Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kecewa


__ADS_3

Amanda pergi ke rumah satunya, sesaat setelah pulang dari kantor. Ia tak memberi tahu Arka, jika ia mendatangi tempat tersebut. Bahkan beberapa maid yang bekerja disana pun, tak menyadari kehadirannya.


Amanda turun ke lantai bawah, pada sebuah ruangan penyimpanan di basemen rumah. Tepatnya gudang, dimana barang-barang penuh kenangan tersimpan diantara tumpukan barang lainnya.


Amanda mulai membuka satu persatu kotak kardus yang berada disana, dan beberapa kali ia tersenyum. Ketika mendapati mainan atau benda-benda yang berhubungan dengan masa kecilnya.


Amanda lalu beralih ke kotak lainnya lagi, yang ternyata menyimpan banyak album foto. Amanda meraih salah satu album foto tersebut dan membukanya.


Debu mengebul dari sana, sama halnya dengan ketika ia membuka kotak-kotak sebelumya. Wanita itu batuk beberapa kali, sebelum akhirnya fokus memperhatikan isi album.


Dalam album foto tersebut, banyak terdapat foto-foto dirinya bersama Amman. Ia pernah mengenal ayahnya itu sebagai orang baik, meski hanya beberapa saat.


Amanda terus membuka lembar demi lembar dari album tersebut. Tanpa terasa ia tersenyum penuh haru, ada banyak peristiwa yang masih melekat dalam ingatannya.


Saat ia pertama kali diperbolehkan makan es krim dan membeli es krim bersama Amman. Entah siapa yang mengambil gambar mereka saat itu, mungkin ibu atau kakek dan neneknya.


Yang jelas saat itu Amanda begitu bahagia, ada sebuah adegan dimana ia memaksa menyuapi ayahnya itu. Amman yang tak begitu menyukai es krim pun, terpaksa menerimanya. Amanda masih ingat ekspresi wajah sang ayah kala itu.


"Kamu sendiri, sudah jenguk papa kamu?"


Seketika suara Arka seakan terngiang di telinga. Amanda sendiri sejatinya pergi ketempat ini, untuk mengenang masa-masa lalunya bersama Amman. Agar ia tak begitu sungkan mendatangi pria tua tersebut.


Jika melihat segala kenangan yang tersimpan, ingin rasanya Amanda segera menemui ayahnya itu. Namun apabila mengingat sikap Amman yang menyebalkan selama ini, rasa sungkannya kembali meningkat tajam. Bahkan berlipat ganda.


***


Butuh beberapa hari bagi Amanda untuk memantapkan hati, guna menemui Amman yang kini masih terbaring di rumah sakit.


Kondisi Amman saat ini sudah stabil, beruntung saat penusukan terjadi, ia tak begitu banyak kehilangan darah. Karena pisau yang ditancapkan Aaron tak begitu dalam, hanya beberapa centimeter saja. Kini Amanda bersiap untuk menjenguk ayahnya itu.


"Bu, ada surat."


Pia masuk dan memberikan sebuah surat bersampul coklat pada Amanda. Ia baru saja hendak mengambil tas dan bermaksud menyambangi rumah sakit.


"Dari siapa, Pia?" tanya Amanda heran, karena surat tersebut tak memiliki alamat pengirim.


"Nggak tau, bu." ujar Pia.


"Makasih ya."


"Iya, bu."


Amanda lalu membuka surat tersebut dan membacanya secara perlahan. Pada menit selanjutnya, ia terkejut sekaligus marah dan juga kecewa. Bagaimana bisa ini semua terpikirkan oleh ayahnya.


"Orang tua brengsek." ujar Amanda geram.


Seketika kemarahannya terhadap Amman yang sejatinya mulai mereda, kini kembali memuncak dan bahkan bertambah parah.

__ADS_1


"Ini apa?"


"Braaak."


Amanda melempar surat itu kehadapan wajah Amman, ketika ia akhirnya tiba dirumah sakit.


"Amanda?"


Amman terkejut dengan kehadiran putrinya itu.


"Papa nggak usah ngancem-ngancem mau menggugat pernikahan Amanda dan juga Arka, apalagi dengan cara bodoh dan kampungan kayak gini. Papa pikir Amanda nggak tau kalau surat ini palsu, bukan dari pengadilan."


Amman yang sejak tadi tak mengerti pada pola tingkah putrinya itu, kini seakan paham. Mengapa ia tiba-tiba datang dan marah. Amman bahkan sudah lupa, jika ia menyewa pengacara untuk menuntut pernikahan yang terjadi antara Arka dan juga Amanda.


"Mungkin Arka bisa sedikit ketakutan kalau surat ini sampe ke tangannya. Dia masih muda, papa bisa sedikit menakut-nakuti ataupun melakukan trik murahan seperti ini. Tapi Amanda nggak takut sama sekali, silahkan kalau papa memang mau menggugat ke pengadilan. Nggak usah pake surat kaleng palsu model begini segala."


