
"Mbak Pia, bu."
"Mbak Pia orangnya."
Salah satu loyalis Amanda berkata di dalam rapat rahasia, yang selalu mereka adakan.
"Saya ngeliat mbak Pia sama mbak Rani naik sebuah mobil yang sama, sambil ketawa-ketawa. Saya yakin mbak Pia sudah mengkhianati ibu." ujarnya lagi.
Amanda terhenyak dan terdiam, tatapan matanya kini terlihat lesu.
"Nggak nyangka loh, gue."
"Iya bener."
"Padahal kayak baik banget ya."'
Para karyawan sekaligus loyalis Amanda tersebut kini tampak riuh membicarakan Pia. Amanda yang tampak kehilangan gairah, kini mencoba tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
"Sudah, sudah. Kita fokus ke rencana kita aja." lanjutnya kemudian.
***
Hari-hari pun berlalu. Terdengar sebuah kabar jika perusahaan mengalami kerugian besar, dibawah kepemimpinan Rani. Amanda mendapat laporan teresebut dari salah seorang petinggi, yang kebetulan masih berpihak padanya.
Amanda terdiam, jujur ia bingung harus bagaimana menanggapi hal tersebut. Disatu sisi ia senang, karena bisa menunjukkan kualitas Rani di mata para petinggi perusahaan. Namun disisi lain, ia pun bersedih. Pasalnya susah payah ia merintis perusahaan itu hingga menjadi sebesar sekarang, ia sama sekali tak ingin perusahaan mengalami kerugian. Karena itu akan berdampak pada semua sektor yang terkait didalamnya.
Para petinggi pun mengadakan rapat, mulai dari berbicara baik-baik hingga bertengkar dan saling tuduh. Sementara Rani, tak banyak hal yang bisa ia lakukan. Karena tak banyak pula yang ia mengerti mengenai perusahaan itu. Ia hanya memiliki tujuan untuk menumbangkan Amanda dengan berbagai cara. Tanpa menyadari bahwa di setiap langkah yang ia ambil, ada tanggung jawab besar yang terselip didalamnya.
"Tap, tap, tap."
Rani melangkah menuju ruangannya, pada beberapa hari pasca keributan antara petinggi perusahaan berakhir.
"Cekrek."
Rani membuka pintu ruangan itu. Namun kemudian ia terkejut, melihat seseorang yang duduk di kursi dengan menghadap ke arah kaca.
"Hallo, Ran."
Kursi tersebut berbalik dan betapa terkejutnya Rani, mendapati Amanda yang tengah duduk dihadapannya.
"Ngapain lo disini?" teriak Rani penuh kemarahan.
"Hush, santai dong. Masa karyawan nyolot sama atasan."
"Heh, saya yang atasan disini."
"Braaak."
Rani berkata seraya menggebrak meja. Membuat Amanda terkejut dan refleks melempar asbak rokok ke kepala mantan sahabatnya itu. Seisi kantor pun terhenyak dan langsung membuka pintu. Mereka menyaksikan Rani yang kesakitan akibat dilempar oleh Amanda.
"Lo pikir lo siapa, Ran. Hanya karena lo pinter memanipulasi sesuatu, lo pikir lo bisa menguasai banyak hal?. Hah?"
Amanda berkata dengan kepala yang tegak berdiri, ditatapnya mata Rani dengan tatapan yang begitu tajam. Sementara Rani sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena semua mata karyawan kini tertuju padanya.
"Lo boleh pinter memalsukan tanda tangan gue, lo boleh punya orang-orang yang selalu siap memuluskan rencana lo. Tapi satu yang nggak lo punya, yakni ilmu menguasai diri lo sendiri. Lo terlalu gegabah dalam bertindak, karena lo dikuasai oleh setan yang ada didalam diri lo. Akibatnya apa, banyak rencana lo yang akhirnya menimbulkan celah. Menimbulkan kecurigaan dari banyak pihak. Lo juga nggak pinter dalam mengatur strategi, dan sebagai saudara sedarah. Kita mempunyai sifat yang sama, yakni gampang percaya terhadap orang lain."
Rani menatap Amanda, ia tak mengerti pada poin terakhir itu.
