Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Bagaimana Ini


__ADS_3

Ryan menyusul Arka masuk ke dalam mobil, kini mereka berdua sama-sama terdiam. Mereka pun teringat pada peristiwa beberapa saat yang lalu. Saat keduanya bertemu dengan Ningsih, ibu Arka.


"E, bu. Ibu mau kemana?" tanya Arka, sesaat setelah ibunya pura-pura berkenalan dengan Ryan dan begitupula sebaliknya.


"Ibu mau belanja, ini lagi nunggu teman ibu. Kamu sendiri mau kemana habis ini?"


Arka masih kerja, bu." ujar Arka lagi.


"Oh ya sudah, kamu hati-hati ya dijalan."


"Ibu nggak apa-apa, Arka tinggal sendirian."


"Nggak apa-apa, ibu kan janjian sama teman ibu. Bentar lagi mereka datang koq."


"Oh, ok." Arka tersenyum pada ibunya.


"Kalau gitu, Arka jalan dulu ya bu." ujarnya lagi.


Arka mencium tangan ibunya.


"Baik, hati-hati dijalan nak."


"Iya, bu. Permisi pak, Ryan."


Arka memberikan lirikan pada ayahnya itu, sebelum akhirnya ia menjauh dan masuk ke sebuah mobil. Ibu Arka tak curiga, jika itu adalah mobil Ryan. Sebab Arka pun kerap gonta-ganti mobil, karena Amanda sendiri memiliki beberapa koleksi kendaraan roda empat tersebut.


Ibu Arka sendiri tidak hafal dengan jenis serta warna dari mobil yang dimiliki menantunya itu. Jadi ia pikir, Arka menaiki mobil Amanda. Kini, hanya sisa ia dan Ryan lagi yang berdiri ditempat itu. Ibu Arka yang tadinya berpura-pura ramah pada Ryan dihadapan sang putera, kini berbalik menatap Ryan seakan Ryan adalah musuh bebuyutannya.


"Jangan pernah coba-coba mengatakan apapun terhadap anak itu." Ibu Arka mengancam Ryan."


"Kenapa, dia anakku." ujar Ryan kemudian.


"Dia bukan anak kamu, dia anak suamiku yang sekarang."


Ryan hanya tertawa kecil.


"Aku bisa melakukan tes DNA. Tapi aku rasa itu tidak perlu, karena fisik dan wajahnya sudah menjelaskan semuanya."


"Jangan pernah coba-coba, kamu." ancam ibu Arka lagi.


"Well, aku nggak akan bilang apapun ke dia. Jadi nggak usah khawatir."


Ibu Arka pergi meninggalkan Ryan, Ryan pun berjalan lalu ikut masuk ke dalam mobil. Dan kini baik Arka maupun dirinya sama-sama terdiam.


"Are you ok?" tanya Ryan setelah beberapa detik berlalu. Arka mengangguk lalu menatap sekilas ke arah ayahnya itu.


"Apa Arka jahat?" tanya pemuda itu pada Ryan. Ryan sendiri hanya diam. Ia dan Arka sadar jika mereka telah tega membohongi Ningsih, ibu Arka.


Tapi mau bagaimana lagi, tak ada pilihan lain saat ini. Arka tak ingin melukai hati ibunya itu, namun ia juga ingin berada di dekat Ryan. Keduanya adalah orang tua kandung Arka, Arka tak mungkin mengabaikan salah satu diantaranya. Terlepas apapun masalah kedua orangtuanya itu dimasa lalu. Sebagai anak, Arka hanya ingin berada dekat dengan mereka.

__ADS_1


"Kamu nggak jahat, kita hanya butuh waktu untuk ngomong dengan ibu kamu."


Arka mengangguk perlahan, lalu menghidupkan mesin mobil. Tak lama setelahnya, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.


Ryan mengajak Arka pergi ke sebuah hall, tempat dimana pelelangan diadakan. Arka sendiri belum pernah menghadiri acara semacam itu. Karena biasanya acara tersebut, hanya diikuti oleh orang-orang berduit seperti ayahnya.


"Come on." ujar Ryan ketika mereka telah keluar dari dalam mobil. Arka hanya mengekor saja, mengikuti langkah ayahnya itu.


"Ryan."


Seorang wanita yang mirip ahjuma-ahjuma dalam drama Korea pun, datang menghampiri Ryan dan juga Arka.


"Grace."


Ryan cipika-cipiki dengan wanita itu, Arka berdiri saja sambil memperhatikan.


"And this?"


"My son." ujar Ryan lalu tersenyum.


"Another son from another mother?"


Wanita itu agaknya sudah tau tabiat Ryan.


"Ya." ujar Ryan seraya tertawa kecil.


"Seperti kamu waktu muda, right?"


