
"Ini lagi ya say, mimin kasih bukti. Bahwa sebabang Keenan Arka, emang fix di keep sama si tante."
Sebuah foto yang menunjukkan kebersamaan Arka dan juga Amanda, kembali diunggah oleh admin sebuah akun gosip. Hal tersebut tentu saja mengundang perhatian dari para netizen yang haus akan pekerjaan.
Dengan kekuatan rebahan dan kuota ketengan, mereka kini melontarkan komentar jahat kepada Arka dan juga Amanda.
"@riaria1226 Duh nggak nyangka banget asli, gila. Semuda itu mau sama tante-tante.
"@zefanya21 eh mbak @riaria1226 tante-tante nya jauh lebih cakep ketimbang situ. Anak SMA koq muka kayak nenek-nenek.
@Joanaandita12 tau nih, @riaria1226 kayak lo cakep aja, anjir. Muka lo aja kayak emak-emak. Kalah sama @amandacelia.
"@robyanto_ mantap bro @keenanarka ng*we mulu kali lo ya. Sama si @amandacelia. Kasih videonya, bro ke kita.
"@andhikahartono bro @robyanto_ kagak mampu download sendiri apa lo?. Kenapa nggak lo aja buat sendiri sama cewek lo, mesum nggak modal lo.
"@meilanifaradila sabar ya @keenanarka dan @amandacelia masih banyak koq yang mendukung kalian.
"@paramitharamadhani selalu mendukung kamu, apapun yang terjadi @keenanarka.
@nanananina jangan patah semangat, abaikan netijen yang sok suci @keenanarka
Puluhan, ratusan, bahkan ribuan komentar kini memenuhi foto terebut. Tentu saja ini membuat girang si empunya akun gosip. Karena semakin banyak yang berkomentar, semakin banyak pula yang perhatian pada akun yang dimilikinya.
Semakin besar kesempatan akun tersebut untuk mendapatkan endorse. Sementara netijen, mendapatkan kepuasan semu. Puas menghujat orang lain, tapi yang dapat endorse dan duit hanya akun gosipnya saja. Netijennya sendiri menabung dosa untuk membeli tiket ke neraka.
***
"Man, kayaknya kita perlu menemui papa kamu deh." ujar Arka ketika ia telah bangun dari tidurnya yang lelap.
"Ngapain nemuin dia?" tanya Amanda pada suaminya itu.
"Kayak yang Nino bilang tempo hari, pernikahan kita itu belum dapat restu dari dia. Mungkin aja, itu yang jadi penyebab rumah tangga kita jadi banyak masalah."
Amanda menghela nafas.
"Ka, aku tau kamu masih sangat muda. Tapi bukan berarti pikiran kamu mesti bocil juga, nggak ada hubungannya ini semua sama dia. Lagian juga kita dateng, belum tentu diterima."
"Ya nggak apa-apa nggak diterima, yang penting kita udah dateng dan minta sama dia."
Amanda menghela nafas sekali lagi dan menatap suaminya itu.
"Ya udah, kalau emang itu mau kamu. Besok atau lusa kita temui dia."
Arka tersenyum lalu memeluk istrinya.
"Makasih ya, Firman sayang." ujarnya lalu membawa Amanda ke atas tubuhnya yang tengah berbaring.
"Makasih juga tadi, udah bikin yang bawah nyembur banyak banget."
Amanda tertawa.
"Enak?" tanya nya kemudian.
"Enak lah, mana pernah nggak enak sama kamu." ujar Arka.
Amanda lalu mencium suaminya itu dan begitupun sebaliknya.
"Hoaaaa."
Tak lama kemudian terdengar suara salah satu bayi mereka.
"Man, bawa mereka kesini dong. Pengen maen sama mereka." ujar Arka kemudian.
"Ya udah, tunggu ya." Amanda lalu pergi ke kamar bayinya dan membawa mereka ke tempat dimana Arka kini berbaring.
"Nih, ini papa. Ini anak bau, tadi abis e'ek ya. Anak bau ini, bau, bau, bau."
"Eheee." Azka tertawa.
Amanda menyerahkan Azka pada suaminya, Arka memeluk serta mencium bayinya itu.