"Pia."
Amanda memanggil sekretarisnya. Rani terkejut bukan alang kepalang, ketika mendapati Pia yang datang lalu tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Ceritakan semuanya?" ujar Amanda.
Pia menarik nafas.
"Saya tidak tau apa-apa, sampai di suatu pagi saya menemukan laci meja kerja saya terbuka. Saya lupa mengunci laci tersebut pada kemarin sebelumnya. Dan pagi itu, saya lihat posisi kunci duplikat ruangan bu Amanda yang ada di saya, sudah berubah. Saya ingat betul dimana saya meletakkan kunci tersebut. Dan itu mustahil untuk tergeser kecuali ada gempa."
Lagi-lagi Pia menarik nafas.
"Saya ambil kunci itu, tapi saya merasakan sesuatu yang agak licin disana. Dan saya mencium bau sabun pada kunci tersebut. Itu artinya, ada seseorang yang ingin menduplikasi kunci tersebut. Dengan cara di benamkan pada sabun batangan agar cetakannya pas, lalu tinggal dibawa ke tukang kunci."
Semua mata kini terus tertuju pada Rani yang terdiam.
"Lalu, dua hari kemudian, saya melihat mbak Rani seperti habis keluar dari ruangan ibu Amanda. Pas saya cek, pintu itu masih terkunci. Tapi saya yakin, dia dari masuk ke dalam sana. Kemudian saya dekati dia, saya katakan kalau saya juga sama membenci bu Amanda. Dan dia percaya begitu saja. Saya terus berpura-pura, mengikuti kemana dia pergi, melayani dia dan sebagainya selama ini. Dia meminta password komputer bu Amanda, saya kasih. Saya mau lihat apa yang sebenarnya dia ingin lakukan dan atas dasar suruhan siapa. Akhirnya kemarin, pak Fadly Kusuma. Selaku salah satu pendiri perusahaan ini, sudah diamankan oleh pihak investigasi."
Seisi kantor terhenyak, tak terkecuali Rani sendiri. Ia tak menyangka rencana Fadly tercium dan akhirnya terbongkar. Karena merasa terintimidasi, akhirnya Rani pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Bu, pukul lagi dong. Kenapa didiemin aja?" tanya salah seorang karyawannya yang kesal pada Rani.
"Iya bu, harusnya kasih pelajaran lebih. Jangan dibiarin monyet kayak gitu bebas berkeliaran." ujar yang lainnya lagi.
Amanda tersenyum, lalu berjalan keluar dan berdiri didekat kaca besar ruangan depan. Para karyawan yang heran pun ikut mendekat kearahnya.
"Kalian mau liat yang lebih seru?" tanya Amanda kemudian.
"Apa bu?"
"Silahkan ke bawah, sekarang ada istri pak Fadly yang mau melabrak selingkuhan suaminya."
Para karyawan pun menatap satu sama lain, lalu pada detik berikutnya mereka bergegas menuju kebawah. Ketika sampai disana, Rani sudah dijambak dan divideokan oleh istri dari Fadly Kusuma.
"Ini nih, pelakor yang ganggu rumah tangga saya. Membuat karir suami saya hancur, pembawa sial kamu."
Istri Fadly begitu marah dan berapi-api pada Rani. Dari atas, Amanda memperhatikan semua itu. Jujur ia masih tak tega melihat Rani, biar bagaimanapun juga Rani pernah menjadi sahabatnya. Bertahun-tahun mereka bersama, Amanda masih menyayangi perempuan itu. Namun mengingat bagaimana perlakuan Rani terhadap dirinya belakangan ini, hati Amanda pun menjadi begitu sakit.
Amanda menghela nafas, lalu memejamkan mata. Tak lama setelah itu, ia pun bergegas masuk ke ruangannya.
"Aaakkh."
Amanda merasakan sakit di perutnya, namun tak lama sakit itupun menghilang."
***
"Selamat ya, jabatannya sudah kembali." Arka tersenyum lalu mencium bibir istrinya itu.
"Makasih ya, Ka. Akhirnya aku nggak jadi tokoh sinteron TV ikan terbang."
