
"Ka."
"Napa?"
"Gue masih bingung deh, kenapa istri lo yang mendirikan perusahaan itu bisa tergeser posisinya. Kan dia yang mendirikan." ujar Rio bertanya pada Arka.
"Lah, Steve Job yang mendirikan Apple aja pernah di pecat dari Apple itu sendiri koq. Dipecat dewan direksi gara-gara masalah kepemimpinan."
"Oh iya, ya."
"Iya, yang akhirnya dia mulai lagi. Terus beli studio Pixar, sampe sukses. Terus Apple nya mau bangkrut, dipanggil lagi lah Steve Jobnya. Akhirnya ditangan dia, baru dah tuh Apple sukses lagi."
"Iya ya, koq gue nggak kepikiran sampe sana ya." ujar Rio.
"Apa karena kecelakaan ini, gue jadi lemot." lanjutnya lagi.
"Biasanya juga lo lemot, anjay." ujar Arka.
"Gue pinter, ege." Rio membela diri, diikuti tawa Arka.
"Jadi Amanda itu disidang dewan direksi gitu?"
"Mungkin tepatnya petinggi dan para pemegang saham kali ya. Kan mendirikan perusahaan itu bukan kayak lo mendirikan kontrakan. Dimana kalau pake modal lo, lo berhak sepenuhnya atas semua unit. Kalau perusahaan kan, nggak mungkin bisa dipegang satu orang. Udah pasti ada jajaran didalamnya, yang menangani bagian masing-masing. Mereka bisa aja memberhentikan pemimpin kalau pemimpinnya dinilai nggak bisa menjalankan tugas."
"Emangnya tuduhannya apa sih?" tanya Rio lagi.
"Banyak, pertama tuduhan menjual rahasia perusahaan. Ini masih diselidiki, koq bisa rahasia perusahaan dikirim ke kompetitor melalui email pribadi Amanda. Udah jelas pasti pelakunya Rani, bisa aja dia tau password emailnya Amanda dan menyalahgunakan itu semua. Tapi kita nggak punya bukti, belum dapat."
"Terus dia bisa tau rahasia perusahaan dari mana?. Kan itu orang terbatas biasanya yang tau."
"Nah itu dia. Amanda ini kan mendirikan perusahaan itu, nggak sendirian. Ada beberapa rekannya yang juga ikut andil dalam merintis semuanya. Nah, diantara mereka ini kayaknya ada yang cepu. Sengaja memanfaatkan Rani, untuk membuat supaya Amanda ini seolah-olah bersalah. Dia nyuruh Rani buat menyelidiki Amanda, mungkin. Karena kan Amanda ini percaya banget sama sahabatnya. Mungkin ada beberapa kesempatan dia buka email atau akun tertentu, lagi ada Rani disitu. Karena dia ngerasa Rani ini sahabatnya, jadi santai aja."
"Bini lo terlalu menganggap sahabatnya itu orang baik, sih."
"Ya itu dia penyakit bini gue, susah mendeteksi orang jahat. Dia pikir semua orang itu baik."
"Terus masalahnya apa lagi?"
"Amanda dituduh mengalirkan dana perusahaan ke rekening pribadinya."
"Koq bisa?. Kan rekening perusahaan biasanya ada yang pegang."
"Masalahnya, para pendiri perusahaan selain Amanda. Semuanya diberi kepercayaan untuk bisa mengakses rekening perusahaan tersebut. Dan transfer itu dilakukan dari perangkatnya Amanda, dari komputer di ruangan Amanda. Udah pasti itu perbuatan Rani lagi, dengan bantuan dari salah satu cepu. Salah satu pendiri lain yang berkhianat ini."
"Kan ada CCTV, Ka."
"Nah itu dia, Amanda bilang CCTV di kantornya nggak menangkap pergerakan Rani. Ada beberapa video yang jamnya loncat, kayak sengaja di matiin dulu. Ini lagi diselidiki juga, apakah ada pihak keamanan yang ikut terlibat. Yang jelas mereka berkomplot, nggak cuma Rani sendiri.
"Hhhhh." Rio menghela nafas.
__ADS_1
"Gila, ya. Gue mendingan jadi bos kos-kosan aja deh, Ka. Nggak pengen gue jadi CEO, direktur, presiden direktur. Bodo amat, kalau gue mesti pusing kayak Amanda. Mana lagi hamil, masalah dateng segitu gedenya. Puyeng tuh pasti istri lo."
"Nangis mulu, Ri. Sampe kasian banget gue ngeliatnya. Mana gue cuma bisa bantu seadanya lagi. Ya gue mana ngerti soal perusahaannya. Kalau gue ngerti mah, gue bantuin."
"Tapi untung dia nggak kenapa-napa, ya. Bayi-bayi lo nggak ada masalah, kan?"
"Untungnya sih, nggak."
"Pak Arka."
Tiba-tiba seorang perawat masuk.
"Iya, sus?"
