Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Masih Beku


__ADS_3

Tubuh Zionino Andhika Moralez ambruk di hadapan kedua saudaranya, Ansel dan juga Arka.


"Nino."


Arka dan Ansel kini dikungkung kepanikan dan juga kesedihan.


"Nino, please." ujar Ansel seraya berurai air mata.


Arka pun sejak tadi sudah tak dapat membendung tangisnya. Sementara kini Ryan memeluk anak angkatnya itu, dengan tubuh yang gemetaran.


"Dad."


Lirih suara Nino terdengar, seperti menahan sebuah sakit yang luar biasa.


"Jangan bicara apa-apa dulu!" ujar Ryan seraya menyeka air matanya. Terlihat sekali, ia berusaha tegar menghadapi semua itu.


"Dad, kalau Nino mati. Nino cuma mau bilang terima kasih, atas semuanya selama ini."


Air mata Ryan jatuh di wajah Nino.


"Please, kalau kamu terus bicara. Kamu membuat gerakan yang membuat darah kamu terus keluar."


"Nino sayang daddy."


"Stop it!" ujar Ryan kemudian.


"Enough." lanjutnya lagi.


Nino pun akhirnya diam, Ryan memeluknya dengan erat sambil berusaha keras menahan laju tangisnya.


***


Waktu berlalu.


Nino dibawa oleh ambulance menuju ke rumah sakit terdekat. Ansel telah menghubungi ambulance tersebut sejak tadi. Disepanjang perjalanan tak ada satupun dari mereka yang bicara. Baik Ryan, Arka, maupun Ansel. Semua masih menangis dan takut kalau-kalau situasi buruk akan terjadi.


Setelah melalui jalan yang cukup panjang, Nino tiba di sebuah instalasi gawat darurat. Dengan pisau yang masih menancap di perutnya.


"Nino, Nino lo harus hidup."


Teriak Arka ketika tubuh saudaranya itu mulai dibawa oleh perawat jaga.


"Gue nggak mau tau. Gue nggak akan maafin lo, kalau lo ninggalin gue." teriak Arka lagi.


Ryan menarik puteranya itu dan Arka pun menangis di pelukan sang ayah.


"Nino?"


Seorang perawat senior yang tengah melintas seakan mengenali wajah Nino, ia berhenti sejenak untuk lebih memastikan lagi. Sementara dengan berurai air mata, Ansel menyelesaikan pendaftaran disana. Ia menulis segala data tentang Nino.


"Ini benar Zionino, bukan Gionino?" tanya staf pendaftaran di bagian unit gawat darurat tersebut.


Seketika si perawat senior yang tadi memperhatikan Nino pun terdiam. Ia mendengar perkataan staf di bagian pendaftaran itu.


"Iya, Zionino Andhika Moralez." jelas Ansel lagi.


Perawat senior itu kian terkejut, bahkan terlihat begitu syok. Ia lalu bergegas menuju kedalam, ketempat dimana Nino kini ditangani.


***


"Arka kamu dimana, koq belum pulang?"


Amanda bertanya pada suaminya ditelpon, sesaat setelah Nino mendapat penanganan.


"Aku..."


Suara Arka terdengar terisak.


"Ka, kamu kenapa?" tanya Amanda mulai panik..


"A, aku nggak apa-apa."


Arka berusaha bersikap normal, namun gagal. Amanda telah membaca gelagat suaminya itu sejak tadi.


"Kalau nggak jujur, aku teriak sekarang. Jangan bikin istri kamu jadi cemas dan stress."


"Aku dirumah sakit, Man." jawab Arka.


"Kamu kenapa, apa yang terjadi. Kamu baik-baik aja, Kan?"


"Amanda tenang dulu, bukan aku."


Amanda diam, ia kini mencoba mengatur nafasnya yang mulai memburu.


"Bukan aku, tapi Nino." ujar Arka.


"Hah?. Nino?"


Amanda mendengarkan penjelasan suaminya secara seksama. Tak lama setelah itu ia tiba dirumah sakit dengan tergesa-gesa.


"Arka."


Amanda yang bahkan belum begitu sehat itupun, menghambur ke pelukan Arka seraya menangis.


"Nino gimana, Ka?" ujarnya terisak.

__ADS_1


Arka memeluk istrinya itu dengan erat dan coba menenangkannya. Sedang ia pun berusaha keras menenangkan dirinya sendiri.


