Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Perkenalan (Session 2 episode pertama)


__ADS_3

"Hallo, bu."


Arka video call dengan ibu, ayahnya dan juga Rianti.


"Gimana nak, lancar semuanya?" Ibunya bertanya seraya menahan tangis haru.


"Lancar bu, berkat doa ibu." ujar Arka


"Kamu gimana, Amanda?" tanya Ibu Arka lagi.


"Baik, bu. Semuanya lancar, nggak ada hambatan." ujar Amanda seraya tersenyum.


"Ibu mau lihat cucu ibu?" tanya Amanda kemudian. Lalu Arka mengarahkan kamera pada bayi-bayinya, yang masih tertidur pulas.


"Ya ampun, mas. Mereka lucu-lucu banget." Rianti berteriak heboh. Ibu dan ayah Arka tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca menahan tangis."


"Cepet sembuh ya Amanda, kalau udah siap nanti kasih tau kami. Biar kami bisa kesana."


"Iya, papa sama ibu pengen gendong cucu." ujar Ayah tiri Arka menimpali.


"Kita nggak usah rebutan kan, bu. Bisa satu-satu." lanjutnya lagi. Mereka semua pun tertawa.


Orang tua Arka memang sengaja belum datang kesana, alasannya tentu saja agar Amanda bisa beristirahat dengan baik. Ibu Arka tak mau menjadi sosok mertua yang riweh, disaat kondisi mental menantunya belum lagi stabil.


Hal inilah yang mengundang pertanyaan dari saudara-saudara ibu Arka. Kebetulan tak lama setelah itu, mereka berkumpul untuk sebuah acara arisan keluarga.


"Sih, itu foto cucumu yang dikirim Wulan di grup. Koq nggak pakai bedongan. Cuma pake baju setelan gitu doang, terus dilapisi selimut. Harusnya di bedong kenceng." Salah seorang saudara ibu Arka berujar pada wanita itu.


"Bayi itu nggak perlu di bedong seharian full mbak, yang penting hangat. Kalaupun mau di bedong, ya nggak boleh kenceng-kenceng. Karena itu akan menghambat tumbuh kembang si bayi. Mbak cek aja di situs tanya jawab dokter, banyak koq penjelasannya. Tujuan membedong itu hanya untuk menghangatkan, biar si bayi merasa kayak di rahim ibunya atau dipeluk ibunya. Tapi nggak boleh kenceng dan nggak boleh seharian full juga, bahaya."


"Ntar cucumu kakinya nggak lurus loh bentuknya, kalau nggak di bedong kenceng."


"Bener, nanti bisa X atau O." timpal yang lainnya lagi.


"Mbak, bentuk kaki X atau O pada anak itu tidak ada hubungannya dengan bedong. Nggak ada sama sekali. Faktornya bisa disebabkan karena si anak kekurangan vitamin D, infeksi bakteri pada tulang, kondisi kesehatan tertentu. Mau di bedong sampai 10 lapis pun, nggak akan bikin kaki anak lurus. Kalau memang si anak menderita salah satu faktor penyebab itu tadi."


"Kamu itu ngeyel kalau di omongin, orang jaman dulu itu bener loh kalau ngomong."


"Saya lebih percaya dokter ketimbang orang jaman dulu, mbak. Orang jaman dulu hanya melihat lalu membuat persepsi sendiri dan mengajarkan secara turun temurun. Sementara dokter, memang ada jurnal penelitian yang mereka pelajari."


"Ya terserah kamu deh, kalau masih ngeyel. Kita sih sekedar mengingatkan."


"Sekedar mengingatkan sama ikut campur itu, beda tipis mbak." Wulan, kakak ibu Arka yang sedari tadi diam. Kini membuka suaranya.


"Kadang emang niat dari awal ikut campur dan memaksakan kehendak. Setelah yang bersangkutan menolak, baru deh berlindung dibalik kata "Sekedar Mengingatkan."


Dua saudara ibu Arka yang lain itu pun terdiam, lalu menjauh dari tempat itu. Kini Wulan tersenyum menatap adiknya.


"Wes, ndak usah dipikirin toh, Sih. Anggap aja angin lalu, orang kayak gitu emang suka ikut campur. Hidup rumah tangga anak-anaknya aja masih di recokin sama mereka." ujar Wulan kemudian.


"Orang kayak mbak yu, mbak yu kita itu, mesti di edukasi mbak." ujar ibu Arka kembali.


"Mau di edukasi kayak apa juga, kalau orangnya nggak mau menerima dan merasa dirinya paling benar ya, percuma. Yang penting kita, jangan sampai jadi orang tua atau mertua yang menyebalkan. Kayak mbak Indri tuh, menantunya abis melahirkan cuma dikasih makan tempe bakar tok."

__ADS_1


Wulan menyinggung salah satu sepupu mereka.


"Tidur siang nggak boleh, katanya darahnya nanti naik ke mata terus buta. Ya menantunya kurang gizi, kurang tidur, kurang darah, stress jadinya. Lama kelamaan jadi baby blues karena terlalu di atur-atur dan dibuat runyam. Pas baby blues dibilangnya nggak beriman."


"Menantunya yang mana, mbak?" tanya ibu Arka.


"Itu si Shinta, istrinya Bian, anaknya yang kedua. Kan cerai jadinya sekarang." ujar Wulan.


"Loh, cerai toh?" tanya ibu Arka tak percaya.


"Iya cerai, wong pas kena baby blues itu si Bian malah mendukung ibunya. Marah-marah ke Shinta, bilang kalau Shinta nggak beriman. Terus pas bayi mereka berat badannya nggak naik-naik, sama mbak Indri di jejelin bubur nasi."


