Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Siuman


__ADS_3

"Ri."


Arka menghambur ke arah Rio, keduanya kini saling berpelukan.


"Sorry, Ka. Gue pasti nyusahin banget ya?"


Arka tak menjawab, ia terisak di pelukan sahabatnya itu.


"Gue udah mikir macem-macem, Ri. Gue takut banget lo ninggalin gue, gue mau ngadu ke siapa lagi kalau ada apa-apa."


"Gue disini, bro. Gue nggak kemana-mana, nggak ada yang ninggalin lo."


Arka melepaskan pelukannya, Amanda mendekat dan memeluk Rio barang sejenak.


"Arka tiap hari kesini, Ri. Dia selalu jagain lo dan berharap banget lo bangun."


"Maafin gue ya." ujar Rio sekali lagi.


"Gue aja nggak tau gue kenapa. Terakhir kali yang gue inget, gue nabrak cewek."


"Intan, Ri. Intan yang lo tabrak." ujar Amanda. Rio mengenal Intan pada saat ia berpesiar menggunakan yacht bersama Amanda dan juga Arka waktu itu.


"Jadi yang gue tabrak itu, Intan. Terus dia gimana?" tanya Rio seraya menatap kearah Amanda dan juga Arka.


"Sulit." ujar Amanda seraya membuang pandangan.


"Maksudnya?" tanya Rio lagi.


"Dia ditabrak dua kali, Ri. Abis ditabrak sama lo, dia dihantam mobil lagi. Karena dia terpelanting ke tengah, sedang lo ke pinggir." ujar Arka.


"Jadi dia?"


"Koma, sama kayak lo. Tapi dia belum ada kemajuan sampai hari ini."


Rio menunduk, ia tak tau persis siapa yang salah di hari itu. Yang jelas kini ia merasa begitu tak enak hati.


"Papa kemana, Ka?"


"Bokap lo masih di perjalanan, tempo hari dia ada perjalanan bisnis mendadak ke Surabaya. Dia udah tau kabar kalau lo sadar, dan minta gue buat jagain lo. Nyokap lo sama suaminya masih di Singapore, tadi ya mereka rencana mau mindahin lo kesana. Kalau emang lo nggak ada perubahan juga."


Rio menghela nafas.


"Lo berdua baik-baik aja kan?" tanya Rio.


"Iya."


Arka dan Amanda menjawab diwaktu yang nyaris bersamaan. Mereka memang sepakat untuk tidak memberitahukan apapun, minimal sampai kondisi Rio stabil. Saat ini meski telah sadar, ia masih lemah dan butuh banyak istirahat. Pikirannya tak boleh disesaki dengan hal-hal yang membuat runyam.


"Ka, aku ke depan ya. Mau beli minum." ujar Amanda kemudian.


"Aku temenin, ya." ujar Arka.


"Nggak usah, orang depan sini doang. Sekalian nanti aku mau liat Intan bentar."


"Oh ya udah, hati-hati."


Amanda mengangguk, lalu keluar dari ruangan itu. Ia berjalan seperti biasa, sampai kemudian matanya tertuju pada seseorang.


"Wah, wah, wah. Mantan bos yang udah jadi rakyat jelata, ada disini toh." Rani yang didampingi Cindy serta Dian tiba-tiba muncul dihadapan Amanda.

__ADS_1


"Ngapain lo kesini?" tanya Amanda dengan wajah sengak dan kepala yang berdiri tegak. Tak ada sedikitpun rasa takut didalam diri wanita itu, meski kini ia sudah tidak berstatus sebagai bos aktif lagi.


"Ya ngunjungin karyawan gue lah, si Intan. Kan gue bosnya sekarang." Rani tersenyum pada kedua temanya dan begitupun sebaliknya.


"Rani, Rani. Hidup lo kebanyakan nonton sinetron. Lo pikir dengan kayak gini, bagus?. Keren?. Hah?. Norak tau nggak lo. Dandan Lo berlebihan dan makeup lo ketebalan. Kulit lo yang udah lama nggak kena skincare akibat mantan suami lo yang pelit itu, bikin makeup lo jadi crack di muka."