"Kita belum tau, kita berharap aja yang terbaik." ujar Arka kemudian.


Nadine datang pada menit berikutnya ditemani Intan. Ia menangis histeris di pelukan Ryan. Sementara Intan kini mencoba menenangkan Ansel.


Lama semuanya terpaku dalam bisu, sampai kemudian dokter keluar dan menghampiri Ryan.


"Dokter." ujar Ryan seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Bagaimana anak saya?" tanyanya kemudian. Nada bicaranya terdengar panik, seakan ingin mengetahui segera bagaimana keadaan Nino.


"Pasien kehilangan banyak darah."


Dokter tersebut berujar dengan nada lemah.


"Ya kenapa nggak transfusi, kayak bank darah nggak ada aja."


Tiba-tiba Arka nyeletuk penuh emosi.


"Sssttt." Ryan mencoba menenangkan Arka.


"Ka." Amanda berujar pada suaminya.


"Ya kenapa mereka nggak ngambil darah di bank darah, atau minta darah kita. Siapa tau golongannya sama."


"Arka, golongan darah Nino itu rhesus nya negatif."


Ansel yang sejak tadi terdiam lesu, berujar pada Arka.


"Maksudnya apa?" tanya Arka heran..


Amanda segera menjauhkan suaminya itu dan berbicara padanya.


"Ka, aku tau kamu mengkhawatirkan Nino. Tapi jangan bersikap kayak tadi. Dokter itu sudah berusaha dan masih berusaha."


"Iya tapi rhesus itu apa?. Kenapa Nino nggak bisa dapat donor darah?"


"Dengerin dulu makanya."


Amanda menatap suaminya itu seraya memegang bahunya dengan lembut.


"Rhesus itu antigen yang ada dipermukaan sel darah merah kita. Orang pada umumnya memiliki rhesus yang positif. Tapi ada beberapa orang yang rhesus-nya negatif, seperti Nino."


"Terus?"


"Mereka nggak bisa menerima sembarangan donor darah. Golongan darah dengan rhesus negatif, hanya bisa menerima donor yang rhesus-nya negatif juga."


Arka tertunduk dalam diam, sementara Ryan masih berbicara dengan dokter.


"Baik, dok. Saya serahkan sama dokter, karena saya juga bingung harus bagaimana sekarang."


"Baik, kami akan segera ambil tindakan. Mohon bersabar, permisi."


Dokter tersebut menepuk bahu Ryan lalu berlalu meninggalkan pria tua itu. Ryan sendiri kini mendekat ke arah Arka yang telah diberi pengertian oleh istrinya.


"Ka."


Ryan memeluk Arka. Dan seperti anak kecil yang butuh perlindungan, Arka pun balas memeluk Ryan dengan erat.


"Semuanya akan baik-baik saja. Dokter sedang berusaha mencarikan donor darah untuk Nino."


Arka mengangguk dan kian mempererat pelukannya.


***


"Segera kita layangkan saja tuntutan terhadap suami dari anak saya."


"Baik, pak."


"Jangan sampai gagal."


"Baik, pak."


Amman menutup telpon. Kali ini pria tua itu bergerak menuju ke ruang kerjanya yang ada didalam rumah. Karena beberapa menit yang lalu salah seorang pembantu mengatakan, jika ada yang ingin bertemu dengannya. Amman pun masuk ke ruangan tersebut dan berbincang dengan tiga orang yang ada disana.


"Apa?. Gagal?"


Amman berteriak kencang, ketika salah seorang dari mereka selesai bicara.


"Iya, pak. Ada orang yang menghalangi kami, malah orang itu yang tertusuk."


"Goblok, stupid." teriak Amman lagi.


"Praaang."


Amman marah besar dan membanting gelas serta botol bekas wine yang terpajang di dekatnya.


"Saya bayar kalian mahal untuk ini. Katanya kalian profesional, mana buktinya?"


"Maaf, pak. Kami sudah maksimal, tapi kesempatan itu tidak ada. Karena ada tiga orang itu yang muncul secara tiba-tiba."


"Alasan, sebaiknya kalian pergi dari muka saya. Sebelum saya tembak kepala kalian satu persatu."


Ketiga orang tersebut pun akhirnya berlalu.

__ADS_1


"Aarrgghh."


"Praaaang."


Amman kembali mengamuk, tak lama kemudian handphonenya berdering. Ternyata dari salah seorang petinggi di kantornya.