"Amanda, itu..."


"Papa pikir Amanda bakalan takut, dan mengira kalau ini benar adalah surat dari pengadilan?. Papa pikir Amanda sebocah itu?"


"Amanda."


"Pengadilan agama yang mengesahkan pernikahan kami, lalu pengadilan pula yang pada akhirnya menuntut, begitu?"


"Amanda, please!"


Amman tercengang mendengar pernyataan putrinya tersebut. Bagaimana mungkin ia yang seorang anak tunggal, memiliki adik.


"Kenapa, papa kaget?"


Amanda menatap lantang ayahnya itu.


"Papa ingat waktu Amanda SMP kelas tiga, saat kakek mau meninggal?. Di saat terakhir itu kakek berbicara sama Amanda, dan dia mengatakan kalau dia memiliki anak lain selain papa. Dan dia juga menyampaikan surat wasiat untuk anaknya itu."


"Nggak mungkin." ujar Amman tak percaya., matanya masih sulit berkedip sejak tadi.


Amanda lalu menunjukkan foto seseorang yang sangat mirip dengan Amman.


"Namanya Diego, dia sekarang berusia 55 tahun. Dia anak kandung kakek, dari pernikahan siri dibelakang ibunya papa. Dia adik papa satu ayah. Dia yang menikahkan kami dan didalam agama dia bisa menjadi wali Amanda. Silahkan kalau papa mau capek menuntut ke pengadilan. Tadinya Amanda pikir datang kesini, siapa tau bisa sedikit berbaikan dengan papa. Tapi papa memang iblis nggak punya hati."


Amanda berlalu meninggalkan tempat itu. Amman sejatinya ingin menjelaskan lebih lanjut, namun lidahnya seakan kelu. Amanda hanya memberinya sedikit kesempatan dan kini kesempatan itu telah hilang.


***


"Amanda."


Ryan melihat Amanda keluar sambil menangis, dari dalam kamar tempat dimana Amman dirawat. Ia heran mengapa menantunya itu bisa keluar dari sana. Ia sendiri telah mengetahui jika Amman berada disana sejak beberapa saat yang lalu, sebelum Amanda datang.

__ADS_1


Ia sempat masuk dan mendapati benar adanya Amman ditempat itu, hanya saja tadi Amman sedang tertidur. Kemudian ia pergi sejenak dan kini hendak kembali.


"Amanda."


Ryan terus menyerukan nama menantunya itu, Amanda pun menyadari kehadiran sang ayah mertua.


"Dad."


Amanda menghambur ke pelukan Ryan. Tangisnya seakan tak terbendung, seolah ia mencari sandaran untuk hatinya yang kini terluka.


"Why?" tanya Ryan kemudian.


"Papa, Amanda benci dia." ujar Amanda kian terisak. Ryan pun mendadak bingung.


"Wait, papa?" tanya nya kemudian.


Amanda mengangguk.


"A, Amman?" tanya nya sekali lagi.


Amanda menyadari jika mertuanya itu ternyata tak mengetahui, perihal Amman adalah ayahnya.


"Arka nggak pernah cerita?" tanya Amanda kemudian.


Ryan menggeleng dengan ekspresi wajah yang sangat-sangat tercengang.


"Daddy baru terpikir beberapa waktu belakangan ini, untuk mengundang dan mengenal orang tua kamu. Tapi ternyata..."


Ryan menatap menantunya itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia tak menyangka jika Amanda adalah anak dari Amman.


"Dia jahat, dad. Beberapa kali dia mau memisahkan Amanda dan juga Arka. Dia memaksa Amanda untuk dijodohkan dengan anak temannya."


Amanda makin tersedu-sedu. Ia tak mengetahui jika teman Amman yang hendak dijodohkan anaknya itu, adalah Ryan sendiri.


"Dia mau menjual Amanda untuk kepentingan bisnisnya dia. Dia juga menghina anak-anak kami, dad. Azka dan Afka yang nggak punya dosa apa-apa."


Amanda terus menangis, Ryan memeluk menantunya itu sekali lagi. Ia masih sangat-sangat tidak percaya pada apa yang barusan ia dengar.


***


"Why?"


Ryan masuk ke ruangan tempat dimana Amman dirawat, sambil berteriak. Ia ingin mempertanyakan, perihal apa yang tadi ia dengar dari Amanda. Sedang Amanda sendiri telah pergi ke ruangan Nino, sejak beberapa saat yang lalu.


"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap anak dan menantu saya?" tanya Ryan.


Amman tak bergeming sedikitpun, hanya air mata yang kini mengalir deras di kedua sudut matanya. Bahkan ini kali pertamanya dalam hidup, Ryan menyaksikan orang sekejam dan sebejat Amman menangis.

__ADS_1


__ADS_2