"Oh yang teraniaya terus lagunya, ku menangiiiis. Itu kan?"
Arka membuat istrinya terkekeh.
"Iya, syukur deh masalahnya selesai dengan cepat. Aku males kalo sampe muter-muter dan berlarut-larut. Capek bawa perut gede kemana-mana, selidikin ini, itu. Ya walaupun kamu bantu sih, tetep aja aku capek." ujar Amanda kemudian.
"Iya, yang penting sekarang kita fokus nunggu si Sabang-Merauke berojol." ujar Arka.
"Iya, kan udah masuk bulannya ini." ujar Amanda seraya mengusap-usap perutnya. Arka Lalu mencium bayi-bayi mereka yang ada didalam.
"Nanti aku bakal kangen liat kamu hamil begini."
Arka mencium kembali perut istrinya, kini ia juga memberikan usapan lembut disana.
"Kamu demen banget ya, liat aku hamil?. Fetish tuh, Ka." ujar Amanda pada suaminya. Arka pun tertawa.
__ADS_1
"Nggak lah, ke orang lain nggak. Ke kamu doang."
"Kenapa gitu?"
"Nggak tau, kayak aku bangga aja bisa bikin cewek secantik kamu jadi melendung begini."
"Kayak ngerasa perkasa kamu, ya." ujar Amanda sambil tertawa kecil.
"Maybe. Nanti kalau mereka udah lahir, kamu hamil lagi ya." Arka meminta dengan sangat, kedua matanya tampak mengharap.
"Nggak mau, capek ngurus anak. Hamilnya aja capek."
"Kamu nggak sayang aku, ya?" tiba-tiba Arka berubah menjadi seperti sedih.
"Aku aja mau punya anak banyak dari kamu." lanjut Arka kemudian.
"Arka, cinta sama bunting tuh nggak ada korelasinya. Cinta ya cinta, nggak mau punya anak banyak bukan berarti nggak cinta."
"Oh, jadi kamu udah hamil gini masih nggak cinta sama aku?"
"Arka." Amanda mengerutkan kening.
"Koq kamu jadi baperan gini sih?. Aku yang hamil, kamu yang baperan. Ini kalau diterusin bakalan panjang nih, berantem pasti."
Arka tertunduk diam.
"Ka, kamu serius?" Amanda bertanya pada suaminya sementara suaminya itu masih bungkam.
"Ka, sorry. Kamu beneran baper, ya." Amanda lalu memeluk suaminya itu, Arka pun menyeka air mata yang mengalir di kedua sudut matanya.
"Aku cinta sama kamu Arka, cinta banget. Sayang lagi, udah ya."
Arka mengangguk, Amanda mengusap-usap punggung suaminya itu agar ia menjadi tenang.
"Aku kenapa ya, akhir-akhir ini baper banget." ujar Arka kemudian.
"Mungkin, kamu mikirin banyak hal. Kan kamu udah mau jadi bapak sekarang. Bisa jadi kamu stress tanpa kamu sadari, atau kamu emang mulai mello karena anak kamu mau lahir. kamunya takut akan kehilangan banyak waktu untuk diri sendiri."
Arka kian mempererat pelukannya pada Amanda.
"Ssshhhh."
Amanda mengeluh sakit lagi pada perutnya.
"Kamu kenapa, Man?" tanya Arka seraya memperhatikan istrinya.
"Udah mulai sakit-sakitan tau, Ka."
"Iya, ini kan udah masuk bulan ke sembilan."
Arka menatap Amanda lalu mencium bibir istrinya itu.
"Mau aku bantu supaya cepet kontraksi?"
"Mauuu." ujar Amanda kemudian.
"Hmmm, dasar kamu tante-tante gatel" ujar Arka seraya mencium kembali bibir istrinya itu.
"Ya nggak apa-apa dong, gatel sama suami sendiri. Apalagi suaminya cakep kayak kamu."
"Ya udah sini aku bantu lebarkan jalan lahirnya."
__ADS_1
"Nih."
Amanda menyibakkan kedua kakinya, namun mereka malah tertawa-tawa. Mereka sedang tak ingin melakukannya malam ini, hanya ingin terjaga dan bercerita sampai pagi.