antik sama old fashion, old fashion gitu."


"Rio juga sering kesini?"


"Kan aku sama Rio hoby nya sama."


"Arka sama Rio itu, merk sempaknya aja sama, Kak."


Seorang coffe maker di kafe tersebut nyeletuk pada Amanda, Amanda yang kaget pun langsung menoleh.


"Bangsat." ujar Arka seraya tertawa.


Pemuda yang nyeletuk itu pun menghampiri meja dengan membawa dua buah minuman dingin.


"Man, ini Matt. Yang mengelola kafe ini, dia anaknya Glenn."


"Oh, hai." ujar Amanda kemudian.


"Ini minuman keset kaki." ujar Matt kemudian.


"Hah, keset kaki?" tanya Amanda seraya mengernyitkan dahi.


"Welcome, Man." ujar Arka kemudian.


Amanda masih diam, namun kemudian ia teringat pada keset kaki yang bertuliskan kata "Welcome." Seketika ia pun tertawa, karena itu artinya ini adalah minuman selamat datang.


"Ini istri lo kan, Ka?" tanya Matt seraya memperhatikan Amanda.


"Iya, masa gue bawa istri orang kesini."


"Ya lo dibacok suaminya kalau ketahuan."


Matt berseloroh seraya kembali ke tempatnya, tak lama ia pun kembali dengan sepiring kecil cheese cake.


"Ini buat Amanda." ujarnya kemudian.


"Ow, thank you." ujar Amanda seraya menerima semua itu dengan gembira.


"Enjoy ya kalian, gue harap betah disini."


Matt melirik Amanda sambil tersenyum, lalu kembali pada pekerjaannya.


"Lo mau ngerokok, Ka?" teriak Matt pada Arka.


"Ntar aja." ujar Arka kemudian.


"Ambil sendiri yak."


"Yoi, santai." jawab Arka lagi.


"Ini kita nggak apa-apa, Ka. Berduaan gini, diliat orang. Kamu kan artis yang masih merahasiakan pernikahan."


"Tadi juga kita berdua dari rumah, stop dimana-mana."


"Ya tadi kan dijalan. Orang juga nggak gitu ngeh banget, kita stop bentar-bentar doang. Nah disini, kan duduk begini. Ada banyak yang ngeliat."


"Selama ini gimana, yang kita ke kota tua, mall dan lain-lai"


"Saat itu kan kamu juga belum terkenal-terkenal banget. Tapi sejak masalah demi masalah membuat kamu viral, kamu kan jadi lebih banyak di kenali."


Arka tertawa.


"Disini itu, tempatnya orang-orang yang suka barang antik, suka seni, suka literasi. Jadi walaupun rame, mereka nggak peduli. Mau itu siapapun yang ada dihadapan mereka, mereka tetap fokus sama diri masing-masing. Kamu nggak akan menemukan admin akun lambe disini." ujar Arka kemudian.


Amanda memperhatikan sekitar, banyak orang ditempat itu namun mereka terkesan cuek. Ada yang sibuk mengutak-atik kamera jadul, ada juga yang melukis diluar bagian sisi kanan kafe. Ada yang sibuk membaca buku dan lain-lain. Amanda pun mulai meminum minuman yang tadi disuguhkan oleh Matt.


"Mmm, enak banget minumannya."


"Matt emang jago kalau ngeracik minuman."


"Oh ya, kalau Glenn itu ayahnya Matt. Kenapa kamu manggilnya Glenn. Matt itu kayaknya seumuran kamu deh, bener nggak?"


"Bener, tapi Glenn dari dulu emang nggak mau dipanggil om. Matt aja manggil bapaknya, bro. Untung nggak bisulan di tengah pantat tuh anak, gara-gara kualat."


Kali ini Amanda tertawa.


"Aku baru tau loh, kalau kamu punya banyak temen unik. Aku pikir Rio doang yang ajaib, ternyata ada lagi."


Arka ikut tertawa kali ini.


"Yang terpenting, mereka temen yang real. Nggak palsu kayak Doni." ujarnya lagi.

__ADS_1


"Iya sih.


Satu jam berlalu, Glenn pun kembali. Pria itu lalu menawarkan untuk mengambil foto Arka dan juga Amanda, di showroom mobil antik sebelah. Amanda pun antusias, mereka lalu beranjak dan mengambil beberapa foto disana.


__ADS_2