Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Copet


__ADS_3

"Lepasin gue, kakek tua bangsat. Lepasin...!"


Maureen berteriak seraya mengeluarkan kata-kata kasar yang penuh emosional.


"Lepasin gueeee."


Teriaknya sambil berlinang air mata. Ia telah menjadi sedemikian stress, ia mengutuk perbuatan Amman dan juga laki-laki tua yang diketahui bernama Fritz tersebut.


"Keluarin gue, brengsek...!"


"Praaaang."


"Praaaang."


Maureen mengamuk dan membanting semua barang yang ada dikamar itu, termasuk gelas minuman yang diberikan untuknya. Tak lama kemudian Fritz masuk dan menampar Maureen.


"Plaaaak."


Maureen balas memukul pria tua itu, namun Fritz mendorong dan memukul Maureen berkali-kali. Hingga gadis itu jatuh lemas diatas tempat tidur.


Fritz mengikat kedua tangan Maureen yang sudah tak berdaya itu pada pinggiran ranjang. Dengan wajah menjijikkan ia pun mulai menggerayangi tubuh Maureen.


"Jangan." ujar Maureen sambil menangis.


Namun Fritz tak peduli, ia malah membuka baju dan melucuti penutup bagian bawah tubuh Maureen. Hingga liang itu terpampang nyata didepan matanya.


"Ssshhh, aaaaakkh."


Pria tua itu memasukkan miliknya ke dalam milik Maureen.


"Aku hamili kamu sayaaaang."


Ia mulai memompa miliknya dengan penuh kesenangan. Sementara Maureen memalingkan wajah, dengan hati yang diliputi sejuta dendam serta kemarahan.


"Oh sayang, kamu enak sayaaaang."


"Oh yes, ooooh yess."


Maureen terus menangis, sambil menggigit bibirnya kuat-kuat. Laki-laki tua itu sangat menjijikkan dan tidak tahu diri.


"Aaaakkkh."


Ia terlolong kencang saat mengeluarkan cairannya di rahim Maureen dan lagi-lagi Maureen hanya bisa menjerit tertahan.


"Arkaaaa, tolong aku Arkaaa." ujarnya lirih.


"Tolong aku."


Fritz menyudahi aktivitasnya lalu mencium Maureen, ia juga melepaskan ikatan ditangan gadis itu. Sementara Maureen meringkuk sambil menangis penuh sesak.


"Kamu cuma perlu nurut sayang, layani aku dengan baik. Hamil anakku, dan kamu akan sejahtera."


Fritz kemudian berlalu meninggalkan tempat itu dan mengunci pintu rapat-rapat.


***


"Kaaa."


Rio merengek pada Arka di telepon, ketika Arka dan Amanda telah menghabiskan minuman dan dessert yang mereka pesan. Sudah dua jam mereka duduk dan berbincang, sambil mendengarkan alunan musik klasik dari perangkat audio milik kafe tersebut.


"Kenapa?" tanya Arka pada Rio.


"Gue kecopetan, Ka. Mana dompet gue tinggal dirumah bokap lagi."


Arka mengerutkan kening.


"Lo di copet, atau dompet lo ketinggalan di rumah bokap lo?"


"Dua-duanya."


"Lo punya dompet berapa, anjay?"

__ADS_1


"Dua." jawab Rio.


"Satunya buat tarok ATM, Credit Card, KTP, SIM dan lain-lain. Satunya lagi buat tarok duit cash. Biar kalo kecopetan, nggak ilang semua."


"Yang kecopetan yang mana?"


"Yang isinya duit."


"Yang isi ATM?"


"Dirumah bokap gue, tinggal tadi."


"Kenapa nggak lo ambil?"


"Bokap gue udah berangkat ke Surabaya, pulang lusa. OVO sama Gopay gue kosong lagi, belum sempet ngisi. Internet banking gue lupa password."


"Lo, ada-ada aja dah."


"Gue laper, Arkaaa." Rio makin merengek.


"Iya udah, ya udah. Ntar gue ojekin."


"Gue mau makan nasi goreng kambing yang didepan."


"Ya, ntar gue orderin."


"Gue maunya makan disana, sama lo."


"Ri, gue lagi sama bini gue."


"Ya udah lo kesini sama Amanda. Ribet lu, ah."


"Lah, ribet teriak ribet. Elu yang ribet, Bambang." Arka berujar setengah tertawa.


"Ayolah, Ka. Gue pengen makan ditempat."


"Ya udah ntar dulu."


"Mau nggak?" tanya Arka pada Amanda, usai ia menceritakan semua itu kepada istrinya.


