Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Panas


__ADS_3

Cintara masih terdiam di muka penthouse, perasaannya masih kacau dan jantungnya masih berdegup kencang.


"Siapa, siapa perempuan itu?"


"Kenapa dia ikut Arka masuk kedalam?"


"Apa mereka pacaran?"


Pertanyaan demi pertanyaan kini muncul memenuhi benaknya. Membentuk simpul kusut yang perlahan carut marut.


"Bisa-bisanya Arka bawa cabe-cabean ke rumahnya sendiri, di kantor kayak sok jual mahal banget tuh cowok. Sok suci, tau nggak. Amit-amit."


Cintara menggerutu sendiri di dalam mobil. Sementara itu, Arka dan Amanda sudah berada diatas.


"Welcome." ujar Arka seraya tersenyum. Ia mempersilakan istrinya itu untuk masuk.


"Kita beneran kayak orang yang lagi pacaran ya, Ka. Aku kamu bawa ketempat kamu, buat di prospek lebih lanjut."


"Hahaha." Arka tertawa.


"Koq tau sih, isi kepala aku." tanya nya kemudian.


"Kan kamu cowok, kata orang semua cowok itu sama."


"Oh, jadi kamu nyamain aku sama cowok lain gitu?"


"Maybe, ini aja buktinya aku kamu sepi in disini." Arka mendekati istrinya seraya tertawa.


"Emangnya nggak boleh kalau aku prospek kamu lebih lanjut."


Arka menarik paksa istrinya kedalam pelukan, hingga seluruh bagian depan tubuhnya, menempel dengan tubuh wanita itu. Lalu kedua tangannya meremas bongkahan padat sintal yang ada dibelakang, sambil ia mencium bibir wanita itu.


"Hmmm."


Amanda mulai mendesah, Arka tersenyum lalu melepaskan pelukannya.


"Ini kan ceritanya kamu lagi maen nih ketempat aku. Kamu nya pura-pura canggung, dong."


Arka dan Amanda saling menatap dan tertawa. Amanda pun berakting layaknya artis papan penggilesan, ia tampak melihat kesana kemari sambil mendekati sofa.


"Disini, kamu tinggal sendiri, Ka?" tanya nya pada Arka.


"Iya sendiri." ujar Arka seraya menuangkan segelas air putih dingin ke dalam gelas, lalu memberikannya pada Amanda.


"Thanks." ujar Amanda. Arka kini duduk disisi wanita itu.


"Kita nonton yuk." ajak Arka lalu menghidupkan televisi.


"Aku mau nonton film." ujar Amanda.


"Ya udah, aku sambungin dulu ke laptop." ujar Arka kemudian.


Pemuda berusia 22 tahun itupun menyambungkan kabel HDMI dari laptop ke televisi. Lalu ia mulai mencari film yang kira-kira enak untuk di tonton.


"Ini aja, Ka." ujar Amanda, ketika melihat sebuah poster film di sebuah situs.


"Yakin mau nonton ini?" tanya Arka pada istrinya itu.


"Iya yakin." jawab wanita itu kemudian.


"Ok."


Film di setel, Arka lalu duduk di samping istrinya dan mereka pun mulai menonton. Awalnya mereka duduk biasa saja, lalu lama kelamaan Amanda menempelkan kepala di bahu suaminya itu. Arka merangkulkan tangannya di bahu Amanda, sambil terus fokus pada layar televisi.

__ADS_1


"Ka, dingin." ujar Amanda beberapa saat kemudian. Arka lalu mengambil selimut dan menyelimuti sebagian tubuh istrinya itu.


Perlahan Arka mendekatkan bibirnya lalu mencium bibir Amanda dengan lembut.


"Hmmh." Amanda bereaksi menerima ciuman tersebut. Arka menarik tubuh istrinya agar lebih menempel padanya.


"Hmmh."


Ciuman semakin memanas, tatkala tangan Arka mulai memasuki baju Amanda dan memberikan sentuhan. Pada dua gumpalan yang berisi makanan bayi-bayinya.


"Arka."


Amanda melepaskan sejenak ciuman tersebut, untuk menyebut nama suaminya. Lalu mereka pun mengulanginya lagi. Kali ini tangan dan jari-jemari Arka mengusap bagian lain yang ada dibawah. Amanda menggerak-gerakkan pinggulnya, seakan meminta disambut oleh suaminya itu.


Arka pun dengan segera menyempurnakan situasi, dibaringkannya tubuh istrinya itu ke sofa lalu ditindihnya dengan segera.


Arka memiliki bobot 70kg dengan tinggi sekitar 187cm. Tubuhnya dipenuhi otot kering, yang menjadikannya tampak begitu menarik dan mengundang gairah kaum hawa yang melihat.


Jika ditindih disaat normal, mungkin Amanda sudah kehabisan nafas. Namun karena suasana sedang hot seperti ini, tak ada rasa berat sedikitpun baginya. Ia sangat menikmati saat pemuda itu berada di atas dirinya. Apalagi dengan nafas Arka yang begitu hangat, serta bisikan-bisikan nakal khas anak mudanya yang kian menambah nikmat suasana.