***


Ansel curhat jika Intan belum mau diajak menikah, padahal Ansel sudah berniat melamar gadis itu. Ia mengatakan pada Amanda, jika Intan terkesan masih tak serius dengan hubungan ini.


Ansel yang selama ini selalu dikejar wanita pun, tiba-tiba menjadi ambyar. Katanya baru kali ini, ada wanita yang bisa memporak-porandakan hatinya sebegitu besar.


"Mungkin Intan sedang mempertimbangkan sesuatu, sabar aja dulu." ujar Amanda mencoba menghibur Ansel.


"Aku cuma takut dia punya yang baru, dan lebih memilih yang itu ketimbang aku. Aku sayang, aku cinta sama dia."


Amanda tersenyum, ia suka melihat pemandangan seperti ini. Ketika seorang laki-laki menjadi bucin setengah mati pada kekasihnya.


"Makanya kamu, mulai hari ini bersikap lebih baik lagi sama Intan. Lebih perhatian, lebih lembut, lebih semuanya. Supaya dia memilih kamu."


"Memangnya benar, Intan punya yang lain?" Wajah Ansel terlihat panik. Amanda menahan tawa.


"Nggak, setahu aku Intan nggak gitu orangnya. Cuma mungkin, dia lagi banyak pertimbangan. Intan itu kan masih kuliah juga, ada kakaknya perempuan belum menikah. Di sini nggak bisa main nikah-nikah aja, kalau punya kakak yang belum menikah. Harus izin dulu sama kakaknya."


"Kenapa harus izin dulu?"


"Di negara ini ada mitos, kalau adiknya menikah duluan. Nanti jodoh kakaknya akan lambat datang."

__ADS_1


"Arka menikah duluan, aku sama Nino baik-baik aja. Lagian itu kan sejenis anggapan, anggapan itu bisa jadi doa kalau dipercayai. Ya walaupun aku saat ini belum beragama."


"Nah itu dia mungkin yang jadi pertimbangan Intan juga, kamu belum beragama. Menikah disini itu harus memiliki agama. Biar bisa ditentukan, mau menikah dengan cara agama apa."


"Jadi begitu?. Aku harus menganut agama dulu?"


"Iya, harus sama dengan agama pasangan."


"Kalau berbeda?"


"Akan sulit."


"Oh, ok. Berarti aku harus beragama dulu, aku bisa belajar dimana?"


"Nanti aku antar kamu ketempat yang bisa ngajarin kamu agama."


Ansel mengangguk.


"Tapi soal kakaknya yang belum menikah itu bagaimana?. Apa aku menikahi kakaknya saja?"


Amanda terbahak-bahak kali ini.


"Nggak gitu konsepnya." ujar Amanda kemudian.


"Terus?"


"Ya, itu sudah menjadi anggapan turun-temurun. Jadi agak sulit untuk dihilangkan. Sebuah anggapan kalau di percayai ya akan jadi kenyataan, karena percaya itu sama dengan doa. Sudah susah merubah mindset orang sini tentang hal itu. Walaupun sebenarnya jodoh itu datangnya nggak tau, mau kita duluan atau saudara kita yang duluan."


"Jadi aku harus nunggu sampai kakaknya Intan menikah. Kalau kakaknya Intan memutuskan nggak mau menikah, kayak cewek-cewek di negaraku. Karena mau hidup sendiri, bagaimana?"


Lagi dan lagi Amanda tertawa.


"Kalian bisa minta izin koq. Izin sama orang tuanya Intan, izin sama kakaknya. Yang penting ada omongan, kalau kakaknya mengizinkan ya kalian nikah."


"Kalau nggak?"


"Berarti kakaknya Intan bukan orang baik. Karena setiap orang dewasa itu berhak menikah, kalau dia mau. Tidak boleh ada yang menghalang-halangi niat baik seseorang. Apalagi menikah itu kan ibadah, jadi tidak boleh ada yang menghalangi. Kecuali si perempuan mau menikah dengan orang jahat yang belum berubah, aku yang terdepan yang akan menghalangi."


Amanda menahan senyum, ia teringat betapa dulu ia enggan menikah dan jijik jika membicarakan perihal pernikahan. Kini ia malah menjadi mentor bagi Ansel.


"Ya sudah, kamu mau bantu aku kan?" tanya Ansel lagi.


"Pasti, aku pasti bantu. Kamu mau bagaimana dulu?"


"Menurut kamu bagaimana baiknya?" Aku nggak ngerti banyak tradisi orang disini.


"Begini saja, kamu bicara sama orang tua, kakak dan juga Intan sendiri. Cobalah untuk datang kesana dan sampaikan maksud. Bahwa kamu mau menikahi Intan, tapi kamu mau belajar agama dulu beberapa waktu kedepan. Jadi selama kamu belajar, biarin mereka berfikir."


Ansel mengangguk-anggukan kepalanya.

__ADS_1


"Ok." jawabnya kemudian.


__ADS_2