"Amman, kita gagal. Tiga produk kita sudah tidak mungkin lagi untuk di pertahankan, banyak komplain yang masuk ke layanan kotak suara."


Amman mematikan telpon tersebut dengan kesal, tanpa mendengar penjelasan lebih lanjut atau memberikan tanggapan.


"Bodoh semuanya, bodoh." teriaknya lagi.


"Aarrgghh."


"Brengsek."


"Telponnya kembali berdering."


"Apa lagi?" teriak Amman.


"Pak Amman ini saya dokter Fernando, dari rumah sakit RMC Hospital. Maaf mengganggu di jam segini."


"Oh, iya dokter. Ada apa?. Sorry tadi ada sedikit masalah."


Amman menurunkan sedikit volume suaranya dan mencoba meredam emosi yang masih tersisa.


"Baik, pak. Bapak saat ini ada di Jakarta?" tanya dokter Fernando.


"Iya, saya di Jakarta." jawab Amman.


"Begini, pak. Bapak kan tergabung dalam komunitas golongan darah dengan rhesus negatif."


"Iya, benar."


"Ada satu pasien yang saat ini membutuhkan donor darah dengan rhesus negatif, karena anggota yang lainnya sedang tidak berada di kota ini. Apa bapak bisa bantu?"


"Of course, saya akan bantu. Beberapa hari ini saya bahkan alcohol free."


Amman mengeluarkan pernyataan yang jujur, bahkan mungkin inilah kejujuran pertama dalam hidupnya.


"Baik, pak. Bapak dalam kondisi sehat kan?"


"Ya, saya dalam kondisi baik-baik saja."


"Baik, pak. Kalau bapak berkenan, kami sangat berterima kasih. Karena pasien saat ini sedang sangat-sangat membutuhkan darah."


"Baik, apa bisa ditunggu sampai besok?"


"Baik, pak. Kami tunggu kehadiran bapak besok dirumah sakit."


"Baik, dok."


"Terima kasih, pak."


"Sama-sama."


Amman menutup sambungan telponnya. Meskipun menyebalkan, namun untuk urusan kemanusiaan seperti ini ia tak bisa menolak. Sebab ia pun memiliki golongan darah dengan rhesus yang negatif pula.


Amman memilih berbagi bukan karena kebaikan yang ia miliki. Namun karena ia takut jika terjadi apa-apa padanya. Ia ingin orang lain juga membalas kebaikannya suatu saat kelak.


Karena hal yang paling ditakutkan Amman di dunia ini adalah mati, bahkan ia tidak ingin menghadapi hal tersebut. Ia ingin terus hidup dan merasakan nikmatnya dunia, berikut segala kesenangan yang ada didalamnya.


***


"Ryan."


Aaric, salah satu petinggi di perusahaan Ryan sekaligus orang kepercayaannya, tiba dirumah sakit dan berbicara pada bosnya itu.


"Orang gue sudah menyelidiki semua ini. Kemungkinan besar, ini adalah perbuatan Amman."


"Amman?"


Ryan seketika naik pitam.


"Iya, tapi lo jangan gegabah dulu. Ini baru kemungkinan besar, bukti yang mengarah belum cukup. Tunggu sampai besok."


"Brengsek." ujar Ryan dengan emosi yang berusaha ia tahan.


Nafasnya kini terdengar memburu, tanganya terkepal, sedang giginya beradu gemertak.


"Tenang, jangan mengundang perhatian anak-anak lo. Nanti mereka malah bertindak gegabah."


Aaric berbisik didekat telinga Ryan. Karena Ansel dan Arka melihat ke arah mereka. Kedua anak itu masih diluar demi menunggu Amanda, Nadine, dan Intan yang kini melihat kondisi Nino di sebuah ruangan.


"Ok, tolong disegerakan." ujar Ryan.


"Ok."


Ryan menghela nafas, seraya memejamkan matanya sejenak. Jika memang terbukti ini perbuatan Amman, ia sendiri yang akan membalas dengan kedua tangannya.


"Lain kali turutin omongan gue, pakai jasa bodyguard. Lo kadang mau, kadang nggak." tukas Aaric.


"Ric, gue bukan artis korea yang harus dikawal Kemanapun. Setidaknya selama ini nggak pernah terjadi apapun dalam hidup gue."


"Sekarang kejadian kan?"

__ADS_1


Kali ini Ryan terdiam, ia sudah tak ingin menjawab apa-apa lagi.


__ADS_2