
Esoknya di kantor, berita mengenai peresmian pernikahan Amanda pun dengan cepat menyebar. Amanda sengaja mengadakan sebuah pesta kecil, yakni sarapan bersama. Dengan berbagai makanan yang sudah ia pesan.
Sebagai wujud rasa syukur, ia meluangkan sejenak waktu untuk karyawannya. Agar mereka sedikit bersantai di pagi itu. Meskipun mereka semua akan tetap bekerja siang nanti.
"Harus adain pesta nih, bu." ujar Satya seraya mencomot kue yang ada dimeja.
"Ditunggu loh undangannya." timpal Deni, ia mengambil kue yang ada ditangan Satya. Membuat Satya akhirnya mengeplak kepala temannya itu.
"Iya, nanti di undang semua." ujar Amanda.
"Ntar pake bridesmaids dong bu." ujar Sari.
"Maksudnya lo mau ikutan jadi bridesmaids gitu?" tanya Nur pada Sari.
"Kan lu bukan sahabatnya bu Amanda." lanjut Nur lagi.
"Ye nggak apa-apa kali."
"Iya, nggak apa-apa." ujar Amanda mendamaikan.
"Semua bisa jadi bridesmaids."
"Saya juga dong bu?" tanya Nur.
"Iya."
"Asyik." Nur antusias.
"Ye, giliran tadi aja lu ngatain gue." ujar Sari.
"Udah, ribut aja lo berdua."
ujar Satya.
Mereka lanjut berbincang, menanyakan bagaimana prosesnya sebuah pernikahan siri agar bisa didaftarkan secara resmi dimata hukum. Amanda pun menjelaskan secara rinci, bagaimana prosesnya, berkas apa saja yang mereka perlukan serta berapa biaya yang mesti dikeluarkan.
"Ini bau-bau nya ada yang mau nikah siri nih?" ledek Amanda. Mereka semua pun lalu tertawa.
"Satya bu, ceweknya hamil." celetuk karyawan lain, yang duduk di pojok dekat kaca.
"Heh, gosip aja lo." Satya sewot.
Intan sendiri ikut tertawa-tawa sambil makan, namun ia tak melihat Rani mendekat. Sejak tadi wanita itu tampak sibuk sendiri, seolah dirinya adalah karyawan paling banyak pekerjaan sedunia. Padahal anak-anak dari divisinya sendiri rata-rata mendekat, untuk sekedar memberi selamat atau mengambil makanan. Tapi tidak dengan Rani, entah apa yang ada dipikiran wanita itu.
Intan beranjak, ia penasaran dengan apa yang kini dilakukan oleh Rani. Ia mulai mengikuti lagi, kemana langkah wanita itu. Rani berjalan ke bawah, Intan dengan setia membuntuti.
"Si princess udah nikah resmi sama berondongnya." ujar Rani ditelpon seraya meminum segelas kopi, yang ia pesan pada kafe yang terdapat didekat kantor.
"So, sekarang dia lagi bahagia dong?" Orang yang tengah berbicara dengannya ditelepon, kini bertanya.
"Ya begitulah, makin jijik gue ngeliatnya." ujar Rani. Lagi-lagi ia menyeruput kopinya.
"Sabar, Ran. Setahap lagi, jangan terpengaruh dulu sama situasi. Biarin aja si princess bahagia dulu, ketawa-ketawa dulu. Abis ini lo bikin dia hancur."
"Jangan panggil gue Rani, kalau gue nggak bisa bikin dia menderita. Udah terlalu lama dia ketawa-ketawa dan bahagia, sudah saatnya dia berada di posisi gue."
__ADS_1
Rani tertawa-tawa ditelpon, persis orang yang sakit jiwa. Sampai kemudian, kopinya pun habis.
"Udah ya bu Dian, gue mau balik lagi ke atas, ke kantor gue yang tercinta ini." ujar Rani dengan nada yang terdengar meledek.
"Semangat, Ran." ujar Dian.
"Yoi, pasti. Salam sama Cindy." ujar Rani kemudian.
"Sip."
Rani berbalik lalu melangkah, namun ia melihat sesuatu diatas meja yang baru saja ditinggalkan. Ya, sebuah ikat rambut yang tampak tak asing baginya. Rani diam, tak lama kemudian ia pun teringat. Jika ikat rambut itu sering berada di pergelangan tangan Intan.
"Kalau begitu, tadi Intan?"
***
"Ka, selamat bro." Rio menepuk bahu sahabatnya, ketika mereka bertemu di kampus. Mereka saling berpelukan untuk beberapa saat.
"Udeh jadi bapak-bapak beneran lo sekarang." ujar Rio kemudian.
"Gimana mau mundur coba, anak orang udah bunting begitu. Terpaksa lah maju terus."
"Elu sih keenakan, bunting kan anak orang." Rio berseloroh membuat Arka terkekeh.
"By the way, gue happy buat lo bro." ujar Rio lagi.
"Thank you, bro. Gue juga happy, akhirnya anak gue punya bapak di kartu keluarga."
Arka berkata seraya masih tertawa, diikuti tawa Rio.
"Alasannya itu doang kan, lo nikah." canda Rio.
"Amanda udah 8 bulan ya?" tanya Rio.
