Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Damai


__ADS_3

Arka berangkat ke kantor, beberapa saat setelah Anita dan Lastri datang untuk mengasuh si kembar. Ia kini mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang masih kacau.


Amanda sendiri sama merasakan kekacauan tersebut. Tak banyak senyuman yang tersungging di wajahnya, ketika ia tiba di kantor. Mood nya sedang tidak baik, pasca pertengkaran tak jelasnya tadi pagi bersama Arka.


"Ri, lo dimana?" tanya Arka ketika dirinya sudah sedikit lagi sampai di kantor.


"Di hatimu sayang."


Arka tak menjawab.


"Ntar ketemu ya." ujarnya dengan nada lesu, seketika Rio pun menangkap gelagat mencurigakan dari sahabatnya itu.


"Lo kenapa, bro." tanya Rio kemudian.


Arka diam sejenak lalu menjawab.


"Kagak." ujarnya kemudian.


"Kagak kenapa?"


"Ntar deh gue ceritain, gue ngantor dulu."


"Ih lo, mah. Kalau emang mau cerita nanti, ya lo jangan kasih clue mencurigakan ke gue. Kayak gini kan gue penasaran."


"Udah ntar aja, gue lagi di jalan nih."


"Ya udah."


Arka lalu menutup sambungan telponnya dan melanjutkan perjalanan menuju kantor. Hari itu ia bekerja dengan konsentrasi yang terpecah. Bahkan ia lebih banyak memikirkan pertengkarannya dengan Amanda, ketimbang memikirkan pekerjaan itu sendiri.


Tak jauh berbeda, Amanda pun merasa seperti itu. Berat rasanya menapaki hari. Untuk menuju sampai ke jam makan siang saja, rasanya lama sekali. Saking tak nyaman nya pikiran yang ia rasakan.


"Lo kenapa sih?"


Rio bertanya ketika akhirnya ia dan Arka bertemu untuk makan siang, disuatu tempat. Arka yang kini tengah menghisap rokok itu pun mulai berbicara.


"Gue nggak tau, tiba-tiba aja tadi pagi tuh berantem."


"Koq bisa?"


"Gue lagi di kamar mandi, Amanda teriak. Gue samperin lah, gue kira ada apaan. Ternyata dia lagi ngasih ASI ke anak gue, dua-duanya digendong sama dia. Anak-anak gue ini lagi tumbuh gigi kan, terus digigit lah tuh Amanda sama anak gue. Amanda nya marah, tuh anak langsung gue ambil kan. Dia pompa ASI nya, masukin ke botol. Pas dikasih, anak-anak gue nolak dan nangis. Disitu Amanda ngebentak anak-anak, berantem dah tuh gue sama dia."


Arka kembali menghisap batang rokoknya. Sementara kini Rio menghela nafas, lalu menyedot es teh manis yang ada dihadapannya.


"Mungkin Amanda lagi banyak pikiran, bro."


"Ya gue juga sama banyak pikiran, bro. Kerjaan, syuting, skripsi, dan lain-lain."


"Bedanya lo nggak nyusuin anak."


"Gue juga kasih mereka susu, walaupun bukan punya gue. Gue juga bantu ngurus anak, Ri. Lo pikir gue sebagai suami, nyantai aja?. Kagak."


Lagi-lagi Rio menghela nafas.


"Bro, gue tau lo juga ngurusin Azka sama Afka. Tapi kan susu yang mereka minum, berasal dari Amanda. Amanda ini kan dari hamil, melahirkan, pake kontrasepsi. Mungkin hormon nya lagi bergejolak, karena dia stress atau apa. Mungkin di kantornya dia ada tekanan, makanya dia lepas kontrol."

__ADS_1


Arka terdiam, ia kini menjatuhkan pandangannya kepada asbak yang mulai terisi abu pembakaran.


"Pernikahan itu nggak mudah loh, bro. Secara kalian berdua tiba-tiba ketemu, tiba-tiba nikah, tiba-tiba juga punya anak. Semuanya tuh sangat cepat, terjadi di hidup lo dan Amanda. Ya wajar aja lah ada masalah dikit-dikit kayak gini. Yang pacaran bertahun-tahun, nikahnya terencana aja bisa cekcok hampir tiap hari. Apalagi lo yang dari awal kagak pacaran. Termasuk hebat lo berdua, bisa melewati hampir dua tahun ini dengan baik."


Arka mengangguk, ia menghabiskan hisapan terakhirnya lalu mematikan rokok tersebut di dalam asbak.


"Makan ya, bro." ujar Rio kemudian.


"Lo dari tadi ngerokok doang, udah abis empat batang. Mana minum es kopi, asam lambung loh ntar." lanjutnya lagi.


Arka kini bisa sedikit tersenyum.


"Makan, ya." ujar Rio lagi.


Arka mengangguk, jujur tadi ia tak begitu ***** makan. Namun sekarang ia akan sedikit memaksa diri.


***


"Pertengkaran diantara suami istri itu biasa, Amanda."


Tante Titiek, teman mendiang ibu Amanda. Yang pernah dikunjungi Amanda beberapa waktu lalu, kini berujar seraya meletakkan segelas teh buah ke atas meja makan. Tepatnya dihadapan Amanda.


"Kamu harus pandai-pandai mengatur emosi." ujar tante Titiek lagi.


