Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Akhirnya


__ADS_3

"Tan, ayo dong ikut. Udah beberapa kali kita ajak jalan, lo nggak pernah ikut."


Satya mengeluh pada Intan disuatu siang. Hari itu menjelang libur tanggal merah, hingga kantor pun dipulangkan cepat.


"Duh, sorry deh Sat, Den. Gue ada banyak urusan belakangan ini."


"Ih lu mah pacaran mulu." ujar Deni.


"Hehehe." Intan menjawab dengan sebuah senyum nyengir.


"Kita tuh kangen tau nggak jalan bareng lo, dengerin gosipnya elo." ujar Deni.


"Iya, ntar deh gue sempetin jalan bareng kalian ya."


"Janji ya?" ujar Satya.


"Iya, janji koq."


Tak lama kemudian, mereka pun berpisah. Satya dan Deni menuju halaman parkir, sedang Intan naik ojek online. Hari itu, Intan libur mengikuti Rani. Setelah beberapa waktu belakangan ini, hampir seluruh waktunya tersita untuk pekerjaan dan juga hal tersebut. Ia ingin sehari ini saja meliburkan diri.


Ia berjalan-jalan di sebuah kawasan pusat perbelanjaan, dimana tempat tersebut menuju berbagai macam pakaian dan juga kuliner.


"Menurut kamu, apa ini bagus." Seorang bule tampan tiba-tiba bertanya pada Intan. Ketika gadis itu sedang melihat-lihat souvernir.


"Hmm, ya."


Intan memperhatikan bule tersebut


Tampaknya si bule ingin membeli, namun ia agak ragu. Ia lanjut bertanya-tanya pada Intan. Maka Intan pun menjelaskan sesuai apa yang ia ketahui, mengenai barang-barang tersebut.


"Ansel." ujar si bule memperkenalkan diri.


"Intan."


Keduanya pun lalu berjalan bersama, Intan menemani Ansel melihat-lihat keramaian tempat itu.


"Kamu baru pertama kali kesini?" tanya Intan."


"Ini kali kedua. Pertama kali, beberapa belas tahun yang lalu."


"Oh ya, tapi bahasa Indonesia kamu bagus." ujar Intan lagi.


"Karena aku selalu belajar hampir setiap hari dengan saudaraku."


"Oh, punya ketertarikan khusus kah?"


"Iya, menurut aku bahasa Indonesia itu enak didengar dan aku suka mempelajari banyak bahasa. Supaya lebih mudah dalam berpergian, karena tidak semua orang mengerti bahasa Inggris."


"Bahasa apa saja yang kamu ketahui?"


"Inggris, Jerman, Indonesia, Korea. Kalau kamu?"


"Inggris, Indonesia, Korea juga bisa."


"Ah, saranghaeyo." ujar Ansel kemudian.

__ADS_1


Intan tertawa.


"Saranghaeyo." balasnya kemudian. Mereka pun lanjut berjalan.


***


Disebuah rumah sakit.


Kandungan Amanda telah memasuki bulan ke delapan, hari ini Arka menemaninya periksa kehamilan rutin ke dokter.


"Gimana dok, apa bisa lahir normal?"


Amanda bertanya pada dokter. Sementara Arka sedang menahan nafas, ia sudah ingin protes pada istrinya itu. Ia takut Amanda akan tidak kuat mengeluarkan dua bayi sekaligus, jika dipaksa lahir normal.


"Sejauh ini, posisi bayi aman. Kesehatan ibu juga baik, berdoa saja sampai bulan kesembilan semoga selalu stabil kondisinya."


"Itu artinya ada kemungkinan saya bisa lahiran normal kan, dok?" tanya Amanda lagi.


"Iya, ada kemungkinan bisa. Tapi kita akan pantau terus kesehatan ibu dan bayi. Kita akan bicarakan jika nantinya memang ada resiko yang terkait."


Amanda terlihat sumringah. Saat baru keluar dari ruangan dokter, Arka langsung ngomel.


"Man, nggak usah dipaksa kalau emang nggak memungkinkan untuk lahir normal. Aku tuh takut terjadi apa-apa sama kamu dan bayi-bayi kita."


"Ka, denger sendiri kan tadi dokternya bilang apa. Mereka sekolah kedokteran itu lama loh, nggak mungkin dokter asal ngomong aja."


"Iya, tapi kan aku tetep takut. Masalahnya kamu hamil anak kembar, resikonya banyak."


"Iya, pokoknya nanti kita dengerin apa kata dokter aja. Kalau emang beresiko, ya udah lahiran caesar. Yang penting kita sekarang jangan berantem, ok?"


Arka menghela nafas lalu mengangguk.


"Tapi janji ya yang tadi?" Arka memastikan.


"Iya bawel."


Amanda mendekat pada Arka, keduanya kini bergandengan tangan.


***


Waktu berganti.


Setelah melalui beberapa proses, akhirnya di bulan kedelapan kehamilannya ini, Amanda dan Arka menjalani sidang pengesahan pernikahan mereka di pengadilan. Permohonan mereka akhirnya dikabulkan tanpa adanya kendala sedikitpun.


Prosesnya terbilang cukup cepat, hingga kini keduanya resmi dinyatakan sebagai suami istri yang sah di mata hukum dan memiliki hak serta kewajiban yang berlandaskan hukum itu sendiri. Keduanya saling berpelukan dan menangis haru, saat akhirnya sidang dinyatakan selesai.


