Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Amara


__ADS_3

Baru saja Amman memasang seat belt, Amanda sudah menjalankan mobil yang ia kemudikan dengan sangat cepat. Amman yang sejatinya terkejut itu pun, berusaha keras untuk bersikap cool didepan anaknya.


Ia hanya berpegang pala holder atas dan mencoba untuk menunjukkan ekspresi wajah yang biasa saja. Namun sesekali ia melirik ke arah puterinya, yang tengah berkonsentrasi dalam mengemudi itu.


"Amanda, fokus. Hati-hati...!"


Amanda terus melihat ke depan.


"Tiiiiin." Seseorang menekan klakson dengan keras.


"****..." Amanda mengumpat, lalu membawa mobil itu agak ke kiri. Ia kini lanjut berjalan.


"Tiiiiin."


Gantian ia mengklakson orang dengan kencang. Ia selalu saja menggerutu kesal apabila jalanan di dominasi oleh pemotor, tak lama Arka menelpon. Amanda mengaktifkan load speaker, agar ia tetap bisa mengemudi tanpa harus memegang handphone.


"Amanda kamu dimana?" tanya Arka.


"Masih dijalan, Ka."


"Agak buruan ya, ini udah pembukaan tujuh. Kayaknya dia cepet deh, takut keburu berojol."


"Koq bisa secepat itu?"


"Nggak tau, mungkin dia udah mulai pembukaan dari tadi. Sebelum kita dateng."


"Oh, ok, ok. Tunggu...!"


Amanda makin mempercepat laju kendaraannya.


"Amanda pembukaan itu apa?"


Amman mempertanyakan ketidaktahuannya pada Amanda, Amanda sendiri terkejut.


"Emangnya papa nggak tau?" tanya Amanda seraya menoleh sejenak, lalu kembali memperhatikan jalanan. Amman menggeleng.


"Pas aku lahir, emang nggak ada?"


Lagi-lagi Amman menggeleng.


"Itu, pembukaan itu. Itunya yang terbuka."


"Itu apanya?"


"Ya itu nya."


"Ya apanya?"


"Ntar dulu deh, ntar juga liat sendiri."

__ADS_1


Amanda karena diburu-buru waktu, ia tak mampu untuk memberikan jawaban. Padahal sejatinya ia bisa menyebut "Jalan lahir." atau apapun itu yang bisa menjelaskan. Namun karena ingin cepat sampai, pikirannya seolah mampet. Kini ia hanya terus fokus ke jalan.


"Tiiiiin." lagi-lagi ia menghidupkan klakson, karena merasa ada yang menghalangi jalan.


Tak lama Arka pun menelpon lagi.


"Amanda dimana?"


"Ya sabar dulu, Ka. Ini lagi dijalan."


"Tiiiiin."


Seseorang mengklakson dari belakang, karena mobil tersebut nyaris menabrak mereka. Amanda terkejut dan membanting stir ke kiri. Ia kini berhenti di bahu jalan, dengan nafas yang tersengal-sengal. Amman pun sama paniknya, namun ia berusaha stay cool.


"Pindah." ujar Amman kemudian.


Amanda tercengang, ia masih blank untuk mengerti ucapan ayahnya. Rasa panik dan cemas yang ia rasakan belum hilang.


"Pindah kesini." ujar Amman lagi.


Pria tua itu lalu keluar dari dalam mobil, dan bergerak ke arah sisi kemudi. Amanda terpaksa pindah ke sebelah, Amman kini masuk lalu menghidupkan mesin.


"Wow, woooow. Awas, pa."


Amanda berujar dengan nada panik, ketika Amman mulai memperlihatkan kemampuannya dalam mengemudikan.


"Minggir...!"


"Woooooow."


"Ambil kanan, pa. Awas nyenggol motor."


Amanda sama dengan perempuan lain pada umumnya. Ketika mereka ngebut, mereka santai saja. Namun ketika dibawa ngebut oleh orang lain, entah itu naik mobil atau motor. Mereka akan auto panik dan mengoceh sepanjang jalan.


Amman terus mengemudi dengan tenang dan berkonsentrasi penuh terhadap jalanan. Tidak seperti Amanda yang cukup berisik dan penuh emosi ketika ia mengemudi tadi.


"Ini kerumah sakit mana?" tanya Amman kemudian.


"Oh, iya."


Amanda lalu menelpon Arka dan menanyakan di rumah sakit mana, ia dan Nino membawa Vera. Setelah didapat informasi mengenai tempat tersebut, Amman pun mengarahkan kendaraannya kesana.


"Pa, awas. Pa."


Amman tertawa renyah. Hal yang belum pernah dilihat oleh Amanda seumur hidupnya. Ia terdiam cukup lama memperhatikan pria tua itu. Mereka menyusuri jalan demi jalan, dan dalam waktu singkat mereka sudah mencapai rumah sakit yang dimaksud. Amman dan Amanda buru-buru keluar dari dalam mobil dan langsung menuju ke lobi.


"Amanda ruangannya dimana?"


"Bentar, aku tanya Arka dulu."

__ADS_1


Amanda segera menelpon suaminya dan juga bertanya pada bagian informasi, dimana letak ruang bersalin. Karena Arka dan Nino membawa Vera kerumah sakit terdekat, bukan tempat dimana Amanda melahirkan waktu itu.