Tak lama Afka pun juga dibawa oleh Amanda, lalu Arka bercengkrama dengan keduanya.
"Ini anak papa Arka, ini juga anak papa Arka."
__ADS_1
Arka mencium bayi-bayinya sambil sedikit menggelitik mereka. Kedua bayi itu pun tertawa-tawa.
"Ini nanti mau jadi apa besarnya?"
Arka terus mencium gemas anak-anak itu, sementara Amanda tersenyum melihat kedekatan diantara mereka.
"Ini mau jadi filmaker, animator, atau gamer pro?"
"Hoaaaa."
"Eheeee."
Kedua bayi berceloteh dan tertawa.
"Mau jadi atlet taekwondo ya dek, ya. Biar kayak Joe Taslim ya." ujar Amanda pada kedua bayinya.
"Biar bisa jadi the next sub zero ya?" ujar Arka.
Kedua bayi itu terus berceloteh dan tertawa, Arka sama Amanda pun lupa total dengan masalah yang kini menghadang didepan mereka.
Kedua anak itu bagaikan sumber kekuatan, yang membuat mereka merasa jika masalah yang kini muncul tidaklah begitu berarti. Mereka terus bercengkrama, hingga tawa memenuhi ruangan itu.
Esok harinya, Amanda mengajak Arka untuk menemui Amman. Ia tak ingin menunda lagi, agar Arka juga tak melulu membicarakan hal ini dihadapannya.
Meski sesungguhnya ia amat sangat sungkan bertemu dengan ayahnya itu, tapi demi Arka apapun ia lakukan. Ia ingin suaminya itu bisa merasa sedikit lega dan tak terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri.
***
"Untuk apa kalian datang kesini?" tanya Amman dengan nada yang tak begitu mengenakkan telinga. Amanda dan Arka menemuinya di kediaman Amman.
"Pak Amman, saya datang kesini karena saya rasa kita perlu bicara."
"Iya, soal apa?" tanya Amman seraya menoleh pada menantunya itu.
"Saya menikah dengan Amanda tanpa persetujuan bapak, tanpa meminta terlebih dahulu."
"And then?"
"Saya kesini, ingin meminta restu dari bapak."
Ia meletakkan gelas berisi wine yang semula berada di tangannya ke atas meja kerja, lalu menatap menantunya itu dalam-dalam.
"Restu kamu bilang?"
"Iya." jawab Arka sambil menatap Amman.
"Plaaaak."
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Arka. Arka terkejut, begitupula dengan Amanda yang berdiri disisi suaminya.
"Paaa." ujar Amanda kemudian.
Sementara Arka berusaha mengatur nafas agar tak menjadi emosi. Sekalipun ia bisa saja melawan, namun Amman tetaplah ayah mertuanya. Orang tua kandung dari istrinya.
"Kamu sudah mengambil anak saya dengan cara yang memalukan, kamu dibayar oleh dia. Sekarang kamu minta restu dari saya."
"Paaa." Amanda kini setengah berteriak pada ayahnya, ia ingin ayahnya itu segera berhenti.
"Restu seperti apa yang kamu minta dari saya?. Kamu sendiri nggak punya apa-apa, saya yakin sampai sekarang pun kamu hidup masih ditanggung Amanda."
"Pa, jaga bicara papa."
"Kamu yang tutup mulut, Amanda."
"Dia kerja, pa."
"Berapa sih penghasilan kamu?. Mana cukup untuk kamu membahagiakan anak saya."
"Lantas, apa papa berani menjamin kebahagiaan saya. Kalau saya menikah sama orang lain?"
Kali ini Amanda sedikit mendekat pada ayahnya, ia benar-benar sudah tidak tahan pada sikap Amman yang terlalu memojokkan suaminya.
"Kalau ada uang, semuanya pasti mudah."
"Hidup papa sendiri gimana?. Apa papa udah bahagia?"
__ADS_1
"Yes, I'm happy. Karena saya punya banyak uang."
"Kami juga punya uang, walau nggak sebanyak uang papa. Tapi kami juga punya keluarga, kasih sayang, dan cinta. Dan papa nggak memiliki semua itu."
"I don't need love."
"Oh ya?. Papa pikir sejauh apa uang bisa memberikan papa kesenangan?"
