Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Bertemu Anak.


__ADS_3

Ibu dan Ayah Arka tiba dirumah sakit. Tangis mereka pun pecah saat bertemu dengan Arka dan Amanda, yang ternyata telah sadarkan diri. Amanda dan Arka memeluk serta mencium kedua orang tua itu serta bayi-bayi mereka secara bergantian.


Biar bagaimanapun mereka sempat berada di ambang kematian. Yang mana bila saja sudah dikehendaki, maka anak-anak tak berdosa itupun akan tinggal dan tak lagi memiliki ayah serta ibu.


"Maafin mama sama papa ya sayang." ujar Arka pada kedua anaknya. Mereka kini digendong berdekatan.


"Syukurlah kalian sudah baik-baik saja." ujar ibu Arka seraya menyeka air matanya.


"Mereka rewel nggak, bu?" tanya Amanda kemudian.


"Nggak, mereka anak baik. Cuma persediaan ASI nya habis. Ibu jadi minta sama pendonor yang dikirim oleh Rio."


"Yang dikirim sama Rio itu ASI Amanda, bu." ujar Arka.


"Maksudnya?" ibu Arka bingung.


"Kan kalian ini nggak sadar toh?" tanya ibunya lagi, diikuti tatapan sang ayah yang sama bingungnya. Arka dan Amanda saling menatap, lalu mereka pun menceritakan semuanya dengan jujur.


"Owalah, Doni koq tega ya." Ibu Arka begitu terpukul, ketika mengetahui siapa yang telah membuat anak dan menantunya celaka.


"Padahal anaknya kayak anak baik-baik loh itu." Ibu Arka masih tak habis pikir.


"Ya namanya juga manusia, bu." celetuk Rio.


"Kita nggak bisa menilai dari luarnya doang." lanjutnya lagi.


"Hoaaaaa."


Tiba-tiba Azka bersuara diikuti Afka.


"Hoaaaaa."


Mereka saling bersahut-sahutan. Membuat semua yang ada di ruangan tersebut, kini tersenyum.


"Kangen mama ya?"


"Ahaaaa."


"Dih udah bisa ketawa gede. Baru seminggu ditinggalin." ujar Amanda seraya berbicara pada Azka. Sementara Afka berguling di dada ayahnya sambil menghisap jari tangan.


Beberapa saat berlalu, usai mendapat ASI dari Amanda. Azka dan Afka pun dipulangkan kerumah orang tua Arka. Karena baik Arka maupun Amanda masih harus menjalani perawatan beberapa hari kedepan.


Dan lagi sebenarnya bayi-bayi sangat dilarang untuk berkunjung ke rumah sakit, mengingat mereka masih rentan terkena penyakit. Sementara rumah sakit adalah gudangnya penyakit itu sendiri. Kedatangan mereka hari ini saja, sejatinya sebuah pengecualian yang sangat-sangat sulit di urus perizinannya.


Sejak hari itu, hampir setiap hari ibu Arka datang meski tak bersama para bayi. Hingga tibalah saatnya mereka untuk pulang. Arka sengaja tak menyuruh orang tuanya datang hari itu, mereka janjian saja untuk bertemu di penthouse. Arka dan Amanda pulang kesana, ibunya dan Rianti membawa si kembar kesana pula. Sedang sang ayah harus bekerja.


Arka dijemput oleh Rio dan pak Darwis, hari itu Nino, Nadine, Ansel dan Intan datang untuk membantu mereka berkemas.


Ketika semua telah selesai, Arka dan Amanda berpamitan dengan dokter dan juga para perawat yang telah membantu merawat mereka selama beberapa hari ini. Mereka lalu menuju ke lobi. Sesampainya disana, mereka pun bersiap menunggu pak Darwis.


Sambil menunggu, mereka berbincang. Namun tak lama kemudian mata Arka menangkap sesuatu. Ya, seorang laki-laki tua berdiri disuatu sudut dan tampak tengah memperhatikannya. Seketika Arka pun berlarian, laki-laki itu lalu berpaling dan menjauh.


"Wait." ujarnya kemudian. Laki-laki itu tetap berjalan.


"Dad, wait...!"


