Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Riweh


__ADS_3

Arka mengambil bayi Afka dan memberikannya pada Amanda, Amanda pun segera menyusui bayi itu. Tak lama kemudian Arka juga mengangkat bayi Azka dan membawanya ke dekat Amanda, untuk kemudian disusui pula.


"Oeeeek."


Bayi Azka menangis dan menolak seakan tak mau diberi ASI. Sedangkan bayi Afka masih menyusu dengan lahap.


"Oeeeek." Ia terus menangis dengan suara keras.


"Iya sayang, ini susunya." ujar Arka masih menyodorkan anak itu untuk minum susu. Namun lagi-lagi bayi Azka menolak dan makin berteriak kencang.


"Oeeeek."


"Ka, dia kenapa sih?" ujar Amanda bingung.


"Nggak tau, Man."


Arka pun tak kalah bingungnya, tak ada satu perawat pun yang masuk untuk bisa ditanyai. Ini tengah jam makan siang, Arka dan Amanda pun terdiam.


"Mungkin dia nggak mau yang sebelah sini, coba deh yang sebelah sana." ujar Arka.


Amanda melepaskan bayi Afka yang berakibat menangisnya bayi itu.


"Oeeeek."


Amanda meraih bayi Azka dari tangan suaminya lalu menyusui bayi itu, sementara bayi Afka tampak berteriak-teriak dalam box. Arka pun meraih bayi yang satu itu, dan menyodorkannya ke sebelah. Ternyata ia pun sama seperti Azka, tak mau menyusu disisi sebelah kiri.


"Oeeeek." Ia terus menangis.


"Duh, kalau kayak gini mama gimana coba?" Amanda mulai gusar.


"Sshhh." Arka mencoba menenangkan istrinya.


"Sabar, Man."


"Ya abis gimana, dua-duanya mau disini semua. Ke sebelahnya kenapa sih?"


Arka mengusap-usap punggung istrinya itu agar ia menjadi tenang, ia paham pastilah pikiran Amanda saat ini sedang runyam. Ia pun mencoba menenangkan bayi Afka yang kini berada dalam gendongannya.


"Afka, sayang. Sabar ya, gantian sama Azka."


"Oeeeek."


Amanda meletakkan Azka, bayi itu menjerit. Amanda mendiamkannya saja, lalu mengambil Afka dari tangan suaminya. Kini gantian Azka yang kembali digendong oleh Arka.

__ADS_1


Mereka terus di rolling hingga Amanda benar-benar stress. Setelah kenyang, keduanya tertidur pulas. Tinggallah kini Amanda terdiam dengan hati yang amat dongkol.


"Kamu emosi ya?"


Arka seakan tau isi kepala istrinya tersebut, biar bagaimanapun Amanda tetaplah manusia biasa. Meski telah dewasa, bukan berarti ia tak boleh merasakan emosi. Lagipula ini anak pertama baginya, Arka tak ingin menuntut istrinya menjadi sempurna. Apalagi melarangnya untuk menunjukkan atau mengekspresikan emosinya sendiri.


Bagi Arka, menjadi dewasa itu tidak harus berpura-pura. Jika sedang marah, maka marahlah. Jika sedang sedih, ya sedih saja. Daripada kedongkolan itu dipendam dan merusak kesehatan mental secara perlahan.


"Aku kesel sama mereka, apa-apaan sih. Mau nyusu aja ribet banget, udalah ini sakit di hisap sama mereka. Sekarang sakit sebelah."


Arka menghela nafas, lalu duduk dihadapan istrinya yang tengah berbaring itu. Di belainya pipi wanita itu dengan lembut.


"Aku tau, pasti nggak mudah jadi kamu. Setelah 9 bulan kamu hamil, melahirkan sambil nahan sakit yang luar biasa. Sekarang menyusui dan sakit juga. Mana mereka cuma maunya di turutin, nggak ngerti ibunya sakit."


Air mata Amanda mengalir, Arka pun demikian.


"Aku nggak akan marah atau ngejudge kamu, Amanda. Karena aku nggak tau rasanya diposisi kamu itu, seberat apa sebenarnya. Aku cuma bisa melihat dari luar, aku nggak tau seberapa kacaunya perasaan kamu saat ini. Kamu yang mandiri, biasa sendiri, biasa menikmati hidup kamu dengan tenang. Sekarang harus dibikin ribet sama dua anak kecil. Aku tau kamu pasti kaget banget, tapi kita ini keluarga kan?"


Amanda mengusap air matanya lalu mengangguk.


"Yang namanya keluarga ya, udah pasti akan saling membutuhkan, saling ngerepotin satu sama lain. Termasuk mereka, mereka akan nyusahin kita, ngerepotin kita, ngambil waktu kita. Tapi balik lagi kita ini keluarga, kita harus saling memberi satu sama lain. Aku tau ini akan sulit, tapi kita akan belajar ikhlas. Karena kalau kita ikhlas, semua akan terasa lebih ringan."


