Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Suntuk


__ADS_3

Arka keluar dari kantor dengan wajah kusut dan kesal, ia benar-benar menginginkan ketenangan saat ini. Sejak berumah tangga dengan Amanda, ada saja hal yang membuat pikirannya menjadi runyam.


Padahal ia dan Amanda sendiri mampu menjalankan rumah tangga dan mengontrol emosi dengan baik. Tetapi masalah yang membuat rusuh, selalu datangnya dari luar.


"Mungkin, karena pernikahan kalian belum direstui."


Nino berujar pada Arka, ketika akhirnya Arka mengeluhkan masalahnya pada Nino.


"Ibu sama papa ngerestuin, koq."


"Lah, bapaknya Amanda?" Nino bertanya pada saudaranya itu, Arka terdiam.


"Kan lo sendiri yang cerita. Waktu lo nginep malem itu, yang kita ngopi di balkon. Lo bilang ke gue, kalau bokapnya Amanda nggak ngerestuin pernikahan lo sama anaknya."


"Emang sepenting itu ya?" tanya Arka.


Nino menghela nafas.


"Menurut gue sih penting. Lo sama Amanda baek-baek datengin bapaknya, minta restu sama dia. Ya kalau emang bapaknya nggak mau ngasih, ya itu bapaknya yang dosa. Lo udah datang baik-baik, ngomong baik-baik. Ya dia yang dosa, menyimpan kebencian di hati terhadap anak sama menantunya sendiri."


Arka menghela nafas, ia tahu akan seperti apa bila ia berhadapan dengan Amman. Pria tua itu tak akan pernah menyetujui ataupun memberi restu. Namun benar kata Nino, lebih baik meminta meskipun tak diberi. Daripada terus bertahan dalam situasi yang selalu penuh ketegangan ini.


"Cobalah, Ka. Biar rumah tangga lo tenang. Kalian kan nikahnya begitu, diem-diem. Ngebohongin bapaknya Amanda. Mau sejahat apapun, itu orang tuanya Amanda loh."


Arka mengangguk, dijatuhkannya pandangan ke suatu sudut.


"Udah makan belum, lo?" tanya Nino kemudian. Arka menggelengkan kepalanya.


"Ya udah yok, bareng gue."


"Ikut."


Ansel yang sejak tadi fokus pada PUBG Mobile, kini bersuara. Arka dan Nino saling menatap, sambil melebarkan bibir hingga kuping. Ansel memang kurang bisa jadi pendengar, saat saudaranya mendapat masalah. Namun apabila terdengar kata "Makan", ia tidak bisa untuk tidak ikut.


"Ya udah, ayok." ujar Nino kemudian.


"Bayarin ya." ujar Ansel sambil masih melihat handphone.


"Iya, Bambang." ujar Nino setengah tertawa. Arka pun ikut tertawa melihat tingkah ajaib saudaranya itu.


***


"Arka kenapa?"


Amanda bertanya pada Arka, ketika suaminya itu terdiam dimeja makan. Hari menjelang malam, mereka telah kembali ke penthouse.


"Cintara, Man." ujar Arka kemudian.


"Kenapa lagi tuh bocil?" tanya Amanda penuh rasa penasaran. Nada bicara wanita itu sangat lembut, ia kini duduk sambil memperhatikan Arka.


"Dia playing victim, bilang ke pak Putra kalau aku nyakitin dia. Sampe bikin dia kecelakaan."


"Dia kecelakaan?" Amanda tampak kaget mendengar hal tersebut.

__ADS_1


"Iya, katanya. Tau deh, orang aku nggak liat."


"Terus pak Putra bilang apa ke kamu?"


"Ya dia marah, dia bilang aku nyakitin anaknya. Aku tinggal serumah sama cewek, di belakang anaknya."


"Terus kamu jawab apa?"


"Ya aku jawab aja kalau kamu istri aku."


"Kamu yakin ngomong kayak gitu?"


"Ya mau gimana lagi, udah ga ada alasan. Biar pak Putra nggak nuduh aku macem-macem juga."


"Kamu nggak khawatir, nanti rahasia kita bocor ke publik?"


"Aku mah bodo amat sekarang, Man. Pikiran aku udah runyam. Banyak banget orang yang ngerecokin hidup aku, selama setahun belakangan ini. Rumah tangga kita udah bagus-bagus nggak rusuh, eh orang lain bikin rusuh."


Amanda menghela nafas dan tersenyum tipis, ia tidak mengatakan apa-apa lalu berlalu begitu saja. Arka merasa istrinya mendadak menjadi cuek padanya. Padahal, ia ingin Amanda memperhatikan dan mempedulikannya dirinya. Namun istrinya itu malah pergi kedalam kamar.


