Berondong Bayaran, CEO Cantik

Berondong Bayaran, CEO Cantik
Mau Lahiran Dimana?


__ADS_3

"Ini diperkirakan sekitar 3 Minggu lagi."


"Hah?"


Amanda dan Arka sama-sama terperangah mendengar pernyataan dokter.


"Kadang bisa lebih lambat atau lebih cepat."


Dokter tersebut kembali berujar, Amanda dan Arka makin terdiam dengan bibir yang sama-sama menganga.


"Gubrak."


"Gubrak."


Mereka buru-buru menuju ke halaman parkir lalu masuk ke mobil, sesaat setelah pemeriksaan selesai.


"Ka, kita bahkan belum beli apapun kecuali box bayi dan beberapa perlengkapan waktu itu. Sama Hadiah-hadiah pas baby shower."


"Iya, Man. Makanya ini kita harus beli. Kalau tuh anak udah keburu berojol, repot lagi nanti.


Arka buru-buru menghidupkan mesin mobil lalu menginjak pedal gas. Mereka hendak menuju ke sebuah baby shopping center, yang terletak lumayan jauh dari rumah sakit.


"Kamu sambil pesen-pesen online gih, yang kamu butuhin buat lahiran nanti apa aja. Arka lalu mengeluarkan dompetnya."


"Tuh pake kartu aku." ujarnya lagi.


"Banyak duit, bapak." ujar Amanda.


"Adalah, tapi kalau kamu minta beli rocket space X, belum mampu."


Amanda tertawa, lalu meraih kartu debit serta kartu kredit milik suaminya.


"Ini pake yang mana?" tanya Amanda kemudian.


"Yang mana aja, terserah. Kamu cari apa yang kira-kira perlu."


"Ok."


Amanda lalu menscroll laman platform online market place. Sejujurnya ia enggan memakai uang Arka, karena ia tau Arka mungkin banyak keperluan lain. Dan lagi dirinya adalah perempuan yang menghasilkan uang.


Namun karena ingin menghormati jerih payah suaminya, ia pun menggunakan kartu tersebut. Ia tak ingin Arka berkecil hati, karena tugasnya adalah menafkahi keluarga. Amanda tak ingin membuat Arka minder terhadap dirinya.


Ketika tiba di baby shopping center, Arka dan Amanda bergegas belanja. Mereka kini memilih-milih baju untuk new born dan juga berbagai keperluan lainnya. Seperti sepatu, kaos kaki, selimut, topi dan lain sebagainya.


Arka memasukkan banyak sekali barang ke dalam troli. Kadang ia tanpa sadar jika baju-baju yang ia pilih dan lemparkan ke dalam troli tersebut, justru malah mendarat dan berkumpul di kepala Amanda. Saat menoleh, ia melihat wajah Amanda yang sewot. Lalu Arka pun terpingkal-pingkal. Mereka sangat antusias dan bahagia, sekaligus repot hari itu.


"Duh, Ka. Capek juga ya ternyata." ujar Amanda setelah barang belanjaannya usai dibayar oleh Arka.


"Ya udah, kamu disini dulu."


Arka menyuruh istrinya duduk di sofa, yang ada di bagian depan shopping center. Amanda pun duduk disana, Arka lalu membawa semua barang belanjaan ke mobil. Tak lama setelah itu ia kembali dengan sebotol air mineral dan susu hamil siap minum.


"Nih, minum dulu." ujarnya kemudian.


Amanda menatap Arka lalu tersenyum pada suaminya itu, ada perasaan hangat menyergap di hatinya. Ia pun lalu meminum habis susu tersebut dan meminum pula air mineral itu. Arka membiarkan istrinya beristirahat barang sejenak.


"Yuk, Ka." ujar Amanda kemudian.

__ADS_1


Wanita itu berdiri dan dibantu oleh Arka, namun ia agaknya kesusahan. Tanpa banyak bertanya, Arka pun menggendong istrinya itu. Hingga Amanda pun terhenyak menatapnya.


"Ka."


Arka tersenyum pada Amanda, lalu membawa istrinya itu ke mobil.


"Aku berat nggak tadi?" tanya Amanda ketika Arka telah duduk disisinya.


"Banget." ujar Arka seraya tertawa. Ia lalu menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.


***


"Arka itu kalau ngambek, bisa diam sebulan."


Ibunya berujar sambil meletakkan semangkuk sayur asem di meja. Arka hanya tersenyum sambil menyuap nasi, sementara Amanda memperhatikan suaminya itu seraya menahan tawa. Mereka sengaja berkunjung, untuk meredam ketegangan yang terjadi belakangan ini.


"Nggak boleh gitu, Ka. Kamu mah." ujar Amanda kemudian.


Ayah tiri Arka dan Rianti kompak tertawa kecil seraya ikut memperhatikan Arka.


"Dulu mbak, waktu kecil. Pernah mas Arka dimarahin ibu, sampe nggak pulang selama sebulan." ujar Rianti.


"Oh ya, tinggal dimana kamu?" tanya Amanda pada suaminya.


"Dirumah Rio."


Ayah tirinya menjawab, karena Arka hanya tersipu dan terus menatap ke arah piringnya. Ia malu dibicarakan seperti ini dihadapan Amanda.


"Gara-gara apa tuh, bu?" tanya Amanda pada ibu mertuanya.


"Kamu udah salah, nyolot lagi Ka. Nih kalau ada anak kita begitu, berarti meniru sifat kamu."


"Amit-amit." ujar Arka kemudian.


"Jangan sampe." lanjutnya lagi.


"Ya, mana bisa. Anak mah sedikit banyak nurun sifat kamu, sifat aku."