"Iya, udah turun banget itu perutnya. Kasian gue ngeliatnya, tapi minta dihajar mulu, hampir tiap malem."
Rio terkekeh.
"Selama dia minta mah, hajar aja bro. Biar dia juga tenang, nggak uring-uringan."
"Iya sih, dia lebih happy kalau abis gue hantam."
Lagi-lagi Rio tertawa, mendengar selorohan Arka.
"Bentar lagi gue 22 tahun nih, udah punya anak aja gue. Kembar lagi."
"Rejeki, bro."
Arka menghela nafas.
"Iya sih, sejak ada mereka kayaknya rejeki gue nanjak terus."
"Ya itu namanya rejeki anak." ujar Rio.
"Tapi harus tetep dicari, jangan kayak para bocil kebanyakan. Nikah-nikah doang, berpatokan pada rejeki orang menikah, rejeki anak, tapi kagak berusaha nyari. Terus pengennya lebih, ya mana dapet." ujar Rio lagi.
__ADS_1
"Itu sih namanya halu." timpal Arka seraya tertawa.
"Namanya rejeki orang menikah itu emang ada, rejeki anak itu juga ada. Tuhan nggak akan membiarkan umatnya kelaparan. Tapi kalau mau lebih, ya mencari. Mana bisa berharap doang." lanjutnya lagi.
"Iye, ngarep doang sepanjang hari. Kerja kagak, usaha kagak, rebahan mulu, pengennya kaya raya." timpal Rio.
Keduanya pun kini sama-sama tertawa.
***
Sepulang dari kantor, Rani berjalan ke suatu tempat. Intan memulai lagi kegiatan pengintaian, tak lupa ia mendokumentasikan setiap gerak-gerik Rani yang mencurigakan.
Ia mengikuti kemanapun Rani pergi, dan lagi-lagi wanita itu menemui Amman. Entah apa yang tengah mereka bicarakan kini, karena Intan hanya bisa mengintai dari jauh.
Rani menemui Amman pada sebuah tempat minum, sedang Intan mengintai dari tempat makan yang ada diseberang tempat itu. Amman terlihat sangat dekat dengan Rani, agaknya pria tua itu terkesan dengan kinerja Rani.
Tampak ia memberikan sebuah paper bag yang entah isinya apa, tapi sepertinya itu hadiah untuk Rani. Mungkin semacam reward, karena wanita itu berhasil mewujudkan segala perintah yang Amman berikan.
Intan pun memfoto hal tersebut, tak lupa ia mengirim semuanya ke handphone Amanda. Sebenarnya Amanda sendiri telah mengaktifkan nomornya dan meletakkan handphonenya kembali di lemari. Karena ia takut ada pesan masuk atau apapun ke nomor itu. Namun Amanda belum sempat melihat isinya satu persatu dan lagi handphone tersebut di silent.
Intan terus mengikuti Rani, sampai kemudian tiba-tiba Rani luput dari pandangan matanya. Ia pun lalu mencari, bahkan berlarian dan menoleh kesana sini. Tak ada siapa-siapa, Amman juga tak terlihat lagi didepan matanya.
Intan benar-benar bingung, ia lalu memutar arah. Namun seketika dirinya terdiam, ketika mendapati sosok Rani sudah ada dihadapan matanya.
"Mb, Mbak Rani." ujarnya terbata-bata.
Rani diam, kini muncul dua orang perempuan lainnya yang Intan sendiri tak kenal.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rani pada Intan, nada bicaranya penuh kecurigaan.
"Ya emang kenapa, mbak. Ini kan tempat umum, masa saya nggak boleh berada di tempat umum."
Intan kemudian berlalu meninggalkan tempat itu. Esok harinya di kantor, Rani seakan menebar tatapan sinisnya kepada Intan. Hal itu sangat jelas terlihat, hingga mengundang pertanyaan dari rekan-rekan yang ada disekitar Intan.
"Mbak Rani kenapa, Tan?" tanya salah seorang dari teman satu divisinya.
"Koq ngeliat lo kayak penuh dendam gitu." lanjutnya lagi.
"Mana gue tau, lagi stress kali dia." ujar Intan cuek. Ia tak mau ambil pusing dengan Rani. Toh bukti-bukti kejahatan Rani ada padanya, Rani lah yang seharusnya takut kepadanya.
***
Diwaktu yang sama, Rio menemui Liana untuk yang kesekian kali. Namun untuk kesekian kalinya pula Liana menolak kehadiran pemuda itu.
"Li, dengerin aku dulu." ujar Rio, ketika Liana akhirnya berbalik dan hendak menuju ke kamar.
"Sebaiknya kamu pulang."
"Li, aku kesini datang baik-baik. Aku mau kasih tau, kalau orang yang memperkosa kamu itu sudah tertangkap semuanya."
"Aku sudah tau itu, polisi sudah kasih tau aku. Dan besok aku akan kesana sendirian."
"Li."
"Please, Ri."
__ADS_1
Rio pun akhirnya mengalah. Tak ada gunanya memaksakan kehendak, pada orang yang tidak mau menurunkan sedikit saja ego didalam dirinya. Rio berlalu, menerima segala usahanya yang sia-sia.
Sementara kini Liana menutup pintu kamar, seraya menangis. Matanya memandang ke arah tempat tidur, pada sebuah testpack dengan dua garis merah.