Wanita itu kini menambahkan beberapa makanan ringan ke atas meja makan tersebut, lalu duduk dihadapan Amanda.


"Maafin Amanda ya, tante. Amanda ngerepotin tante, datang tiba-tiba terus."


"Nggak ada yang direpotkan, tante malah senang kamu datang dan mau cerita sama tante. Tapi satu yang kamu selalu lupa."


"Bawa anak-anak kamu."


Amanda tertawa.


"Amanda tadi dari kantor, langsung kesini tante. Makanya nggak sempat bawa mereka, kapan-kapan ya." ujarnya kemudian.


Obrolan mereka pun berlanjut. Tante Titiek memberikan wejangan kepada putri sahabatnya itu mengenai pernikahan. Amanda pun mendengarkan secara seksama.


Tanpa terasa, hari pun mulai senja. Amanda yang sengaja bolos dari kantornya demi menenangkan diri tersebut pun, akhirnya pulang. Seperti biasa setelah ia tiba di penthouse, Anita dan Lastri yang mengasuh para bayi juga pulang kerumah satunya.


Kebetulan si kembar tidur, dan keadaan penthouse tersebut pun sudah dibersihkan oleh Anita dan juga Lastri. Namun mereka tidak memasak, karena takut tak sesuai selera Amanda dan suami.


Maka Amanda pun memasak, meski ia masih enggan berbicara dengan Arka. Namun sebagai istri, ia juga tak boleh abai pada tugasnya melayani suami.


Lagipula di penthouse ini, siapa yang lebih dulu tiba. Maka ia bertugas menyiapkan makan malam. Amanda memasak, sambil mencuci beberapa peralatan yang sebelumnya digunakan. Sesekali ia mengaduk masakannya.


"Sini, biar aku yang cuci piring."


Tiba-tiba Arka muncul dan mengambil alih, Amanda pun bergeser ke dekat masakannya. Keduanya kini tampak canggung.


"Kamu..."


Keduanya berujar diwaktu yang nyaris bersamaan, lalu mereka saling menatap satu sama lain. Arka mencoba tersenyum kecil, Amanda pun membalasnya. Lalu mereka sama-sama menyelesaikan pekerjaan.


Arka membersihkan semua peralatan masak, sementara Amanda kini menyiapkan makanan di meja.

__ADS_1


"Udah selesai?" tanya Arka pada Amanda, wanita itu mengangguk.


"Mau kopi?" tanya nya pada Arka. Pemuda itu pun gantian mengangguk.


"Anterin ke balkon ya." ujarnya kemudian.


Amanda mengangguk, masih ada sisa rasa canggung di hati mereka. Baik Arka maupun Amanda masih berada dalam ego nya masing-masing. Yakni sama-sama enggan meminta maaf duluan.


Usai membuat kopi, Amanda pergi ke balkon dan mengantarkannya pada Arka.


"Ini, Ka." ujarnya kemudian.


Arka yang tengah memetik gitar itu pun menghentikan aktivitas nya.


"Sini." ujarnya menyuruh Amanda untuk duduk. Wanita itu pun lalu duduk disisi suaminya.


"Tadi gimana di kantor?" tanya Arka.


"Aku, bolos." ujar Amanda lalu tersenyum tipis.


"Kemana?"


"Ke tempat tante Titiek."


"Siapa tante Titiek."


"Temennya mama, yang dulu aku pernah kesana."


"Oh."


"Kamu sendiri?"


"Bolos juga, sama Rio."


Arka tertawa, Amanda pun demikian. Es batu diantara mereka mulai mencair.


"Maafin aku, ya."


Mereka berdua berujar di waktu yang nyaris bersamaan. Lalu hening, mereka berdua beradu dalam tatap. Tak lama kemudian keduanya pun tersenyum bahkan tertawa bersama.


Waktu berlalu, Arka menarik istrinya kedalam pelukan. Mereka bercerita banyak hal malam itu, sesekali Arka mencium kening Amanda. Wanita itu pun lalu memeluk Arka dengan erat. Hingga tanpa mereka sadari bahwa masakan yang tadi diletakkan di meja makan telah dingin.


"Yah, dingin Ka. Aku panasin bentar ya." ujar Amanda ketika mereka akhirnya beranjak ke meja makan.


"Nggak usah, Man. Nasi nya panas kan?"


"Iya sih, nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa lauk mah, yang penting nasi nya. Makan yuk...!" ujar Arka kemudian.


Mereka berdua pun makan bersama, dan pertengkaran tadi pagi seolah berlalu begitu saja. Usai makan, mereka pergi mandi. lalu kemudian menyambangi kamar si kembar, karena kedua anak itu ternyata terbangun. Amanda dan Arka meminta maaf pada kedua anak mereka, mengenai tadi pagi.


Meski mereka hanya menjawab sebatas hoaaaa, hoaaaa atau hoayaaa. Namun kedua orang tua baru itu, merasa lega hatinya. Karena biar bagaimanapun, tak baik jika pasangan menunjukkan pertengkaran didepan anak.


Azka dan Afka memang masih bayi, namun mata, telinga dan memory mereka akan menyimpan apapun yang mereka tangkap dari sekitar. Dan itu bisa saja berdampak pada mereka di kemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2