"Kurang ajar lo ya." Rani emosi.


"Yang kurang ajar itu, gue atau kedua temen lo yang nggak bilang kalau dandanan lo jelek. Temen macem apa yang membiarkan temannya terlihat seperti orang yang mau cosplay jadi hantu. Itu artinya kedua temen lo ini nggak peduli. Mereka deket sama lo, karena lo saat ini bisa ngasih benefit ke mereka. Iya kan, Cind?. Butuh duit kan, lo. Karena laki lo nggak kerja. Dan lo Dian, lo pengen ngumpulin duit buat oplas kan?. Karena lo tau suami lo selingkuh sama cewek yang jauh lebih cantik dari lo."


Amanda meninggalkan tiga orang tersebut, dalam keadaan mental mereka yang mulai porak poranda.


Amanda membeli minuman di minimarket depan, yang masih berada dalam lingkungan rumah sakit. Seusai menuntaskan dahaga, ia pun membayar. Ia keluar dari tempat tersebut dan hendak kembali ke dalam rumah sakit. Namun kemudian, tiba-tiba Amanda bertemu muka dengan pria yang tak lain adalah ayahnya sendiri.


"Amanda?"


Amman menatap Amanda dengan tatapan yang penuh keterkejutan sekaligus syok. Apalagi saat ia melihat perut anaknya yang membesar karena hamil.


"Hai, Amman." ujar Amanda yang sudah terlanjur dan tidak bisa menghindar lagi.


"I'm your father, Amanda." jawab Amman dengan penuh penekanan.


"So?"


"What are you doing?" ujar Amman dengan emosi yang memuncak serta gigi yang gemertak.


"Kamu hamil anak siapa, anak siapa ini?" Amman menarik kasar lengan puterinya.


"Amanda."


Arka muncul secara tiba-tiba dan menarik istrinya. Baru saja ia hendak bersuara, tiba-tiba ia menyadari sesuatu.


"You?"


Pada saat yang bersamaan, Vera muncul dari suatu arah.


"Jadi ini laki-laki yang menghamili kamu?" Amman menatap keduanya dengan masih tak percaya, sementara Vera terlihat bingung.


"He is my husband."


"Husband?. Amman bertambah kaget, begitupun dengan Vera. Tubuh pria tua itu semakin gemetaran, Amman lalu mendekat ke arah Amanda namun dihalangi oleh Arka.


"Papa tidak pernah merasa menikahkan kamu, Amanda." Amman berteriak di wajah puterinya.


Petir pun seakan menggelegar, Vera kian terperangah mengetahui jika Amanda adalah anaknya Amman. Meski Amman selalu meletakkan foto Amanda di atas meja kerjanya, namun Vera tak pernah begitu memperhatikan hal tersebut. Sedang Arka kini baru teringat pada sesuatu. Saat ia menikahi Amanda, nama ayah Amanda yang ia sebut adalah, Armando Othild Louis. Amman, Armando. Arka menatap ayah mertuanya itu dengan masih tak percaya.


"Anda menyetujui pernikahan saya."


"Karena kamu yang memanipulasi. Kamu kirim pesan singkat, memakai nomor berbeda, meminta izin menikah. Karena papa pikir itu pesan fake dari seseorang, maka papa iyakan saja supaya berhenti."


"Tapi itu artinya, anda sudah mengizinkan."


"Never." Amman menatap tajam ke arah Amanda.


"Tidak pernah ada pernikahan antara keturunan keluarga Louis, dengan seorang laki-laki yang memakai pakaian murahan. Bekerja sebagai aktor baru dengan bayaran yang sangat terjangkau."


"Cukup...!" Amanda menatap tajam ke arah ayahnya.