"Ya udah, ayok. Kita juga belum makan berat kan, dari tadi." ujar Amanda.


"Ya udah deh, aku bayar dulu." ujar Arka. Ia pun meminta bill pada pelayan.


Usai membayar, mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu. Mereka menjemput Rio, untuk makan nasi goreng kambing yang dimaksud.


Ketika tiba dan makanan tersebut selesai dibuat, Rio makan seperti orang yang seminggu tidak bertemu nasi. Bahkan ia sudah habis setengah, ketika Amanda dan Arka baru jalan tiga suapan. Arka pun tercengang, sementara Amanda menahan tawa.


"Lo nggak malu, Ri. Depan bini gue?" tanya Arka pada Rio.


"Dia ini cewek, loh. Nggak malu lo, makan segitu banyaknya sambil diliatin cewek." ujar Arka lagi.


"Srooot"


"Srooot."


Rio menyedot es teh manis dihadapannya dengan kencang.


"Sorry ya, tante Firman. Gue laper banget, sumpah. Bodo amat, lo mau menganggap gue ini apa."


Ia kemudian lanjut makan, Amanda hanya tersenyum dan tertawa kecil.


"Uhuk." tiba-tiba Rio tersedak. Pemuda itu pun kembali minum.


"Pelan-pelan makanya." ujar Arka sewot.


"Sewot lu, Ka. Kayak emak gue." ujar Rio kemudian.


"Nambah, gih." ujar Amanda pada Rio.


"Iya, ntar."

__ADS_1


"Dia mah nggak usah ditawarin, Man. Nggak ditawarin juga, dia bakalan nambah sendiri."


"Lo mau nyindir gue sampe manapun, gue tetap nggak akan tau diri, Ka." ujar Rio.


Arka tertawa.


"Emang lo nggak tau diri, jadi temen nyusahin mulu." ujar Arka kemudian.


Rio pun tertawa, begitupula dengan Amanda.


"Lo gimana sih, bisa di copet gitu?" tanya Arka.


"Nggak tau, Ka. Pokoknya tadi tuh gue lagi jalan di pasar."


"Pasar mana?"


"Pasar burung."


"Ngapain lo ke pasar burung?"


"Burungnya, bokap. Eh maksud gue."


Rio, Arka dan Amanda terkekeh.


"Burung piaraan bokap, makanannya abis. Terus gue disuruh beli, ilang dah tuh dompet gue. Gue inget ada yang nabrak gue sih, pas gue lagi melintas ditengah rame."


"Kejadiannya setelah ko beli, apa sebelum?" tanya Amanda.


"Setelah beli, sadarnya juga pas udah dirumah."


"Banyak nggak, isinya?" tanya Arka.


"Lumayan, ada sejuta setengah."


"Makanya lo lain kali, kalau lagi pergi ke pasar atau kemana. Bawa uang itu seperlunya aja, jangan dibawa semua. Sisanya simpan di lemari."


"Ya mana gue tau bakalan apes, orang biasanya nggak kenapa-kenapa."


"Lain kali, mending beli makanan burung online aja, Ri." ujar Amanda.


"Iya sih, nggak kepikiran gue." ujar Rio.


Obrolan mereka pun berlanjut, Rio memesan lagi makanan pada jam berikutnya. Ketika pulang, Arka memberikan kartu kreditnya pada Rio.


"Pake seperlunya aja, jangan nggak tau diri lo." ujar Arka seraya tertawa.


"Iye, Bambang. Berasa kayak abis dipake gue, sama gadun. Pulang dibayar, pake CC lagi." Rio berseloroh.


"Bangsat." ujar Arka kian tertawa.


"Udah ah, gue balik." lanjutnya kemudian.


Arka pun menghidupkan mesin mobil.


"Bye zeyeng." ujar Rio.


Arka dan Amanda melambaikan tangan, lalu mobil yang membawa mereka pun melaju meninggalkan tempat itu.


***


"Besok, tolong atur pertemuan dengan Ryan." ujar Amman pada Rachel yang tengah berdiri di balkon rumah.


"Kamu masih belum menyerah dengan teman lama mu itu?" tanya Rachel.


Amman tertawa kecil.


"Kalau masalah dengan Fritz saja bisa selesai, kenapa masalah dengan teman lama menjadi sulit?" ujar Amman kemudian.


"Ryan itu, bukan orang yang terlalu keras. Dia hanya suka bermain-main."


Amman mereguk wine yang ada didalam genggaman tangannya, lalu membuang pandangan jauh kedepan.

__ADS_1


__ADS_2