Suasana hati Arka pun makin tak karuan, namun saat ini ia malas berdebat dengan Amanda. Ia hanya ingin diam dan mencoba menenangkan diri.


Beberapa saat berlalu, Amanda keluar dari dalam kamar. Ia berjalan ke arah lift dan turun kebawah. Tak lama setelah itu, ia pun kembali naik ke atas.


Arka diam saja saat istrinya melintas ke arah dapur. Namun ia pun terkejut ketika wanita itu meletakkan mangkuk ayam jago berisi es campur ke hadapannya. Arka menatap Amanda, istirnya itu lalu tersenyum.


"Ngambek ya di cuekin?" goda Amanda kemudian. Arka pun tersenyum tipis.


"Kamu tuh ya." ujar Arka seraya tersenyum. Ia lalu memperbaiki duduknya dan mulai meminum es campur tersebut.


"Kamu nggak?" tanya Arka kemudian.


"Itu, aku beli jus tomat less sugar."


Amanda beranjak lalu mengambil jus miliknya yang masih berada diatas kitchen set. Lalu ia pun kembali kehadapan Arka.


"Kamu nggak mau es campur?" tanya Arka lagi.


"Aku diet, es campur itu kalorinya gede banget."


"Oh, jadi ceritanya biar aku gemuk ini?"


"Iya, biar kamu lebih kayak bapak-bapak gitu loh. Perut buncit, pake batik, cincin banyak ditangan."


Arka tertawa sambil terus makan.


"Istri jahat kamu, masa suaminya disuruh biar mirip bapak-bapak."


"Eh, Ka. Bapak-bapak itu dihormati loh, emang kamu nggak mau dihormati?"


"Aku maunya di segani kayak om Deddy, makanya aku mau kekar kayak dia. Ntar nih si Kembar, bakalan aku ajakin nge-gym kayak anak om Deddy, si Azka. Umur 14 tahun udah cakep badannya."


Amanda tersenyum.

__ADS_1


"Ntar kamu dihujat netijen, dibilang sama mereka. Ngapain sih anak masih belasan tahun udah nge-gym, ntar menghambat pertumbuhan loh."


"Itukan netijen kurang pengetahuan. Orang Azka aja tingginya 185 an koq. Malah udah lebih tinggi dari om Deddy. Om Ade Rai juga ngomong, kalau nge-gym itu nggak bikin pertumbuhan terhambat."


"Iya deh, apa kata papanya aja. Orang itu hasil benih kamu koq." ujar Amanda seraya masih tersenyum. Ia lanjut menyedot jus tomat miliknya.


"Kan sel telurnya punya kamu."


"Iya, tapi aku lebih suka kalau anak-anak bisa deket sama papanya."


"Emang kamu nggak bakalan cemburu?"


"Nggak dong, ayah yang dekat sama anak-anaknya itu. Cenderung akan selalu inget rumah, jadi bapaknya nggak bakal jadi bang Toyib."


Lagi-lagi Arka tertawa.


"Kalau nanti anak-anak berusia 14 tahun kayak si Azka. Aku 22 tambah 14, umur 36 aku. Anak-anakku udah gede, cakep, badannya atletis. Kayak kakak sama adek kan?"


"Iya, aku kayak neneknya nanti." ujar Amanda seraya tertawa. Namun ada nada berat dalam ucapannya, meski ia berusaha menyembunyikan.


"Sophia Latjuba aja masih cakep di usia 50. Aku aja mau kalau Sophia Latjuba mau sama aku."


"Iya, tapi Sophia Latjuba nya nggak mau sama kamu. Lebih tua an pacar anaknya masa, dari kamu."


Amanda dan Arka kini tertawa dan saling menatap satu sama lain.


"Udah nggak bete kan kamu?"


Amanda beranjak ke arah kitchen set dan mengacak-acak rambut Arka, seakan Arka adalah adiknya yang menggemaskan. Arka pun merasa senang diperlakukan seperti itu.


"Mau peluk dong, Man." ujarnya ketika Amanda tengah mencuci tangan.


"Ntar ya."


Tak lama kemudian Amanda pun mendekat ke arah suaminya itu, lalu mereka berpelukan.


"Pengen dipeluk dikamar." ujar Arka lagi. Ia benar-benar tampak seperti bocil FF yang minta dilempar gas tiga kilo.


"Ya udah, ayok."


"Nggak mau diganggu anak-anak." ujarnya lagi.


"Orang mereka tidur." jawab Amanda.


"Ahaaaa."


Terdengar suara tawa dari dalam kamar si kembar, Amanda dan Arka pun lalu tertawa.


"Pede banget ya, kita ngira mereka udah tidur." ujar Arka kemudian.


"Nggak apa-apa, yang penting mereka nggak nangis." ujar Amanda.


Amanda pun kian memeluk suaminya, hingga akhirnya mereka masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2