"Arka jauh lebih baik daripada papa. Papa boleh bangga bisa memakai pakaian dengan harga puluhan juta, jam tangan milyaran, mobil mewah, pergaulan kelas atas. Tapi itu semua nggak membuat papa jauh lebih tinggi dari pada dia. Dia nggak selingkuh sana-sini, nggak pernah bersikap kasar pada istrinya."

__ADS_1


"Your mom, happy di rumah besar. Punya uang belanja banyak."


"Kalau dia happy, dia nggak mungkin meninggal secepat itu. Dia meninggal karena makan hati hidup sama papa. Tukang pukul, selingkuh, pemabuk, pemerkosa."


Amman mengayunkan tangannya untuk menampar Amanda, namun dengan cepat Arka menahannya.


"Sekali anda menyentuh istri saya, anda akan berhadapan dengan saya." ujar Arka membela istrinya.


"Dia anak saya."


"Dia istri saya."


Arka berkata dengan nada yang membentak, membuat Amman kian bertambah emosi.


"Lahirkan anak itu, serahkan pada laki-laki ini dan beri mereka uang. Laki-laki miskin seperti ini hanya membutuhkan uang. Papa tidak mau mempunyai cucu yang berasal dari benih orang miskin."


"Dan anak saya nggak butuh kakek bejat seperti papa."


Amman benar-benar mengayunkan tangannya dengan cepat hingga mengenai wajah Amanda. Arka pun refleks mendorong mertuanya itu, sementara Vera berusaha menghentikan Amman.


"Cukup...!" ujar Vera.


Amman yang kesal pun mendorong Vera, lalu berlalu begitu saja. Vera terjerembab dan mengaduh sakit pada perutnya, tak lama keluar darah dari area sekitar bawah tubuhnya.


"Bu Vera." Arka dan Amanda panik lalu menolong wanita itu. Arka menggendongnya ke dalam rumah sakit untuk diberikan pertolongan.


Beberapa saat berlalu, dokter berbicara pada Arka dan juga Amanda. Kini mereka berada di ruangan tempat dimana Vera dirawat.


"Kamu hamil anak papa saya?" tanya Amanda tak percaya.


Vera mengangguk lemah.


"Why, kenapa kamu mau?. Kamu mau membuat satu anak lagi menderita selain saya?" tanya Amanda dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.


Vera menunduk.


"Amman selalu bercerita kalau anaknya pembangkang, selalu tidak pernah menuruti apa yang dia katakan. Dia terlihat dan terkesan selalu menyalahkan kamu dan dia yang benar. Saya benar-benar tidak tau masalah yang sebenarnya, Amanda. Saya pikir dia sayang sama saya, sampai tadi dia mendorong saya."


tangis Vera terisak.


"Apa anak saya sudah nggak ada?" tanya nya lagi.


Amanda duduk disisi wanita itu dan menggenggam tangannya.


"Dia baik-baik aja." ujar Amanda kemudian. Entah mengapa ia jadi begitu iba pada Vera, terutama pada bayi yang kini sedang dikandung wanita itu. Mungkin karena ia juga sedang mengandung, dan ia tau bagaimana rasanya.


Beberapa saat berlalu, Amman sudah terlihat di ruang kerja kantornya. Ia benar-benar tak menyangka bahwa menemani Vera ke dokter kandungan, akan berakhir dengan pertemuan paling menyesakkan dalam hidupnya. Amman kini meraih botol minuman keras yang ada di meja sudut, dan meminumnya hingga berkali-kali.


"Lalu bagaimana rencana kita untuk menjodohkan anakmu dengan anaknya Ryan?"'


Rachel berkata dengan wajah penuh kekhawatiran. Sementara Amman tak mampu menjawab sepatah katapun, pikirannya kini sangat runyam.


"Itu satu-satunya jalan untuk meredam persaingan dan api permusuhan yang sudah tersulut antara perusahaan ini dan perusahaan milik Ryan. Kita..."


"Enough...!" ujar Amman penuh kemarahan.


"Tapi, Amman."


"Get out of here...!"

__ADS_1


Rachel pun menghela nafas dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2