Amanda menatap lantang ayahnya itu.
"Hidup saya jauh lebih mudah dengan uang."
"And after that, ketika papa kembali kerumah dan tidur didalam kamar?. Pernah papa berfikir atau sadar, kalau hidup papa cuma begitu-begitu saja setiap hari?"
"Saya menikmatinya."
"Dan saya tidak mau hidup seperti papa, hidup bergelimang harta tapi tidak memiliki cinta. Saya mau hidup dicintai dan dilindungi, disayangi."
"Laki-laki lain yang kaya bisa memberi kamu kebahagiaan lebih."
"Dengan cara apa?. Membelikan saya barang mewah?. Tas mahal, sepatu puluhan juta, perhiasan milyaran?"
"Ya, maybe."
"Saat saya sedang sedih, butuh diperhatikan, butuh di peluk, dimengerti. Bisa barang-barang itu menolong saya?"
Amanda beralih ke dekat barisan botol wine yang dimiliki Amman.
"Wine ini, bisa menolong papa saat papa sedang butuh berbicara. Atas masalah yang papa hadapi?"
"Wine itu memberi ketenangan bagi saya."
"Lantas setelah itu?"
Kali ini Amman sedikit terdiam, ia baru saja hendak berujar ketika Amanda kembali mencecarnya.
"Apa sih yang papa cari?. Mau kekayaan yang sebesar apa lagi, sampai suami saya pun diharuskan untuk menjadi kaya-raya. Untuk apaaa?" teriaknya.
"Amanda, jaga nada bicara kamu." ujar Arka masih mengingatkan istrinya. Namun Amanda sudah kepalang kesal dengan Amman.
"Supaya papa bangga memiliki menantu kaya-raya?. Untuk apa?. Kalau saya punya suami kaya raya, untungnya buat papa apa?. Supaya bisa bekerjasama dengan perusahaan papa, kalau seandainya dia punya perusahaan?. Supaya papa bisa berkoalisi lebih banyak dan menjadi lebih kuat?. Untuk apa?"
Amman menarik nafas dan siap menjawab, namun lagi-lagi puterinya itu berucap sebelum ia sempat berkata-kata.
"Papa pikir papa bisa hidup berapa lama lagi, usia papa udah 60 an lebih sekarang. Bisa aja besok atau lusa papa mati."
"Kamu nyumpahin orang tua mati?"
Amman bersiap menampar Amanda, namun dengan sigap Arka menjadi tameng istrinya itu, hingga niat Amman pun seketika terhenti.
"Kekayaan sebesar apapun, nggak dibawa mati." ujar Amanda lagi.
"Pergi dari sini...!" ujar Amman kemudian.
"Ayo Ka, kita pergi. Percuma ngomong sama orang kepala batu kayak dia.
"Kamu yang kepala batu."
Amanda meraih gelas wine Amman yang terletak di atas meja dengan cepat, lalu.
"Praaang." Ia membanting gelas tersebut hingga pecah.
"Amanda."
Arka menarik istrinya, tak lama Amanda pun berjalan. Arka mengikuti langkah istrinya itu, dimuka pintu mereka menemukan Maureen yang tengah berdiri. Tampaknya gadis itu telah menguping semua pembicaraan tadi.
Amanda menghentikan langkah di depan Maureen, sedang Arka merasa terkejut dengan kehadiran mantan kekasihnya itu.
"Gue yakin gosip yang sedang berkembang saat ini adalah ulah lo. Sampe gue punya bukti, gue pecahin kepala lo. Dasar anak palsu." teriak Amanda.
"Bisa-bisanya bapak gue percaya kalau lo anaknya, sementara dia bisa melakukan tes DNA." lanjutnya lagi.
Wajah Maureen terlihat pucat, Amanda kemudian berlalu. Diikuti Arka yang masih tak mengerti.
"Pa, papa masih percaya Maureen kan?" tanya Maureen pada Amman yang kini mendekat ke arahnya. Masalahnya tadi Amman sempat mendengar ucapan Amanda, mengenai tes DNA.
__ADS_1
"Papa percaya kamu koq." Amman membelai kepala anak palsunya itu, seraya memberikan senyuman yang sama palsunya.