"Pasien di kamar 203 sudah siuman."
"Hah?. Ok, ok. Ri, gue ke Intan dulu."
"Gue ikut." ujar Rio.
"Ribet, Ri. Udah lo disini aja."
"Iya." ujar Rio kemudian.
Arka pun bergegas, mengikuti langkah perawat yang tadi memberitahunya. Ia menyambangi ruangan, tempat dimana Intan dirawat.
"Intan."
"Arka?"
"Hey, are you okay?"
Intan mengangguk lemah lalu tersenyum tipis.
"Bu Amanda mana?" tanya Intan kemudian.
"Dia lagi pulang, ada yang mesti dia urus."
"Ka, mbak Rani. Dia..."
"Kita udah tau, udah kejadian Tan. Amanda sekarang sudah dinonaktifkan sementara, Rani tiba-tiba yang menduduki posisi Amanda."
Intan tampak begitu lesu.
"Apa bu Amanda nggak baca pesan aku selama ini?"
"Pesan apa?" tanya Arka bingung.
"Bukti-bukti kejahatan mbak Rani, semua aku kirim ke handphone bu Amanda.
__ADS_1
"Handphone yang mana?"
"Ya yang biasa, 0389."
Arka terhenyak, nomor itu ada di handphone yang disimpan Amanda dalam lemari.
"Ka, aku udah dapet bukti kejahatan Rani, sekarang aku mau menemui saudaraku yang ****** itu."
Amanda mengirimkan pesan singkat, yang membuat suaminya kaget sekaligus syok.
"Oh, no." Arka berujar dengan nafas yang memburu.
"Kenapa, Ka?" tanya Intan.
"Amanda, dia udah baca semua pesan kamu dan dia mau bertindak sendirian."
"Cepet susul, Ka. Mbak Rani itu berbahaya, dibelakangnya ada banyak yang mendukung dia." ujar Intan lagi.
Arka bergegas menuju ke halaman parkir. Segera saja ia masuk ke mobil dan meninggalkan pelataran rumah sakit. Disepanjang jalan ia terus menelpon Amanda, namun wanita itu tak mengangkat.
"Amanda, please."
Arka begitu resah, entah mengapa feeling-nya mengatakan jika Amanda ada di kantor. Dan benar saja, dari kejauhan tampak wanita itu sedang bertengkar dengan Rani di luar pagar kantor. Entah kebetulan atau apa, yang jelas kini mereka ada disana.
Gue udah nemuin semua bukti kejahatan lo, semua dikirim di handphone ini. Amanda menunjukkan handphone berikut bukti video Rani bersama Amman. Rani yang sejatinya ketakutan namun berpura-pura tegar itu, merampas handphone yang ada ditangan Amanda lalu melemparkannya ke jalan.
"Braaak."
Handphone tersebut dilindas mobil. Pada saat yang bersamaan Arka muncul dan melihatnya. Rani tersenyum jumawa lalu pergi meninggalkan tempat itu.
"Man, kenapa kamu bawa handphonenya kesini. Itu semua bukti ada disana." Arka begitu kesal pada istrinya, namun Amanda malah masuk kedalam mobil.
"Man."
Arka ikut masuk kedalam mobil.
"Amanda, kamu udah menghilangkan bukti.
"Aku nggak bodoh, Arka. Backup datanya udah aku sebar dimana-mana. Di handphone satunya, handphone kamu, handphone rianti, handphone Rio dan aku simpen juga di flashdisk dan laptop aku. Kita punya banyak backup an."
Arka melihat handphonenya, ternyata memang banyak video dan foto yang dikirim oleh istrinya itu.
"Kirain, Man. Kamu nggak berfikir sejauh itu."
"Ka, aku nggak sebodoh itu. Cuma kadang teledor aja. Aku tadi sengaja, biar Rani kepedean. Supaya dia mengira aku bodoh, karena sudah membeberkan bukti didepan matanya. Sekarang dia pasti ngerasa bebas, karena udah menghilangkan barang bukti. Tanpa dia sadar, kalau aku pakai iPhone. Mau di lindes UFO sekalipun perangkatnya, aku masih punya iCloud penyimpanan yang bisa di akses kapan aja."
"Iya juga ya, Rani koq bodoh."
"Emang. Ambisi doang gede, otak seuprit. Paling dia bisa ke posisinya sekarang ini karena dibantu cepu perusahaan, bukan dia ngide sendiri."
__ADS_1
"Jadi rencana kamu apa selanjutnya."
"Tadi kan udah tuh, satu. Dia udah ngira aku kalah, ya udah. Aku mau pelan-pelan, biarin dia seneng-seneng dulu. Sambil aku dan loyalis ku menyelidiki, siapa aja yang terlibat. Baru dah tuh, aku akan bales dia. Aku akan buat dia yang melayang tinggi ke angkasa, jatuh ke got bau. Biar tau rasa, dia harus kembali ke tempatnya. Ditempat sampah."