
Pagi itu, Arka berangkat ke kantor seperti biasa. Ia tidak sarapan dirumah, karena ada meeting penting yang mengharuskan para karyawan untuk datang lebih awal.
Namun meskipun begitu, Amanda telah membekalinya dengan sandwich dan juga satu botol susu hangat. Sampai hari ini ia masih sering tak percaya, jika Amanda yang kaya raya dan banyak memiliki pembantu. Malah bisa mengurus suami dan anak dengan tangannya sendiri.
Itu artinya, tak semua orang kaya yang kelihatannya manja itu bergantung pada orang lain. Malah justru mungkin karena sifatnya yang mandiri, ia bisa membangun perusahan sebesar itu.
"Jadi Anita dan lain-lain itu nggak ada kerjaan dong dirumah satunya?. Terus buat apa kamu gaji mereka?"
Arka teringat pertanyaannya semalam, yang ia lontarkan pada istrinya sebelum tidur. Menjelang tidur mereka membiasakan diri untuk berbincang, supaya menambah keintiman.
"Kamu tau nggak, kenapa aku mempekerjakan mereka?" tanya Amanda.
"Kenapa?"
"Mbak Dining, mbak Sinta, Bude Suci. Itu adalah orang yang dulu kerja dengan mama ku. Mama berpesan sama aku, kalaupun mama udah nggak ada, mereka jangan diberhentikan. Karena mama udah janji untuk menjamin hidup mereka. Merekalah yang jadi tempat mama mengadu, saat dulu papa sering KDRT sama mama. Sedangkan Lastri, Siti dan yang lainnya, mereka itu janda yang tidak diberi tanggung-jawab sama mantan suaminya. Anak-anak mereka dikampung nggak pernah dikasih nafkah. Anita itu, dia korban penjualan oleh orang tuanya sendiri."
Arka menatap Amanda, ia bahkan tak pernah tau jika ada cerita seperti ini.
"Hampir semua orang yang ada dirumah itu, adalah orang-orang yang bermasalah dengan hidupnya. Aku mempekerjakan mereka, bukan berarti harus memakai tenaga mereka setiap saat. Maksudnya dalam hal melayani aku, ya. Mereka ngurus rumah, ngurus makam mama. Itu udah merupakan suatu pekerjaan buat aku. Dan lagi, rencananya aku akan beli beberapa lahan kosong di wilayah belakang rumah. Aku mau bikin perkebunan kecil-kecilan disitu. Sembari bisa buat penghasilan tambahan mereka, ya buat kita nikmatin juga hasilnya. Setidaknya, itu adalah salah satu cara aku untuk berbagi. Selain mungkin aku bisa menyumbangkan ke lembaga resmi."
Arka tersenyum, ia begitu salut pada Amanda. Bahkan hingga pagi ini ia masih tersenyum mengingat semua itu.
Tiba-tiba sebuah telpon masuk ke handphonenya, ternyata dari atasan di kantor.
"Hallo pak Putra?"
"Arka, kamu udah sampai kantor belum?"
"Belum pak, kenapa pak?. Saya belum telat kan ini?"
"Belum, kamu dijalan mana tapi?"
Arka pun mengatakan sedang melintas dimana dirinya kini."
"Kamu tolong jemput Cintara ya, katanya mobilnya mogok."
"Oh, dijalan mana pak?" tanya Arka pada bos nya itu.
Putra pun lalu memberitahukan dimana Cintara berada. Karena ini perintah atasan, tentu saja Arka menyanggupi. Ia memutar balik arah dan mencari dimana Cintara.
Benar saja, gadis itu tengah terpaku didekat mobilnya yang tengah diperbaiki. Kebetulan mobilnya mogok tak jauh dari sebuah bengkel.
"Arka."
Cintara sumringah mendapati kehadiran Arka, Arka tersenyum alakadarnya saja. Layaknya seorang rekan kepada rekannya yang lain.
"Kenapa mobilnya, Cin?" tanya Arka kemudian.
"Nggak tau nih, Ka. Minta dibeliin yang baru kali." ujar Cintara.
