Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Kemarahan Ryan


__ADS_3

Rio begitu stress menunggu perkembangan Arka dan juga Amanda, ia bahkan masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Sahabat baiknya, kini terbaring tak sadarkan diri bersama sang istri. Meninggalkan anak-anak yang masih kecil dirumah.


Rasanya baru kemarin mereka bercakap-cakap melalui telpon, sambil membahas game online terbaru. Kini semuanya seolah senyap, ternyata kehidupan dan ambang kematian itu begitu dekat. Bahkan setiap detik pun bisa merubah segalanya.


"Rio kamu makan dulu sana, biar papa yang jaga mereka. Sampai orang tuanya Arka datang."


Rio diam, ia bahkan tak bergeming sedikitpun. Ia seolah tak memiliki gairah hidup lagi, pikirannya kini memikirkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Arka maupun Amanda.


"Kalau kayak gini, kamu bisa sakit nantinya."


Rio masih tak menjawab.


"Rio, okelah kalau kamu nggak mau mikirin diri kamu sendiri saat ini. Paling nggak, pikirkan anak-anak Arka. Saat ini orang tua mereka belum tau nasibnya akan seperti apa, kita cuma bisa berharap yang terbaik. Kalau kamu juga sakit, siapa yang akan menjaga anak-anak itu?"


Rio menatap ayahnya, wajah pemuda itu kini tampak begitu pucat.


"Kedua orang tua Arka nggak punya kekuatan lebih, ayahnya Amanda bisa saja mengambil paksa bayi-bayi itu. Maka dari itu kamu harus sehat, harus kuat. Kamu harus jaga anak-anak Arka, dia sahabat kamu."


Rio menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya.


"Kamu makan, ya." bujuk ayahnya lagi. Rio pun mengangguk.


"Biar papa yang jaga mereka, sana kamu cari makan diluar."


Lagi-lagi Rio mengangguk, akhirnya ia pun beranjak.


Waktu berlalu, orang tua Arka tiba dirumah sakit. Keduanya histeris dan seakan tak percaya. Ayah Rio berusaha menjelaskan dan menenangkan mereka sebisa mungkin.


Tangis sedih pun pecah di muka ruangan ICU, mereka begitu hancur melihat anak dan menantu mereka yang terbaring tak sadarkan diri. Rio sendiri tak berani mendekat ke arah sana, pasalnya ia tak tahan dengan suara tangisan ibu Arka yang begitu menyayat hati.


Arka, putera satu-satunya. Harapannya, belahan jiwanya, kini terbaring tanpa tau kapan ia akan bangun. Dokter menyatakan jika mereka mengalami benturan yang cukup keras, airbag gagal mengembang saat kecelakaan itu terjadi.

__ADS_1


Sementara itu ditempatnya bekerja, entah mengapa Ryan merasa ada yang tak beres hari itu. Namun ia tak mengerti apa yang membuatnya merasa demikian.


Pekerjaannya tak ada masalah, penjualan lancar, tak ada komplain dari pihak manapun. Namun entah mengapa ia begitu resah, hatinya diliputi perasaan sedih dan juga cemas.


Karena perasaan itu tak kunjung hilang, Ryan pun memutuskan untuk pergi keluar. Ia mengendarai mobilnya dan berniat mendapatkan segelas kopi dari tempat ngopi favoritnya.


Tiba-tiba saja ia teringat pada Arka, mungkin saja Arka ada waktu senggang siang ini. Ryan pun menghubungi nomor Arka, namun handphone pemuda itu tidak aktif. Ryan mencobanya hingga berkali-kali, namun tetap saja hasilnya sama. Panggilan tersebut tak terhubung sama sekali.


Ryan pun memutar arah, menuju ke tempat dimana anaknya itu bekerja. Sesampainya disana, ia bertanya pada salah satu karyawan yang kebetulan satu ruangan dengan Arka.


Karyawan tersebut mengatakan jika Arka tak masuk hari ini dan tak juga memberikan kabar apapun pada kantor.


"Apa dia sakit?" tanya Ryan kemudian.


"Saya nggak tau, dia nggak ada kabar dari tadi pagi." ujar Karyawan tersebut.


"Ya sudah, terima kasih." ujar Ryan.


Ryan pun menghela nafas lalu kembali ke mobil. Kenapa tidak datang ke penthouse nya saja pikir Ryan, toh Arka pernah mengundangnya tempo hari. Mungkin Arka sedang berhalangan masuk hari ini, dan itu artinya ia mungkin bisa berkunjung. Sekalian saja menjenguk kedua bayi kembar itu, pikirnya lagi.


Ryan pun mengemudikan mobilnya menuju ke penthouse Arka. Sesampainya disana, ia bertemu dengan security yang kemudian memberinya kabar mengejutkan.