"Ya jangan gitu dong, Man. Kamu mah doanya jelek." Arka mulai sewot.


"Orang kek nurutnya yang baik-baik aja, gitu. Gantengnya kek, baik hatinya kek."


"Mas Arka takut karma tuh." ledek Rianti diikuti tawa yang lainnya.


Arka pun hanya bisa menahan senyum.


"Oh ya, nanti Amanda mau lahiran dimana?" tanya ibunya lagi.


"Dirumah sakit tempat biasa periksa aja, bu." ujar Amanda.


"Itu yang deket." lanjutnya lagi.


Malam mulai beranjak naik, Amanda dan Arka berbincang berdua di teras rumah. Ayah dan ibunya tadi ada bersama mereka, namun sudah pamit tidur karena besok harus jualan pagi. Sedang Rianti sibuk telponan dengan gebetan barunya.


"Man, kalau emang kamu mau melahirkan dirumah sakit yang lebih baik, aku siap koq biayain kamu. Pihak manajemen juga udah balikin semua uang, yang tadinya aku pakai buat bayar penalti. Saat kasus aku sama Liana merebak kemaren."


"Ka, aku nggak apa-apa melahirkan dirumah sakit itu. Aku milih rumah sakit dengan harga terjangkau, bukan berarti aku menyepelekan kamu sebagai kepala keluarga. Atau menyepelekan jumlah uang yang kamu punya, aku nggak gitu."

__ADS_1


Amanda kini menatap suaminya.


"Aku tau selama kita menikah, sebagai laki-laki kamu selalu berusaha menunjukkan ke aku. Ini loh aku, aku mampu koq memenuhi apa yang kamu inginkan. Walaupun aku nggak sesukses kamu, aku mampu memenuhi semua kebutuhan kamu. Kamu selalu kayak gitu."


"Ya, tapi kan aku pengen yang terbaik buat kamu, buat anak kita. Apa itu salah?"


"Bukan itu."


Amanda menghela nafas dan mencoba mencari cara untuk menjelaskan, agar suami bocilnya itu tak tersinggung.


"Sekarang aku tanya, anggapan kamu ke aku tuh gimana?" tanya Amanda


Arka menatap Amanda, mencoba mencerna isi dari perkataan istrinya tersebut.


"Maksud aku gini, aku kan perempuan kaya, sukses. Nah anggapan kamu tuh gimana, apakah aku ini terlihat seperti perempuan yang maunya serba mewah, serba wah, serba mahal dalam hal apapun?"


Amanda menanti jawaban suaminya.


"Aku, aku takut kalau sebenarnya kamu seperti itu. Tapi kamu berpura-pura nggak seperti itu, cuma demi agar aku nggak merasa berat dan terbebani. Aku takut kamu sebenarnya suka kemewahan, tapi kamu nggak enakan sama aku. Nggak enak kalau harus mengeluarkan uang kamu sendiri untuk itu, kamu takut aku tersinggung. Tapi kamu juga nggak enak meminta itu semua dari aku, karena takut aku stress dan terbebani." ujar Arka.


Amanda menghela nafas.


"Jawabannya adalah, aku nggak gitu." Amanda lagi-lagi menatap suaminya, kali ini mereka berdua saling menatap satu sama lain.


"Aku diajak mewah, ayok. Diajak biasa aja, ayok. Diajak susah, ya kita berusaha."


Kali ini Arka tertawa.


"Beneran. Jadi kamu nggak perlu takut apapun, aku nggak harus mewah setiap saat. Lagipula aku liat, kamar yang kamu pesen buat melahirkan nanti, yang VIP. Itu udah lebih dari cukup."


"Tapi kan masih ada rumah sakit yang lebih baik."


"Aku yang satu ruangan berdua sama orang lain juga nggak apa-apa, kalau kamu mampunya segitu. Yang penting anak kita lahir selamat, akunya selamat. Nggak perlu membuktikan apa-apa sama aku, sejauh ini kamu udah berhasil untuk itu. Kamu bisa jadi suami yang baik untuk usia kamu yang segini aja, itu merupakan suatu hal yang langka. Diluar sana banyak yang bahkan suaminya udah umur 30 ke atas tapi masih kekanak-kanakan, komunikasinya nggak baik sama istri. Kamu udah jauh diatas mereka loh, kedewasaan kamu, kebaikan kamu."


Arka menghela nafas lalu menggenggam tangan istrinya itu.


"Maafin aku ya, kalau sikap aku jadi bikin kamu merasa nggak nyaman. Kamu bener soal itu, soal aku yang selalu berusaha pengen membuktikan. Kalau aku mampu memenuhi semua kebutuhan kemewahan kamu. Aku cuma takut kamu ngerasa turun derajat pas nikah sama aku."


"Ka, jangan jadi cowok yang insecure. Karena kamu mampu ngelakuin hal lebih dari apa yang kamu takutkan."


Arka mengangguk lalu tersenyum pada istrinya itu.


"Aku sayang kamu, Man. Sayang banget."


"Aku juga, Ka."


Arka membawa Amanda kedalam pelukannya. Tanpa mereka sadari jika geng bu Mawar, tengah mengintip dari balik pepohonan.


"Sedang apa disini?"


"Huaaaaa, setaaaaan."


Geng bu Mawar berlari pontang-panting. Membuat Arka dan Amanda yang baru saja berpelukan terkejut, dan melihat mereka semua.


"Apaan sih?" tiba-tiba petugas ronda keluar dari balik pohon.


Yang suaranya ditakuti oleh bu Mawar dan anggota gengnya tadi bukanlah setan, melainkan suara si petugas ronda. Jadilah Arka dan Amanda tertawa geli malam itu.

__ADS_1


__ADS_2