"Ayo, pa. Buruan...!" ujar Amanda, ketika informasi nya telah didapat.


Mereka lalu berlarian menuju ke ruang bersalin, melintasi bangsal demi bangsal. Karena ternyata ruangannya berada di ujung.


"Pa, ini ruangannya." ujar Amanda, setelah mereka berlarian dan ngos-ngosan.


Amman pun bergegas, namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia kini mendekat ke arah Amanda, Amanda terdiam menatap ayahnya itu.


"Thank you." ujar Amman padanya.


Pria tua itu mencium kening Amanda untuk pertama kalinya, setelah perseteruan yang terjadi diantara mereka selama bertahun-tahun. Amanda terhenyak kaget dengan perasaan yang campur aduk. Amman lalu berjalan ke arah pintu, tampak Arka dan Nino keluar dari sana. Waktu pun kembali berhenti, Amman menatap anak kandung dan menantunya itu cukup lama.


"Thank you." ujar nya kemudian.


Arka terdiam, namun Nino terluka. Untuk pertama kali ia melihat ayah biologisnya tepat didepan mata. Entah mengapa tiba-tiba saja ia terpukul dan menjadi begitu lemah.


Arka memeluk Amanda. Sementara kini Nino mulai bergerak ke suatu arah, dengan langkah yang gontai. Ia terus berjalan sampai kemudian, ia menemukan sosok Ryan berdiri tepat dihadapannya. Ryan kebetulan tengah berada di dekat rumah sakit tersebut, dan ia menyusul ketika Nino mengatakan bahwa Vera akan melahirkan.


Kini belum sempat Ryan mengetahui keadaan Vera, namun ia sudah dihadapkan dengan kondisi anaknya yang begitu rapuh. Nino menatap Ryan, matanya berkaca-kaca menahan tangis. Lalu ia pun berjalan dan memeluk Ryan dengan erat. Ryan tau apa yang tengah dirasakan anaknya itu. Karena tadi ia sempat melihat Amman, yang berpapasan dengan anaknya di muka ruang bersalin.


"It's ok, daddy's here." ujarnya kemudian.


"Kita pulang, ya." lanjutnya lagi. Nino mengangguk, Ryan melepaskan pelukannya dan mengajak Nino berjalan ke arah lobi.


"Dad." Arka sempat menyapa ayahnya dari jarak yang cukup jauh.


"Kita bicara nanti." ujar Ryan.


Arka mengangguk dan melepaskan kepergian Ryan serta Nino.


Sementara di ruang bersalin, Amman segera menghampiri Vera yang tengah kesakitan itu. Vera menangis karena tidak tahan, dan untuk pertama kalinya Amman mencoba menenangkan perempuan yang menangis dihadapannya.


"It's ok, I'm here." ujarnya pada wanita itu.


Vera sudah tak bisa berkata apa-apa lagi, selain mengeluh sakit. Beberapa saat berlalu, pembukaannya pun lengkap. Team medis memberitahukan jika bayi sudah siap untuk dilahirkan, dan mereka meminta Vera untuk mendengarkan serta mengikuti segala instruksi yang diberikan. Vera hanya bisa mengangguk pasrah sambil berharap semua ini akan segara berakhir.


Team medis mulai memberikan arahan, Vera mendorong bayinya sesuai apa yang diperintahkan. Lalu mengambil nafas sesuai yang di perintahkan pula. Cukup lama wanita itu berjuang, sampai kemudian kepala bayinya keluar. Untuk pertama kalinya pula Amman melihat hal tersebut. Tanpa terasa air matanya merebak, tak lama kemudian bayi itu lahir secara utuh. Air matanya tumpah begitu pula dengan Vera.


Amanda yang mendengar tangisan bayi itupun segera memeluk Arka. Arka pun balas memeluk istrinya itu dengan erat.


Amman melihat bayi itu dengan tubuh gemetaran, saat Vera diminta untuk melakukan inisiasi menyusui dini. Ia telah melewatkan tiga kelahiran anaknya yang lain. Terutama Nino, anak yang sangat ia harapkan. Karena dikandung oleh perempuan yang ia cintai.


Setelah beberapa saat berlalu, bayi itu kemudian ditangani oleh perawat. Sedang Vera harus mendapat beberapa jahitan. Cukup lama menunggu, akhirnya Arka dan Amanda diperbolehkan menengok Vera. Saat itu bayi nya sudah dimandikan.


"Namanya siapa?" tanya Amanda pada Vera. Bayi itu kini berada dalam pelukannya, sedang Amman tengah dipanggil oleh dokter.


"Namanya Ziona Amara Louise." ujar Vera.

__ADS_1


"Zio itu nama kakak laki-laki nya, Nino. Am itu dari nama kamu Amanda, kakak perempuannya. Ar dari nama Arka, karena sudah ikut menolong saya. Dan Ra itu nama kakak nya yang satunya lagi, Rani."


Air mata Amanda menetes, namun bibirnya dipenuhi senyuman. Bayi perempuan itu lahir dengan selamat. Dan setidaknya ada satu diantara mereka berempat, yang kelahirannya disaksikan oleh ayah mereka.


__ADS_2