"Selamat ya, nak."


Ibu dan ayah Arka menelpon, karena mereka tidak bisa hadir. Ibunya sedang terkena demam, sedang ayahnya dirumah merawat sang ibu.


"Iya bu, pa, makasih. Nanti Arka sama Amanda kesana." ujar Arka kemudian.


"Iya, nak. Ibu dan papa tunggu kalian ya."


"Iya bu, pa."

__ADS_1


Arka menyudahi panggilan telpon tersebut. Tak lama kemudian, Nindya menelpon dan memberikan selamat serta luapan rasa bahagianya kepada Amanda dan juga Arka.


"Jangan berubah, Man, Ka. Walau udah nikah resmi, tetap jaga keharmonisan. Kadang ungkapan, kejutan kecil, komunikasi yang baik itu sangat diperlukan dalam pernikahan. Banyak loh orang yang udah nikah, malah hubungannya jadi hambar. Karena menganggap semuanya udah selesai, begitu resmi ya selesai. Nggak ada gombal-gombalan, nggak ada kejutan, nggak ada ungkapan cinta dan lain-lain. Kalian jangan jadi pasangan yang kayak gitu ya." ujar Nindya.


Arka dan Amanda saling menatap dan tersenyum satu sama lain.


"Iya Nind, kita akan dengerin nasehat lo. Biar pernikahan kita langgeng, kayak lo sama Paul."


"Iya, gue doain kalian langgeng, sampe tua. Punya banyak anak dan cucu berhamburan."


Amanda dan Arka pun terkekeh.


Sampai saat perjalanan pulang, Amanda dan Arka masih diliputi senyum. Keduanya tak percaya bahwa kini mereka benar-benar menikah. Mereka teringat saat pertama kali proses perjumpaan mereka dimulai.


Liana yang terus-menerus mengejar Arka, agar Arka mau dinikahkan siri dengan bosnya. Arka yang mengira Amanda itu jelek dan tua, lalu berfikir untuk mengeruk hartanya. Hubungan pertama kali saat malam pertama, kemudian Amanda dinyatakan hamil, permasalahan tentang orang ketiga, masa lalu dan lain sebagainya.


Jika dilihat, ujian mereka memang cukup banyak. Namun semua itu terbayarkan sudah, mereka kini telah resmi sebagai suami istri yang sah di mata hukum.


"Dek, papa udah jadi papa resmi kalian loh." Arka mengusap perut istrinya dengan lembut, sementara ia masih fokus menyetir. Amanda tersenyum mendengar pernyataan itu.


"Nanti nama papa ada di kartu keluarga, dek."


ujar Amanda seraya ikut mengusap perutnya sendiri. Bayi-bayi mereka bereaksi, seakan ikut senang dengan kebahagiaan yang kini meliputi hati kedua orang tuanya.


Sesampainya dirumah, mereka bersama-sama merobek surat perjanjian yang dulu pernah mereka sepakati dan tanda tangani bersama. Keduanya sama-sama tertawa lalu berpelukan, kemudian mereka pun berlanjut diatas ranjang hingga ******* keduanya terdengar di segala penjuru ruangan.


"Pertama kali setelah jadi suami istri sah." ujar Arka seraya tersenyum pada Amanda. Ia kini mengusap-usap bayinya yang ada di dalam.


"Udah mau masuk bulan-bulan akhir. Kita harus sering-sering kayak gini, Ka. Biar jalan lahirnya kebuka lebar dan kamu bantu aku supaya kontraksi."


"Itu mah akal-akalan kamu, Amanda. Aku tau kamu, tante-tante gatel." ujar Arka sewot.


Amanda tertawa.


"Eh, tapi bener loh. Kamu baca aja artikelnya di google."


"Iya tau, bener. Tapi itu juga bagian dari akal-akalan kamu kan?"


"Iya sih, abis enak. Gimana dong?"


Amanda berseloroh seraya tertawa.


Arka lalu mencubit istrinya itu, dan mereka saling berpelukan.


Esok harinya Arka dan Amanda menjenguk ibu Arka, ibunya sudah jauh lebih sehat. Mereka kemudian mengadakan doa dan makan bersama sebagai wujud rasa syukur, karena Amanda dan Arka diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengurus permohonan peresmian pernikahannya.


"Ka, nanti kita adakan pesta resepsi yuk." ujar Amanda pada Arka, ketika mereka telah berada di tempat tidur. Malam itu mereka menginap kembali dirumah orang tua Arka.


"Hmm, boleh. Kita bisa undang orang-orang yang tadinya nggak kita undang waktu itu."'


"Iya, tapi orang manajemen kamu gimana?" tanya Amanda.


"Selama ini nggak bocor ke publik sih, nggak apa-apa. Lagian kan kita pestanya nggak ngundang wartawan, jadi ya yang hadir suruh silent aja. Toh yang dateng juga temen-temen kita ini."


"Iya sih, tapi aku mau yang beneran pesta. Ada wedding singernya, ada urutan acaranya kayak gitu-gitu."

__ADS_1


"Iya, nanti kita rencanakan itu sama-sama. Kita akan wujudkan semua maunya kamu. Sekarang kita tidur dulu, ok."


"Ok deh." Amanda lalu memejamkan mata, begitupula dengan Arka.


__ADS_2