Arka tertawa. Ia mendekat ke arah mekanik dan mempertanyakan apa kerusakan yang dialami mobil tersebut. Mekanik itu pun menjelaskan bagian mana yang mengalami kerusakan, ia juga mengatakan jika ini akan memakan waktu yang cukup lama.
"Ya udah, Cin. Kita berangkat aja sekarang. Ntar pulang, aku anterin kamu kesini buat ngambil mobil."
"Baik banget sih kamu, Arka. Jadi seneng, deh." ujar Cintara kegirangan. Tak lama ia pun beranjak, Arka membuka lock mobilnya.
Cintara sudah berjalan duluan kearah mobil, Arka masih sedikit berbincang dengan mekanik. Tanpa Arka sadari jika didekat tempat itu, ada Amanda yang baru keluar dari sebuah minimarket. Ia diantar pak Darwis ketempat itu. Amanda melihat Cintara yang masuk ke dalam mobilnya, jantung wanita itu berdegup kencang. Ia lalu mengambil handphone dan menelpon Arka.
"Hallo, Ka."
"Iya Man, kenapa?"
"Kamu lagi dimana?" tanya Amanda berusaha menyembunyikan kecemburuannya yang mulai memuncak.
"Dijalan, lagi mampir ke bengkel."
"Ke bengkel?. Ngapain, emang mobil rusak?"
__ADS_1
Amanda berpura-pura tidak tahu, padahal ia melihat jelas dimana kini suaminya itu berada.
"Ini, temen kantor aku. Mobilnya mogok, tadi bos suruh aku jemput dia. Karena pagi ini ada meeting penting."
"Oh, cowok apa cewek temennya?" Amanda masih berpura-pura tidak tahu, ia ingin melihat seberapa jujur suaminya itu.
"Cewek." ujar Arka seraya menatap ke arah mobil, Cintara sendiri tak mendengar percakapan tersebut.
"Yang ngechat aku semalem, Cintara." lanjutnya lagi.
"Oh." jawab Amanda.
Arka jujur atas semuanya, tak ada kebohongan sama sekali. Itu artinya, Arka memang baik-baik saja. Kecemburuan Amanda pun sedikit mereda.
"Ya udah hati-hati di jalan ya, Ka."
"Iya, kamu lagi dimana ini?"
"Lagi mampir di minimarket, tadi inget mau beli popok bayi. Terus rencana abis ini mau ke pasar."
"Anak-anak sama siapa?"
"Sama Anita, ada Rianti juga lagi maen."
"Rianti dateng?"
"Iya, nggak lama kamu pergi tadi, Rianti sampe."
"Ini kamu sendiri?"
"Sama pak Darwis, sama Lastri juga. Dia lagi masukin belanjaan ke mobil."
"Oh ya udah, kamu hati-hati juga ya." ujar Arka kemudian.
"Iya, Ka."
"Iya, bye Arka."
"Bye mama."
Amanda tersenyum, Arka menyudahi telpon lalu masuk ke mobil.
"Itu pak Arka kan bu?" tanya Lastri ketika tanpa sengaja ia melihat Arka melintas.
"Iya." ujar Amanda seraya masuk kedalam mobil, Lastri mengekor dari belakang dan ikut masuk.
"Cewek yang didalam mobil pak Arka tadi, siapa?" Lastri kembali bertanya.
"Temennya bapak, katanya mobilnya mogok. Terus bapak jemput dia."
"Jangan sering-sering dibiarin bu, jaman sekarang banyak pelakor."
"Apa tuh pelakor?" tanya Amanda.
"Perebut laki orang, lagi trend."
Amanda tertawa.
"Ah kamu mah ada-ada aja singkatannya."
"Beneran, bu. Jaman sekarang mah pada doyan sama laki orang, heran."
"Dulu suami kamu diambil pelakor juga?" tanya Amanda lagi.
"Lah iya bu, pelakornya janda pula. Jadi saya ini, jadi janda karena janda."
Amanda kini tertawa, tetapi bukan mentertawakan nasib Lastri. Melainkan tertawa mendengar cara Lastri berbicara, mirip stand up comedy an yang tengah open mic."
__ADS_1
"Jadi saya harus waspada nih sama pelakor?"