Laki-laki yang tiada lain adalah Ryan itupun seketika menghentikan langkahnya. Ia terpaku dengan tubuh yang gemetaran. Nino sempat bercerita padanya, jika Amanda dan Arka sebenarnya sudah bangun di hari ketiga.


Sedang dirinya selalu datang setiap hari dan berbicara pada Arka, meskipun Arka tak menjawab. Ia tidak tahu jika Arka telah sadar, sampai kemarin Nino memberitahukan hal tersebut.


Ryan sangat terkejut, Nino menangkap hal lain dari ekspresi wajah ayahnya itu. Nino pun mendesak ayahnya untuk jujur, tentang siapa sesungguhnya Arka. Ryan pun mengatakan hal yang sebenarnya pada Nino, Nino lalu menceritakan hal tersebut pada Ansel.


"Dad."


Ryan menoleh perlahan, ia sudah pasrah jika Arka ingin memaki dirinya. Pada saat yang bersamaan, Amanda, Nino, Ansel, Rio, Intan dan Nadine telah tiba. Mereka mengintip dari balik mobil yang terparkir di halaman rumah sakit.


"Minggir dikit." ujar Rio.


"Sanaan." ujar Intan.


"Nino, sakit." Amanda protes pada Nino yang menggeser tubuhnya. Mereka berebut untuk melihat adegan tersebut.


"Sssst." ujar Ansel menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Mereka kembali tenang lalu memperhatikan Ryan dan Arka.


"Arka, I am sorry."


Ryan berkata seraya menatap puteranya itu. Sementara mata mereka kini berkaca-kaca menahan tangis. Tak lama kemudian ia pun menghampiri Arka dan memeluknya. Isak tangis keduanya pun pecah, Arka menerima pelukan itu.


"I am sorry, Arka. I am so sorry."

__ADS_1


"Why you leave me?" ujar Arka masih dengan tangis yang terisak.


"Why you leave me, dad."


"Arka, pelase. Bisa kan kamu tunda dulu segala pertanyaan dan kemarahan kamu selama ini?. Kasih daddy waktu untu memeluk kamu tanpa kamu bicara."


Arka diam, ia makin erat memeluk ayahnya itu. Apapun yang pernah Ryan perbuat atas dirinya dan juga sang ibu, Ryan tetaplah ayah kandungnya. Arka tak bisa mengingkari hal tersebut.


Meskipun mungkin ibunya akan marah bila melihat hal ini, namun Arka hanya ingin memeluk ayahnya itu barang sejenak.


"Gubrak."


Tiba-tiba Amanda dan yang lainnya jatuh mengenaskan, karena saling bertumpuk satu sama lain.


"Nino, sakit."


"Plaaak." Amanda memukul lengan Nino.


"Koq jadi aku sih, orang Ansel yang dorong."


"Plaaak."


Amanda dan Nino memukul Ansel.


"Lah koq gue, nih Amanda adik ipar durhaka ini mukul-mukul kakaknya. Orang Rio yang salah." Ansel tak kalah sewot.


"Enak aja bukan gue, nih Intan sama Nadine nih. Body mini Cooper tenaga truck kontainer."


Rio siap melayangkan pukulannya terhadap kedua gadis itu.


"Eh, lo cowok. Nggak bisa mukul kita."


"Heee, liat aja ntar gue suruh emak gue buat mukul lo berdua." ujar Rio kesal.


Arka menatap mereka, lalu kembali melihat ke arah Ryan yang sudah melepaskan pelukannya.


"Nino sama Ansel sudah tau." ujar Ryan kemudian. Arka kembali menoleh pada mereka.


"Hai, suami." ujar Amanda.


"Hai, brother." ujar Nino dan Ansel sambil nyengir.


"Hai, calon ipar." ujar Intan dan Nadine di waktu bersamaan.


Arka tersenyum, ia kembali menatap Ryan. Lalu mereka pun kembali berpelukan.


"Ya udah, daddy kan punya anak lain. Arka aja yang dijodohkan sama anak temen daddy itu."


Ansel berujar sambil nyengir, ketika Arka dan Ryan akhirnya mendekat ke arah mereka. Namun sarannya tersebut malah membuat ia dihujani tatapan tajam, terutama oleh Amanda.


"So, sorry Amanda. Gue lupa kalian udah nikah, soalnya gue nggak dateng. Nggak makan rendang yang salah ambil, tau-tau jahe."


