
Iklan yang dibintangi oleh Arka sudah tayang. Kini wajahnya pun terpampang di beberapa billboard, disepanjang jalanan menuju kampus. Billboard tersebut sengaja dipasang oleh perusahaan Amman, dengan maksud meningkatkan kesadaran anak muda tentang pentingnya mengkonsumsi makanan sehat. Terutama makanan sehat yang diproduksi oleh perusahaan mereka.
Hampir di setiap jalan menuju kampus manapun, billboard tersebut dipasang. Hingga wajah Arka terlihat dimana-mana.
"Bro, saingan lo."
Seorang mahasiswa berkata pada Doni yang kini tengah mengendarai mobil. Doni belakangan ini berteman dengan geng para aktor, yang terkenal sombong di kampus. Para aktor yang baru menetas di dunia entertainment, tetapi bersikap melebihi aktor yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia tersebut.
Ia kini dapat mengendarai mobil mentereng, meski itu adalah milik temannya. Paling tidak ia mempunyai teman-teman yang bergengsi menurut pemikirannya. Tidak seperti Arka dan Rio yang kehidupannya begitu-begitu saja, sulit untuk diajak bersenang-senang.
"Lo koq diem aja?" tanya temannya lagi. Doni masih fokus kejalan.
"Lo harus protes sama mbak Arni dan pak Philip, kenapa itu job dikasih ke Arka."
Doni makin diam, temannya tidak mengetahui bahwa Doni pernah di casting untuk produk tersebut bahkan sebelum Arka. Namun ketika pihak perusahaan Amman bertemu dengannya, mereka terlihat kurang menyukai Doni dan minta diganti oleh talent yang lain.
Sementara di penthouse.
"Amanda."
Arka berteriak pada istrinya yang entah ada di ruangan mana. Ia baru saja pulang setelah semalaman di lokasi syuting. Selama 4 hari belakangan ia syuting FTV dan baru bisa pulang hari ini.
"Man."
"Apa."
Amanda keluar dari ruang kerjanya.
"Kamu udah pulang, Ka."
"Nggak, ini khayalan kamu doang." ujar Arka.
Amanda tertawa, lalu mencium tangan suaminya itu.
"Kamu nggak ke kantor?" tanya Arka.
"Ini hari apa, pak Bambang?"
"Oh iya, sabtu ya. Nih kamu pasti belum sarapan kan?" ujar Arka meletakkan makanan di meja makan.
Amanda pun mendekat. Ia tak bisa melihat ataupun mencium bau makanan, pastilah ia akan mendadak lapar.
"Itu nasi sama ayam goreng lengkuas."
"Kamu beli?"
"Nggak beli, minta."
Lagi-lagi Amanda tertawa, lalu membuka makanan itu.
"Kamu nggak peluk aku, Ka?"
__ADS_1
"Aku mandi dulu ya, takut kamunya ketularan virus. Aku udah 4 hari nggak pulang, di lokasi syuting banyak yang kena flu."
"Tapi tadi aku cium tangan kamu."
"Kalau tangan, tadi aku udah cuci begitu sampe. Emang kamu nggak cium tangan aku bau sabun?"
"Nggak, hidung aku mampet soalnya."
"Kamu flu?"
"Nggak juga sih, mampet aja. Karena dingin kali."
"Ya udah deh, aku mandi dulu."
Arka pun pergi mandi, sementara Amanda menikmati makan paginya. Usai mandi, Arka menghampiri Amanda yang baru selesai makan. Amanda buru-buru mencuci tangan, lalu memeluk Arka, Arka pun mencium kening istrinya itu.
"Badan kamu anget, Man. Coba chat dokter gih, boleh minum obat nggak. Takutnya nanti kamu sakit."
"Iya, bentar lagi ya. Masih mau peluk kamu."
Arka pun memeluk istrinya untuk berapa saat, tak lama Amanda pun mulai berkonsultasi dengan dokter via chat aplikasi. Namun Arka tertidur, karena sudah sangat mengantuk sekali. Amanda membiarkan saja suaminya itu terlelap, karena ia mengerti betul pastilah Arka sangat lelah.
***
Intan tengah berjalan di suatu tempat, namun ia merasa diikuti seseorang. Berkali-kali ia menoleh, namun selalu tak bisa menemukan siapa yang orang yang tengah mengikutinya tersebut.
"Ah mungkin hanya perkiraannya saja, pikirnya. Karena selama beberapa waktu belakangan ini, ia sering membuntuti Rani. Jadi mungkin ia memiliki perasaan takut, takut kalau apa yang ia lakukan berbalik kepada dirinya.
Intan mencoba menetralkan perasaannya. Ia yang tadinya berjalan penuh ketakutan, kini berusaha untuk bersikap biasa saja. Ia terus melangkah dengan tenang. Sampai kemudian ia mendengar derap langkah yang dipercepat.
"Aaaaaaa."
Intan berteriak dan dengan cepat menghindar, ia kemudian berlari dengan sekuat tenaga. Orang yang menyerangnya itu adalah laki-laki bertubuh tinggi besar, Intan sendiri tak tahu siapa dia dan mengapa ia melakukan ini semua. Intan hanya terus berlari, disepanjang jalanan kompleks perumahan orang tuanya yang sepi.
