
"Sayang, kamu cantik."
Arka menyandarkan tubuh istrinya ke dinding, ditatapnya wanita itu dengan tatapan yang seolah sangat menginginkan kehangatan.
Amanda tersenyum, Arka lalu mencium bibir istrinya itu sambil menempelkan sesuatu dibawah sana.
"Hmmh."
Desah Amanda tertahan, ketika tangan Arka mulai menyentuh benda kenyal yang ada dihadapannya. Perlahan tangan Amanda pun membuka kancing kemeja suaminya. Malam itu, Amanda baru pulang dari menemani Arka bernyanyi di kafe. Ia mengenakan dress bodycon berbahan satin, yang sangat memperlihatkan bentuk tubuhnya yang montok namun sexy.
"Hmmh."
Arka menurunkan ciumannya ke leher dan bermain sejenak disana, sementara kini satu tangannya menyentuh bagian perut Amanda. Tangan yang lain bermain pada salah satu bukit kembar.
"Hmmh, Arkaaa."
Amanda melepaskan sejenak ciuman Arka, untuk menyebut nama suaminya itu.
Amanda membuka resleting suaminya dan terlihatlah sesuatu yang mencuat dibawah sana. Arka mengeluarkannya sambil terus mencium Amanda. Tangan Amanda pun bermain pada benda itu, membuat Arka kian ditelan gairah.
"Hhh, sayang. Kamu cantik banget." ujar Arka seraya menengadah, bagian hitam matanya kini naik keatas. Apalagi ketika akhirnya Amanda berlutut dan mulai menggunakan bibir **** nya untuk melahap semua itu.
"Hmmmh, Amandaaaa."
"Aaaah."
Arka mengerang, sesekali kepalanya mendongak ke atas saking nikmatnya permainan yang diberikan istrinya itu. Sementara tangannya kini membelai kepala dan rambut Amanda.
"Maaaan, Amandaaaa. Hmmmh."
Amanda terus mempermainkan Arka, hingga Arka pun merasa sangat-sangat tidak tahan. Ia meraih Amanda lalu membawa sang istri ke atas meja sudut. Di sibaknya gaun yang menutupi tubuh wanita itu dan.
"Jleb."
"Aaakkkh."
Keduanya sama-sama mengerang.
"I love you, sayang."
Arka mulai memompa dengan tempo lambat.
"Arkaaa, hhhh."
Arka mencium kembali bibir Amanda lalu sedikit menambah kecepatan.
"Hhhh, Amandaaa. Hhhhh, sayaaaang."
Arka makin mempercepat temponya, hingga membuat Amanda meracau tak karuan.
"Arkaaaa."
"Hmmh, kamu hamil lagi ya sayang. Hmmph, Hmmph."
"Iyaaa sayang, aku mau sekarang." ujar Amanda.
Arka kian mempercepat temponya.
"Ini lagi mau aku buat sayang, Hmmmph."
"Iyaaa."
Arka terus melakukan gerakan maju mundur. Kemudian ia melepaskan sejenak, ia menurunkan Amanda dari atas meja. Lalu membalikan tubuh sang istri, hingga wanita itu kini sedikit membungkuk dan membelakanginya. Kedua tangan Amanda bertumpu pada meja.
Arka kembali menyibak gaun istrinya itu, dan terlihatlah dua buah bagian sintal padat yang begitu menggemaskan.
"Sayang kamu cantik banget." ujar Arka lalu kembali mendekat dan,
"Jleb."
"Arkaaaaa." Amanda mengerang nikmat.
__ADS_1
Arka pun kembali memompa. Suara penyatuan yang beradu bercampur keringat, kini terdengar di segala penjuru.
"Amanda aku sayang kamu."
"Aku juga Arka."
"Aku sayang kamu, Man. Aaaaakh."
Arka makin dikuasai gairah, sementara Amanda sudah melayang ditempat yang tinggi. Mereka terus bermain, kebetulan si kembar sedang dititipkan di rumah neneknya. Sehingga kedua insan ini bebas meracau dan berteriak tanpa takut ada yang terbangun.
"Sayang aku mau keluar." ujar Amanda ketika permainan telah lama berlangsung.
"Tunggu, kita sama-sama sayang."
Arka kian mempercepat tempo gerakannya, lalu kemudian.
"Aaaaaakh."
Keduanya sama-sama mengerang.
"I Love you, Ka."
"I love you too, Man."
Arka dan Amanda ambruk di karpet bulu, dengan senyum terkembang puas serta bagian bawah yang berkedut nikmat.
"Hhhh."
Mereka berdua mencoba mengambil nafas, Arka kini membawa sang istri kedalam pelukannya yang hangat.
"Ka."
"Hmm."
"I love you."
"I love you too." Arka mencium kening istrinya.