"Apa, kecelakaan?" Ryan tak percaya, namun jantungnya kini berdegup kencang. Tubuhnya seketika gemetar. Ia terus mendengarkan penjelasan dari security tersebut, sampai kemudian ia bergegas kembali ke mobil.


Ryan mengemudi dengan kecepatan penuh, melintasi jalan demi jalan yang kebetulan tak begitu macet. Ia telah diberitahu security penthouse tersebut, mengenai dimana anak dan menantunya itu dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, usai bertanya pada bagian informasi. Ia segera menuju ruang ICU. Namun ketika tiba, langkah Ryan pun terhenti. Pasalnya ibu Arka beserta ayah tirinya ada disitu, dan lagi ada Rico Farandri Salim, ayahnya Rio.


Ia tak ingin sikapnya mengundang perhatian dan pertanyaan dari Rico. Karena Rico pun tak mengetahui hubungan terlarang, yang dulu sempat terjalin antara dirinya dan ibu Arka.


Ryan menahan diri sejenak, meski hatinya memaksa untuk berlari kearah sana. Jujur ia sudah sangat ingin mengetahui bagaimana kondisi anak serta menantunya itu.

__ADS_1


"Saya harus mengambil anak-anak, kasihan nggak ada yang ngurus." ujar ibu Arka seraya menyeka air matanya. Ia sudah tidak begitu histeris seperti tadi, Rio dan ayahnya juga sudah lebih tenang.


Karena meskipun belum sadar, Arka dan Amanda telah berhasil melalui masa kritisnya. Setidaknya itulah yang sempat dikatakan oleh dokter pada mereka.


"Saya temani kesana." ujar Ayah Rio.


Kedua orang tua Arka mengangguk.


"Rio kamu disini, jaga mereka."


"Iya, nanti saya suruh Rianti kesini buat gantian sama kamu Rio." ujar ayah tiri Arka.


"Iya om." jawab Rio kemudian.


Rico, ayah Rio pun mengantar kedua orang tua Arka menuju penthouse. Guna mengetahui kondisi para bayi dan membawa kedua anak itu kerumah mereka.


Sementara kini Rio sendirian menjaga Arka dan juga Amanda. Rio masuk ke ruangan, berbicara pada kedua orang itu seraya menyeka air matanya sesekali. Inti dari ucapannya adalah, ia ingin Arka dan Amanda menjadi lebih kuat lagi dan tak menyerah begitu saja.


"Gue akan sangat marah, kalau lo dan istri lo pergi. Dokter udah menyatakan kalian aman, dan sekarang saatnya kalian berjuang untuk bangun. Kita harus balas mereka, siapapun dalang yang ada dibalik semua ini. Mereka bisa sebegitu sinetron nya membuat skenario buat hidup lo berdua, kenapa kita nggak bisa melakukannya juga?. Kita akan menyusun skenario serangan balik. Tapi syaratnya adalah, lo berdua harus bangun terlebih dahulu. Udah dua kali lo kayak gini ke gue, Ka. Dan ini cukup, jangan pernah bikin gue khawatir lagi."


Rio mengusap air matanya, dari kaca ruangan tersebut Ryan bisa melihat anak serta menantunya yang tengah terbaring. Kebetulan dokter yang menangani kedua orang itu tadi melintas. Ryan bertanya mengenai kondisi mereka, dokter pun menjelaskan jika masa kritis mereka sudah lewat. Ryan pun akhirnya bisa bernafas lega.


Dokter tersebut berlalu, tak lama kemudian Rio keluar dari ruangan tersebut. Ryan berpaling agar tak ketahuan Rio. Rio yang tak banyak memperhatikan sekitar itupun akhirnya berlalu, tanpa menyadari kehadiran Ryan disana.


Ryan menjenguk anak serta menantunya itu barang sejenak. Untuk pertama kalinya ia menyentuh tangan Arka, sejak ia meninggalkan pemuda itu didalam kandungan ibunya. Ia merasa begitu bersalah, apalagi melihat anaknya seperti ini.


"Cekrek."


Terdengar suara pintu seperti terbuka, Ryan bersembunyi di balik sebuah dinding. Rio masuk bersama beberapa anggota kepolisian. Dan di sana lah Ryan paham, jika kecelakaan anak dan menantunya itu disengaja oleh seseorang.


Setelah Rio mengantar petugas kepolisian itu keluar dari ruangan, Ryan pun buru-buru mencari celah untuk keluar. Ia berhasil tanpa dilihat oleh Rio. Kini ia menjadi begitu marah, ia ingin tahu siapa yang berniat mencelakai anak dan juga menantunya.

__ADS_1


Ryan pun menelpon beberapa koleganya yang bisa dipercaya untuk menyelediki kasus ini, ia tidak akan memberi ampun pada siapapun yang terbukti terlibat dalam hal ini.


__ADS_2