"Sayang, kasih ke aku ya." ujar Arka seolah-olah tengah meminta sesuatu yang berharga pada kekasihnya.


"Jangan, Ka." Amanda berusaha menolak, namun suaranya begitu sexy terdengar ditelinga Arka.


"Please, aku sayang kamu." ujar Arka sambil terus memberikan usapan demi usapan, pada bagian-bagian paling sensitif istrinya itu.


"Jangan, Ka. Aku nggak mau, kita belum nikah. Nanti kalau aku hamil gimana?"


"Aku tanggung jawab, ya. Please."


"Jangan, Ka."


Arka mencium bibir Amanda agar ia tidak bicara lagi. Lalu, dilucutinya helai demi helai benang yang menutupi tubuh istrinya itu. Tak lupa ia melepaskan kaos yang menutupi tubuhnya sendiri.


"Arka, jangan."


Arka kembali mencium bibir istrinya itu, kali ini ia memberikan usapan-usapan yang lebih liar lagi di segala bagian. Hingga istrinya itu terlihat menggelinjang sambil terus menggerakkan tubuhnya, sesuai irama yang diberikan oleh Arka.


"Amanda, aku sayang kamu."


Arka mulai mengarahkan sesuatu dibawah sana, dan mendorongnya dengan perlahan.


"Hmmh."


Amanda membuat gerakan seakan menolak dan memberontak, namun itu malah membuat suasana menjadi semakin panas. Dalam sekali hentakan, Arka berhasil membenamkan seluruh bagiannya ke dalam sana.


"Ka, sakit." ujar Amanda kemudian.


Arka tau istrinya berpura-pura. Karena saat ini mereka tengah berfantasi, jika mereka tengah berpacaran. Amanda masih perawan dan Arka yang merenggutnya malam ini.


"Aku akan nikahin kamu, Amanda." ujar Arka pada wanita itu.


"Janji ya, Ka."


"Hmm."


Arka mulai memompa dan memberikan kehangatan pada wanita itu, hingga Amanda pun terhentak-hentak dalam rasa nikmat yang luar biasa.


"Arka."


"Iya sayang."


Suara Arka berpacu dengan nafasnya yang mulai terengah-engah. Akibat cepatnya ia melakukan gerakan maju mundur.

__ADS_1


"Arkaaa."


"Arkaaa."


"Aku sayang kamu." bisik Arka ditelinga wanita itu, Amanda pun kian melayang.


Arka membalikkan tubuh istrinya dan mulai menancapkan kembali lebih dalam, hingga Amanda pun berteriak-teriak dengan kencang.


Malam terus beranjak naik, Arka mengembalikan istrinya ke posisi semula. Setelah banyak posisi yang ia gunakan untuk memberikan kenikmatan pada istrinya itu. Kini Amanda kembali berada dibawah dan Arka kembali menanamkan cintanya dalam-dalam.


"Sayang aku mau hamilin kamu." ujar Arka seraya memompa dengan cepat.


"Tapi Ka, aku lupa minum pil kontrasepsi hari ini."


"Please sayang, aku udah nggak tahan. Hmmh, hmmh, hmmh."


"Jangan, Ka."


"Please, udah sedikit lagi."


"Jangan, Ka."


Arka menutup mulut istrinya dan.


"Aaaaakh, aaaakh, aaaaaaaakh." Ia mengerang penuh kenikmatan, Amanda pun merasakan kenikmatan itu didalam sana.


"Arkaaa." ujarnya kemudian. Arka pun mencium bibir istrinya dan tersenyum, keduanya kini diliputi kepuasan.


"Kamu nggak serius kan soal lupa minum pil kontrasepsinya." tanya Arka seraya mengatur nafas.


"Aku serius, Ka."


"Hah?" Kali ini Arka terkejut.


"Yang sebelumnya iya, kita akting. Tapi yang aku omongin tadi serius, aku lupa minum pil kontrasepsi hari ini."


Kali ini Arka tersenyum, lalu tertawa.


"Koq kamu ketawa?"


"Ya udah sih, hamil juga nggak apa-apa. Kan kamu punya suami."


"Ya tapi kan kasihan anak-anak, Ka. Kalau aku hamil lagi."


"Kalau dikasih lagi, kita terima aja. Masalah kasih sayang dan perhatian ke mereka, kita usahakan untuk dibagi rata."


"Kamu mah enak ngomongnya, ngelahirinnya sakit tau."


Arka terdiam, namun matanya masih menatap istrinya yang ada dibawah.


"Tapi kamu sayang kan sama aku?" tanya nya kemudian.


"Iya sayang dong, Ka. Masa nggak."


"Kamu nggak mau punya anak banyak sama aku?" tanya Arka lagi.


"Mau, tapi tunggu Azka sama Afka agak gedean dikit."


"Ok, abis ini minum pil kontrasepsi darurat ya." ujarnya kemudian.


Amanda tersenyum.


"Maafin aku ya, Ka."

__ADS_1


"Iya nggak apa-apa, lagian kan aku nggak maksa kamu hamil lagi. Cuma kalau terlanjur jadi ya udah, jangan ditolak."


Amanda mengangguk lalu mereka kembali berciuman.


__ADS_2