"Lah iya, harus dijaga itu suaminya. Apalagi suami ibu kan ganteng, artis pula. Perempuan diluar yang nggak punya harga diri mah, mau mau aja. Walau udah status suami orang."
Kali ini Amanda terdiam, ucapan Lastri ada benarnya juga. Yang jelas tau jika si laki-laki sudah punya istri saja, kadang masih direbut oleh si pelakor. Apalagi yang tidak mengetahui sama sekali. Karena sampai hari ini, Arka masih merahasiakan statusnya dibeberapa tempat. Yang kira-kira tidak memungkinkan untuk bicara mengenai hal tersebut.
Amanda dan Lastri berbelanja ke pasar. Lastri dan Anita akan menemaninya hingga sore, karena Amanda ada banyak pekerjaan kantor yang harus ia selesaikan. Paling tidak, ada yang menggendong Azka dan juga Afka apabila mereka rewel.
Usai berbelanja, mereka pun masuk ke dalam mobil. Mobil pun kini merayap melintasi jalan demi jalan. Tiba didepan sebuah sekolah, tiba-tiba Amanda melihat kedua anak Rani, yakni Rania dan juga Rasya.
Beberapa waktu belakangan ini, kedua anak itu sering mengirimkan pesan singkat padanya. Bertanya mengapa Amanda tak pernah lagi mengunjungi mereka. Dulu saat ia belum mengetahui kejahatan Rani, acap kali Amanda datang berkunjung untuk menemui mereka.
"Rania, Rasya."
Amanda menyapa anak itu, ketika ia keluar dari mobil.
"Tante Amanda?"
"Tante Amandaaaa."
Kedua anak itu menghambur dalam pelukannya, Amanda sangat merindukan mereka. Karena seberapa pun bencinya ia terhadap Rani, kini. Anak-anak tetaplah pihak yang paling tidak bersalah, dan tak boleh dilibatkan dalam persoalan orang tua.
"Tante Amanda kemana aja?. Koq nggak pernah kesini lagi?" tanya Rasya.
"Iya tante, Rania kangen sama tante. Kapan kita main barbie lagi?"
Amanda tersenyum, betapa polosnya anak-anak ini. Sayang jika hati mereka harus diajarkan kebencian.
"Tante lagi sibuk sayang, kan tante punya adek bayi sekarang."
"Oh ya, emangnya tante udah punya anak sekarang?" tanya Rania.
"Iya dong, adek-adek bayinya lagi harus dijagain. Makanya tante nggak bisa keluar rumah lama-lama." ujarnya kemudian.
"Tante boleh nggak kita liat adek bayi?" tanya Rania lagi.
"Nggak boleh."
Tiba-tiba Rani muncul dan nyeletuk dengan sinis kepada anak-anaknya sendiri.
Amanda diam, namun ia menatap wanita itu dengan lantang. Amanda tak menyangka jika akan bertemu Rani siang ini, ia pikir anak-anak Rani menggunakan mobil jemputan sekolah.
"Kenapa, ma?" tanya Rania tak mengerti.
"Masuk ke mobil...!" perintah Rani ketus.
"Tapi, ma."
"Rasya, ajak adik kamu masuk."
"Iya, ma." ujar Rasya lemah, ia lalu membawa adiknya untuk masuk kedalam mobil. Mobil tersebut adalah mobil pemberian Fadly.
Kini ia dan Amanda saling menatap. Sementara di mobil, Lastri dan pak Darwis bersiap, takut kalau terjadi baku hantam disana.
"Jangan pernah deketin anak-anak gue lagi." Rani berujar dengan nada ketus pada Amanda.
"Gue nggak mau anak gue berada dalam bahaya." ujarnya lagi.
Amanda pun tertawa.
"Harusnya yang bener itu adalah, anak-anak itu nggak pantes punya ibu jahat kayak lo. Mereka dalam bahaya dibawah asuhan lo."
Amanda berlalu meninggalkan Rani, dengan sejuta kekesalan yang menyeruak di hati.
"Brengsek." teriak Rani.
Amanda hanya tertawa dan masuk ke mobil.
__ADS_1