"Lengkuas." ujar mereka semua seraya masih ingin menelan Ansel.


"Iya, lengkuas atau apapun itu."


"Hmmm." Amanda menjewer telinga Ansel, pria itu mengaduh kesakitan. Sementara yang lain kini tertawa.


"Ampun Amanda, dosa Amanda. Ini kakaknya Arka ini."


"Bodo amat, kita seumuran." ujar Amanda.


"Lebih tua aku dong dikit."


"Bodo amat." ujar Amanda lagi.


"Kamu akan tetap daddy jodohkan, Ansel."


Perkataan Ryan tersebut membuat semua orang yang ada disitu terdiam.


"Atau Nino, ya?"


Ryan sengaja ingin mengerjai anak-anaknya.


"Jangan, dad. Intan hamil." ujar Ansel kemudian. Intan yang terkejut mendengar hal itupun langsung menggelengkan kepalanya.


"Nggak." ujar intan.


Ryan, Arka dan Amanda menatap mereka.

__ADS_1


"Sama dad, Nadine juga hamil. Tuh liat perutnya." Nino mengelus perut Nadine.


"Nggak." ujar Nadine panik.


"Udah sayang ngaku aja kalau kamu hamil, nggak apa-apa."


"Apaaa, anak saya hamil?"


Tiba-tiba seseorang muncul didekat mereka.


"Ma, mamaaa?" teriak Nadine tak percaya. Ia ingat hari ini ibunya ada jadwal medical checkup.


"Kurang ajar kamu sudah menghamili anak saya." Ibu Nadine memukul Nino, membuat semua orang yang ada disana menjadi bingung dan berusaha memisahkan. Namun tidak dengan Ryan, ia malah tampak tenang-tenang saja.


"Tante, ampun. Saya bercanda, tante."


"Bercanda kamu bilang, siapa orang tua kamu?"


"Saya bu." Ryan menjawab seraya menatap ibu Nadine.


"Anda oang tuanya?. Gimana ini, pak. Anaknya menghamili anak saya."


"Ya sudah, nikahkan saja mereka."


Nino dan Nadine terkejut mendengar pernyataan tersebut.


"Dad, Nino belum mau nikah tahun ini."


"Nadine juga, ma. Masih mau happy-happy sama temen."


"Happy-happy gimana, udah melendung begitu."


"Masih rata, ma."


"Ya tapi nanti itu membesar pasti."


"Maksudnya Nadine nggak hamil."


"Ayo kalian berdua ikut." Paksa ibu Nadine.


"Dad."


"Bawa aja, bu. Nanti saya kerumah kalian untuk datang bersama yang lain."


"Daddy, Nino belum mau nikah sekarang. Ansel tolongin gue, Arkaaa."


Ansel dan Arka bukan tak mau menolong, namun ibu Nadine sudah dalam mode kesalahpahaman yang tinggi.


"Dad, kenapa nggak dibantu?" tanya Arka kemudian.


"Biarin aja, daddy udah lama nggak bercanda dengan anak-anak."


Arka dan Amanda saling bersitatap.


"Dia emang gitu, bercandanya suka keterlaluan." bisik Ansel ditelinga Arka.


"Ngomong apa kamu, Ansel?" tanya Ryan pada Ansel.


"Hehehe, bye dad. By Arka, Amanda."


"Tuing."


Ansel membawa Intan lari dari hadapan ayahnya, sebelum bernasib sama dengan Nino.


"Ya sudah, daddy mau menyusul Nino dulu. Kalau ada apa-apa, kabarin daddy." ujar Ryan kemudian.


Ryan memeluk Arka dan Amanda bergantian, lalu kini ia pun menyusul Nino. Yang sudah dekat ke mobil ibu Nadine.


"Tau nggak, Man." tiba-tiba Rio mendekat.


"Kenapa?" tanya Amanda.


"Tadinya gue pikir dia naksir Arka tau, ternyata bapaknya Arka."


Kali ini mereka bertiga tertawa.


"Ya udah, buruan yuk. Pak Darwis nunggu noh." ujar Amanda.


Tak lama mereka bertiga pun masuk ke mobil dan menuju ke penthouse.

__ADS_1


__ADS_2