Amanda tersenyum lalu beranjak, agaknya hatinya kini mulai terbuka. Wanita itu mendekati bayi-bayinya dan mencium mereka seraya meminta maaf.


"Maafin mama ya, Nak. Maafin mama Azka, Afka. Mama minta maaf, mama akan coba untuk lebih sabar lagi sama kalian."


"Sekarang mama istirahat ya."


"Sakit, Ka. Yang sebelah kanan."


Amanda mengadu pada suaminya, produksi Asi wanita itu memang melimpah. Karena yang satunya tak disukai oleh anak-anak, maka itu terasa sakit sekali baginya. Seperti sesuatu yang membengkak.


"Ya udah, dipompa aja. Abis ini kamu tidur, kalau mereka kebangun dan kamu belum. Biar aku yang menyusui mereka." ujar Arka.


Amanda pun memompa ASI nya, lalu ASI tersebut dimasukkan Arka kedalam kulkas yang ada di ruangan itu. Ia pun menyuruh Amanda untuk segera tidur. .


"Tidur gih, sebelum para bocil bangun. Nanti kurang tidur kamu nya."


Amanda mengangguk lalu berbaring, tak lama kemudian ia pun terlelap. Ketika semuanya tertidur, Arka pun menyelesaikan tugas kampusnya di laptop. Lama setelahnya, ia pergi makan. Namun baru beberapa suap, salah satu bayinya terbangun dan menangis.


Arka memeriksa popok bayinya itu, ternyata sudah penuh. Ia pun lalu mengganti dengan popok yang baru. Baru saja ia jumawa karena tugasnya sudah selesai, bayi yang satunya juga terbangun. Dan ternyata bayi itupun sama saja, yakni memerlukan popok baru.


Arka dengan sabar mengurusi mereka, tak lama ia pun kembali meletakkan mereka dalam box. Namun mereka menangis, Arka pun tertawa. Ia lalu mengambil Asi yang tadi ia letakkan dalam lemari pendingin. Ia memanaskan ASI tersebut terlebih dahulu lalu menyusui bayi-bayinya. Sementara Amanda menjadi kebo, wanita itu tertidur pulas dengan bibir yang sedikit menganga.

__ADS_1


Asi hampir habis, mata kedua bayi itu sayup-sayup seperti hendak terpejam. Amanda terbangun kaget dari tidurnya, dan ia pun mendapati Arka tengah memberi ASI pada bayi- bayinya itu. Tampak Arka berbicara pada mereka, Arka tak menyadari jika Amanda telah bangun.


"Bobok, ya. Anak papa di sayang, dua-duanya sayang papa. Dua-duanya di sayang mama, ya."


Afka memejamkan mata, tak lama setelahnya Azka menyusul. Amanda tersenyum melihat pemandangan tersebut, ia patut bersyukur memiliki suami seperti Arka. Walaupun pria itu masih tergolong muda, tapi kesabaran dan kedewasaannya justru melebihi Amanda sendiri.


"Ka."


"Hey, kamu udah bangun?" tanya Arka seraya menyeret box bayi, agar kembali didekatkan kepada Amanda. Tadinya ia membawa box itu agak jauh, karena takut Amanda terbangun dengan suara tangisan bayi-bayi mereka.


"Baru aja aku kebangun, mereka udah bangun dari tadi?" tanya Amanda.


"Iya, udah aku ganti popok juga." jawab Arka.


"Penuh ya, tadi?"


"Iya."


"Tidur lagi gih, kamu. Atau laper?" tanya Arka Kemudian.


"Kamu tadi lagi makan ya, pas mereka bangun?" Amanda memperhatikan piring beserta makanan yang berada diatas meja.


"Iya, ini mau aku abisin. Kamu mau?" lagi-lagi Arka bertanya pada istrinya itu. Amanda menggeleng.


"Aku masih kenyang, kamu aja." Arka lalu mengambil kembali makanannya dan duduk didekat Amanda.


"Beneran nggak mau kamu?" tanya Arka sekali lagi. Amanda menggeleng lalu tersenyum.


"Makasih ya, papa."


Arka tersenyum lalu mengangguk.


"Sama-sama." ujarnya kemudian.


***


"Disebuah ruang kost, Maureen yang tak pernah bisa melakukan percobaan bunuh diri tersebut kini terdiam. Ia yang tadinya ingin segera mengakhiri hidup, kini seolah mendapatkan ide cemerlang yang baru.


"Jangan panggil gue Maureen, kalau gue nggak bisa menghancurkan lo dengan cara yang lain. Gue seharusnya nggak kehabisan akal, ada banyak hal yang masih bisa gue manfaatkan. Lo liat aja nanti."


"Hahaha."


"Hahaha."

__ADS_1


"Hahaha."


Ia pun tertawa layaknya orang gila.


__ADS_2