Sementara disebuah jalan, Rio yang tengah mengendarai motornya tampak melamun disepanjang perjalanan. Pasalnya ia begitu patah hati dengan sikap Liana. Entah mengapa seperti tak ada satu wanita pun, yang bisa menerima dirinya.
Ia boleh saja tampan, lumayan terkenal, tapi soal hati ia selalu ambyar. Tak banyak kisah cinta yang dialami Rio, karena ia selalu mencintai orang yang tidak bisa membalas perasaannya. Sedang apabila ada yang menyukai dirinya, selalu orang itu adalah orang yang tak pernah ia inginkan.
Intan terus berlari dan berusaha menggapai gerbang utama komplek perumahan. Sedikit lagi ia akan sampai pada pos security, setidaknya ada yang akan menolongnya.
Ia terus berlari sekuat tenaga hingga sampai didepan sana. Ia menyadari jika security tengah tidak berada di pos, entah kemana mereka. Intan menoleh, orang yang hendak memukul itu segera menghampiri dirinya. Maka dengan sisa tenaga ia pun berlari ke arah jalan raya, sambil terus menoleh.
Tanpa ia sadari dari sebuah arah, seorang pengendara motor yang tak lain adalah Rio, tengah melaju kencang.
"Braaaak."
Tabrakan mengenaskan itu terjadi begitu saja. Tubuh Intan terpental kearah tengah, bertepatan dengan melintasnya sebuah mobil.
"Braaaak."
Tubuh gadis itu tertabrak dua kali. Pengemudi mobil segera menginjak rem, hingga Intan jatuh ke jalan dengan berlumuran darah. Sementara Rio tadi terpelanting dan kini pun sama tak sadarkan diri. Bahkan kepalanya mengenai bibir trotoar.
__ADS_1
Orang yang tadi mencoba menyerang Intan pun menghilang, kini jalanan menjadi ramai akibatnya banyaknya pengendara yang berhenti dan berusaha memberikan pertolongan. Dalam sekejap kecelakaan itupun menyita perhatian dan masuk ke dalam berita.
Amanda mendapat kabar melalui handphone Arka, sebab yang terakhir dihubungi Rio adalah Arka. Tak lama ia pun mendapat kabar dari Satya, jika Intan juga menjadi korban dalam kecelakaan itu.
Amanda panik, ia mencoba mengatur nafas dan kini tampak mondar-mandir. Ia ingin segera membangunkan Arka, namun suaminya itu baru tidur sekitar satu jam.
Amanda terus mondar-mandir, namun kemudian kakinya terkena meja sofa yang ada di kamar.
"Awww."
Amanda mengeluh sakit, seketika Arka pun terbangun.
"Kenapa, Man?" tanya Arka kemudian, ia masih terlihat sangat mengantuk sekali.
"Ka." Amanda kini duduk disisi Arka."
"Kenapa?" tanya Arka yang menangkap keresahan di mata istrinya itu.
"Intan tadi kecelakaan, Ka. Dia sekarang di rumah sakit."
Arka menghela nafas, ia lalu duduk disisi istrinya.
"Keadaanya sekarang gimana?" tanya Arka lagi.
"Kritis, Ka."
"Kamu mau aku temenin kerumah sakit?"
Amanda diam.
"Ka, Intan ditabrak oleh Rio."
"Rio?" Arka terperangah tak percaya.
"Rio temen aku?" tanya nya lagi. Amanda mengangguk, seketika wajah Arka pun berubah panik.
"Terus sekarang Rio di kantor polisi?"
Amanda menggeleng.
"Dia juga kritis, Ka."
Jantung Arka berdegup kencang, ia yang belum cukup tidur tersebut sudah tak peduli dengan dirinya sendiri. Segera saja ia beranjak dan mengajak Amanda menuju rumah sakit. Kebetulan Amanda sudah mendapatkan informasi, mengenai di rumah sakit mana keduanya dirawat.
Sesampainya di rumah sakit tersebut, Arka berlarian di sepanjang koridor. Hingga ia nyaris melupakan Amanda, ia pun tersadar dan menoleh. Amanda memberi kode padanya untuk segera saja mencari Rio, karena ia bisa menyusul meski perlahan.
Arka pun terus menuju keruang ICU, tempat dimana Rio masih terbaring. Sesuai yang tadi diinfokan oleh bagian informasi, saat ia bertanya perihal dimana sahabatnya itu.
"Ri."
Hanya itu kata yang keluar dari bibir Arka, ketika akhirnya ia mendapati Rio yang terbaring dari kaca ruang ICU. Tubuhnya gemetar, darahnya seakan berhenti mengalir. Ia tak menyangka pada apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Tak lama ia pun dipanggil oleh ayah Rio, yang saat itu baru saja keluar dari ruangan dokter. Rio ternyata mengalami koma, karena benturan yang ia alami cukup keras.
di ruangan lainnya, Intan pun mengalami hal yang sama, kondisinya bahkan jauh lebih parah ketimbang Rio. Amanda dan Arka kini sama-sama terdiam, tanpa harus berbuat apa-apa.