"Hah?"


"Iya baru umur sebulan dikasih bubur nasi, Shinta ngadu ke orang tuanya. Orang tuanya ngamuk, di bawalah si Shinta pulang. Si Bian nya malah maki-maki si Shinta, dibilang istri macam apa yang nggak nurut sama suami. Akhirnya Shinta gugat cerai."


"Duh, amit-amit ya mbak." ujar ibu Arka pada Wulan.


"Itulah kenapa perempuan itu mesti disekolahkan, mesti berpengetahuan luas. Karena perempuan itu suka nyolot. Mending dia nyolot tapi tau apa yang dia bicarakan. Nyolot tapi pinter, istilahnya. Daripada udalah ngegas, tapi bodoh. Macam itu kan bodoh, menantu kena baby blues dibilang nggak beriman. Waktu itu sudah tak kasih tau, tak jelaskan, bidan pun menjelaskan kalau baby blues itu memang ada dan nyata. Mau tak bantu ke psikiater si Shinta nya, eh mbak Indri nya mencak-mencak. Saya di marahin."


"Amit-amit deh, mbak. Makanya ini aku belum ada sama sekali jenguk Amanda sama Arka. Aku sama papanya Arka bakalan dateng, kalau mereka bilang sudah siap. Kasian kalau Istirahat orang yang habis melahirkan itu, jadi terganggu karena kita. Soal makan mah, aku bilang ke Arka. Jangan pantang-pantangi istrimu, kecuali dokter yang suruh mantangi. Makan apa yang dia mau, biar air susunya banyak."


"Iya emang harusnya gitu." ujar Wulan kemudian.


***


Dirumah sakit.


"Ka, kamu udah makan?" tanya Amanda pada suaminya.


"Belum nanti aja, kamu dulu yang penting."


Arka memberikan minum pada istrinya. Lalu ia kembali menyuapi wanita itu.


"Dih, kenapa?" Arka bertanya pada salah satu bayi yang melirik kearah ia dan Amanda. Keduanya pun lalu tertawa memperhatikan hal tersebut.


"Ini si Azka melek mulu ya, kerjanya. Kadang tidur aja masih setengah melek." ujar Amanda seraya masih memperhatikan bayinya itu.


"Iya, beda sama saudaranya yang molor mulu." ujar Arka.


"Kenapa dek, kepo kamu ya?" tanya Arka seraya tersenyum. Bayi itu terus menatap ayah dan ibunya.


"Tapi mereka nggak terlalu cengeng ya, Man." ujar Arka kemudian.


"Karena baru lahir kali, Ka. Belum aja, ngamuk."


Keduanya tertawa.


"Tapi mudah-mudahan emang mereka nggak cengeng sih. Pusing aku kalau mereka cengeng."


Arka masih tertawa, Amanda menyelesaikan makannya.


"Kamu makan gih, Ka." ujar Amanda.

__ADS_1


"Iya bentar lagi, masih mau sama kamu, sama mereka." ujar Arka lalu kembali duduk disisi istrinya.


Amanda menyandarkan kepala di dada suaminya itu.


"Ka, makasih ya atas semuanya." ujarnya kemudian.


"Sama-sama, kan kita suami istri. Wajar dong saling bantu."


Arka memeluk dan mencium kening istrinya itu, bayi Azka menoleh dan memperhatikan ayah serta ibunya.


"Iri kamu, ya?" Arka meledek bayinya. Amanda tersenyum seraya ikut menatap bayi itu.


"Gemes ya, Ka. Pengen gendong terus sepanjang waktu."


"Jangan di biasain, nanti kamu yang repot." ujar Arka kemudian.


"Aku sebenarnya juga gemes, pengen aku gendong, aku unyeng-unyeng." lanjut Arka lagi.


"Kamu ada rasa nggak percaya nggak sih, kalau kita udah punya anak?"


"Iyalah, pasti. Ini aja aku kayak mimpi." ujar Arka.


"Tapi kamu nggak apa-apa kan, Ka?"


"Kenapa kamu nanya gitu?"


"Aku takut psikis kamu rusak, punya anak di usia yang segini mudanya."


Amanda berkata seraya tertawa, Arka pun jadi ikutan tak kuasa menahan diri. Pemuda itu juga tertawa mendengar pernyataan istrinya tersebut.


"Ya paling, kamu liat-liatin aja. Kalau aku udah sering ngomong sendiri, ketawa sendiri tuh. Berarti kamu udah harus bawa aku ke psikiater."


Amanda masih tersenyum, ia mengusap dada suaminya itu.


"Kita nggak ada persiapan, ya. Baju mereka pada tinggal dirumah." ujar Amanda.


"Iya, untungnya paket melahirkan yang aku ambil kemaren udah sama pakaian dan perlengkapan bayi selama dirawat. Nggak tau kayak udah feeling aja bakalan kayak gini, eh taunya bener. Untuk nggak berojol dijalan tuh berdua."


"Kalau berojol di jalan mah, aku masih nama Lalu-Lintas, Ka."


"Polisi-Tidur." ujar Arka.


Keduanya kini sama-sama tertawa. Tak lama kemudian Afka bangun dan menangis, disusul oleh tangisan Azka.


"Oeeeeeeek."


"Oeeeeeeek."


Amanda dan Arka terdiam saling menatap satu sama lain, seraya menghela nafas.


"Are you ready?" tanya Amanda.


"Yes." ujar Arka seraya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2