"Maksudnya?" Arka balik bertanya seraya mengerutkan kening.
"Ya semisal Firman, Maman, Salman gitu."
Arka tertawa terbahak.
"Dorman." ujarnya kemudian."
Kali ini Amanda yang tertawa, ia lalu refleks menoyor kepala suaminya itu.
"Heh." ujar Arka seraya tertawa.
"Kualat kamu, Man."
"Kan lebih tua, aku." Amanda membela diri.
"Kan aku suami disini." Arka tak mau mengalah.
"Iya deh, iya." ujar Amanda lalu memeluk suaminya itu. Arka tersenyum dan mencium kening Amanda.
"Kamu sendiri manggil aku Ka, Ka, Ka, Ka. Emang aku kangkung?"
"Kalau kangkung tuh, Kang."
"Ya sama aja."
"Lagian kamu kenapa sih nggak manggil aku, Manda gitu. Pas lagi begituan.
"Manda?. Aku berasa kayak om-om yang lagi nidurin anak dibawah umur, tau nggak. Manda, Manda, imut banget namanya."
"Ya yang lain kek." ujar Amanda lagi.
"Apa?. Am, gitu."
__ADS_1
"Am apaan coba?. Amir?"
"Hahaha." Amanda tertawa.
"Tadi bisa manggil Amanda."
"Tadi momennya lagi pas aja, nafasnya lagi panjang. Enakan manggil, Man. Sebenernya."
"Emang otak kamu nggak kepikiran ke arah lain gitu?"
"Ke arah mana?"
"Ya ke arah itu tadi, Firman, Maman."
"Nggak biasa aja, orang aku nggak doyan sama Firman apalagi Maman."
Lagi-lagi Amanda kembali tertawa. Arka menarik selimut yang semula hanya menutupi bagian bawah mereka, ke atas. Hingga kini selimut itu menutupi bagian dada.
"Inget nggak, Man. Dulu kita beberapa kali mau cerai." Arka menatap langit-langit kamar.
Amanda mengangguk.
"Iya aku inget."
Seketika mereka pun teringat pada peristiwa setahun yang lalu, ketika Amanda tak kunjung hamil. Mereka sempat bertengkar hebat kala itu, hal yang tidak diketahui oleh orang lain kecuali mereka.
Hal itu terjadi sebelum Amanda menelpon Nindya, dan Nindya kemudian memberi saran agar keduanya berlibur ke suatu tempat.
Saat itu Amanda mulai goyah dan ragu, apakah Arka bisa memberinya anak atau tidak. Sempat terpikir dibenaknya untuk mencari laki-laki lain, atau tak usah sama sekali.
"Pokoknya sampai aku nggak hamil dua bulan kedepan, aku mau minta cerai." ujar Amanda saat itu.
Amanda lalu melontarkan banyak tuduhan, Arka marah sekali saat itu padanya. Ia juga sudah tidak tahan lagi dengan sikap wanita itu. Namun ternyata, mereka bisa melewatinya dengan baik. Bahkan sampai sejauh ini.
Kadang keduanya tak menyangka, jika mereka bisa sampai ke tahap ini. Meskipun masih seumur jagung, namun perjalanan ini cukup berat untuk mereka.
Saat akhirnya Amanda bertemu dengan Nino kembali, saat itu pulalah pendirian Arka mulai goyah. Ia mulai merasa jika ini semua tak akan berhasil. Tapi untungnya Arka memiliki sahabat seperti Rio, yang kadang lebih tua dari kakeknya sendiri. Rio memang pemberi nasehat yang baik, hingga Arka bisa melalui segala cobaan rumah tangganya dengan baik.
"Man?"
"Iya?"
"Aku boleh nggak jalan-jalan sama Rio, dua hari aja." ujar Arka kemudian.
"Aku udah lama nggak jalan sama Rio, besok kan aku ngambil cuti dua hari." lanjutnya lagi.
"Mau kemana kalian?" tanya Amanda.
"Mau ke Bandung."
"Ya udah, asal jangan jajan aja di luaran."
"Masa iya nggak boleh jajan, laper dong nggak makan?"
"Nggak boleh jajan perempuan." tegas Amanda.
"Ya ampun, Man. Nggak segitunya kali." Arka sewot, Amanda kini tertawa.
"Ya udah, sana pergi. Yang penting bawain oleh-oleh." ujarnya kemudian.
"Jadi boleh, nih?" tanya Arka memastikan.
"Boleh, dong."
"Ya udah, nanti kalau kamu mau pergi sama temen-temen kamu juga boleh koq. Titipin aja kembar sama maid atau sama ibu."
"Iya, gampang." ujar Amanda seraya makin mempererat pelukannya.
"Makasih ya, Dorman."
"Iya Kangkung."
__ADS_1
Keduanya kini sama-sama tertawa.